
Ming An hanya membisu. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi mengenai hal ini. Namun Ming Yuxia tidak mau diam. Gadis itu mendekati ayahnya dan berkata dengan nada memohon.
"Jika Ayah memang mengetahui sesuatu, tolong ceritakan pada kami," ucapnya.
"Xia'er, kamu harus tahu kenapa selama ini aku menyimpan masalah ini. Sebenarnya aku sudah tidak mau lagi mengungkit masalah ini." Ming An berkata dengan pelan. Dia berharap agar Ming Yuxia mengerti tentang apa yang yang dia inginkan.
"Ayah, katakan saja. Mereka pasti tahu batasannya." Ming Xuan yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. Dia juga ingin tahu tentang masalah ini, meskipun pada akhirnya dia tidak akan banyak membantu.
Ming An berjalan untuk mengambil air minum. Pikirannya bergelayut entah ke mana. Kenapa dia memilih untuk hidup sederhana adalah untuk membuat keluarganya dijauhkan dari masalah-masalah lainnya. Apalagi sejak istrinya meninggal, dia sudah berusaha untuk menyimpan masalah itu sendirian.
Namun, ternyata orang-orang itu tidak pernah berhenti. Mereka menemukan tempat tinggalnya dan memberikan teror untuknya. Sekarang haruskah dia keluar dan melawan mereka? Apakah ini pilihan yang bagus?
Qing Yue'er membiarkan Ming An memikirkan hal-hal. Dia dapat mengerti apa yang orang tua itu pikirkan. Mungkin ini semua adalah sesuatu yang masih berat untuk keluarganya.
Setelah beberapa saat akhirnya Ming An menghela napas dan memejamkan matanya. "Baiklah, aku akan memberitahu apa yang mungkin aku tahu."
Ming Yuxia akhirnya dapat bernapas lega. Dia sudah merasa takut kalau-kalau ayahnya masih tetap menentang pilihannya. Sejujurnya dia benar-benar ingin membalas orang yang sudah membunuh ibunya.
Menurut dia, diam dan menghindar adalah sesuatu yang hanya akan membuat musuhnya semakin melunjak. Meskipun kadang-kadang berbahaya, manusia seharusnya tidak berdiam diri ketika diintimidasi. Musuh hanya akan merasa semakin senang melakukan hal itu.
Sedangkan Qing Yue'er hanya mengangguk. Sebenarnya dia tidak begitu khawatir. Seandainya Ming An tidak mau menceritakan hal-hal lebih lanjut, dia bisa memakai cara lain untuk memaksanya. Namun itu adalah pilihan terakhir, akan lebih baik jika orang tua itu memiliki kesadaran sendiri.
"Ayo semuanya ikut denganku. Aku akan menunjukkan sesuatu," ucap Ming An. Dia berdiri dan mengajak semua orang untuk mengikutinya. Setelah itu dia pun mulai berjalan ke halaman belakang.
Ming Yuxia terus mengikuti ayahnya sampai berakhir di depan gubuk yang ada di halaman belakang. Itu adalah gubuk yang sejak dulu dilarang untuk dimasuki. Dia tidak tahu kenapa ayahnya melarang dia datang ke tempat itu. Sepertinya semuanya ada sangkutannya dengan masalah ini.
Ming An membuka pintu gubuk yang sudah lama tidak dibuka. Udara lembab langsung tercium oleh semua orang. Banyak jaring laba-laba yang menggantung di atap dan dinding kayunya. Kemudian dia membuka jendela kecil yang ada di sana, agar udara segar bisa masuk.
Qing Yue'er masuk ke dalam gubuk itu. Dalam sekali lihat saja dia sudah tahu kalau gubuk ini pasti sudah lama tidak dijamah oleh seseorang. Menurutnya tidak ada hal yang begitu mencolok di dalam. Hanya ada beberapa senjata yang digantung di dinding.
Dia bisa melihat Ming An yang berjalan mendekati senjata-senjata itu. Kemudian tangannya bergerak untuk mengambil salah satu senjata yang ukurannya kecil. Ya, itu adalah sebuah belati yang sudah tertutup oleh debu.
Ming An membawa belati itu dan menunjukkannya pada semua orang. "Belati ini adalah benda yang sudah digunakan untuk menguliti istriku," ucapnya. Awalnya dia berpikir untuk membuang belati itu, tetapi dia mengurungkan niatnya.
Qing Yue'er mengambil belati itu dan meniup debu di atasnya agar bisa diamati dengan jelas. Setelah itu penampilannya pun terbuka. Permukaan belati sudah sedikit berkarat, lalu di bagian gagangnya ada ukiran kecil yang berupa tulisan 'Chao.'
