
Malam hari Qing Yue'er berada di paviliun kediaman Jing Ling. Dia tengah menghadiri undangan makan malam yang ditawarkan oleh Jing Ling. Gadis itu memang telah bersikukuh untuk merayakan pertemanan mereka.
Kediaman Jing Ling terasa sangat tenang. Hanya ada beberapa pelayan yang berkeliaran untuk membantu mempersiapkan makan malam mereka.
Di meja makan sudah tersaji berbagai hidangan yang menggugah selera. Aroma harumnya membuat Qing Yue'er tidak sabar untuk menikmatinya. Hanya saja demi menjaga citranya dia harus bersabar sebentar.
Sebenarnya sejak keluar dari kediaman Bai, dia sudah sangat jarang disajikan dengan hidangan semacam ini. Benar-benar tidak boleh dilewatkan!
Selain makanan, ada juga Anggur Musim Semi yang disediakan khusus untuknya. Qing Yue'er langsung tertarik untuk mencobanya. Dia menuangkan ke gelas dan aroma harumnya langsung tercium di udara.
"Anggur yang bagus," gumamnya.
Jing Ling tersenyum. Dia melakukan hal yang sama dengan Qing Yue'er. "Xinyu, mari kita bersulang untuk pertemanan kita."
"Tentu." Qing Yue'er menyambutnya dengan senang.
Setelah beberapa saat, seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Wajahnya yang berwibawa terlihat ramah dan menghargai keberadaan Qing Yue'er.
"Ayah, ini orang yang aku bicarakan semalam," ucap Jing Ling. Dia langsung memperkenalkan Qing Yue'er dengan antusias.
"Salam, Tuan Jing," sapa Qing Yue'er dengan tangan tertangkup.
Jing Wubei terkekeh. Dia melambaikan tangannya, menyuruh Qing Yue'er untuk tidak perlu begitu sopan. Setelah itu dia ikut duduk di sebelah Jing Ling.
"Xinyu, aku sangat berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan putriku. Dia memang gadis yang merepotkan, jadi maaf jika dia telah membuatmu kesulitan," ucapnya.
"Ayah ... kenapa kamu berbicara seolah-olah aku sangat memalukan?" protes Jing Ling.
__ADS_1
"Bukankah kau memang seperti itu?" jawab Jing Wubei yang membuat Jing Ling cemberut.
Qing Yue'er tersenyum. Melihat sepasang ayah dan anak itu membuat dia teringat dengan Bai Su. Bagaimana kabar mereka sekarang? Sudah lama sejak mereka bertatapan muka.
"Jadi bagaimana selanjutnya? Apa kau akan pergi ke kota Fuli?" tanya Jing Wubei dengan serius.
Sebenarnya dia merasa bersalah karena tidak dapat melakukan banyak hal. Meskipun dia merupakan seorang penguasa kota, tapi kekuatannya tidak setinggi itu. Ya, itu karena dia dipilih langsung berdasarkan kemampuan memimpinnya.
Sekarang dia juga merasa khawatir dengan keadaan putranya yang masih sakit-sakitan. Jing Ke adalah putra satu-satunya yang akan mewarisi banyak hal darinya. Itu berbeda dari Jing Ling yang nantinya pasti akan mengikuti kehidupan suaminya.
Sekarang harapannya hanya akan disematkan pada Qing Yue'er. Entah kenapa sejak pertama kali melihatnya, dia merasa gadis itu bukan gadis sederhana. Dan dia juga yakin apa pun yang diinginkan mungkin tidak akan sulit untuk dimiliki olehnya.
"Ya, aku akan pergi ke kota Fuli. Sebenarnya tujuan awalku memang untuk pergi ke sana. Jadi ini sama sekali tidak keluar dari rute perjalananku," jawab Qing Yue'er dengan yakin.
Setelah mendengar jawaban Qing Yue'er, Jing Ling menggoyang-goyangkan lengan ayahnya. "Ayah, bolehkah aku ikut dengannya?" Matanya berkedip manja.
Jing Wubei menghela napas. Dia mengangguk mengiyakan keinginan putrinya. Sebenarnya itu bukan untuk memanjakan Jing Ling. Lebih tepatnya dia berharap bahwa keberadaan Jing Ling akan sedikit meringankan beban Qing Yue'er.
