
Jauh dari Istana Tianjun, Qing Yue’er menatap aliran sungai di bawah tebing. Matanya menyipit memerhatikan aliran air yang sangat deras.
“Gadis, kenapa belakangan ini kau jadi sering datang mengunjungiku? Aku merasa aneh ditemani oleh gadis cantik sepanjang hari,” ucap seorang pria tua sambil memegang kail. Dia sedang memancing ikan yang wujudnya lebih terlihat seperti monster air.
Qing Yue’er juga mengambil kail sendiri. Dia melemparkannya ke sungai yang berada jauh di bawah tempat mereka berdiri. Setelah itu dia duduk di atas batu.
“Apa aku tidak boleh mengunjungimu? Sangat pelit,” gerutunya dengan acuh tak acuh.
Sudah tiga hari ini dia menghabiskan waktunya di pondok kayu yang ditempati Duan Mu. Pria tua itu adalah orang yang di masa lalu pernah mengajaknya minum ketika dia sedang memiliki konflik dengan ibunya.
Pria tua itu juga selalu mengaku sebagai pamannya. Belakangan ini dia baru tahu ternyata Duan Mu adalah kerabat ayahnya. Pantas saja pondok kayu yang ditempatinya sama persis dengan pondok kayu yang digambar dalam lukisan ayahnya.
“Aih, lihat! Seorang gadis biasanya menjadi sensitif ketika sedang memiliki masalah hati. Apakah kekasihmu yang hebat itu membuatmu kesal?”
Qing Yue’er menatap pria tua itu dengan mata memicing. “Kekasihku? Bagaimana kau bisa tahu hal-hal ini?”
Duan Mu membelai janggutnya dengan bangga. “Apa yang tidak bisa orang tua ini ketahui?”
Dia mungkin tidak berhubungan langsung dengan Qing Yue’er, dengan Istana Tianjun, atau bahkan dengan Xie Yingfei sendiri. Namun, dia adalah saudara laki-laki Qing Yexuan.
Adiknya itu sedang dihukum di Pengadilan Surgawi entah untuk berapa lama. Dia ingin membantunya mengawasi keluarganya dari jauh.
“Aku masih tidak mengerti kenapa kau begitu peduli dengan urusanku. Bahkan nama keluargamu berbeda dengan ayahku,” ucap Qing Yue’er.
Duan Mu tertawa. “Ayahku dengan ayah Yexuan memang berbeda, tapi kami memiliki ibu yang sama. Bagaimanapun juga, kami tetap saudara. Tapi membahas hal seperti ini di usia tua ini, aku merasa tidak pantas.”
“Kenapa?”
“Gadis bodoh. Ketika orang sudah tua, di mana keluarga mereka? Tidak ada lagi. Mereka sudah mati. Tidak ada gunanya mengingat-ingat itu,” kata Duan Mu sambil meraih botol anggur yang diletakkan di tanah. Memancing sambil minum anggur adalah hobi pria tua itu.
Qing Yue’er mengintip ke bawah, ke sungai. Dia bisa melihat ikan-ikan besar dalam jumlah yang banyak. Namun, tidak ada satu pun yang mendekati kailnya. Dia mendengkus.
“Duan Tua, dulu kau tidak mau mengakui bahwa kau mengenal ayahku. Kupikir kau saudara ibuku, tapi aku tidak yakin keluarga Xie memiliki kerabat keluarga Duan. Jadi, aku sempat ragu.”
Pria tua itu tersenyum santai. “Dulu aku masih ragu untuk memberi tahumu. Lagi pula identitas ayahmu itu istimewa.”
Dia menatap Qing Yue’er sekilas, lalu bertanya, “Nak, apa yang membuatmu tidak bisa menghadapi masalahmu? Pergi berlindung di sini tidak akan bisa menyelesaikan itu.”
Qing Yue’er menunduk. “Aku hanya kesal pada pria itu. Biarkan saja dia sendirian agar tahu kalau aku bisa mengabaikannya. Apa dia pikir aku akan selalu mengejarnya seperti gadis bodoh?”
Pria tua itu tertawa keras menanggapinya. Qing Yue’er mengangkat alisnya. “Duan Tua, kita sudah memancing sejak kemarin. Kenapa tidak ada satu pun ikan yang kita dapatkan?”