"Bukankah Chao adalah marga ibu?" Ming Yuxia bertanya. Sepertinya dia sudah semakin memahaminya.
"Itu benar." Ming An menganggukkan kepala.
"Jadi orang yang membunuh ibu memang keluarganya sendiri, tapi kenapa?" Ming Xuan bertanya. Dia benar-benar tidak mengerti. Jika memang itu karena harta semata, bukankah ibu dan ayahnya sudah mengalah tanpa mengambil sepeser pun? Lalu kenapa mereka masih menginginkan nyawanya?
"Mungkin mereka masih belum merasa puas," ucap Ming An sambil membuang wajahnya ke arah jendela.
Qing Yue'er mengerutkan kening sesaat, ada banyak hal yang harus dia cerna. Kemudian dia menyerahkan belati itu pada Ming Yuxia. "Simpan ini untuk sementara."
__ADS_1
Ming Yuxia menerimanya. "Haruskah kita pergi ke keluarga Chao sekarang?"
Qing Yue'er tidak menjawabnya. Dia berjalan berkeliling untuk melihat-lihat senjata yang ada di dinding. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tidak diketahui orang lain.
"Nona, sepertinya jika memang kalian ingin pergi ke keluarga Chao, sekarang adalah saat yang tepat." Ming An mengusulkan.
Langkah Qing Yue'er terhenti. Dia menunduk sesaat dan akhirnya berbalik menjauh. "Baiklah, kita bisa bersiap. Aku butuh informasi mengenai keluarga itu."
"Aku bisa memberitahu secara detail. Jadi kalian bisa bersiap dulu, aku akan membereskan gudang ini sebentar," ucap Ming An. Kemudian dia bersiap untuk membersihkan gudang yang memang sudah lama tidak terpakai.
Akhirnya Qing Yue'er dan yang lainnya pun bergegas untuk keluar dari gubuk. Setelah itu mereka kembali ke dalam rumah Ming Yuxia.
"Apa ayah kalian tidak berkultivasi? Aku merasa energinya sangat lemah," ucap Qing Yue'er.
"Dia melakukannya, tetapi karena telah memilih untuk hidup sederhana jadi dia memutuskan untuk berhenti." Kali ini Ming Xuan yang menjawab.
"Sayang sekali ...," gumam Qing Yue'er. Sangat disayangkan jika seseorang berhenti melakukan kultivasi. Bukankah jika dia memiliki kekuatan yang tinggi akan memudahkannya melindungi orang-orang terdekatnya?
"Aku masih tidak mengerti, kenapa keluarga ibunya masih melakukan teror itu?" Jing Ling bertanya pada Qing Yue'er dengan lirih. Namun gadis yang ditanya hanya mengendikkan bahu.
Jing Ling mengerutkan bibirnya. Setelah beberapa saat dia pun bertanya pada Ming Xuan, "Mereka melakukan teror dengan cara seperti apa?"
"Beberapa hari terakhir ada kepala manusia yang dilemparkan ke dalam rumah. Kepala itu memiliki belati yang tertancap di ubun-ubun," jawab Ming Xuan.
Ketika mengingat hal itu, dia hanya bisa bergidik ngeri. Untuk dia yang saat itu masih lumpuh, tentu saja dia merasa takut. Belum lagi kultivasinya sangatlah rendah. Jika memang peneror itu menyerangnya, bukankah dia hanya akan berakhir menjadi mayat?
"Ya, itu benar."
Qing Yue'er akhirnya mengerti sesuatu. Namun dia hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa lagi, hingga Ming An telah selesai dengan pekerjaannya. Setelah itu pria tua itu pun datang untuk menceritakan tentang keluarga Chao.
"Sudah lama sekali sejak aku memutus hubungan dengan mereka. Jadi aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini," ucap Ming An. "Namun, aku tahu mereka bukanlah orang-orang yang mudah. Mereka akan mengejar sesuatu yang memang menjadi haknya. Mungkin itu seperti bagaimana mereka membunuh Chao Xing."
Chao Xing adalah nama ibu Ming Yuxia atau istri Ming An. Dia adalah putri bungsu dari keluarga Chao. Mungkin hal itu yang menyebabkan dia menerima lebih banyak kasih sayang dari orang tuanya. Sayangnya hal itu justru membuat saudara-saudara Chao tidak menyukainya.
Rasa tidak suka itu membuat mereka menekan Chao Xing. Apalagi setelah Chao Xing menerima jumlah warisan yang lebih banyak dari saudara lainnya, itu membuat mereka semakin membencinya. Bagaimana mereka bisa diam saja?