***
Hari berikutnya Qing Yue'er dan Jing Ling bersiap untuk melakukan perjalanan. Mereka berdua menaiki kuda masing-masing dan mulai bergerak meninggalkan kota Nan Zheng.
Sebelumnya Qing Yue'er telah menemui Xiao Hai terlebih dahulu. Dia berjanji pada anak kecil itu bahwa ibunya akan selamat. Dia melakukannya agar Xiao Hai tidak cemas sepanjang hari.
Untungnya Xiao Hai mengerti. Dia tidak mau terlalu merepotkan Qing Yue'er. Ya, dia sadar bahwa mereka tidak memiliki hubungan spesial apa pun. Sepertinya akan berlebihan jika dia menuntut Qing Yue'er untuk melakukan sesuatu.
Derap langkah kaki kuda terdengar di sepanjang jalan. Qing Yue'er dan Jing Ling memacu kudanya dengan semangat tinggi. Mereka akan melakukan perjalanan yang mungkin memakan waktu panjang untuk kembali lagi.
__ADS_1
Ketika mereka keluar dari gerbang kota, mata Qing Yue'er sedikit menyipit, namun tidak ada apa pun yang dia lakukan. Dia tetap melanjutkan tanpa berhenti.
Barulah ketika tiba di persimpangan jalan, Qing Yue'er menghentikan kudanya. Dia menatap Jing Ling dengan serius. "Aku akan melewati jalur yang ini." Dia menunjuk jalan sebelah kiri.
Jing Ling melotot pada Qing Yue'er. "Apa kau serius?! Tidak. Itu terlalu berbahaya," ucapnya menolak ide Qing Yue'er.
"Itu bukan terserah padamu," ucap Qing Yue'er sambil terkekeh. Kemudian dia kembali memacu kudanya dengan cepat tanpa mempedulikan gerutuan Jing Ling.
Tentu saja Jing Ling tidak bisa membuat pilihan. Dia tetap mengikuti apa yang Qing Yue'er pilih. Matanya hanya bisa menatap jalur sebelah kanan dengan nanar. Ya, tidak apa-apa, mereka hanya perlu berhati-hati.
Setelah beberapa saat Qing Yue'er melihat apa yang dia tunggu. Itu adalah sebuah jembatan kayu yang dibuat memanjang di atas jurang yang sangat curam.
Tebing Akhir Kematian. Memiliki nama tersebut karena jurang yang memisahkannya memiliki kedalaman tanpa batas. Siapa pun yang terjatuh hanya akan memiliki akhir berupa kematian.
Selain itu, jurang tersebut juga memiliki daya gravitasi yang kuat. Jika seseorang melakukan sedikit kesalahan saja mungkin mereka akan tertarik masuk ke dalam jurang.
Di sana seseorang tidak dapat menggunakan kemampuan terbangnya. Jadi, tidak peduli siapa pun yang lewat mereka hanya bisa bergerak seperti manusia normal.
Tebing Akhir Kematian terletak tidak terlalu jauh dari kota Nan Zheng. Karena tempatnya yang berbahaya, seseorang jarang melewati tempat ini. Paling-paling hanya sebatas kultivator-kultivator yang memiliki kekuatan tinggi.
Jing Ling tidak tahu apa alasan Qing Yue'er menginginkan jalan ini. Dia mencoba bertanya tapi gadis itu sama sekali tidak memberikan jawaban. Mungkin dia akan segera tahu setelah ini.
Ketika mereka sudah dekat, Qing Yue'er menghentikan kudanya. Dia berbalik dan menelisik ke hutan-hutan yang ada di belakangnya.
"Keluarlah. Sampai kapan kalian akan tetap menguntit seperti ini?" tanya Qing Yue'er dengan datar.
Dia hanya menguap dengan bosan. Sedangkan Jing Ling mengangkat alisnya karena penasaran kepada siapa Qing Yue'er berbicara.
__ADS_1
"Heh! Kamu benar-benar memiliki pengamatan yang cukup bagus!" Suara seorang pria terdengar dari ujung jalan. Pada saat itulah beberapa orang muncul dari balik pepohonan.
Jing Ling terkejut dengan apa yang dia lihat. Setelah beberapa saat mulutnya tidak tahan untuk mencibir.