
Menginjak alam Celestial berarti memasuki peraturan baru. Di Celestial terdapat lima istana besar yang masing-masing dikuasai oleh klan yang berbeda. Lima istana itu adalah istana Tianjun, Guang, Shenghuo, Meide dan yang terakhir adalah Rongyao.
Saat ini Qing Yue'er bergerak menuju wilayah kekuasaan istana Tianjun yang merupakan istana kekuasaan klan Xie. Perasaannya menjadi tidak sabar. Setidaknya dia ingin mengetahui bagaimana dan seperti apa klan yang menjadi tempat kepulangannya.
Selama menuju tempat itu, Qing Yue'er menemukan banyak sekali perbedaan antara Celestial dengan benua Tongxuan. Di Celestial ini wilayahnya didominasi oleh beragam warna tumbuhan dan serat awan putih yang bertebaran. Tidak bisa dipungkiri, Celestial memang tempat yang menyenangkan mata.
Selain itu di sana juga tidak terlihat ada warga miskin atau kelompok masyarakat kelas bawah. Hal ini cukup membuat Qing Yue'er berdecak kagum. Sekilas ini memang terlihat seperti tempat yang menawarkan banyak kemakmuran.
Qing Yue'er dapat melihat bangunan besar berwarna putih yang berdiri kokoh tidak jauh darinya. Di sebelah bangunan besar itu terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi hingga tertutup awan. Bukankah ini luar biasa?
“Setiap istana di Celestial memang memiliki menara masing-masing. Di menara itulah biasanya keluarga atau anggota istana melakukan peningkatan kekuatan,” ucap Xie Wuqing sambil menatap menara yang menjulang tinggi. Jejak kerinduan bisa dilihat pada sorot matanya.
“Apa kita akan langsung pergi ke sana?” tanya Qing Yue'er.
Xie Wuqing mengangguk. “Aku harap mereka akan menyambut kedatangan kita,” ucapnya. Kemudian dia pun langsung mengajak Qing Yue'er untuk mengikutinya. Mereka bergerak cukup cepat hingga tiba di depan istana Tianjun dalam waktu yang singkat.
Sayangnya karena kondisi perselisihan yang semakin memburuk, istana Tianjun menutup gerbangnya rapat-rapat. Mereka tidak menerima kedatangan orang luar yang tidak memiliki kepentingan. Hanya ada kelompok penjaga berseragam putih yang berdiri mengelilingi istana. Jumlahnya memang sangat banyak karena istana yang memang berukuran besar.
Qing Yue'er menghela napasnya. Dia tidak mau kejadian seperti yang terjadi di keluarga Bai terulang lagi. Seharusnya tidak ada masalah jika mereka ingin masuk.
Xie Wuqing mendekati penjaga gerbang itu. “Penjaga, bisakah biarkan aku masuk? Aku adalah Xie Wuqing adik dari Xie Ying Fei. Seharusnya kalian tahu ini. Aku meninggalkan klan Xie sudah sejak bertahun-tahun yang lalu,” ucapnya panjang.
Penjaga itu tampak terkejut. Meskipun begitu dia tidak langsung percaya. “Bisakah kamu meyakinkan kami? Saat ini klan Xie sudah tiba pada titik kritis. Siapa yang akan tahu apakah kamu benar-benar Tuan Muda Xie kami atau justru utusan klan Liu.”
Xie Wuqing langsung menunjukkan pedang yang menjadi simbol klan Xie. Dia juga mengambil token identitas dan menunjukkannya pada penjaga gerbang.
Penjaga itu memeriksa keasliannya selama beberapa saat. Mereka saling lirik sebentar. Token dan pedang adalah bukti yang cukup kuat. Tidak sembarang orang bisa memilikinya. Akhirnya mereka pun mengangguk sebelum membungkuk pada Xie Wuqing. “Selamat datang kembali ke istana besar Tianjun.”
Xie Wuqing mengembuskan napas lega. Akhirnya tidak ada masalah untuk masuk. Kemudian dia menggandeng Qing Yue'er bersiap untuk masuk ke dalam. Namun, penjaga gerbang itu menghalangi langkah Qing Yue'er.
“Maaf, Tuan Muda, apakah orang ini bisa dipercaya?”
“Kalian boleh meragukanku tapi kalian tidak bisa meragukan identitasnya. Kalian akan tahu nanti. Dia adalah orang penting dan aku akan menjamin ini,” ucap Xie Wuqing dengan tegas. Dia terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan Xie Wuqing sebelumnya.