"Namun semua itu sudah terjadi. Aku hanya berharap agar mereka berhenti melakukan teror-teror itu," ucap Ming An. "Keluarga Chao berada di kota Li. Xia'er pasti tahu di mana kota itu."
Ming Yuxia mengangguk. "Aku sedikit banyak mengetahui kota Li."
"Baiklah, kalian bisa pergi. Aku memiliki pesan untuk kalian," ucap Ming An.
"Apa itu?"
"Jangan pernah mempercayai apa yang mereka katakan. Aku akan menyerahkan masalah ini, terserah apa yang ingin kalian lakukan pada mereka."
__ADS_1
Sorot mata Qing Yue'er sedikit meredup. Dia kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sebenarnya ada banyak lubang dalam cerita ini, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Mungkin hanya dia yang berpikir berlebihan.
"Kalau begitu kita bisa pergi sekarang," ucap Qing Yue'er.
Ming Yuxia dan Jing Ling mengangguk. Akhirnya mereka bersiap untuk berangkat. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Ming Xuan menghentikan Qing Yue'er dengan ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Qing Yue'er.
Ming Xuan menjadi canggung. "Mmm, itu ... bolehkah aku mengetahui namamu?"
"Kamu bisa memanggilku Xinyu," ucap Qing Yue'er. Menurutnya hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengetahui nama aslinya. Bahkan jika Jing Ling tidak diberi tahu oleh Qi Rong, mungkin sampai sekarang gadis itu tidak akan tahu siapa nama aslinya.
Bagi dia yang memiliki identitas kompleks dan sering melakukan perjalanan jauh, namanya adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh sembarang orang. Mungkin seperti bagaimana Cloud Fairies menjaga keberadaannya tetap tersembunyi. Hanya saja dia dan Cloud Fairies adalah orang yang berbeda.
"Jadi itu Xinyu ...," gumam Ming Xuan. "Baiklah, kalian bisa pergi sekarang."
Qing Yue'er hanya mengangguk. Setelah itu, mereka bertiga pun mulai melakukan perjalanan.
"Yue Kecil, kamu begitu baik menjaga jarak."
Tiba-tiba Qing Yue'er mendengar suara Mo Jingtian dari benaknya. Hal itu membuat dia benar-benar terkejut. "Apa kamu sudah pulih sekarang?"
"Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak mencemaskanku?" Mo Jingtian berkata dengan tenang.
Qing Yue'er menyunggingkan senyum tipis. Sekarang perasaannya menjadi lega. Memang meskipun dia terlihat tidak memikirkan apa-apa, sebenarnya beberapa hari ini dia masih mencemaskan pria itu. Sekarang setelah mendengarnya, dia merasa lebih tenang.
"Itu adalah hal yang baik."
"Kamu membawa Taotie ke tempat ini," ucap Mo Jingtian.
Qing Yue'er terkekeh. Kekehannya yang tidak sengaja keluar membuat Jing Ling dan Ming Yuxia menoleh untuk memperhatikannya. Mereka tertegun karena tiba-tiba Qing Yue'er terkekeh tanpa sebab.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Qing Yue'er pada kedua temannya. Akhirnya Jing Ling dan Ming Yuxia memalingkan muka. Sepertinya benar, orang-orang jenius cenderung aneh jika dibandingkan dengan orang biasa.
"Aku akan memindahkan iblis itu ke dimensi milikku," ucap Mo Jingtian lagi.
"Tidak! Aku tidak mau ikut dengannya! Tolong aku!"
Qing Yue'er bisa mendengar teriakan Taotie di dalam benaknya. Dia ingin tertawa saat membayangkan bagaimana iblis itu akan diperlakukan dengan kejam oleh Mo Jingtian.
"Kenapa dia harus dibawa pergi?"
"Dia hidup terlalu bebas. Dan aku tahu bagaimana dia begitu bebas menggoda seseorang," ucap Mo Jingtian. "Aku akan membebaskanmu masuk ke dalam dimensiku, tanpa terluka oleh aliran ruang dan waktu. Itu akan mempermudah jika kamu membutuhkan bantuan Taotie."
"Baik." Qing Yue'er tersenyum senang. Dibebaskan keluar masuk ke dalam dimensinya? Bukankah itu berarti Mo Jingtian membiarkan dia memasuki privasinya?
__ADS_1
Suasana hati Qing Yue'er yang sudah baik menjadi semakin baik saja. Namun dia hanya menyimpan hal ini sendirian. Saat ini dia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan.