Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Mencoba Ramalan


__ADS_3

Organisasi Bulan Gelap beroperasi di sebuah lembah yang tak jauh dari desa di mana Qing Yue’er sebelumnya bermalam. Lembah itu terpisah dari keramaian yang membuat organisasi itu menjadi seperti organisasi rahasia.


Qing Yue’er dan Mo Jingtian sampai dalam waktu yang singkat. Mereka turun dari pedang terbang dan langsung melihat array formasi yang menyembunyikan apa pun di dalamnya.


“Zi Xian mengatakan organisasi ini mudah ditemui, tapi formasi ini tidak mengatakan itu. Orang biasa tidak akan melihat apa pun di lembah ini,” kata Qing Yue’er sambil berjalan menuju array formasi itu. Dia menoleh ke belakang dan melihat Mo Jingtian yang ragu-ragu.


“Apa? Kau berubah pikiran?” Dia langsung menarik tangan pria itu dan menyeretnya memasuki array formasi.


Mo Jingtian tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa pasrah mengikuti gadis itu. Sejujurnya dia masih merasa keberatan, tapi dia tidak ingin membuatnya sedih lagi.


Setelah memasuki array formasi itu, pemandangannya langsung berubah. Lembah yang tampak sepi dan kosong kini menunjukkan sebuah bangunan kayu yang cukup besar. Ada dua pria yang berjaga di pintu masuknya.


Qing Yue’er segera mendekati penjaga itu. Mereka tidak tampak terkejut melihatnya. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan tamu-tamu yang datang.


“Bisa menemukan tempat ini adalah sebuah keberuntungan. Nona, apakah kau membutuhkan bantuan kami?” tanya salah satu penjaga itu.


“Ya. Apakah benar ini tempat di mana Organisasi Bulan Gelap berada?”


Mereka mengangguk yakin. “Benar sekali. Apakah Nona dan Tuan ini ingin melihat nasib?”


Qing Yue’er tersenyum lebar. Dia menggandeng tangan Mo Jingtian dan segera mengangguk. “Ya, itu dia.”


Kedua penjaga itu tersenyum senang. Mereka melihat penampilan Qing Yue’er begitu bagus dan terpelajar, terlihat seperti putri keluarga kaya. Penampilan Mo Jingtian bahkan terlihat lebih mahal lagi. Jubah merahnya terbuat dari bahan yang tidak biasa.


“Baik. Kalau begitu silakan ikuti kami. Kebetulan kemarin Tuan Song baru saja keluar dari meditasi. Dia adalah ahli ramal terbaik kami!”


Mendengar itu, Qing Yue’er langsung berbinar. Itu berkebalikan dengan Mo Jingtian yang justru menjadi semakin muram. Bisakah dia membunuh si Tuan Song itu saja?


“Jingtian, langit benar-benar memberkatiku,” bisik Qing Yue’er untuk menggoda pria itu. “Jangan berulah, mengerti?”


Mo Jingtian mendengkus. Dia kembali ditarik oleh gadis itu untuk mengikuti salah satu penjaga pintu masuk. Sampai akhirnya mereka pun sampai di bagian dalam bangunan utama.


Tempat itu diisi dengan kamar-kamar yang tertutup. Setiap kamar diisi dengan peramal yang berbeda. Namun, tidak semuanya diisi. Beberapa hanya kamar kosong yang tidak dipakai.


Suasananya tidak begitu ramai. Mungkin karena ini masih cukup pagi. Hanya ada beberapa orang di sana yang mereka lihat.

__ADS_1


“Nona, apa kau ingin bertemu Tuan Song? Tapi dia orang yang cukup eksentrik. Uang saja tidak akan bisa membujuknya,” bisik pria yang mengantar mereka.


“Bukan masalah. Biarkan aku menemuinya. Dia akan menilai sendiri apakah aku layak untuk perawatannya,” balas Qing Yue’er dengan santai.


Pria itu sedikit bingung, tapi akhirnya mengangguk. “Baik. Silakan lewat jalan ini.”


Mereka berjalan melewati semua kamar hingga tiba di ujung ruangan. Di sana ada pintu yang tertutup. Pria itu membukanya dan berkata, “Silakan masuk. Kalian akan menemukan Tuan Song di dalam.”


Qing Yue’er mengangguk. “Terima kasih.”


Setelah itu dia berjalan melewati pintu itu bersama Mo Jingtian. Pemandangan di sana cukup mengejutkan karena itu berbeda dengan bangunan di dalam. Ini adalah ruangan outdoor yang sangat indah dan tenang.


