Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kalian Harus Bersembunyi


__ADS_3

Cloud Fairy merasa penasaran dengan kekuatan pasukan itu. Jadi tanpa meminta izin dan tanpa membuat suara, dia bergerak cepat menyerang salah satu pria dalam barisan.


Telapak tangannya melayang di depan pria itu. Siapa yang menyangka, tangannya langsung ditepis. Rasanya seperti baru saja menghantam batu. Itu sangat keras.


Dia menatap pria itu dengan takjub. Responnya benar-benar sangat cepat seperti manusia. Itu membuatnya heran. “Sebenarnya apa mereka ini?”


Perlahan dia mengamatinya lebih dekat dan teliti. Pria itu ternyata tidak memiliki napas. Akhirnya sudah jelas sekarang. Itu memang bukan manusia.


Mo Jingtian tersenyum. “Iblis bukan manusia. Mereka tidak memiliki hati dan perasaan. Kenapa aku harus menggunakan manusia untuk melawan mereka? Bukankah akan lebih baik untuk melawan mereka dengan eksistensi yang setara?”


Di Moxie mengangguk setuju. Kekagumannya pada Mo Jingtian semakin bertambah. Dewa Kehancuran benar-benar memiliki pemikiran dan pertimbangan yang sangat mendalam.


“Tuan Dewa, bagaimana caramu menciptakan mereka? Berapa tahun yang dihabiskan untuk ini?” Cloud Fairy bertanya dengan penasaran.


“Aku tidak menghitungnya,” jawab Mo Jingtian. Untuk menciptakan manusia buatan itu, dia benar-benar melakukannya dengan hati-hati. Itu sama sekali tidak sebentar.


Banyak sekali barang-barang, item, dan bahan langka yang diperlukan. Dia membuatnya dengan kedua tangannya sendiri. Itulah pekerjaan sampingannya selama ratusan ribu tahun.


Perasaannya menjadi sedikit emosional. Dia membuat mereka dengan dua alasan. Pertama, karena bosan dan penasaran. Kedua, karena dia takut dunia tidak akan selamanya damai. Entah itu karena Baili Linwu atau hal lain, kekacauan bisa datang dari sisi mana saja.


Dan itu memang benar. Hari ini akhirnya tiba untuk menggunakan manusia-manusia buatan itu. Entah dia harus senang atau bagaimana karena pekerjaannya tidak sia-sia.


“Jumlah mereka sekitar 9000, benar?” Di Moxie bertanya dan Mo Jingtian mengangguk.


“Meskipun hanya 9000, tapi mereka tidak memiliki rasa sakit. Mereka tidak berdarah dan tidak berperasaan. Itu akan menjadi nilai keunggulan. Bahkan iblis masih memiliki rasa sakit dan bisa berdarah,” komentar Di Moxie penuh pujian.


Cloud Fairy mengangguk setuju. “Tuan Di Moxie benar. Apa yang dibutuhkan dalam sebuah pertempuran adalah pedang tanpa perasaan.”


Mo Jingtian hanya tersenyum. Dia lalu menghela napas. “Aku tidak tahu apakah harus menunggu Baili Linwu bertindak atau justru menjadi orang yang memulai.”


Dia ingin menekan perang sebisa mungkin. Namun, jika dia tidak mengambil kesempatan yang baik pada waktunya, mungkin dialah yang akan menderita kerugian.


“Itu keputusan yang sulit,” kata Cloud Fairy.


“Futian, aku ingin naik ke Pengadilan Surgawi dan berbicara dengan Di Liying,” kata Di Moxie tiba-tiba.


Mo Jingtian langsung mengangguk. “Lakukanlah. Aku juga ingin kau melakukan satu hal untukku.”


“Apa itu?”


“Ini tentang Qing Yexuan. Aku ingin kau melihat kondisinya,” ucap Mo Jingtian dengan serius. Di Moxie jauh lebih berpengalaman daripada Di Fengxi. Jadi, pria itu mungkin bisa menemukan Qing Yexuan.


Di Moxie mengangguk setuju. “Aku akan memeriksanya. Jika memiliki kesempatan, mungkin aku juga akan membantunya pergi dari sana.”


Mo Jingtian sedikit terkekeh. Dia tidak tahu apakah ide itu akan disukai Qing Yue’er atau tidak. Bukankah gadis itu selalu ingin membebaskan ayahnya dengan tangannya sendiri? Jika orang lain yang melakukannya, apakah dia tidak tersinggung?


Namun, Mo Jingtian memikirkan nasib Qing Yue’er. Dia khawatir gadis itu tidak memiliki kesempatan bertemu dengan ayahnya. Pasti akan ada penyesalan.


