Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Anak Surga


__ADS_3

“Sebenarnya beberapa kali aku memimpikan Anak Surga, tapi aku tidak tahu siapa dia,” ucap Qing Yue'er dengan jujur. Dia menatap Mo Jingtian untuk melihat bagaimana reaksinya, tetapi pria itu tidak menampilkan respons apa-apa.


“Kau memimpikannya? Bagaimana penampilannya dalam mimpi itu?” tanya Mo Tianyu.


“Dia masih anak-anak. Penampilannya cukup bagus. Namun, karena usianya masih kecil aku tidak bisa melihat lebih spesifik. Dan dalam mimpiku juga situasi tempat itu sangat kacau.”


Mo Jingtian mengedipkan matanya beberapa kali. “Lalu? Bagaimana menurutmu tentang anak itu?”


Qing Yue'er terdiam sebentar. “Sepertinya dia cukup menyedihkan. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak,” ucapnya dengan pelan.


“Kau benar-benar memimpikannya?” tanya Mo Tianyu yang merasa cukup terkejut. Gadis itu mengangguk dan membuatnya langsung menggosok hidung. Dia tidak menyangka ternyata Qing Yue'er akan diberi penglihatan seperti itu.


Mo Tianyu menatap Mo Jingtian dengan curiga. “Apa kau yang melakukan ini?”


Mo Jingtian tentu saja langsung menggeleng. Dia sama sekali tidak mencoba memberi tahu Qing Yue'er mengenai Anak Surga. Dia sendiri sebenarnya cukup terkejut dengan fakta ini. “Tidak, Guru. Aku tidak mungkin melakukan itu.”


Qing Yue'er menatap Mo Jingtian dan Mo Tianyu secara bergantian. Kedua orang itu terlihat sangat mencurigakan. “Siapa Anak Surga itu? Apakah aku boleh tahu?” dia bertanya, lalu menatap Mo Jingtian penuh tuntutan. Namun, pria itu masih tampak ragu untuk berbicara.


Perasaan Qing Yue'er menjadi tidak sabar. Dia ingin mendesak Mo Jingtian, tetapi tiba-tiba dia merasa dadanya terasa sangat sesak. Wajahnya tiba-tiba memucat dan pandangannya menjadi berkunang-kunang.


“Apa yang terjadi?” Mo Jingtian berubah menjadi panik. Jantungnya berdetak dengan cepat. Dia segera bergerak menopang Qing Yue'er. “Kau mendengarku, ah? Yue'er,” panggil Mo Jingtian. Dia memeriksa denyut jantungnya, tetapi tidak ada hal yang aneh atau mencurigakan.


Mo Tianyu yang melihat ini juga menjadi bingung. Dia tidak melihat ada kelainan apa pun, tetapi tiba-tiba saja gadis itu menjadi seperti ini. Apa yang terjadi?


Qing Yue'er tidak mendengar apa yang Mo Jingtian tanyakan. Saat ini dia merasa seperti baru saja kehilangan kesadaran, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Di luar dia tampak seperti orang yang pingsan, tetapi saat ini dia sedang berada di tempat lain.


Perasaan Qing Yue'er benar-benar menjadi tidak menentu. Baru saja dia ingin mengetahui tentang Anak Surga dan sekarang langit benar-benar memberi tahu apa yang ingin dia ketahui.


Saat ini Qing Yue'er sudah berada di tempat di mana Anak Surga ditinggalkan. Kemarahan Anak Surga sudah menyebabkan kehancuran desa. Qing Yue'er segera pergi menuju gubuk reyot yang sudah hancur.


Pada saat itulah dia melihat Anak Surga itu. Benar-benar dia! Jantung Qing Yue'er berdebar kencang. Anak Surga itu sudah kehilangan kesadaran. Qing Yue'er ingin melihatnya lebih dekat dan baru maju beberapa langkah ketika tiba-tiba melihat cahaya putih yang melesat cepat.


Cahaya itu berubah wujud menjadi seorang pria yang tidak asing. Qing Yue'er benar-benar terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Pria itu adalah guru Mo Jingtian, alias Mo Tianyu. Meskipun penampilannya tampak jauh lebih muda, tetapi Qing Yue'er tetap mengenalinya.


