
Qing Yue’er merasa seluruh tubuhnya remuk redam. Rasa sakit yang tak tertahankan menyerang kepala dan tulang rusuknya. Dia mencoba bergerak dan itu membuatnya meringis kesakitan.
Apa yang terjadi?
Dia mengerjapkan matanya yang berkunang-kunang, lalu melihat langit gelap yang menyambarkan kilatan-kilatan petir. Keningnya sedikit berkerut.
Ledakan di puncak Beifeng Xue. Dia langsung teringat dengan itu. Perasaannya menjadi panik. Di mana Mo Jingtian?
Dengan cepat dia memaksa berdiri. Rasa sesak memenuhi dadanya, lalu darah merah langsung dimuntahkan dari mulutnya. Dia menyekanya dan menyadari bahwa hidungnya juga mengeluarkan darah.
“Oh, dewa ….”
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat seluruh pemandangan yang menjadi asing. Itu bukan lagi puncak Beifeng Xue. Itu hanya hamparan salju yang berserakan. Puncak Beifeng Xue telah runtuh.
Perasaannya menjadi rumit. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terjadi pada Mo Jingtian hingga kekuatannya meledak seperti itu?
Dia mencoba mengedarkan kekuatan rohnya. Dengan cepat dia menemukan satu sosok berbaring tak jauh darinya. Setelah mendekatinya, dia akhirnya melihat Di Honghuo sudah sekarat.
Pria itu terluka parah. Wajah dan seluruh tubuhnya retak-retak. Aliran darahnya tampak merah membara seperti lava. Itu terlihat mengerikan.
Qing Yue’er menatapnya dengan dingin. Kekuatan spiritual mulai terkumpul di tangannya, membentuk cahaya terang di tengah-tengah kesuraman.
“Di Honghuo, seharusnya kau menderita lebih banyak penyiksaan. Namun, dalam situasi ini, aku tidak memiliki waktu untuk melakukannya,” bisiknya dengan dingin.
Kedua mata Di Honghuo terbuka. Dia menatap Qing Yue’er dengan sorot mata ketakutan. Dengan kondisinya sekarang, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan atau sekadar menghindar.
“Ja … jangan ….”
Qing Yue’er menyipitkan matanya. Setelah itu, tinjunya yang membawa kekuatan penuh dari kultivator level 8 alam surgawi melayang menghantam dada Di Honghuo. Darah merah langsung menyembur dari mulut pria itu.
“Ini untuk kau yang mengkhianati langit dan kedewaanmu!”
Tinjunya melayang sekali lagi. Suara tulang rusuk yang hancur langsung terdengar.
“Ini untuk kau yang patuh pada perintah keji Baili Linwu!”
Qing Yue’er mengeratkan kepalan tangannya. Tatapannya menjadi semakin dingin. Sekali lagi tinjunya menghantam Di Honghuo dengan kuat tepat di jantungnya. Darah merah langsung memercik ketika tinjunya menembus jantungnya hingga hancur.
“Dan ini untuk kau yang mencoba membunuh Mo Jingtian!” teriaknya dengan keras.
__ADS_1
Kedua mata Di Honghuo melebar. Mulutnya terbuka, tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Napasnya hilang dan dia jatuh ke dalam kematian yang mengenaskan.
Qing Yue’er menatapnya dengan datar. Seharusnya membunuh dewa tidak semudah itu. Ini hanya karena Di Honghuo sudah sekarat setelah menerima serangan Mo Jingtian.
Tiba-tiba dia merasa sedikit bingung. Dengan kekuatan Di Honghuo yang tinggi, pria itu bisa sekarat setelah mendapatkan serangan ledakan Mo Jingtian. Namun, dia yang hanya berada di level 8 alam surgawi bisa selamat. Bukankah ini keajaiban?
Dia ingat saat itu dia berlari mendekati Mo Jingtian. Jadi, jaraknya dengan pria itu juga dekat. Jika bukan karena keajaiban, dia mungkin sudah mati diledakkan bersama puncak Beifeng Xue ini.
Qing Yue’er melangkah mundur dengan kaki yang goyah. Tiba-tiba mulutnya kembali menyemburkan darah. Meskipun selamat, dia juga menerima luka yang serius. Hanya saja itu tidak dipedulikan. Dia hanya ingin segera menemukan Mo Jingtian.
Dengan langkah tertatih, dia menyusuri tanah yang hancur itu. Kilatan-kilatan petir di langit entah kenapa berputar-putar dan menjadi lebih kuat. Hatinya menjadi tidak nyaman melihat itu.
“Mo Jingtian! Apa kau mendengarku?!”
Tidak ada suara sahutan apa pun. Dia kembali mengedarkan kekuatan rohnya. Ada energi aneh yang bisa dia rasakan dari balik batu besar tak jauh di depannya. Keningnya sedikit berkerut. Mungkinkah pria itu ada di sana?
Tanpa menunggu, dia langsung berlari ke depan. Dengan seluruh kekuatannya, dia melompati batu besar itu. Pendaratannya tidak begitu bagus dan dia jatuh begitu saja menghantam tanah.
