Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Akibat Melawan Dewa


__ADS_3

Cahaya merah tiba-tiba menembak lurus dengan kecepatan kilat ke arah Mo Jingtian. Itu begitu cepat hingga menciptakan retakan-retakan hitam pada garis lintasnya.


Jubah putih Mo Jingtian berkibar tertiup angin. Kedua matanya berkilat dengan cahaya emas. Ujung jarinya dengan cepat menggambar formasi berwarna emas di udara.


Tiba-tiba sebuah ruang lain tercipta di depannya. Cahaya merah yang membawa kekuatan destruktif itu langsung lenyap masuk ke ruang itu.


Di Ming De yang melihat itu menjadi terkejut. Bagaimana Mo Jingtian masih bisa membuat formasi hebat seperti itu? Bukankah dia tidak memiliki kultivasi lagi? Kedua matanya langsung menyipit tajam.


“Mo Jingtian, apakah setelah kehilangan kultivasi, kau memutuskan untuk mempelajari sihir khusus?”


Senyum mengejek muncul di bibir Mo Jingtian. “Sihir khusus? Apa kau pikir aku adalah Baili Linwu yang akan menggunakan teknik iblis untuk membangun kultivasinya sendiri?”


“Jangan menyeret Tuan Pengadilan Surgawi! Semua dewa tahu kau adalah orang yang kejam dan suka memberontak. Siapa yang tahu hal-hal apa yang kau rencanakan di luar Pengadilan Surgawi?” ucap Di Ming De dengan dingin.


Mo Jingtian mendengkus. “Aku tidak akan membuang omong kosong denganmu,” ucapnya. Lebih baik dia segera menyelesaikan masalah ini sebelum musuh lain datang.


Kedua matanya kembali berkilat dengan cahaya emas. Dia mengibaskan tangannya lalu taburan cahaya emas muncul di depannya. Taburan cahaya itu bergerak membentuk tujuh panah kecil berwarna emas.


Sejak mencapai puncak penguasaan kekuatan jiwa, dia bukan hanya bisa mengendalikan pikiran, jiwa, dan kemauan orang lain, tetapi juga bisa menggunakannya untuk menyerang musuh dengan kasat mata. Dia bisa memadatkan kekuatan jiwa menjadi bentuk apa pun yang dia mau.


Qing Yue’er yang berdiri di sisi taman menatap ketujuh panah emas itu dengan rumit. Mo Jingtian mungkin telah mencapai puncak penguasaan kekuatan jiwa, tapi itu bukan teknik yang diizinkan langit.


Dia khawatir langit akan kembali memberinya hukuman. Kenapa Mo Jingtian masih bersikeras menggunakan itu?


“Gadis, apa kau begitu khawatir dengannya?”


Tiba-tiba suara yang kecil memasuki telinga Qing Yue’er. Dia menoleh, tapi tidak melihat apa pun. Siapa yang barusan bertanya padanya?


“Hey! Aku di bawah!”


Dia langsung menunduk. Di sanalah tanaman bunga peony berwarna biru yang berkilauan tampak bergoyang-goyang. Tangkai daunnya melambai-lambai padanya.


“.…”


Apakah karena sudah memasuki roh perak sehingga dia bisa berbicara dengan tumbuhan? Tapi kenapa hanya peony itu yang mengajaknya berbicara?


“Lupakan saja!” gerutu bunga itu dengan nada jengkel. “Lebih baik kau perhatikan bagaimana pertempuran mereka!”


Tepat setelah itu, suara desingan terdengar. Qing Yue’er akhirnya mengabaikan bunga peony itu. Dia melihat satu panah Mo Jingtian melesat cepat ke arah Di Ming De.

__ADS_1


Whoosshh!


Di Ming De mendengkus. Dia terbang mundur, menghindari panah yang mengejarnya. Jari-jarinya membentuk segel tangan. Setelah itu, tanah bergemuruh dan naik membentuk dinding kokoh yang sangat tinggi.


Tamu-tamu undangan yang pingsan terlempar dengan perubahan struktur tanah itu. Seluruh taman menjadi berantakan. Setelah itu, suara dentuman terdengar ketika panah Mo Jingtian menghantam tembok tanah Di Ming De.


Serpihan tanah berhamburan, tapi tembok itu tidak runtuh. Di Ming De tertawa keras di balik dinding itu. “Mo Jingtian, jangan lupa aku adalah Dewa Bumi. Bagaimana kau bisa mengkhianati tanah tempat kakimu berpijak?”


Mo Jingtian tidak memedulikan kata-kata itu. Dia kembali mengibaskan lengannya, lalu panah emas yang ke dua kembali dikirim.


Ledakan kembali terdengar. Tanah berguncang bukan hanya di Istana Guang saja, tetapi bermil-mil jauhnya dari tempat itu.


Tentu saja ini menciptakan kegemparan di luar Istana Guang. Orang-orang kebingungan dan bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.


Mereka mencoba mencari tahu. Namun, kebanyakan dari mereka hanyalah orang biasa atau setidaknya berada di bawah level alam surgawi. Akhirnya tidak ada yang berani pergi ke sumber ledakan.


Di sisi lain, Qing Yue’er dengan cepat naik ke udara. Kekhawatirannya menjadi lebih jelas pada keselamatan kultivator-kultivator yang masih pingsan. Jika orang-orang itu tidak segera dipindahkan, mereka akan mati di bawah kekacauan pertempuran itu.


Dengan cepat dia segera membuat portal untuk mereka. Tangannya bergerak membentuk segel rumit. Beberapa saat kemudian, sebuah lubang transparan dengan lebar tiga meter muncul di udara.


