Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Maksud Tersembunyi


__ADS_3

“Di Futian atau mungkin Mo Jingtian, dia adalah seseorang yang sulit. Dia cenderung berhati dingin. Seperti yang aku katakan, dia melakukan hal-hal dengan tujuan tertentu.” Di Liying menatap Qing Yue'er dengan lembut.


“Aku tidak akan menghakimimu, tapi seorang manusia sepertimu aku harap tidak bermain-main dengannya. Konsekuensinya bukan hal yang mudah,” lanjutnya.


Qing Yue'er mengepalkan tangannya. Bagaimana Di Liying ini berbicara seperti itu padanya?


“Jangan marah. Ini semua demi kebaikanmu. Sudah banyak orang yang mati di tangannya. Aku hanya bisa mengatakan ini. Lagi pula, aku tidak memiliki hak untuk menentukan jalan hidupmu. Aku tidak tahu seperti apa kamu bisa mengenalnya, aku hanya memintamu untuk berhati-hati.”


Qing Yue'er dapat mengerti maksud Di Liying. Wanita itu memang mengatakan hal seperti itu untuk mencegah hal buruk terjadi padanya. Dia mungkin harus berterima kasih atas niat baiknya. Namun, dia sendiri yang akan tetap menentukan jalannya sendiri.


“Terima kasih,” ucap Qing Yue'er dengan kepala tertunduk.


“Bukan apa-apa. Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Aku akan mengantarmu kembali. Kelak jika kita bisa bertemu lagi, maka itu adalah takdir.”


Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah itu dia merasa kesadarannya mengambang sebelum akhirnya kembali lagi ke tubuhnya. Saat ini dia melihat Yin Hu yang sedang menatapnya dengan cemas.


“Qing Yue'er, akhirnya kamu bangun. Ah, aku benar-benar takut terjadi apa-apa padamu.”


“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Leluhur,” ucap Qing Yue'er menenangkan. Dia menyadari bahwa sekarang dia sudah terduduk di lantai. Mungkin tadi karena kesadarannya pergi menemui Di Liying jadi tubuhnya terlihat seperti sedang pingsan.


“Baguslah kalau begitu. Apakah kita pergi saja dari sini? Sepertinya trisula itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki,” ucap Yin Hu.


Qing Yue'er tersenyum. Kemudian tanpa mengatakan apapun dia bangkit lalu berjalan mendekati patung Di Liying lagi. Tatapannya menjadi rumit saat melihat trisula yang ternyata memiliki sebuah ukiran kecil berbentuk aneh. Tidak disangka ternyata trisula ini bisa memanipulasi pikiran dan keinginannya.

__ADS_1


Dengan cepat dia langsung mengambil senjata itu. Kali ini tidak ada sesuatu yang terjadi. Trisula itu berhasil digenggamnya dengan lancar. Awalnya dia pikir senjata itu akan sedikit berat, tapi ternyata tidak sama sekali. Malah menurutnya sangat nyaman digunakan.


Yin Hu menjadi terkejut saat melihat semuanya berjalan dengan mudah. Dia sudah waspada jika sewaktu-waktu ada bahaya yang mendekat, tapi ternyata tidak ada apa pun yang terjadi. Baiklah, ini mungkin hal baik untuk mereka.


Kemudian Yin Hu melihat ke sekeliling. Dia mencari pintu keluar tapi ternyata tidak ada. Bagaimana ini? Dia menjadi khawatir lagi. “Tidak ada pintu keluar, bagaimana kita bisa pergi?”


Qing Yue'er mengalihkan pandangannya dari trisula di tangannya. Dia menyimpan senjata itu ke dalam dimensinya untuk mencegah hal buruk yang mungkin bisa ditimbulkan olehnya. Dia ingin menjawab pertanyaan leluhurnya, tapi tiba-tiba pandangannya menjadi kabur. Tubuhnya seolah melayang di awang-awang. Sepertinya dia sedang dikirim pergi dari tempat itu.


Bukan hanya dia, Yin Hu pun mengalami hal yang sama. Bedanya dia dikirim kembali ke labirin-labirin di dalam kuil sedangkan Qing Yue'er dikirim keluar dari kuil. Mungkin itu karena apa yang dia dapatkan dari kuil sudah sangt cukup baginya. Atau bukan karena sudah cukuo, melainkan tidak ada hal lain lagi yang berharga baginya.