Duan Mu terkekeh lagi. “Apa kau pikir ikan di sini hanya ikan biasa? Tentu saja tidak sesederhana itu. Sudah kubilang sebelumnya bahwa di bawah sungai ini adalah sebuah dunia lain. Jika kau bisa mendapatkan satu saja penghuninya, itu akan menjadi keberuntungan.”
Qing Yue’er mengangkat sudut alisnya. “Keberuntungan? Apakah itu bisa menjadi harta?”
“Tidak diragukan lagi. Ikan-ikan di sana adalah makhluk spiritual. Jika kau bisa mendapatkan dan memanfaatkannya, itu tentu akan menjadi harta,” jawab Duan Mu dengan santai.
Mendengar itu, Qing Yue’er menjadi lebih bersemangat. Ikan-ikan itu adalah makhluk spiritual, maka mereka pasti memiliki inti.
__ADS_1
Jika dia bisa mengumpulkan inti itu dan membuatnya menjadi pil dengan mencampurnya bersama Persik Surgawi, dia mungkin akan bisa menerobos.
“Bagaimana cara untuk menangkap mereka? Apa aku bisa melompat masuk ke bawah?”
“Apa kau tidak melihat sesuatu di sana? Selain ikan-ikan itu.”
Qing Yue’er mengerutkan kening. Dia memang tidak bisa melihat apa-apa selain ikan-ikan itu. Bahkan setelah menggunakan kekuatan roh untuk mendeteksi pun hasilnya tetap sama.
“Itu artinya kau tidak bisa pergi ke sana,” kata Duan Mu. “Hanya ketika seseorang bisa melihat sesuatu yang khusus barulah dia bisa pergi. Jika tidak, kau tidak akan bisa keluar.”
“Begitu misterius ….” Qing Yue’er menjadi heran. “Apa kau pernah pergi ke sana?”
“Satu kali, setelah itu aku tidak bisa masuk lagi. Jadi, lebih baik memancing di sini,” balas pria itu sambil minum anggur. Dia terlihat begitu menikmati harinya.
“Sudah berapa lama kau memancing di sini dan berapa ikan yang kau dapatkan?”
Orang tua itu tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, barulah dia terkekeh malu. “Bertahun-tahun dan aku baru mendapatkan tiga.”
“Apa?”
Kedua mata Qing Yue’er melebar. Omong kosong apa itu! Duan Mu mungkin bersabar melakukan itu, tapi dia tidak. Bagaimana mungkin dia akan membuang waktu untuk memancing selama bertahun-tahun?
“Aiyyaa, aku ini hanya orang tua. Memancing seperti ini sama sekali tidak menggangguku. Jika kau ingin lebih cepat, mintalah bantuan kekasihmu itu. Mungkin dia bisa memberikan solusi,” ucap Duan Mu dengan acuh tak acuh.
“Kau benar.” Qing Yue’er membelai dagunya. “Tapi aku sedang mengabaikannya sekarang. Bagaimana mungkin aku meminta bantuan padanya?”
Duan Mu berdecak mendengar itu. “Surga, kenapa gengsimu begitu tinggi? Ah, lupakan saja. Kau pikirkan caramu sendiri.”
“Lebih baik aku pulang,” katanya dengan suasana hati buruk.
Duan Mu terkekeh melihat ketidaksabaran Qing Yue’er. Dia adalah abadi yang tidak tertarik lagi untuk ikut campur pada urusan dunia luar. Orang eksektrik yang hanya menghabiskan waktunya di pondok kayu itu. Memancing sudah menjadi sebagian dari kehidupannya.
Dia bahkan bisa berkultivasi sambil memancing. Ah, gadis muda seperti Qing Yue’er tidak akan tahu bagaimana cara dia mengambil kesenangan.
“Aku akan menunggumu di sini untuk membawa pria itu. Hehehe, aku juga ingin bertemu dengan calon menantu.”
Qing Yue’er mendengkus. “Kenapa tidak kau yang pergi ke Istana Tianjun bersamaku?” Dia melirik botol anggur Duan Mu yang masih utuh, lalu dengan cepat mengambilnya.
“Heh! Kembalikan itu!”
Sosok Qing Yue’er dengan cepat menghilang. Hanya suara tawanya yang terdengar. “Terima kasih, Duan Tua!”
“Gadis ini!” Duan Mu menggelengkan kepala beberapa kali. Dia terkekeh lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
Sementara itu, Qing Yue’er kembali ke Istana Tianjun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Dia berjalan di koridor dengan santai sambil melihat-lihat ke sekitar.
