Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Apa Aku Sudah Mati?


__ADS_3

Qing Yue'er mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Meskipun seringkali ada kesulitan ketika sedang menerobos, tetapi kali ini rasanya sedikit berbeda.


Dengan susah payah dia mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga saat ini dia berada dalam keadaan krusial. Jika kesadarannya dipaksa keluar siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana jika dia mati?


Jantung Qing Yue'er berdegup kencang. Dia menarik napasnya dan berusaha untuk tetap tenang serta rasional. Di samping kultivasinya yang masih berjalan, dia juga sangat mempertahankan tubuhnya agar tetap sadar.


Kemudian dia memeriksa keadaan tubuhnya secara lebih serius. Saluran meridiannya baik-baik saja. Jantungnya normal, aliran darahnya normal, bahkan ada banyak qi spiritual yang mengalir dalam darahnya. Bukankah ini hal yang baik? Namun keadaannya justru berlawanan.


Qing Yue'er beralih untuk memeriksa dantiannya yang saat ini terasa sangat padat. Beberapa saat kemudian dia langsung dibuat terkejut sekaligus bingung.


Dia melihat Anggrek Salju berkelopak tiga yang saat ini diselimuti oleh cahaya samar. Meskipun tidak ada pergerakan apa pun, tetapi tetap saja ini adalah perbedaan yang cukup mencolok. Apalagi sebelumnya tidak pernah ada hal yang terjadi pada bunga itu, bahkan setelah dia mencoba untuk membuangnya.


Qing Yue'er memperhatikan lebih saksama lagi. Cahaya samar itu semakin lama menjadi semakin terang. Itu sangat luar biasa indah. Namun, seiring dengan itu dia juga merasakan sakit yang sangat menusuk di kepala serta jantungnya.


“Aarghh!”


Itu benar-benar menyiksa. Qing Yue'er merasa tidak bisa menahannya lagi. Kepalanya terasa seperti sedang diremukkan, tidak, itu bahkan lebih sakit lagi.

__ADS_1


Kali ini terpaksa dia harus memutus kultivasinya. Qing Yue'er membuka kedua matanya yang tampak memerah. Keseimbangannya hilang dan tubuhnya langsung luruh ke bawah.


“Ying Jun ... apa yang terjadi?!” tanya Qing Yue'er dengan napas tertahan. Dia memegang kepalanya dengan erat, tetapi itu tidak bisa menghentikan rasa sakitnya.


Keringat dingin turun di punggung dan dahinya. Wajahnya telah berubah menjadi seputih kertas. Pandangannya pun menjadi berkunang-kunang.


Qing Yue'er menunggu jawaban Ying Jun, tetapi binatang itu tidak menjawabnya. Sepertinya koneksinya sudah terputus.


“Aaahh! Tidak ... aku tidak ingin mati sekarang!” Teriakannya menggema di antara kebun Persik Surgawi. Namun siapa yang mendengar? Bahkan Mo Jingtian tidak mendengarnya.


Itu benar-benar menyakitkan. Qing Yue'er berteriak lagi dan membenturkan kepalanya tanpa sadar. Namun rasa sakit itu tidak berkurang sedikit pun. Dia merasa jiwanya benar-benar akan hancur sekarang.


“Ji—Jingtian ....” Bibir Qing Yue'er bergetar. “Apa kau ... mendengarku?”


Tubuh Qing Yue'er benar-benar terkapar di atas rerumputan. Kedua matanya menjadi sembab. Dia benar-benar menangis sekarang. Bagaimana dia bisa baik-baik saja ketika tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.


Qing Yue'er hanya bisa tersenyum kecut ketika melihat Anggrek Salju di dalam dantiannya sudah bersinar sangat terang. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa ketika kedua matanya akhirnya tertutup rapat.

__ADS_1


“Surga. Jika aku mati sekarang maka aku akan datang menemuimu dan mengobrak-abrik tempatmu!”


***


Mo Jingtian yang berada di luar tiba-tiba merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Dia melihat ke arah jauh sebelum wajahnya berubah menjadi pucat.


Tanpa aba-aba sosoknya langsung menghilang begitu saja. Peri jamur yang melihat hal ini menjadi bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Namun mereka hanya berpikir, mungkin tuan mereka memiliki urusan lain.


Dalam sekejap Mo Jingtian sudah tiba di tempat berbeda. Matanya menatap nanar pada gadis yang sudah tergeletak di tanah dengan penampilan yang sangat berantakan. Bibirnya bergetar. Sorot matanya berubah menjadi gelap dan dingin.


Mo Jingtian segera meraih Qing Yue'er dan memeriksa denyut nadinya. Hasilnya benar-benar membuatnya takut.


“Tidak. Leluconmu sama sekali tidak lucu,” gumam Mo Jingtian dengan wajah yang pucat. Dengan cepat jarinya bergerak menekan dantian Qing Yue'er.


Beberapa detik kemudian, matanya berkilat dengan cahaya aneh. Seketika dia langsung menoleh ke belakang. Pada saat itulah dia melihat bayangan putih yang menatapnya dengan bingung.


“Jingtian, apa aku sudah mati?”

__ADS_1


__ADS_2