Jika bisa, dia ingin melakukannya untuknya. Namun, dengan situasi dan kondisinya sekarang, dia hanya akan memancing bahaya. Bagaimanapun, tanggung jawabnya bukan hanya soal Qing Yue’er saja.


“Pergilah. Tetap berhati-hati,” ucapnya pada Di Moxie. Pria itu mengangguk lalu segera pergi meninggalkan tanah mati.


Setelah itu, Mo Jingtian membagi pasukan menjadi delapan kelompok. Dia meminta Mo Feng dan ketiga bawahan yang lain untuk membawa masing-masing kelompok ke delapan lokasi pasukan iblis Baili Linwu.

__ADS_1


“Lakukan secara diam-diam. Aku tidak ingin mereka mengetahui keberadaan kalian dan menjadi waspada,” ujarnya pada mereka.


“Baik.” Keempat pria itu mengangguk. Kemudian mereka mulai memimpin pasukan itu ke arah yang berbeda-beda. Masing-masing dari mereka memimpin dua kelompok.


Suara langkah kaki serentak kembali terdengar. Semakin lama menjadi semakin pudar seiring dengan menghilangnya barisan para pasukan.


Setelah mereka pergi, Mo Jingtian menatap para peri di sana yang berjumlah sekitar 500. Itu memang jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan miliknya. Namun, mereka tetap bisa sangat membantu dalam kondisi krisis.


“Untuk saat ini kalian masih belum perlu keluar. Namun, tempat ini tidak akan nyaman untuk ditinggali. Apa kalian sudah memiliki rencana untuk singgah?”


“Tuan Mo, aku sudah lama meninggalkan Puncak Awan Abadi. Tempat itu cukup tertutup, jadi aku akan membawa mereka ke sana,” kata Cloud Fairy.


“Jika kau mau, kau juga bisa membawa mereka ke Istana Tianjun.” Mo Jingtian memberikan penawaran. Qing Yue’er pasti akan senang jika bertemu wanita itu.


Namun, Cloud Fairy menolaknya. Dia tidak akan nyaman membawa 500 peri untuk menumpang secara gratis di tempat orang lain.


“Kami baik-baik saja di Puncak Awan Abadi. Jika Tuan membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk memberi tahu kami,” ucap salah satu peri di sana yang langsung diangguki rekan-rekannya.


Mo Jingtian tersenyum tipis. “Tentu saja.”


“Kalau begitu kami tidak akan berlama-lama lagi. Tuan Mo, tolong sampaikan salamku untuk Xinyu. Sudah lama tidak bertemu, dia pasti sudah banyak melakukan peningkatan,” kata Cloud Fairy dengan perasaan rindu.


“Aku akan mengatakannya.”


Cloud Fairy mengangguk. Dia dan para peri itu akhirnya pergi setelah memberikan penghormatan. Tanah mati itu kembali menjadi suram dengan hanya Mo Jingtian sendirian.


Pria itu menghela napas. Matahari hampir terbenam. Dia harus segera kembali.


Sementara itu, Qing Yue’er untuk ke sekian kalinya berdecak sambil melihat pesan yang ditinggalkan Mo Jingtian. Dibaca berkali-kali pun isinya tetap sama, tidak ada informasi yang relevan.


Mo Jingtian menulis dengan singkat, hanya mengatakan dia pergi ke luar untuk urusan penting dan memintanya agar tidak cemas. Namun, ke mana pria itu pergi, dan dengan siapa?


Dengan kondisi dan situasi Mo Jingtian saat ini, tentu saja Qing Yue’er tidak bisa tetap tenang. Bagaimana jika pria itu bertemu dengan Baili Linwu atau dewa lain yang memburunya? Haruskah dia pergi mencarinya?


Memang benar, orang yang khawatir cenderung berpikir berlebihan. Alih-alih mengurangi kekhawatiran, itu justru menambah kecemasan.


Akhirnya Qing Yue’er membuka pintu kamar dan mengamati langit yang sudah malam. Tiba-tiba cahaya merah melesat turun dari langit. Kedua matanya langsung berbinar, tapi kemudian menjadi cemberut.


Mo Jingtian telah kembali dengan vermillionnya. Pria itu segera mendekat dan memerhatikan wajahnya yang tidak begitu ramah. “Apa kau mencariku?”


Qing Yue’er mendengkus. “Tidak. Aku masih di sini.”


Pria itu tersenyum. “Aku baru bertemu dengan seseorang,” katanya.


“Siapa yang peduli?” Qing Yue’er membalas dengan datar. Dia lalu berbalik masuk ke kamar.


“Dia seorang wanita, dan lumayan cantik,” lanjut Mo Jingtian. Itu berhasil membuat ekspresi Qing Yue’er menjadi semakin jelek.