Kalau begitu jika pria itu adalah Mo Tianyu, apakah mungkin anak itu adalah ....


Qing Yue'er segera berlari hingga tiba tepat di samping Anak Surga. Dia melihat perubahan itu. Perubahan bagaimana rambut anak itu berubah dari hitam menjadi putih, sehelai demi sehelai. Wajahnya yang tanpa cela mulai muncul retakan-retakan yang menakutkan.


Jantung Qing Yue'er terasa seakan berhenti. Kedua matanya menjadi merah dan berkaca-kaca. “Ini .... Jingtian!” Qing Yue'er berusaha memegang tangan anak itu, tetapi saat ini dia hanya berupa kesadaran dan dia tidak bisa menyentuhnya.


Rasa sakit benar-benar menusuk hati Qing Yue'er. Anak Surga adalah Mo Jingtian. Kenapa dia baru mengetahui ini sekarang?! Qing Yue'er merasa marah pada dirinya sendiri dan juga sedih atas apa yang terjadi pada Mo Jingtian.


Qing Yue'er segera menghapus air matanya. Kemudian dia melihat Mo Tianyu yang mencoba memeriksa keadaan Anak Surga. Wajah Mo Tianyu terlihat sangat cemas. “Surga. Maafkan aku yang terlambat,” gumamnya.


“Apa yang terjadi, hah?! Dia masih hidup kan?” Dengan bodohnya Qing Yue'er bertanya keras yang tentu saja tidak akan menerima jawaban.


“Aku akan menolong semampuku,” gumam Mo Tianyu. Setelah itu dia langsung menggendong Anak Surga dan setelah itu segera melesat pergi entah ke mana.

__ADS_1


Qing Yue'er ditinggalkan di sana dengan perasaan tidak berdaya dan penyesalan. Dia merasa sangat ingin menolong. Padahal dia tahu ini hanya penglihatan di masa lalu. Dia merasa kesakitan melihat bagaimana Anak Surga itu menerima kehancuran dan penderitaan di usia yang sangat dini.


Qing Yue'er tanpa sadar terguguk. Mo Jingtian dan Mo Tianyu yang masih menunggu Qing Yue'er bangun menjadi semakin kebingungan. “Yue'er,” panggil Mo Jingtian dengan pelan.


“Kenapa dia menangis?” Mo Tianyu bertanya binging.


Mo Jingtian hanya diam. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Qing Yue'er. Ini benar-benar membuatnya merasa frustrasi. Setelah beberapa saat akhirnya dia berkata, “Aku akan menggunakan kekuatan jiwa untuk membangunkannya.”


Baru saja Mo Jingtian hendak memulai, tiba-tiba Qing Yue'er membuka matanya. Melihat hal ini Mo Jingtian akhirnya menghela napas lega. Dia segera terkejut ketika merasakan Qing Yue'er yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Sangat erat.


Mo Jingtian tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa membalas pelukan Qing Yue'er dan menepuk punggungnya beberapa kali dengan lembut. “Aku di sini. Jangan menangis,” bisiknya.


Mendengar ucapan Mo Jingtian justru membuat Qing Yue'er menangis semakin keras. Mo Jingtian menatap gurunya dengan bingung. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Qing Yue'er seperti ini jadi dia tidak tahu harus bagaimana mengatasinya.


Sementara itu, Mo Tianyu yang ditanya oleh muridnya segera menggelengkan kepala. Bagaimana dia bisa tahu cara menenangkan gadis yang menangis? Sedangkan dia sendiri tidak pernah memiliki seorang kekasih atau semacamnya.


“Jingtian, Anak Surga itu ... adalah kau, kan?” Qing Yue'er membuka mulutnya setelah merasa lebih tenang. Dia mendongak dan melihat pria itu yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.


“Aku sudah melihatnya sendiri. Aku .... Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja melihatmu seperti itu?” Qing Yue'er merasa ingin menangis lagi.


Mo Jingtian akhirnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia segera menelungkupkan telapak tangannya di pipi Qing Yue'er. “Jangan melihatnya jika itu menyakitkan. Jangan diingat, abaikan saja itu.”