Penjaga itu akhirnya minggir dan membiarkan mereka berdua masuk. Namun, tetap ada dua orang penjaga yang mengikuti mereka. Entah karena untuk mengawali atau untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diduga.
Setelah Qing Yue'er dan pamannya pergi, penjaga-penjaga gerbang mulai saling lirik. Mereka bertanya-tanya tentang kedua orang tersebut. Xie Wuqing adalah seseorang yang sudah lama tidak kembali. Bahkan, tidak ada informasi jelas mengenai kepergiannya. Dan sekarang dia sudah kembali. Tentu saja ini patut untuk dipertanyakan.
__ADS_1
Sedangkan untuk Qing Yue'er, identitas apa yang membuatnya begitu diistimewakan oleh Xie Wuqing? Mereka menjadi penasaran. Apakah gadis itu mungkin seorang anak simpanan dari kepala klan? Tidak, tidak. Itu terlalu gila.
Qing Yue'er tidak tahu apa yang dipikirkan oleh penjaga-penjaga gerbang itu. Saat ini dia masih terdiam mengamati istana di depannya. Bangunannya memang didominasi oleh warna putih. Bukan hanya bangunannya saja, bahkan penjaga-penjaga istana pun memakai pakaian berwarna putih. Ini sangat cocok dengan namanya, Tianjun yang berarti Tentara Surgawi.
“Adik Linxi! Cepat lempar itu lebih jauh lagi! Kamu harus bisa mengalahkan rekorku!” teriak seorang pria dari jauh.
Whoosshh!
“Yue'er, minggir!” seru Xie Wuqing.
Sebuah pedang panjang yang berkilat-kilat tampak meluncur dengan kecepatan menakutkan ke arah Qing Yue'er. Dengan gerakan refleks Qing Yue'er langsung menangkap pedang yang sedang meluncur itu. Jika dia tidak segera menangkapnya mungkin pedang itu akan menembus kepalanya.
Xie Wuqing yang melihat ini menjadi tidak senang. Dia menatap dua orang yang saat ini sedang berjalan ke arahnya juga. Dia mungkin sedikit lupa, tapi setidaknya masih samar-samar ingat jika orang-orang itu masihlah kerabatnya.
“Kembalikan pedangku!” teriak seorang perempuan yang umurnya mungkin satahun atau dua tahun lebih tua dari Qing Yue'er. Penampilannya tidak begitu spesial, tapi pipinya yang diberi perona wajah memang terlihat sedikit mencolok.
“Tidakkah seharusnya kamu meminta maaf?” tanya Xie Wuqing. Samar-samar dia ingat kalau perempuan ini bernama Xie Linxi, anak dari pamannya sendiri.
“Kenapa aku harus minta maaf? Seharusnya dia yang tidak melintas ketika aku sedang berlatih,” jawab Xie Linxi tidak senang.
Mendengar ucapan Qing Yue'er tentu saja membuat Xie Linxi menjadi marah. “Kamu berani menyebutku bodoh?!” Dia berteriak keras sebelum akhirnya beralih menatap penjaga gerbang yang mengikuti Qing Yue'er. “Kenapa kalian membiarkan orang asing memasuki istana? Bukankah klan Xie sudah melarang siapa pun masuk?!”
“Nona Linxi, tapi dia adalah—”
“Ahhh! Aku tidak mau mendengar alasanmu. Dan kamu ....” Xie Linxi menunjuk pada Qing Yue'er, tapi gadis yang ditunjuk itu bahkan tidak menatapnya sama sekali.
Qing Yue'er malas mendengarkan perdebatan panjang. Jadi dia berkata, “Paman, bisakah kita tidak meneruskan ini? Dia hanya akan membuang waktu kita.”
“Kamu bilang berbicara denganku hanya membuang waktu?!” Xie Linxi menjadi semakin marah. Dia menatap Qing Yue'er dengan ketidaksenangan. “Betapa sombongnya. Masuk ke klan Xie berarti harus menghormati tuan rumah. Namun, kamu justru bersikap buruk seperti ini di depan tuan rumah!”
Qing Yue'er mengerutkan keningnya. Tiba-tiba pamannya menggandeng lengannya dan berkata, “Ayo tinggalkan mereka.”
