
Malam itu semua orang berakhir dengan kebahagiaan. Guci-guci anggur dikosongkan, makanan di meja pun disapu bersih hingga tersisa wadahnya yang berserakan. Suara gelak tawa dan beragam pembicaraan mengiringi hari yang gelap. Ketika hari sudah larut barulah satu persatu mulai berpamitan pergi.
Qing Yue'er bangun dengan kepala yang sedikit pusing. Dia bukan orang yang memiliki toleransi tinggi terhadap alkohol. Dia juga tidak menggunakan kekuatannya untuk menoleransi. Jadi, malam ini dia memang sudah mabuk.
Sekarang hari sudah siang. Dia tidak tahu siapa yang sudah memindahkannya ke kamar. Itu tidak begitu penting juga. Sekarang dia perlu menata pikirannya dan menyiapkan rencana untuk selanjutnya.
Dia pun memanggil seorang pelayan lalu berkata, “Aku akan menutup diri. Berapa lama waktunya masih belum dipastikan. Jadi, aku ingin memastikan tidak ada orang yang datang mencariku.”
“Baik, Nona.”
Setelah pelayanan itu pergi, Qing Yue'er langsung masuk ke dimensinya. Di sana dia tidak melihat Mo Jingtian, mungkin pria itu berada di dimensinya sendiri. Namun, dia tidak akan direpotkan dengan hal ini karena sekarang dia akan mencoba menerobos.
Qing Yue'er duduk di atas batu lalu mengambil kotak yang berisi dua buah persik. Saat itu dia ingin memakannya tapi tiba-tiba Mo Jingtian datang menghentikannya. Pria itu muncul secara mendadak di hadapannya.
“Tunggu sebentar,” katanya.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Qing Yue'er dengan bingung.
“Tidak ada. Aku hanya ingin memberi tahu beberapa hal penting.”
“Apa itu?”
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er dengan serius. “Aku tidak tahu apakah kamu akan menerobos ke alam surgawi sekarang atau tidak, tapi kamu harus tahu ini.”
“Jingtian, aku akan mendengarkanmu,” ucap Qing Yue'er dengan pelan.
Mo Jingtian sedikit melembut. Kemudian dia berkata, “Menerobos alam surgawi tidak akan sesederhana ketika menerobos pada ranah sebelumnya. Tidak ada kesengsaraan surgawi, melainkan iblis batin.”
Qing Yue'er sedikit terkejut. “Iblis batin? Apa aku harus berperang melawannya?” Pertanyaan ini langsung diangguki oleh Mo Jingtian.
“Bagaimana jika aku tidak mampu melawannya?” tanya Qing Yue'er.
“Jika kamu tidak bisa melawannya maka iblis batin itu yang akan menelan jiwamu dan menguasai tubuhmu,” ucap Mo Jingtian.
Ini tidak berlebihan karena ini adalah sebuah kebenaran. Memang, alam surgawi adalah ranah yang berbeda. Tidak sembarang orang bisa sampai pada titik ini dan usaha untuk mencapainya juga bukan hal yang main-main.
__ADS_1
“Aku pasti bisa melakukannya,” kata Qing Yue'er dengan penuh percaya diri.
“Aku percaya itu.”
“Kalau begitu bisakah aku memakannya sekarang?” tanya Qing Yue'er.
“Ya. Lakukanlah.” Mo Jingtian mengangguk.
Akhirnya tanpa ragu lagi Qing Yue'er langsung menggigit Persik Surgawi itu. Pada gigitan pertama dia benar-benar merasa takjub. Rasanya sangat luar biasa. Bukan hanya manis tapi juga kandungan qi spiritual di dalamnya yang begitu padat melebihi apa pun.
“Ini benar-benar rasa yang sangat baik,” ucapnya.
“Memang.” Mo Jingtian menyetujui ucapan Qing Yue'er. “Jangan banyak bicara. Kamu harus terus menghabiskannya.”
Qing Yue'er mengangguk. Dia pun terus menggigit persik itu dan mulai menghabiskannya. Setelah persik pertama benar-benar habis, dia beralih ke persik ke dua. Tidak akan membiarkan menunggu lama lagi. Biarkan dia melakukannya sekali jalan.
“Setelah ini masuklah ke dalam kolam. Lakukan terobosan di sana.” Mo Jingtian memberikan sedikit instruksi.
Qing Yue'er mendengarkannya. Setelah dia selesai memakan kedua persik itu dia langsung masuk ke dalam kolam. Seperti yang diperintahkan oleh Mo Jingtian, dia pun mulai memasuki meditasinya di sana.
Kedua matanya tertutup. Siapa pun bisa melihat aliran cahaya berwarna merah muda mengalir dalam darahnya. Itu adalah energi dari Persik Surgawi.
