
Setelah urusan dengan kakek guru selesai, Qing Yue'er dengan Han Qiong pun pergi dari kediaman berawan itu. Mereka mulai melakukan perjalanan kembali menuju akademi. Setelahnya, tidak ada banyak hal yang terjadi, ini perjalanan yang cukup nyaman.
Ketika mereka sampai di wilayah akademi, hari sudah larut malam. Akhirnya mereka langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Qing Yue'er mungkin merasa lelah tetapi dia tidak pergi beristirahat. Sebaliknya malah memulai untuk berkultivasi lagi. Mungkin saat ini dia tidak mau membuang waktu dengan sia-sia. Meskipun pembukaan kuil Nushen masih jauh tetapi tidak ada salahnya jika dia bisa menerobos satu atau dua tingkat lagi.
Ini mungkin sulit karena dia tidak memiliki harta apa pun. Namun, dia akan tetap mencobanya. Dengan sinar bulan yang tersorot masuk dari jendela, dia tampak sangat suci ketika duduk dalam posisi lotus.
Jing Ling berjalan masuk ke dalam ruangan yang sama. Melihat Qing Yue'er yang tidak bisa diganggu, akhirnya dia kembali keluar ruangan. Sepertinya Qing Yue'er telah menjadi lebih sibuk.
***
Langit berubah menjadi gelap. Suara geraman dan tabrakan antar senjata menghiasi senja yang semakin memudar. Kekacauan terdengar di mana-mana. Seluruh dunia menjadi penuh dengan hingar-bingar. Manusia, iblis dan makhluk lainnya saling berperang untuk hal yang tidak pasti.
Saat itu di dalam sebuah keluarga miskin, seorang bayi laki-laki terlahir di bawah kekacauan dunia. Ketika bayi itu lahir, sorot cahaya bulan yang terang benderang turun menyinari keberadaannya. Aura keilahian langsung menyebar luas ke mana saja.
Semua manusia dalam wilayah kelahiran bayi itu langsung merasa penghormatan naluriah di dalam hati. Tidak ada yang dapat menolak melakukannya. Setiap orang merasa bayi itu terlahir sebagai anak yang diutus untuk mendamaikan dunia. Sejak saat itulah bayi itu mendapat gelar Anak Surga.
Setiap ada kelahiran Anak Surga pasti dia akan mendatangkan berkat untuk umat manusia. Karena anak itu terlahir di bawah kekacauan perang maka orang-orang mulai berpikir bahwa kelahiran Anak Surga akan mengakhiri peperangan itu ketika sudah besar.
Keluarga dari Anak Surga langsung mendapat perlakuan yang istimewa. Mereka yang sebelumnya sangat miskin saat itu langsung hidup dengan penuh kemewahan. Semua manusia merasa bersyukur dengan kelahiran anak tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat. Apa yang tidak terduga adalah anak itu mengalami kecacatan. Setelah umurnya menginjak tujuh tahun, ternyata dia tidak mampu melakukan kultivasi. Setelah diperiksa ternyata tubuhnya memiliki segel yang membuatnya tidak mampu membuka dantiannya.
Setelah orang-orang tahu tentunya mereka merasa marah. Mereka merasa sudah tertipu oleh anak tersebut. Setelah itu, apa yang terjadi adalah penyiksaan dan pengasingan. Gelar Anak Surga langsung dicabut. Anak itu menerima penyiksaan fisik selama satu bulan penuh sebelum akhirnya diasingkan di sebuah gubuk tua yang sudah bobrok.
Semua harta yang sudah dilimpahkan langsung diminta kembali. Tidak peduli apa, orang tua dari anak itu harus mengembalikan apa yang sudah didapatkan. Termasuk kehormatan dan harga diri selama tujuh tahun terakhir.
Anak lelaki yang diasingkan hidup dalam kesulitan besar. Kemarahan menyelimuti hatinya. Dendam dan kebencian melekat di hatinya. Dia masih kecil dan sudah dibuang sedemikian rupa. Bagaimana kalian pikir dia bisa hidup dalam keadaan seperti itu?
Dia merasa sangat putus asa. Pada saat itu tiba-tiba seseorang mendatanginya dengan racun di tangan. Dia adalah pria dengan wajah yang sangat samar. “Anak bodoh! Cepat minum!” Dia mencengkeram dagu anak itu dan memaksa untuk memasukkan racun di tangannya.
Ketakutan dan kemarahan langsung menghampiri anak itu. Dia menolak menuruti permintaan pria asing yang sedang melakukan hal buruk padanya. Namun, sekeras apa pun dia mencoba, penolakannya seakan sia-sia. Pria itu justru semakin keras memaksa anak itu dan ....
“Tidaakk!”
Qing Yue'er berteriak penuh emosi. Dia membuka kedua matanya dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat putih dan pucat. Denyut jantungnya menjadi tidak stabil. Napasnya pun benar-benar kacau. Aliran air mata jatuh membasahi pipinya.
Dia menutup matanya sejenak untuk menenangkan diri. Dia tidak tahu kenapa ada bayangan tentang anak itu yang memasuki pikirannya. Dia sedang bermeditasi bukan sedang tidur. Jadi, itu sama sekali bukan sebuah mimpi. Akan tetapi, apa itu?
