
“Kenapa kamu bisa memiliki nama marga yang sama dengan Di Liying? Mungkinkah kalian masih satu keluarga?” tanya Qing Yue'er dengan heran.
“Tidak. Bukan keluarga, bahkan, aku tidak mengenalnya,” ucap Mo Jingtian.
“Tapi dia mengenalmu," bantah Qing Yue'er.
“Itu terserah dia. Lagi pula siapa yang mungkin tidak mengenalku?” Mo Jingtian berkata dengan acuh tak acuh.
“Begitu percaya diri,” komentar Qing Yue'er sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia sedikit mengerutkan bibirnya. “Di Liying ini kelihatannya bukan orang biasa. Dia bisa membaca pikiranku, itu terlalu menakutkan.”
“....”
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian yang tidak mengatakan apa-apa. Dia tersenyum. “Bagus, sepertinya kamu tidak tertarik padanya.”
“Kenapa aku harus tertarik?” tanya Mo Jingtian.
Qing Yue'er menelan ludahnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. “Aku belum mendapatkan sutra yang diinginkan oleh Cloud Fairies.” Dia hampir lupa soal ini dan baru mengingatnya sekarang. Jika dia tidak mendapatkan sutra mungkin Qi Rong akan tetap ditahan oleh wanita menyebalkan itu.
“Aku bisa memberikan satu untukmu,” ucap Mo Jingtian.
Qing Yue'er berhenti melangkah dan menghadap ke arah Mo Jingtian. Kemudian dia mengulurkan tangannya ke depan. “Kalau begitu ... berikan aku satu.”
“Aku tidak melakukan hal secara cuma-cuma,” ucap Mo Jingtian dengan acuh tak acuh lagi.
“Hmm,” Qing Yue'er menyilangkan tangannya, “kalau begitu apa yang kamu inginkan?”
“Satu kecupan,” jawab Mo Jingtian.
Qing Yue'er mendecakkan lidahnya. “Tuan Mo, kamu benar-benar tidak tahu malu,” ucapnya sambil berlalu pergi. Wajahnya sedikit memerah, beruntung tidak ada yang menyadarinya.
Mo Jingtian sedikit terkekeh, mencairkan kedinginan di sekitarnya. Kemudian dia menyusul Qing Yue'er. Sebuah kertas berwarna kecoklatan muncul di tangannya. Setelah itu dia memberikannya pada gadis itu. “Sutra tua ini sudah tidak layak. Jadi aku memberikannya cuma-cuma padamu.”
__ADS_1
Mata Qing Yue'er langsung berbinar. Dengan cepat dia langsung menerima sutra itu sebelum Mo Jingtian mengubah pikirannya. Kemudian dia memeriksa isinya yang ternyata tidak dia pahami sama sekali. Ngomong-ngomong Mo Jingtian mengatakan itu sudah tidak layak, tapi dia yakin ini bukan sesuatu yang sembarangan.
Qing Yue'er tersenyum. “Ah, kamu memang tampan,” pujinya alih-alih mengucapkan terima kasih.
Mo Jingtian mengangguk setuju. Kemudian dia berkata, “Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
“Ke mana?” tanya Qing Yue'er.
“Kamu akan tahu besok. Mari kita tunggu sampai teman-temanmu keluar. Setelah itu baru kita akan pergi.”
Qing Yue'er menjadi penasaran. Tidak biasanya Mo Jingtian mengajaknya ke suatu tempat. Apakah itu tempat yang menakutkan seperti saat ibunya membawanya ke Jurang Iblis? Atau malah ke tempat yang indah seperti kediaman guru Fang?
“Itu tempat yang sudah kamu lewati. Tidak ada yang spesial untukku, tapi mungkin akan berguna untukmu,” terang Mo Jingtian. Dia tahu gadis di sampingnya itu sedang menahan rasa penasarannya.
“Em, baiklah. Aku akan menunggunya," ucap Qing Yue'er yang sebenarnya justru semakin penasaran. Namun, dia tidak bertanya apa pun lagi.
Ketika mereka hendak meninggalkan pantai, tiba-tiba beberapa orang muncul dari lautan. Awalnya hanya beberapa orang, tapi semakin lama mereka mulai bertambah. Wajah mereka tampak bahagia, mungkin karena sudah mendapatkan harta dari kuil Nushen. Memang, mereka adalah orang-orang yang baru keluar dari kuil Nushen.
“Yo, Xinyu, siapa pria ini?” tanya Zi Xian dengan penuh selidik. Dia menatap Mo Jingtian dari atas ke bawah dengan begitu teliti. Rasanya dia belum pernah melihat pria itu.
Qing Yue'er mengibaskan lengan bajunya. “Jangan pedulikan dia, anggap saja tidak ada," ucapnya pada Zi Xian. Beruntung Mo Jingtian ini sudah mengubah penampilannya. Menggunakan jubah yang lebih sederhana dan juga mengubah warna rambutnya menjadi hitam.
“Bagaimana aku bisa mengabaikannya?” Zi Xian menggelengkan kepala tidak setuju. “Meskipun dia memakai topeng tapi kurasa dia sangat tampan," bisik Zi Xian di telinga Qing Yue'er.