“Sepertinya aku harus pergi sebentar,” gumamnya. Setelah itu dia pun langsung menghilang yang entah ke mana tujuannya.
***
Sementara itu di sebuah tempat di Dataran Tengah, Qi Rong sedang merasa putus asa. Dia mengerjakan banyak sekali tugas tertulis yang tidak masuk akal. Jari-jarinya mungkin bisa patah jika harus menulis sebanyak itu.
Tidak jauh darinya ada Cloud Fairies yang sedang duduk dengan beberapa botol porselen putih di depannya. Botol itu berisi alkohol. Suasana hatinya memang sedang buruk akhir-akhir ini. Itulah kenapa Qi Rong menerima banyak sekali tugas.
“Guru, tidak bisakah aku beristirahat? Aku belum tidur selama beberapa saat ini,” keluh Qi Rong, berharap akan didengarkan oleh gurunya.
“Bilang saja kamu pemalas. Bahkan, setelah mengikutiku dua tahun sifatmu masih belum berubah,” ucap Cloud Fairies sambil meminum anggurnya. “Anggur ini kenapa sangat enak?” gumamnya.
Qi Rong mendecih. “Bilang saja Guru sedang banyak masalah. Bukannya Guru memang sudah pernah meminumnya?”
__ADS_1
Cloud Fairies akhinya mengalihkan pandangannya pada Qi Rong. Tiba-tiba kabut awan yang menutupi wajahnya mulai memudar secara perlahan.
Qi Rong menahan napasnya. Apakah akhinya Cloud Fairies ingin membuka wajahnya? Jujur saja selama ini pun dia masih belum benar-benar melihatnya dengan jelas. Ini memang aneh. Sepertinya dia sudah pernah melihatnya, tapi entah kenapa dia tidak bisa mengingatnya secara spesifik.
Kadang-kadang dia berpikir, apakah Cloud Fairies menghapus ingatan orang lain yang sudah pernah melihat wajahnya? Dia tidak tahu. Meskipun begitu dia bisa yakin akan satu hal. Cloud Fairies adalah sebuah kecantikan.
“Aku memang memiliki masalah sekarang,” ucap Cloud Fairies memotong pemikiran Qi Rong. Pada saat itu akhirnya kabut awan yang menutupi wajahnya benar-benar lenyap.
Qi Rong tidak bisa tidak terperangah. Dia benar-benar bisa melihat wajah Cloud Fairies. Bibirnya yang merah alami, bentuk alisnya yang lurus dan tipis, serta matanya yang indah. Memang tidak salah, wanita itu sangat cantik.
Oh, jangan bandingkan dengan Qing Yue'er. Gadis itu memang berada pada tingkat kecantikan yang sama sekali berbeda. Selain itu dia juga yakin Qing Yue'er sendiri masih menutupi sebagian dari kecantikannya.
Sedangkan Cloud Fairies, dia adalah wanita dewasa. Ini bisa dilihat dari bagaimana bentuk tubuhnya yang sudah matang. Qi Rong merasa takjub melihatnya.
“Jangan melihatku seperti itu,” ucap Cloud Fairies sambil berjalan mendekati Qi Rong.
“Ehm, aku hanya terkejut,” balas Qi Rong setelah berdehem.
Cloud Fairies duduk di depan Qi Rong. Mereka terpisahkan oleh meja yang berisi kertas-kertas serta banyak slip-slip bambu. “Apa aku cantik?” tanya dia dengan mata yang berkedip sebelah.
Qi Rong menelan ludahnya. “Kenapa Guru masih harus bertanya tentang ini?”
Cloud Fairies terkekeh, tapi kemudian langsung terdiam. “Aku menunggu temanmu. Kenapa dia masih belum menemuiku?”
“Apa Guru menunggu sutra dari kuil Nushen?” tanya Qi Rong yang langsung dijawab dengan anggukan oleh gurunya.
“Ya. Aku harus mendapatkan itu.”
“Memangnya untuk apa? Kenapa tidak Guru yang langsung datang mencari sutra itu?”
“Karena tidak semua orang bisa mendapatkannya,” jawab Cloud Fairies.
Qi Rong mengembuskan napasnya. Kemudian dia bertanya dengan penasaran, “Apa itu benar-benar penting?”
“Penting, sangat penting. Jika aku mendapatkannya maka aku bisa segera pulang,” ucap Cloud Fairies. Dia mengangkat botol porselennya dan kembali menenggak isinya. “Aku harus segera pulang.”
__ADS_1
“Memangnya ... di mana rumah Guru?” tanya Qi Rong yang merasa semakin ingin tahu.
Cloud Fairies menatap Qi Rong dengan dalam. Beberapa saat kemudian dia pun menjawab, “Celestial.”