Dalam bayangan yang mirip sebuah film itu, Qing Yue'er bukan hanya melihatnya. Namun, dia juga merasakan rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan oleh anak tersebut. Itulah kenapa sadar tidak sadar dia sudah menjatuhkan air matanya.
__ADS_1
“Xinyu, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?”
Luo Qingqi masuk ke dalam ruangan. Barusan dia mendengar Qing Yue'er berteriak. Jadi dia datang ke sini untuk memeriksa. Dia terkejut saat melihat jejak air mata di kedua pipi Qing Yue'er. Dia juga melihat ada kemarahan yang tersembunyi di balik sorot matanya. Apa yang terjadi?
Selama ini dia tidak pernah melihat gadis itu menangis atau bahkan hanya sekedar bersedih. Namun, saat ini Qing Yue'er terlihat sangat berbeda. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
Qing Yue'er tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Luo Qingqi. Akhirnya dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Bukan apa-apa. Sesekali manusia juga harus mengeluarkan air matanya.”
Luo Qingqi tidak memercayainya. Namun, dia tidak bisa memaksa Qing Yue'er untuk mengatakannya. Mungkin gadis itu akan bercerita jika memang ingin. Sekarang dia tidak mau mengganggunya. Mungkin saat ini Qing Yue'er sedang membutuhkan ketenangan.
“Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku,” pesan Luo Qingqi sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Qing Yue'er hanya membalas dengan anggukan. Dia menyeka sudut matanya. Rasanya sangat tidak nyaman. Emosinya menjadi naik turun hanya karena kejadian ini. “Siapa anak itu?” gumamnya.
Semuanya terasa sangat nyata, seolah-olah dia ada di sana dan menyaksikan dengan matanya sendiri. Apa mungkin ini hanya sebuah gangguan dari iblis batin? Namun, sepertinya itu tidak mungkin.
Akhirnya Qing Yue'er berdiri dan keluar dari ruangan. Dia ingin berjalan-jalan sebentar untuk melupakan kejadian ini. Rasanya baru beberapa saat yang lalu dia menutup mata tetapi ternyata ini sudah pagi. Waktu memang berjalan sangat cepat.
Dia berjalan mengitari akademi yang sedang dibangun. Udara pagi terasa sangat sejuk. Pada akhirnya dia mulai melupakan apa yang baru saja terjadi padanya. Dia memiliki banyak urusan, hanya bayang-bayang seperti itu tidak akan cukup untuk memengaruhinya. Mungkin itu hanya mimpi yang tanpa sengaja masuk ke dalam meditasinya.
Saat pikirannya berkelana, tiba-tiba dia merasakan aura asing yang terasa sangat samar. Rasa ingin tahunya menjadi terusik. Dia menyebarkan kekuatan rohnya untuk mencari tahu aura apa itu. Semakin merasakannya, dia menjadi semakin tertarik saja.
Qing Yue'er berjalan hingga berakhir di belakang bangunan. Dia memeriksa dengan teliti. Namun, tidak ada apa pun di sana. Hanya sebuah pot tanah liat besar yang sudah retak dan kusam. Tunggu dulu, sepertinya aura itu berasal dari sana.
Dengan sedikit perasaan tidak percaya Qing Yue'er berjalan mendekati pot yang rusak itu. Kemudian dia mengambil pot tersebut untuk memeriksanya. Ternyata isinya adalah setengah tanah liat yang di atasnya terdapat satu biji berwarna hitam yang tertanam di sana.
Qing Yue'er mengambil biji itu dengan satu tangan. Kemudian dia menelusupkan kekuatan rohnya untuk memeriksa biji apa itu. Saat itu tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang dan mengagetkannya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
Ternyata itu adalah Zheng Yi. Kebetulan dia juga sedang memeriksa keadaan akademi. Tidak menyangka ternyata dia menemukan Qing Yue'er ada di sana. Selain itu, sepertinya gadis itu sedang memeriksa sesuatu.
Qing Yue'er segera menunjukkan pot tanah liat yang sudah rusak itu. Dia juga menunjukkan biji hitam yang masih belum diketahuinya. “Guru Zheng, apa ini? Aku menemukannya di sini.”
“Coba kulihat.” Zheng Yi mengambil alih benda yang ada di tangan Qing Yue'er. Dia memeriksanya sambil mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa saat akhirnya dia berhasil mengingatnya. “Ini adalah biji yang pernah diperoleh kepala akademi dari pembukaan makam,” ucapnya.
Dulu kepala akademi masih suka melakukan perjalanan dan menjelajahi banyak tempat. Pada suatu waktu, kepala akademi mengikuti pembukaan makam kuno. Di sana dia memperoleh banyak hal. Ada beberapa senjata dan juga teknik bela diri. Kemudian ada juga biji ini.
Dulu kepala akademi berpikir itu adalah biji yang berharga. Namun, setelah mencoba menumbuhkannya selama beberapa saat biji itu tidak mengalami perubahan apa pun. Kemudian kepala akademi mulai mencari segala cara tetapi tetap saja biji itu tidak bisa tumbuh.