Pada saat itu, seseorang tiba-tiba datang. Dia adalah Guru Mo. Pria tua itu sengaja bersembunyi sebelumnya dan hanya akan datang jika diperlukan.


“Terima kasih.”


Qing Yue’er tidak ragu sama sekali. Memanfaatkan moment ketika Di Ming De bersembunyi di balik dinding tanah, mereka dengan cepat mengirim orang-orang yang pingsan ke dalam portal.


Keberadaan Guru Mo membuat semuanya menjadi lebih mudah. Bagaimanapun juga, kekuatan pria tua itu hampir setara dengan dewa.


Ratusan tubuh kultivator melesat memasuki portal. Ketika mereka bangun, mereka akan terkejut karena sudah tidak berada di Istana Guang lagi.


Saat Qing Yue’er dan Guru Mo sibuk memindahkan orang-orang, Mo Jingtian tidak mengalihkan perhatiannya dari Di Ming De. Panah ke tiga baru saja diluncurkan dan dinding tanah yang melindungi dewa itu bergetar keras.


Di Ming De mengepalkan tangannya. Dia berteriak, “Mo Jingtian, menyerahlah sekarang! Tuan Pengadilan Surgawi pasti akan meringankan hukuman untukmu!”


“Jika ada yang harus menyerah, itu seharusnya kau, bukan aku. Bukankah sekarang kau yang bersembunyi di balik dinding ini?” balas Mo Jingtian tanpa ekspresi.


Dia lalu menatap tajam pada barisan anak panah emasnya. Dengan satu pikiran, dua anak panah melesat sekaligus dan menghantam dinding tanah itu. Ledakan yang mengguncang dan memekakkan telinga kembali terdengar.


Angin kuat berembus akibat ledakan itu. Debu dan tanah beterbangan. Retakan-retakan mulai muncul pada dinding tanah yang begitu tebal dan kokoh. Itu menyebar dari atas dinding tanah hingga ke bawah, bahkan mencapai kaki Mo Jingtian.

__ADS_1


Para pelayan dan anggota Istana Guang yang tidak mengikuti perjamuan bisa melihat situasi keseluruhan dari atas menara istana. Mereka ketakutan mengetahui situasi yang benar-benar tidak terduga ini. Apa yang harus mereka lakukan?


Tidak seorang pun berpikir perjamuan yang dihadiri oleh ratusan kultivator hebat akan berubah menjadi kekacauan seperti ini. Bagaimana bisa tamu-tamu undangan itu pergi dan justru menyisakan dua dewa yang ingin saling menghancurkan?


Ini adalah dewa. Entitas tertinggi di tiga alam!


“Bagaimana ini? Tuan Muda terluka, Tuan Besar juga pingsan. Tidak akan ada orang yang bisa menghentikan mereka,” ucap seorang pelayan sambil mengamati pertempuran.


“Bahkan jika mereka tidak terluka, mereka masih tidak akan bisa menghentikan perselisihan ini. Kedua dewa itu sepertinya memiliki dendam yang mendalam. Mereka tidak akan berhenti sebelum keluar habis-habisan,” sahut seorang penjaga.


“Tapi … istana ini mungkin tidak akan bisa menahannya. Lihatlah!” Pelayan yang lain menunjuk dinding istana yang sudah retak. Itu retakan akibat pertempuran Mo Jingtian dan Di Ming De.


“Lebih baik kita pergi dari sini. Berbahaya!”


“Benar. Ayo, tinggalkan istana ini!”


Mereka tidak peduli lagi dengan kesetiaan pelayan dan majikan. Apa yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri agar tidak terlibat dalam kekacauan.


Setelah itu, satu panah meluncur lagi menghantam dinding tanah. Retakan menjadi semakin lebar dan dalam. Dinding itu sekarang sudah hampir runtuh.


Di Ming De menggertakkan giginya dengan marah. Bagaimana pria yang sudah jelas kehilangan level kultivasinya itu masih bisa sekuat ini?


Hatinya menjadi tidak tenang. Dia sama sekali tidak tahu ternyata Mo Jingtian telah melatih kekuatan jiwa sampai tahap ini. Apakah Tuan Pengadilan Surgawi mengetahuinya?


Kekuatan Mo Jingtian benar-benar tidak terduga. Jika kekuatan Tuan Pengadilan Surgawi tidak segera dibangun, maka mereka yang akan terlebih dahulu dihancurkan oleh pria itu.


Tekad yang kejam akhirnya melintas di matanya. “Ritual pengorbanan darah benar-benar harus segera dilakukan,” gumamnya dengan dingin.


Dia mengangkat kedua tangannya. Amarah langsung meledak ketika menyadari bahwa semua orang sudah pergi. Tidak ada satu pun kultivator yang tersisa kecuali Qing Yue'er dan Mo Tianyu.


“Kalian benar-benar berani!”


Dengan marah dia memusatkan perhatiannya ke arah Qing Yue'er. Tatapannya menembus dinding tanah hingga dia bisa dengan jelas melihat gadis itu.


“Aku akan membuat kalian mengerti akibat melawan Dewa!” geramnya dengan suara menggelegar.


Qing Yue'er tiba-tiba merasa merinding. Dia melihat Mo Jingtian melepaskan panah terakhir. Ledakan dahsyat langsung terdengar ketika dinding tanah itu runtuh dan hancur.


Bertepatan dengan itu, tanah di bawah Qing Yue'er tiba-tiba terbuka. Kemudian gravitasi kuat menarik tubuhnya tenggelam ke dalam tanah.

__ADS_1


“Qing Yue'er!”


__ADS_2