Ada kolam teratai dan paviliun kecil di sampingnya. Tanahnya ditumbuhi dengan rumput hijau dan beberapa bunga-bunga cantik. Itu benar-benar tidak terlihat seperti pemandangan di dasar lembah.


“Ini formasi lagi.” Mo Jingtian berkata dengan datar. “Jika bukan formasi, ini hanya tanah basah yang jelek.”


Qing Yue’er terkekeh mendengar penghinaan itu. Dia tersenyum. “Kalau begitu pembuat formasi ini pasti orang yang hebat. Semuanya terasa nyata.”


“Aku yang membuatnya, Nak.”


Dengan cepat dia berjalan mendekati pavilion yang terbuka. Dia langsung bisa melihat pria tua yang sedang menyeduh teh panas di beberapa cangkir.


“Masuklah,” pria tua itu berkata tanpa menatapnya.


“Terima kasih.” Qing Yue’er tanpa ragu melangkah memasuki pavilion. Mo Jingtian mengikutinya di belakang dengan malas-malasan.


Tuan Song meletakkan dua cangkir teh di depan untuk kedua tamunya. Dia menatap mereka dengan ekspresi yang rumit. “Aku tidak tahu hal apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu.”


Qing Yue’er sedikit terkejut dengan sikap Tuan Song yang begitu mudah. Dari kata-kata pria penjaga sebelumnya, Tuan Song terdengar seperti peramal eksentrik yang memilih-milih pelanggan. Tapi kenapa dia tidak terlihat seperti itu?


Menyadari keterkejutan Qing Yue’er, Tuan Song tersenyum. “Aku adalah seorang peramal. Tentu saja aku tahu bagaimana tamuku datang.”


“Maksudmu ….”


“Beberapa hari terakhir ini aku selalu memimpikan kedatangan kalian. Aku tidak berani menjadi kurang ajar pada orang yang sudah membantu krisis di Benua Tongxuan,” ucap Tuan Song dengan sopan.

__ADS_1


Pria tua itu tidak berbohong, Qing Yue’er tahu itu. Hatinya menjadi penuh harap. Sepertinya pria tua itu benar-benar memiliki kemampuan untuk meramal.


“Kalau begitu, Tuan Song, bisakah kau membantuku?”


“Silakan duduk dan katakan. Aku akan mencoba yang terbaik.”


Qing Yue’er menoleh ke samping lalu menarik tangan Mo Jingtian untuk duduk. Tangan pria itu terasa begitu kaku dan tegang. Dia meremasnya sedikit. “Semuanya akan baik-baik saja.”


Mo Jingtian menghela napas. Dia duduk dengan patuh, lalu menatap lurus pada Tuan Song. Pria tua itu memerhatikannya sebentar, tapi kemudian menunduk dan menghindari tatapannya.


“Tuan Song, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Bisakah kau hanya melihat bagaimana nasibku di masa depan?” Qing Yue’er bertanya dengan hati-hati.


Tuan Song tidak langsung menjawab. Dia menunduk selama beberapa saat lalu mengangguk. “Silakan beri tahu aku tanggal lahirmu.”


“Hari ke 7 di bulan 3.”


“Berapa usiamu sekarang?”


“Ini akan menjadi 19.”


Tiba-tiba Tuan Song mengambil sesuatu dari laci lemari yang ada di samping. Itu adalah kotak kayu kecil yang diukir dengan sangat indah. Ketika tutupnya dibuka, itu menunjukkan batu giok murni yang berwarna putih.


Dia menggenggam giok yang berbentuk pipih itu. Kedua matanya dipejamkan. Qing Yue’er dan Mo Jingtian hanya menunggu dengan penasaran. Begitukah cara pria itu meramal?


Biasanya para peramal yang menipu akan membaca nasib menggunakan telapak tangan. Cara Tuan Song memang berbeda. Dan itu terlihat lebih meyakinkan.


Pada saat itu batu giok pipih di tangan Tuan Song tiba-tiba memancarkan cahaya emas yang cukup kuat. Kedua mata pria tua itu langsung terbuka. Wajahnya sedikit memucat. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan.


“Ini ….”


“Bagaimana? Apakah kau bisa melihatnya?”


Tuan Song tidak bisa berkata-kata. Tangannya yang memegang batu giok itu gemetaran. Dia langsung mengembalikannya ke dalam kotak, seolah tidak ingin memegangnya lagi.


“Apa yang kau lihat? Tolong katakan padaku.” Qing Yue’er segera memohon. Sepertinya pria itu telah melihat sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2