Akhirnya Qing Yue'er berjalan mengikuti paman Wuqing hingga melewati Xie Linxi. Di sana dia berhenti sejenak lalu mengembalikan pedang perempuan itu dengan asal. Dengan pelan dia berbisik, “Mari kita lihat siapa tuan rumah yang sesungguhnya.”
“....”
Xie Linxi menerima pedangnya dengan mata tertegun. Dia terdiam hingga beberapa saat. Setelah tersadar barulah dia menyadari sosok gadis menyebalkan itu yang sudah menghilang.
__ADS_1
“Sial! Siapa gadis sialan itu? Kenapa begitu berani berbicara seperti itu padaku?” gerutu Xie Linxi dengan jengkel. Meskipun dia bukan orang terkemuka tapi tidak ada yang berani begitu terbuka bertentangan dengannya. Tidak seperti gadis itu.
“Adik Linxi, lupakan saja. Lagi pula kita belum tahu siapa dia dan apa tujuannya datang ke sini,” ucap seorang pria yang memegang sebuah kipas. Dia terlihat seperti tuan muda pada umumnya.
“Tidak, aku akan mencari tahu nanti,” ucap Xie Linxi dengan kilatan tertentu. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi dia pun berlalu pergi dengan suasana hati yang memburuk.
“Aish, paling-paling dia ingin mengadu ke orang lain,” gumam pria asing itu sambil mengipasi wajahnya. Kemudian dia juga berlalu pergi sambil berpikir. “Ngomong-ngomong kenapa aku merasa pria yang sebelumnya itu terlihat akrab ya? Sepertinya aku sudah pernah melihatnya, tapi di mana?”
***
Qing Yue'er terus mengikuti pamannya hingga masuk ke bangunan utama. Dia bisa melihat berbagai ukiran-ukiran cantik yang terlihat begitu elegan. Pilar-pilarnya tidak begitu besar, tapi sepertinya itu sangat kuat.
Mereka berjalan hingga tiba di depan ruangan dengan pintu yang tertutup. Penjaga yang mengikuti mereka berkata, “Tuan Muda, tunggulah di sini. Biarkan saya memberi tahu kepala klan terlebih dahulu.”
Xie Wuqing menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Kalian pergilah dan jangan katakan pada siapa pun tentang kepulanganku. Biarkan orang lain tahu dengan sendirinya.”
Penjaga itu mengangguk dan membungkuk sebelum akhirnya berlalu pergi. Setelah itu Xie Wuqing mengajak Qing Yue'er untuk masuk. Namun, ketika dia hampir membuka pintu, gangguan yang lain datang.
“Tunggu!”
Xie Wuqing langsung berbalik untuk melihat siapa orang yang datang. Dia melihat seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pamannya.
Pria paruh baya itu sedikit terkejut ketika melihat Xie Wuqing. Dia tampak mengukur Xie Wuqing hingga beberapa saat. Namun, tiba-tiba dia menggeleng. “Tidak mungkin. Kamu bukan Wuqing, 'kan?”
“Paman, ini aku,” ucap Xie Wuqing dengan malas. Dia tidak percaya pamannya ternyata tidak memercayainya. Seharusnya pria itu bisa mendeteksi dengan cara melihat garis darahnya.
“Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu memang Wuqing? Bagaimanapun kami sudah terpisah bertahun-tahun. Kenapa secara tiba-tiba ada Xie Wuqing yang datang? Apalagi pada saat-saat seperti ini.”
“Kalau begitu kenapa tidak segera membiarkanku bertemu dengan kepala klan saja? Ayah pasti tahu apakah aku anaknya atau bukan,” ucap Xie Wuqing tidak senang. Hanya tinggal selangkah dan orang ini kenapa harus datang menunda? Bukankah ini terlalu menjengkelkan?
Qing Yue'er hanya diam mendengarkan ini. Dia memang pernah mendengar jika ayah Xie Wuqing adalah kepala klan yang menjabat sebagai kepala istana Tianjun. Itu berarti kepala klan Xie adalah kakek Qing Yue'er. Seperti apa orang itu? Qing Yue'er menjadi tidak sabar.
“Baiklah, aku akan mengizinkanmu bertemu dengannya. Namun, jika ternyata kamu bukan Wuqing maka jangan salahkan aku jika hukuman yang menyakitkan akan menimpamu,” ucap orang tua itu dengan senyum tersembunyi. Dia memang belum yakin dengan identitas Xie Wuqing ini.
***
Jangan lupa jempol like 👍
__ADS_1