“Lalu apa? Kau tertarik padanya?!” Qing Yue’er berkacak pinggang. Hatinya menjadi panas mengetahui bahwa Mo Jingtian sudah bertemu dengan wanita lain. Pria itu bahkan memuji kecantikannya!


Bukankah dia sudah mengkhawatirkan pria itu dengan sia-sia? Bukan hanya tidak berada dalam bahaya, Mo Jingtian bahkan bersenang-senang dengan wanita lain. Bagaimana mungkin dia tidak jengkel?


Mo Jingtian terkekeh melihat reaksi gadis itu. Dia duduk di tepi ranjang lalu menarik Qing Yue’er duduk di sampingnya. “Aku tidak mengatakan tertarik padanya.”

__ADS_1


“Tapi kau tidak pernah memuji seperti itu sebelumnya!” Qing Yue’er mendorong pria itu menjauh. “Siapa yang kau temui? Apa saja yang kau lakukan dengannya? Apa aku lebih cantik darinya atau tidak?”


Pria itu semakin merasa geli. “Apa ini bagaimana cara gadis modern cemburu?”


“Mo Jingtian!” Qing Yue’er mengatupkan mulutnya. Dia tiba-tiba menarik tengkuk pria itu lalu dengan cepat mencium bibirnya.


Tindakan mendadak itu membuat Mo Jingtian terkejut. Lebih terkejut lagi ketika gadis itu tiba-tiba menggigit bibirnya dengan kesal. Dia sedikit meringis.


“Aku peringatkan padamu, Tuan Mo.” Qing Yue’er menatapnya dengan ekspresi mengancam. “Jika kau berani tertarik pada wanita-wanita cantik di luar sana, aku akan mencongkel matamu. Biarkan kau tidak pernah melihat hal-hal itu lagi.”


Mo Jingtian terkekeh. “Orang yang kutemui adalah Lin Ruo. Dia merindukanmu.”


Kedua mata Qing Yue’er langsung melebar mendengar itu. Wajahnya berubah menjadi merah menahan malu. “Kakak Lin?”


Pria itu mengangguk. Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa tertawa canggung. Barusan dia bukan hanya terlihat seperti minum cuka, tapi mandi air cuka!


Ternyata wanita itu bukan orang lain, melainkan Cloud Fairy.


“Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?” Dia mengusap bibir bawah Mo Jingtian yang merah dan sedikit bengkak akibat gigitannya.


“Kalau aku tahu itu Kakak Lin, aku akan menggigitmu dengan lebih pelan dan penuh perasaan agar kau bisa menikmatinya,” gumamnya.


“.…”


Mo Jingtian tidak ingin digoda. Dia segera menjauhkan tangan Qing Yue’er yang membelai bibirnya, lalu bertanya, “Jadi, kau tidak marah lagi?”


Qing Yue’er tersenyum manis. “Tentu saja. Aku kan bukan pencemburu,” ucapnya tanpa tahu malu.


Sudut bibir Mo Jingtian sedikit berkedut. Bukan pencemburu katanya? Lalu apakah ancamannya sebelumnya dikatakan oleh orang lain?


“Aiyoh! Lupakan saja. Jadi, bagaimana kau bisa bertemu dengan Kakak Lin?” Dia segera mengalihkan perhatian pria itu.


Mo Jingtian akhirnya memberi tahu tentang ras peri yang dibawa Cloud Fairy dan kesiapan mereka untuk membantu jika diperlukan. Namun, dia tidak sampai mengatakan tentang pasukannya.


Qing Yue’er merasa senang mendengar itu. “Sangat bagus. Kakek juga sudah mulai menyiapkan pasukan untuk berjaga-jaga.”


“Aku akan mencoba semaksimal mungkin untuk tidak menggunakan mereka.”


Gadis itu menghela napas. “Jingtian, kau tidak perlu terlalu keras dengan keadaan.”


Mo Jingtian tersenyum. Dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Aku tahu.”


Pada saat itu, tiba-tiba jendela kamar dibuka dengan kasar hingga menimbulkan suara gebrakan. Sosok berjubah putih yang dipenuhi darah menerobos masuk dan jatuh ke lantai dengan keras.


Qing Yue'er terkejut dengan kedatangan orang yang begitu mendadak itu. Dia segera berdiri dengan waspada. Siapa itu?


Keningnya berkerut dalam. Kedua matanya langsung melebar ketika menyadari bahwa pria itu tak lain adalah Di Fengxi. Bagaimana mungkin?!


Mo Jingtian dengan cepat bergerak mendekati Di Fengxi. Dia mengguncang tubuh pria yang tergeletak di lantai itu dengan pelan. “Fengxi!”


Pria yang setengah sadar itu tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat. Wajah pucatnya menyimpan kecemasan dan ketakutan.


“Guru, kalian harus ... harus bersembunyi.”

__ADS_1


__ADS_2