Ketika hendak melewati kamar Mo Jingtian, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Dengan cepat dia bersembunyi. Rasanya belum siap untuk bertemu pria itu.
Sosok Mo Jingtian berjalan keluar sendirian. Pria itu memakai topi bambu yang menyembunyikan wajah dan identitasnya. Dia masih memakai pakaian putih seperti sebelumnya.
__ADS_1
Qing Yue’er yang mengintip menjadi heran. Apa Mo Jingtian akan pergi? Tapi ke mana?
Dengan cepat dia pergi mengikutinya. Pria itu terus berjalan hingga keluar dari istana. Qing Yue’er menjadi semakin penasaran.
Baru tiga hari dia mengabaikan Mo Jingtian. Apakah pria itu sudah merasa tidak betah tinggal di istana ini?
Mo Jingtian menghentikan langkahnya di gerbang istana. Matanya sedikit melirik ke belakang. Kemudian dia berkata kepada penjaga gerbang, “Ada hal yang harus aku lakukan di luar. Jika ada yang mencariku, katakan pada mereka agar tidak khawatir.”
Qing Yue’er tentu saja mendengar kata-katanya. Keningnya berkerut dalam. Apa sebenarnya yang akan Mo Jingtian lakukan? Apakah pria itu akan kembali lagi?
Tidak baik! Dia harus mengikutinya.
Kemudian Mo Jingtian keluar dari gerbang istana. Qing Yue’er tentu saja segera mengikutinya. Pria itu terus berjalan hingga berhenti tak jauh dari istana.
Qing Yue’er kembali bersembunyi. Dia mengintip dari balik tugu batu dan melihat seorang pria datang menjemput Mo Jingtian. Pria itu terlihat asing baginya. Wajahnya masih muda dan tampan.
Dia segera menyembunyikan aura dan keberadaannya. Orang asing itu memiliki tingkat kultivasi yang tidak terdeteksi. Jadi, dia harus berhati-hati.
“Perjalanan ini mungkin berbahaya. Jika mereka mengetahuinya … mungkin kita tidak akan pernah bisa kembali,” ucap pria itu pada Mo Jingtian.
Jantung Qing Yue’er langsung dipacu. Langkah berbahaya apa yang Mo Jingtian ambil? Kenapa pria itu tidak memberi tahunya? Apakah itu karena dia terus menghindar belakangan ini?
“Tidak apa-apa.”
Mo Jingtian diam-diam melirik ke tugu batu yang berada tak jauh darinya. Sudut bibirnya terangkat sebelah, lalu dia berkata dengan keras, “Mungkin hanya dengan tidak kembali, seseorang baru akan merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.”
“.…”
Qing Yue’er tiba-tiba merasa seperti baru saja dipukul oleh kata-kata itu. Apakah Mo Jingtian sudah mengetahui keberadaannya dan dengan sengaja menyindirnya?
Dia memejamkan matanya dan menggertakkan giginya dengan keras. “Mo Jingtian!”
Dengan cepat dia melompat keluar. Namun, siapa yang tahu, mereka sudah menghilang. Sosok Mo Jingtian dan pria asing itu sudah pergi.
Amarah Qing Yue’er langsung lenyap. Dia berlari ke tempat di mana mereka berdiri sebelumnya. Namun, tidak ada jejak apa pun. Mereka seperti tidak pernah ada di sana.
Perasaan Qing Yue’er menjadi bingung. “Jingtian, jangan bermain-main denganku!”
Tentu saja tidak ada yang menyahut. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Apa rencana Mo Jingtian? Apa yang akan pria itu lakukan?
“Benar-benar pria b*jingan! Bukan hanya selalu menolakku, kau bahkan pergi begitu saja entah dengan siapa!” geram Qing Yue’er.
“Jika kau tidak kembali, aku benar-benar akan pergi mencarimu ke setiap sudut dunia. Lihat bagaimana aku akan mengikat dan menyeretmu pulang untuk menikahiku!”
Mo Jingtian yang melihat itu dari langit sedikit terkekeh. “Kupikir dia benar-benar marah dan tidak ingin melihatku lagi.”
Di Feng Xi tersenyum. “Bagaimana mungkin? Bahkan jika Nona Qing marah, dia tidak akan mungkin meninggalkan Guru.”
Senyum tipis muncul di wajah Mo Jingtian. “Ayo pergi. Malam akan segera datang.”
__ADS_1
“Baik.”