Akhirnya dia merasa jika itu mungkin hanya bisa biasa yang sudah mati. Itulah kenapa biji itu tidak mengalami pertumbuhan apa pun. Sejak saat itu kepala akademi hanya menyimpannya di dalam ruangan. Membiarkannya menjadi semakin tidak berguna.
__ADS_1
Mungkin saat akademi meledak pot itu juga terlempar keluar. Siapa yang akan tahu Qing Yue'er ternyata menemukan pot tersebut dan sepertinya dia juga sangat tertarik.
“Jadi, apakah aku boleh memungutnya?” tanya Qing Yue'er.
“Tentu saja. Lagipula, itu sudah sangat lama. Sepertinya juga tidak akan bisa tumbuh.”
Qing Yue'er tidak mengindahkan ucapan Zheng Yi. Jika biji itu sudah mati maka dia tidak akan bisa merasakan auranya. Namun, dia masih dapat merasakannya meskipun itu tidak terlalu kuat. Dia merasa tidak ada salahnya untuk mencoba.
“Aku hanya akan mencobanya dengan santai,” ucap Qing Yue'er. Setelah itu dia pun pergi membawa pot rusak itu. Seharusnya dia mencari cara untuk merawatnya dengan benar.
Zheng Yi hanya menggelengkan kepala. “Biarkan saja, jika dia bisa menumbuhkannya maka itu juga bagus.” Dia pun melangkah pergi untuk melanjutkan niatnya.
Sementara itu Qing Yue'er kembali ke tempat tinggalnya. Dia mencari sebuah pot lain yang mungkin bisa digunakan. Namun, dia tidak menemukannya. Tidak ada benda lain yang bisa digunakan juga.
“Hmm.” Dia berdiri sambil mengamati pot yang diletakkan di atas meja. Tangannya membelai dagunya sambil berpikir. Di mana dia akan merawat ini?
Beberapa saat kemudian dia mengambil pot itu dan membawanya ke dalam dimensi. Di dalam gua dia menemui Ying Jun dan menanyakan beberapa hal. “Apa kau tahu biji apa ini?”
Ying Jun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tetapi sepertinya sesuatu yang luar biasa.”
“Aku juga berpikir seperti itu,” gumam Qing Yue'er. Kemudian dia berniat mencari tempat yang strategis untuk menumbuhkan biji itu. Dia keluar dari gua dan mencari tanah tanpa salju. Apakah mungkin ada?
Dia berkeliling sampai jauh. Ternyata dimensi bersalju ini cukup luas juga. Namun, kebanyakan permukaannya dipenuhi oleh salju. Hanya ada beberapa tempat yang berisi tanah sepenuhnya.
Akhirnya Qing Yue'er terpaksa menumbangkan sebuah pohon. Itu hanya pohon willow yang tidak banyak berguna. Jadi dia menyingkirkannya dan meletakkan pot rusak itu di sana. Menyedihkan sekali karena dia tidak memiliki pot lain.
“Tidak apa-apa. Cepatlah tumbuh,” ucap Qing Yue'er. “Tunggu sebentar.” Dia berdiri dan berlari kembali ke dalam gua. Setelah beberapa saat dia kembali lagi dengan membawa sebotol air Yin Yang yang masih murni dan utuh.
Qing Yue'er menyiramkannya ke dalam pot tanah liat itu, tepatnya di mana biji misterius itu berada. Setelah selesai dia pun mengangguk puas. “Nah. Jika kamu bisa tumbuh maka aku akan memberimu ini setiap hari.”
Setelah itu dia pun berbalik pergi. Dia akan melihatnya besok. Apakah akan ada pertumbuhan atau tidak. Saat ini dia sangat percaya diri. Seharusnya ini akan berhasil.
Qing Yue'er kembali masuk ke dalam gua. Dia menemui Ying Jun. Ada hal yang ingin dia tanyakan padanya. “Ying Jun, apakah di dunia ini ada tempat dengan medan perang yang menakutkan? Mungkin yang terdapat campur tangan iblis juga?” tanyanya pada Ying Jun.
“Medan perang?” Ying Jun merasa aneh dengan pertanyaan Qing Yue'er. Dia pun menjawab, “Kamu tahu sendiri aku sudah lama tidak pergi ke dunia luar. Siapa yang akan tahu bagaimana kondisi dunia di luar sana?”
Qing Yue'er mendengus. “Setidaknya ceritakan menurut sepengetahuanmu.”
“Terakhir kali aku bebas, aku tidak menemui begitu banyak peperangan. Paling-paling hanya pertempuran antar kekuatan. Jika itu medan perang dengan campur tangan iblis yang begitu menakutkan seperti yang kamu tanyakan, sepertinya tidak ada,” ucap Ying Jun. Dia menatap penasaran pada Qing Yue'er. “Memangnya ada apa?”
“Tidak ada. Aku hanya bertanya dengan acak.” Qing Yue'er akhirnya menyudahi pembicaraan itu. Dia lebih memilih masuk ke dalam kolam Yin Yang untuk menyantaikan pikirannya.
__ADS_1