Qing Yue'er muncul kembali di permukaan air laut. Dia menjadi heran. Sedikit takut juga seandainya terjadi sesuatu pada leluhurnya. Namun, dia tidak memiliki cara lagi untuk masuk ke dalam karena ternyata akses masuknya sudah benar-benar hilang. Dia mencoba mencari di kedalaman laut. Namun, kuil Nushen tidak bisa dilihat olehnya sama sekali.


Sepertinya itu merupakan peraturan. Siapa pun yang sudah keluar dari kuil, berarti tidak bisa masuk lagi ke dalam. Mungkin untuk mencegah orang-orang serakah dari masuk kembali ke dalam sana.


Akhinya Qing Yue'er menghela napas. Kalau begitu dia akan akan pergi ke pantai dulu. Dia akan menunggu rekan-rekannya dari sana. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka semua.


Perlahan kakinya melangkah menyusuri garis pantai. Dia memang mendapatkan senjata yang sangat berharga dan itu pasti sesuatu yang luar biasa. Namun, pikirannya malah tidak fokus pada hal itu. Dia lebih memikirkan penilaian Di Liying terhadap Mo Jingtian.


Sudah beberapa lama sejak pria itu pergi. Dia tidak pernah menanyakan ke mana Mo Jingtian pergi, dia selalu memercayainya. Di Liying mengatakan jika Mo Jingtian sudah banyak membunuh, tapi jadi apa? Bahkan, dia sendiri sudah banyak membunuh orang.


Di Liying mengatakan jika Mo Jingtian melakukan sesuatu tanpa cuma-cuma. Apakah pria itu juga seperti itu padanya? Apakah Mo Jingtian memiliki maksud tertentu selama mendekatinya? Akan tetapi untuk apa?


Qing Yue'er menundukkan kepalanya. Dia terus melangkah di atas pasir putih yang menjadi basah setelah terkena ombak. Semilir angin meniup rambutnya menjadi berantakan. Kenapa dia harus ragu hanya karena ucapan Di Liying?

__ADS_1


Tidak, Mo Jingtian tidak mungkin memiliki maksud tersembunyi yang akan menjatuhkannya. Pria itu mungkin orang yang kejam, tapi di hadapannya dia hanyalah pria biasa yang tetap bisa terluka, yang tetap memiliki hati.


Ketika pikirannya sedang melayang tiba-tiba dia melihat sepasang kaki yang berdiri di hadapannya. Bau cendana tercium menyeruak ke hidungnya. Qing Yue'er langsung mengangkat kepalanya. Saat itulah dia akhirnya melihat seseorang yang sedang dia pikirkan.


“Jingtian ....”


“Aku senang kamu memercayaiku,” ucap Mo Jingtian. Tangannya terulur dan membenarkan rambut Qing Yue'er yang berantakan.


“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Qing Yue'er.


“Kenapa? Bukankah karena kamu merindukanku?” Mo Jingtian bertanya dengan ringan.


“Aku tidak pernah mengatakan seperti itu,” ucap Qing Yue'er sambil memalingkan wajahnya.


“Kamu memang tidak mengatakannya, tapi aku selalu mengetahuinya,” bisik Mo Jingtian di telinga Qing Yue'er.


Senyum tipis langsung muncul di bibir Qing Yue'er. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kemudian dia berbalik dan melangkah pergi. “Yang benar saja,” gumamnya.


Mo Jingtian berjalan menyusul Qing Yue'er. Dia mengubah penampilannya menjadi lebih sederhana agar tidak menarik perhatian orang lain. Sekarang dia mungkin akan lebih leluasa bersamanya.


“Di Liying mengatakan bahwa kamu mungkin mendekatiku karena sesuatu,” ucap Qing Yue'er.


“Itu memang benar.”

__ADS_1


Qing Yue'er langsung menatap Mo Jingtian tidak mengerti. Sedikit terkejut tapi dia tidak mengambil kesimpulan. Kemudian dia bertanya, “Jadi apa yang kamu inginkan?”


Mo Jingtian tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum tipis saja. Memang, dulu bukankah dia mendekati Qing Yue'er karena ingin mendapatkan aura phoenix dari tubuh Qing Yue'er? Namun, itu adalah masa lalu. Semakin lama dia justru menjadi semakin serakah. Bukan hanya aura phoenix saja yang dia inginkan, melainkan Qing Yue'er seutuhnya.


__ADS_2