Rasa sakit membuatnya meringis. Dia menoleh ke samping lalu penglihatannya menangkap sosok pria berjubah merah yang berbaring beberapa meter darinya. Bibirnya bergetar dengan ledakan emosi.
“Jingtian! Mo Jingtian!”
“Yue’er, baguslah kau baik-baik saja.” Pria itu tersenyum tipis.
Qing Yue’er mencoba bangkit. Tiba-tiba suara Mo Jingtian kembali terdengar, “Pergilah …. Menjauhlah … dari sini.”
“Apa maksudmu?” Qing Yue’er tidak mengerti.
“Cepat pergi ….” Mo Jingtian tampak seperti memohon. “Tinggalkan aku sendiri.”
“Kenapa aku harus pergi?”
Pada saat itu, langit tiba-tiba bergemuruh. Qing Yue’er mendongak dan terkejut melihat petir yang berputar-putar di atas posisi Mo Jingtian. Petir itu membentuk pilar besar yang mengerikan.
“Jingtian, apa yang terjadi?” Dia bertanya dengan bingung dan cemas. Petir apa itu sebenarnya?
“Pergilah, Yue’er! Tidak ada waktu lagi.”
“Tidak.” Qing Yue’er menggeleng. “Bahkan jika aku harus pergi, aku harus membawamu.”
__ADS_1
“Pergilah!” Mo Jingtian sedikit membentak. Tatapannya menjadi tajam dan dingin.
“Jingtian, aku—”
Kata-kata Qing Yue’er langsung terhenti ketika dia melihat pilar petir besar di langit tiba-tiba turun menargetkan Mo Jingtian. Itu seperti bor yang akan menyerang dan menghancurkan pria itu dalam sekejap.
“Tidaakk!”
Qing Yue’er berteriak dengan takut. Dia segera berlari lalu melemparkan dirinya pada Mo Jingtian. Kedua matanya dipejamkan lalu dia memeluk pria itu dengan erat.
Rasa sakit yang memuakkan langsung meledak dan menyengat tubuhnya. Dia tersentak. Darah merah menyebar di punggung dan dadanya. Cairan hangat mengalir di hidung dan juga sudut bibirnya.
Dia menunduk, menatap wajah pucat Mo Jingtian. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman. Senyum paling tulus yang pernah dia tunjukkan pada siapa pun.
“Maafkan … aku. Yue’er … tidak patuh,” bisiknya dengan terbata-bata. Dia menarik napas dengan kesulitan. Setelah itu, kepalanya terkulai di leher Mo Jingtian. Kegelapan total menyambut kesadarannya.
Mo Jingtian tidak bisa bereaksi dengan cepat. Dia terlalu terkejut dengan tindakan Qing Yue’er. Bagaimana gadis itu bisa melakukan ini? Bagaimana gadis itu bisa melakukan hal bodoh ini?
Tubuhnya menegang. Wajahnya pucat pasi. Tangannya perlahan terangkat lalu dengan gemetar menyentuh punggung gadis yang tergolek di atas tubuhnya.
“Yue’er ….”
“Qing Yue’er!” Dia berteriak keras. Rasa takut memenuhi hatinya ketika telinganya tidak mendengar jawaban apa pun.
Dengan cepat dia bangkit dan membaringkan Qing Yue’er di tanah. Air matanya jatuh saat melihat pakaian putih yang selalu suci dan tak bernoda itu kini telah basah berlumuran darah. Dia bahkan bisa melihat luka menganga di punggung gadis itu yang menembus hingga ke dadanya.
“Jangan sekarang. Jangan sekarang ….” Mo Jingtian dengan panik mengambil belati dari pinggang Qing Yue’er. Dia tahu gadis itu selalu menyimpan belati di sana.
Dengan cepat dia menyayat telapak tangannya dengan pola tertentu. Bibirnya menggumamkan mantra misterius lalu tangannya meremas luka sayatannya. Tiba-tiba darah emas menetes dari sana.
Dia meneteskan darah emas itu di atas luka Qing Yue’er. Kedua matanya bersinar terang. Kekuatan jiwanya mengikat jiwa Qing Yue’er, menahannya agar tidak pernah meninggalkan raganya.
Darah emas Mo Jingtian menyebar ke seluruh luka Qing Yue’er. Itu memperbaiki dan sedikit demi sedikit mulai menyembuhkannya. Luka menganga akibat serangan pilar petir itu perlahan menutup dengan sendirinya.
Pada saat itu, cahaya biru melesat turun dari langit. Cahaya biru itu mendarat di belakang Mo Jingtian dan berubah menjadi sosok Dewa Air Di Moxie. Pria itu mengedarkan pandangannya lalu melebarkan mata ketika melihat apa yang sedang Mo Jingtian lakukan.
“Di Futian! Apa yang kau lakukan?!”
Di Moxie mengibaskan tangannya, lalu sosok Mo Jingtian langsung ditarik ke belakang. Darah emas berhenti mengalir dari telapak tangannya. Beberapa helai rambut putihnya tiba-tiba jatuh ke tanah.
__ADS_1