Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Aura Kedewaan


__ADS_3

Qing Yue'er dan Mo Jingtian bergerak cepat menuju lubang iblis selanjutnya. Itu hanya memakan sedikit waktu karena letaknya tidak begitu jauh dari lubang iblis sebelumnya.


Tanpa menunggu lagi Qing Yue'er segera menjalankan tugasnya. Apa yang harus dia lakukan adalah membuat segel. Mengenai iblis-iblis yang mungkin menyerang, dia tidak perlu peduli.


Mo Jingtian selalu melindunginya. Tidak membiarkan satu iblis pun mendekat bahkan jika hanya dalam satu meter. Dia menjadi lebih serius agar tidak membuang banyak waktu dan membiarkan pria itu bekerja keras untuknya.


Kerja sama itu dilakukan dari lubang yang satu ke lubang yang lain. Itu tidak lama sampai akhirnya mereka menyelesaikan 10 lubang di Tongxuan Selatan. Tidak ada masalah yang serius selama itu.


Pergerakan Qing Yue’er dan Mo Jingtian itu tidak bisa lepas dari leluhur-leluhur di Tongxuan Selatan yang masih hidup. Mereka segera bangun dari kondisi penutupan mereka. Salah satunya adalah leluhur dari Sekte Sungai Selatan.


Seorang pria tua berambut putih yang sudah bertahun-tahun berkultivasi di bawah air terjun tiba-tiba membuka matanya. Meskipun sudah lama duduk di sana, jubah putih polosnya sama sekali tidak basah.


Tubuhnya diselimuti dengan cahaya putih lembut. Dia adalah satu-satunya leluhur Sekte Sungai Selatan yang masih hidup. Setelah bertahun-tahun mengasingkan diri, aura keabadiannya menjadi terpancar begitu jelas.


Pria itu menyipitkan matanya ke kejauhan. Keningnya sedikit berkerut. “Benua Tongxuan berada dalam kekacauan. Orang suci mana yang sudah datang membantu?”


Pada saat itu, sekelebat bayangan lain tiba-tiba datang mendekat. Bayangan itu berubah menjadi seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah abu-abu. Pria itu berhenti di atas batu dan membungkuk hormat pada sang leluhur.


“Sungguh tidak menyangka aku bisa melihat Leluhur keluar dari pengasingan setelah hampir seratus tahun,” ucap pria paruh baya itu dengan sopan. Dia adalah Leng Shuhui, ketua Sekte Sungai Selatan yang sekarang.


Leluhur Yuwen tersenyum. Dia keluar dari air terjun lalu sosoknya bergerak seperti awan menuju ke salah satu batu yang tidak begitu jauh. “Ini memang sudah lama,” ucapnya dengan tenang.


“Leluhur, apa yang mungkin sudah mengganggumu? Akan senang jika aku bisa mengetahuinya.”


Leng Shuhui tahu leluhur sekte tidak akan keluar hanya karena masalah sepele. Pasti ada alasan khusus. Namun, dia belum mengetahui secara pasti tentang itu.


“Selama bertahun-tahun aku tidak pernah memedulikan hal-hal di luar sana. Namun, itu bukan berarti aku tidak bisa merasakan apa pun.” Leluhur Yuwen menatap Leng Shuhui. “Apa yang sudah terjadi di benua Tongxuan?”


Pertanyaan itu membuat Leng Shuhui sedikit terkejut. Seorang leluhur memang tidak perlu dipertanyakan wawasannya. Pria tua itu sungguh mengetahui apa yang tidak dilihat dan didengar secara langsung.


Akhirnya dia menghela napas panjang. “Leluhur, ini hal yang serius. Iblis-iblis keluar dari Dunia Bawah dalam jumlah yang besar. Mereka membunuh dan mengacaukan benua Tongxuan. Ini sungguh musibah besar.”


Alis Leluhur Yuwen sedikit berkerut. “Jadi itu memang terjadi,” gumamnya sambil mendongak ke langit. “Apa kau tahu siapa yang sudah membuat gerakan besar baru-baru ini?”


“Leluhur, itu adalah Akademi Surgawi. Murid terbaik mereka yang sudah naik ke Celestial telah kembali. Kepala Akademi Niu memberitahuku mengenai itu dan mengajak Sekte Sungai Selatan untuk bekerja sama melenyapkan iblis-iblis yang berkeliaran.”


“Murid Akademi Surgawi telah naik ke Celestial?” Leluhur Yuwen menjadi tertarik mendengar itu.