Dia mengusap air mata Qing Yue'er. Melihat gadis itu menangis membuat dia merasa tidak senang. Namun, dia tidak memiliki seseorang untuk disalahkan. Gadis itu menangis karena melihat masa lalunya. Kalau begitu dia akan menyalahkan masa lalunya sendiri.


“Bagaimana aku bisa mengabaikannya?” Qing Yue'er mengatupkan mulutnya. Tiba-tiba matanya berubah menjadi penuh kebencian. “Siapa orang itu? Siapa yang sudah mencoba membunuhmu?”


Mo Jingtian tidak langsung menjawab. “Jingtian, katakan!” seru Qing Yue'er yang merasa tidak sabar.


“Itu adalah Tuan Pengadilan Surgawi yang sekarang,” ucap Qing Yue'er dengan sedikit penekanan. Kejadian itu sudah berlalu ribuan tahun yang lalu, tetapi masih terasa segar di kepalanya. Dia tidak akan pernah bisa melupakannya, bahkan jika dia ingin lupa.


“Jadi itu dia,” lirih Qing Yue'er. Dia akhirnya mengerti kenapa Mo Jingtian tidak menyukai Pengadilan Surgawi. Tentu saja, siapa yang akan menyukai hidup bersama dengan orang yang ingin membunuhnya?


Sekarang rasa benci terhadap Tuan Pengadilan Surgawi menjadi semakin tebal di hati Qing Yue'er. Orang itu menahan ayahnya, orang itu mencoba mengambil kipas Sheng Feng melalui Dewa Alkimia, orang itu berkomplot dengan iblis, orang itu ingin membebaskan raja iblis, dan terakhir, orang itu adalah pembunuh Mo Jingtian!


Ada banyak sekali alasan yang membuat Qing Yue'er harus membenci. Jika dia diberi kesempatan maka dia benar-benar ingin membunuhnya!


Mo Jingtian mengusap kepala Qing Yue'er dengan lembut. “Aku tidak pernah menduga bahwa langit benar-benar membiarkanmu mengetahui ini.” Sejauh mengenal Qing Yue'er, dia tidak pernah berniat menceritakan atau memberitahu masa kecilnya.


Bagi Mo Jingtian, masa kecilnya adalah kehidupan yang kelam yang tidak pantas diketahui oleh orang lain. Namun, Qing Yue'er sepertinya adalah pengecualian.


“Jika aku tidak mengalami ini apa kau tidak akan pernah menceritakan padaku?” tanya Qing Yue'er.


“Mungkin.”


Qing Yue'er menghela napas. Dia tersenyum menatap Mo Jingtian. “Kau adalah pria yang hebat,” pujinya dengan tulus.


Mo Jingtian hanya terkekeh menanggapi pujian itu. Sementara itu Mo Tianyu menyaksikan kedua orang itu dengan tangan yang ditopang. Akan sampai kapan mereka berhenti memamerkan keakraban?

__ADS_1


Qing Yue'er mengalihkan perhatiannya pada Mo Tianyu. Kemudahan berdiri dan membungkuk. “Tuan Guru, terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih karena Tuan Guru sudah menolong Jingtian.”


Mo Tianyu terkejut melihat sikap Qing Yue'er. Dia segera mengibaskan tangannya, menyuruh agar Qing Yue'er berhenti membungkuk. “Itu adalah tugasku untuk melindungi Anak Surga. Aku tidak mungkin membiarkan utusan langit mati di tangan penjahat.”


Qing Yue'er akhirnya berdiri. Kemudian dia kembali lagi ke tempat duduknya. Hari ini akhirnya dia menemukan kejutan dan kejutan. Dia merasa bersyukur karena mengetahui hal ini. Meskipun Mo Jingtian tampaknya membenci langit, tapi untuk kali ini Qing Yue'er ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya.


Mo Tianyu menatap mereka dengan saksama. “Kalian adalah pasangan yang diberkati, bagaimanapun juga. Aku merestui kalian.”