Napas panjang langsung terhela. Qing Yue'er balas berbisik, “Memang. Namun jika kamu memikirkan yang macam-macam maka aku akan memotong kedua kakimu.”
“Heheh, tidak, itu tidak akan terjadi.” Zi Xian tertawa. “Kalau begitu aku akan pergi dulu.” Setelah itu dia langsung meluncur pergi. Jangan sampai Qing Yue'er memotong kakinya.
Setelah Zi Xian pergi, sekarang akhirnya orang-orang dari akademi Surgawi muncul. Mereka tampak senang, sepertinya juga sudah mendapatkan beberapa harta yang menguntungkan.
Han Qiong menghampiri Qing Yue'er dengan wajah sumringah. Namun, ketika melihat Qing Yue'er berdiri begitu dekat dengan seorang pria, dia langsung mengerutkan keningnya. “Gadis, menjauh, menjauh. Bagaimana kamu bisa berdekatan dengan seorang pria?!” Dia menarik Qing Yue'er untuk menjauh dari Mo Jingtian.
__ADS_1
“Guru, dia ....” Kata-kata Qing Yue'er langsung tertahan. Bagaimana dia harus menjelaskan Mo Jingtian pada gurunya? Karena merasa tidak tahu, akhinya dia menatap Mo Jingtian untuk meminta jawaban.
“Han Qiong .... Bukankah itu adalah namamu?” tanya Mo Jingtian dengan santai.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mo Jingtian, Qing Yue'er hanya bisa menghela napas panjang. Tidak tahu harus tertawa atau menangis. Sepertinya dia salah jika harus mengandalkan pria itu untuk menjelaskan.
“Panggil aku tuan Han!” seru Han Qiong dengan kesal. Bagaimana pria yang tidak tahu asal-usulnya ini begitu tidak hormat padanya?
Mo Jingtian mendengus. Dia ingin berkata lagi tetapi Qing Yue'er langsung mengangkat tangannya. Akhirnya dia hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa.
“Guru, jangan memarahinya. Dia bukan orang jahat dan aku sudah mengenalnya sejak lama,” ucap Qing Yue'er pada gurunya. Dia takut jika gurunya ini menyinggung Mo Jingtian. Hasilnya mungkin akan menakutkan. Bisa-bisa akademi yang sedang dibangun ulang itu malah kembali dihancurkan.
“Benarkah?” Han Qiong tidak langsung percaya. Dia memeriksa Mo Jingtian berharap menemukan sesuatu. Namun, selain penampilannya yang terlihat sempurna, dia tidak menemukan tingkat kekuatannya. Hanya ada dua kemungkinan, pertama pria itu tidak memiliki kekuatan. Atau yang kedua, pria itu memiliki kekuatan yang tidak bisa dideteksi.
Han Qiong tidak begitu yakin. Namun, karena Qing Yue'er mengatakan bahwa pria itu bukan orang jahat maka dia tidak memberikan banyak kesulitan. “Baiklah. Namun, aku harap kalian tidak melampaui batasan masing-masing," ucapnya pada Qing Yue'er dan Mo Jingtian.
Mo Jingtian hanya menatap datar pada Han Qiong. Jika orang tua ini bukan guru Qing Yue'er mungkin dia sudah sejak lama mengantarkannya ke pemakaman. Merepotkan.
Qing Yue'er hanya mengangguk saja. Kemudian dia menyapa kepala akademi dan beberapa orang lainnya. Mereka semua merasa penasaran dengan keberadaan Mo Jingtian tapi Qing Yue'er tidak memberikan banyak informasi. Dia juga tidak menjawab ketika ditanya hubungan keduanya. Cukup beruntung karena Mo Jingtian juga tidak banyak berulah.
Setelah beberapa saat akhirnya teman-temannya juga datang. Jing Ling, Luo Qingqi, Ming Yuxia. Ada pula Xie Wuqing. Pria itu menatap Mo Jingtian sesaat sebelum akhirnya menunduk. Mungkin dia mengetahui kebenarannya jadi tidak bertanya banyak hal.
Mo Jingtian menunggu semua dengan sabar. Tidak ingat kapan terakhir kali dia berhubungan dengan manusia dengan cara yang normal seperti ini. Benar-benar bukan hal yang buruk. Sebuah sensasi lama yang sudah terpendam dalam-dalam.
Setelah mengatakan beberapa hal akhinya Qing Yue'er memutuskan untuk pergi. Dia takut membuat Mo Jingtian bosan jadi dia meminta tolong pada teman-temannya untuk menunggu sampai leluhur Yin datang.
“Gadis, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau tanpa harus mempertimbangkanku,” ucap Mo Jingtian.
“Aku hanya tidak ingin membuatmu bosan. Selain itu, mereka tidak memperlakukanmu secara semestinya. Apakah kamu tidak tersinggung?” tanya Qing Yue'er. Orang-orang di sini tidak mengetahui seberapa kekuatan Mo Jingtian jadi mereka memperlakukannya seperti seorang rekan biasa.
“Tidak,” jawab Mo Jingtian. Dia malah tersenyum pada Qing Yue'er, membuat gadis itu merasa lebih baik. “Aku tidak tersinggung,” lanjutnya.
__ADS_1