“Benar. Itu sudah cukup lama. Dia adalah jenius muda yang hanya muncul dalam seribu tahun. Aku belum pernah melihatnya secara langsung, tapi aku sama sekali tidak meragukan kemampuannya. Setelah semua, dia telah banyak membuat kegemparan yang tidak masuk akal.”


Leluhur Yuwen mengangguk pelan sambil menghitung jari-jarinya. “Aku bisa merasakan kekuatan segel di beberapa titik di Tongxuan Selatan. Jika aku tidak salah seharusnya dialah yang telah membuat segel itu.”


“Jadi itu sudah dimulai?”

__ADS_1


Leng Shuhui terkejut mendengarnya. Dia memang sudah mengetahui tentang rencana Qing Yue’er dari Niu Longhao. Namun, dia tidak tahu kapan persisnya gadis itu akan bergerak. Itu menakjubkan karena leluhurnya bisa mengetahui pergerakan itu.


“Kalau begitu, dia saat ini ada di Tongxuan Selatan. Leluhur, bukankah tidak sopan jika kita tidak menyambutnya?”


Leluhur Yuwen menggeleng. “Tidak perlu membuat keributan. Sebaliknya, kau harus melakukan tugasmu sendiri dengan Niu Longhao. Kerja sama ini akan menjadi hal yang bagus,” kata Leluhur Yuwen dengan bijak.


Akhirnya Leng Shuhui mengangguk. “Baik. Lalu bagaimana dengan Leluhur? Apakah Leluhur akan kembali ke sekte?”


Senyum tipis muncul di wajah Leluhur Yuwen. Dia berbalik, lalu sosoknya tiba-tiba melesat cepat ke langit. “Seorang jenius yang hanya muncul dalam seribu tahun telah datang ke Tongxuan Selatan. Bagaimana mungkin orang tua ini tidak ingin melihatnya?”


Setelah mengatakan itu, sosok pria tua itu langsung menghilang. Baru kemudian Leng Shuhui menyadari tentang leluhurnya yang antusias dan penasaran.


“….”


Sudut bibirnya berkedut. Leluhur Yuwen melarangnya membuat keributan. Ternyata alasannya karena orang tua itu ingin menemui jenius Akademi Surgawi sendirian. Betapa liciknya!


Dia hanya bisa mengeluh dalam hati sebelum akhirnya kembali ke sekte. Dia harus memberi tahu para penatua tentang leluhur mereka yang sudah keluar dari pengasingan.


Sementara itu, di pinggiran sungai yang jernih, Qing Yue’er sedang mengambil waktu istirahat sesaat. Setelah membuat sepuluh segel berturut-turut, tubuhnya mulai lelah. Kekuatan rohnya masih kuat, tapi qi spiritual di dalam dantiannya sudah berkurang banyak.


Segel istimewa itu memerlukan kombinasi dua kekuatan itu sehingga dia harus memiliki keduanya. Antara kekuatan roh dan qi spiritual harus seimbang. Jika tidak, itu tidak akan berhasil.


Dia menutup matanya dan meraup energi spiritual di sekitarnya sebanyak-banyaknya. Dia menjadi seperti lubang hitam yang menelan semua energi spiritual di seluruh hutan. Hanya dalam sekejap, hutan itu berubah menjadi kosong tanpa energi spiritual.


“Tentu saja. Bagaimana mungkin kedua tempat yang berbeda ini bisa disamakan?” Mo Jingtian yang sejak tadi hanya menjadi pengamat pun akhirnya berbicara.


“Kau benar.”


Akhirnya Qing Yue’er bangkit dari tempat duduknya. Dia hendak berjalan mendekati sungai ketika tiba-tiba cahaya putih meluncur turun dari langit. Setelah lebih dekat, dia pun bisa melihat sosok pria tua yang tersenyum tipis padanya.


Sudut alisnya terangkat sebelah. Hanya dalam sekilas, dia bisa tahu pria tua itu bukan orang sembarangan. Itu bisa diketahui dari level kultivasinya yang tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dari Niu Longhao.


Aura abadi yang menyelimuti tubuh orang tua itu menunjukkan umurnya yang panjang. Qing Yue’er bertanya-tanya dalam hati, leluhur mana yang datang menemuinya?


Leluhur Yuwen berhasil mendarat di tanah. Dia tersenyum pada Qing Yue’er. “Nak, kau tidak terlihat takut atau terkejut melihatku.”


Qing Yue’er tersenyum. Meskipun orang tua itu kuat, tapi level kultivasinya masih berada di bawahnya. Jadi, dia tidak takut sama sekali.


“Hanya ada sedikit hal yang aku takuti di dunia ini,” ucap Qing Yue’er dengan tenang. “Bolehkah aku tahu kenapa Tuan ini datang ke sini?”