Qing Yue'er terkejut mendengar itu. Dia menundukkan kepala dan tanpa sadar melihat cincinnya dan cincin Mo Jingtian yang terpakai di jari manis mereka. Itu tidak seperti cincin biasa dan dia harus mengakui keajaibannya.


“Kau memerhatikan cincin kalian bukan? Aku harus memberi tahumu,” ucap Mo Tianyu.


“Memberi tahu apa?” tanya Qing Yue'er.


Mo Tianyu menatap Mo Jingtian sebentar. Kemudian melanjutkan ucapannya, “Langit memilihmu sebagai pasangan Anak Surga.”


Qing Yue'er merasa jantungnya kembali berdebar. Apa yang barusan dia dengar benar-benar mengejutkannya. “Langit ... memilihku?” Qing Yue'er menatap Mo Jingtian dan pria itu mengangguk mengiyakan.


Dia menjadi pasangan Anak Surga yang dipilih langsung oleh langit? Apakah ini nyata? Qing Yue'er merasa kebahagiaan yang meluap di hatinya. Bukankah ini berarti mereka sudah diberkati oleh langit?


“Jangan senang dulu.” Mo Tianyu menghentikan luapan perasaan Qing Yue'er. “Tentu saja ada banyak konsekuensinya.”


Mo Jingtian menghela napas. “Guru, biarkan aku yang memberi tahu masalah ini nanti.”


Akhirnya Mo Tianyu mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia sudah cukup senang karena akhirnya bisa mengatakan beberapa hal pada Qing Yue'er. Gadis itu adalah gadis yang baik dan dia merasa jika Qing Yue'er bisa mengimbangi Mo Jingtian.


“Aku sudah cukup berbicara sampai di sini.” Mo Tianyu mengakhiri pembicaraan mereka. “Kalian bisa kembali. Jingtian, Yue'er, hiduplah dengan baik. Kalahkan pria b*jingan itu.”


Mo Jingtian dan Qing Yue'er mengangguk. Mereka berdua membungkuk secara bersamaan. Setelah itu mereka menyaksikan orang tua itu yang pergi menuju peti batunya.


Qing Yue'er benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin manusia hidup tinggal di dalam peti? Apa mungkin tutupnya akan dibiarkan dibuka? Namun, pikiran itu segera dihempaskan ketika melihat Mo Tianyu menutup petinya. Kenapa orang tua itu begitu aneh?


“Dia memang seperti itu. Kau akan terbiasa jika sering melihatnya,” ucap Mo Jingtian yang membuat Qing Yue'er memahaminya.


“Ayo pergi.” Mo Jingtian mengajak Qing Yue'er pergi. Mereka berdua meninggalkan ruang peristirahatan Mo Tianyu.


“Jingtian, aku masih merasa semua ini terlalu mengejutkan,” ungkap Qing Yue'er setelah mereka pergi. Saat ini mereka berada di langit dan sedang bergerak menuju tempat yang berbeda. Entah ke mana Mo Jingtian akan membawa Qing Yue'er.


“Bagian yang mana yang paling mengejutkan?” tanya Mo Jingtian.


“Semuanya. Tapi yang paling penting, sekarang aku ingin tahu apa konsekuensinya?” Qing Yue'er menatap Mo Jingtian penuh tanda tanya. Dia benar-benar ingin tahu.


“Pasangan Anak Surga. Jika Tuan Pengadilan Surgawi mengetahuinya pasti dia bisa membunuhmu,” kata Mo Jingtian.


Qing Yue'er tidak mempermasalahkan ini. Bagaimanapun juga dia tahu di masa depan dia pasti akan bermusuhan dengan orang itu. Namun, bukan itu yang dia maksud. Dia yakin ada konsekuensi lain yang dimaksud oleh Mo Tianyu.


“Aku sudah tahu yang ini. Namun, kau pasti menyembunyikan yang lain,” tebak Qing Yue'er.

__ADS_1


“Tidak ada.” Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. Dia tidak mampu mengatakan semuanya sekarang.


Qing Yue'er hanya bisa menghela napas. Dia tahu pria itu sedang berbohong. Namun, dia tidak akan memaksanya. Dia hanya akan menunggu sampai pria itu mau mengatakan semuanya sendiri.


__ADS_2