Tawa kecil keluar dari mulut Leluhur Yuwen. Dia sebenarnya terkejut dengan sosok gadis di depannya. Kekuatannya tidak bisa dia raba. Itu hanya menunjukkan bahwa level kultivasinya sudah berada jauh di atasnya.


Dia tersenyum dengan perasaan yang rumit. “Apakah kau sudah bertemu dengan leluhur Akademi Surgawi?”

__ADS_1


Qing Yue’er menggeleng dengan kening berkerut. Sejauh ini dia tidak pernah mendengar apa pun tentang leluhur akademi. Bahkan ketika bangunan akademi diruntuhkan, tidak ada leluhur yang muncul. Jadi, dia selalu berasumsi kalau mereka semua sudah mati. Mungkinkah dia telah salah?


“Sepertinya kau belum pernah melihatnya. Sayang sekali.” Ada sedikit kekecewaan di wajah Leluhur Yuwen. Kemudian dia berkata, “Aku adalah leluhur dari Sekte Sungai Selatan.”


Qing Yue’er sedikit terkejut. Sejak menutup lubang iblis yang pertama, tidak ada seorang pun yang datang. Ini adalah eksistensi kelas atas di Tongxuan Selatan yang pertama datang menemuinya.


Dia membungkuk hormat pada orang tua itu. “Xinyu memberi salam pada Leluhur ….”


“Yuwen Ming.”


Itu kembali mengejutkan Qing Yue’er. Dia pernah mendengar Akademi Surgawi memiliki seorang leluhur yang bernama Yuwen, yaitu Leluhur Yuwen Di. Namun, namanya tidak pernah disebutkan lagi dan keberadaannya tidak diketahui bahkan oleh para penatua.


“Mungkinkah ….”


“Yuwen Ming dan Yuwen Di adalah saudara seperguruan,” ujar Mo Jingtian tiba-tiba.


Yuwen Ming menjadi terheran-heran. Dia akhirnya memerhatikan pria berjubah merah yang duduk di bawah pohon willow. Ada kebingungan di wajahnya. “Kau mengetahuinya?”


Mo Jingtian menatap lurus para pria tua itu. “Ribuan tahun yang lalu nama dan prestasi kalian menggemparkan seluruh Tongxuan. Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Sayangnya, sekarang bukan hanya kalian menjadi tua, nama kalian bahkan sudah dilupakan.”


Jika itu orang lain, mereka mungkin akan tersinggung dengan kata-kata itu. Namun, tidak dengan Yuwen Ming. Dia justru merasakan penghormatan naluriah hanya dengan mendengar kata-kata Mo Jingtian.


Dia langsung menunduk dengan rendah hati. Ada perasaan khusus yang tidak bisa dijelaskan ketika melihat pria berjubah merah itu. Seperti budak yang melihat raja, seperti rakyat yang melihat kaisar, seperti manusia yang melihat dewa.


Yuwen Ming menghela napas panjang. “Sungguh, itu adalah kebenaran. Melihat orang-orang satu per satu pergi merupakan hal yang menyedihkan. Itulah kenapa beberapa orang lebih memilih mengasingkan diri agar tidak melihat kematian siapa pun.”


“Itu pilihan yang baik,” kata Mo Jingtian dengan lembut. “Namun, ketika dunia dikacaukan, jangan hanya duduk diam dan menutup mata. Tongxuan adalah milik kalian. Orang-orang dari alam atas, siapa yang akan peduli?”


“Aku akan mendengarkan Tuan ini,” ucap Yuwen Ming tanpa merasa tersinggung.


Mo Jingtian berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati Yuwen Ming tanpa terburu-buru. Dia terlihat tenang dan teratur. Udara di sekitarnya mulai mengalami perubahan tertentu.


Samar-samar Qing Yue’er bisa melihat jejak langkah kaki Mo Jingtian yang bertabur cahaya emas. Namun, itu menghilang dengan cepat. Bahkan ujung-ujung rambutnya meninggalkan untaian cahaya emas lembut.


Aliran air sungai tiba-tiba melambat. Matahari yang terik seolah melembutkan sinarnya. Pohon-pohon, rumput-rumput, dan bunga-bunga liar menunduk dalam hormat.


Hati dan perasaan Qing Yue’er menjadi bergetar. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Mo Jingtian diselimuti dengan keagungan seperti itu.


Pria itu terlihat sakral dan tak tersentuh. Dia lebih seperti orang yang digambar dalam lukisan yang disimpan kakek Xie Song di aula leluhur klan Xie.


“Di Futian ….” Qing Yue’er bergumam tanpa sadar.


Celepuk!

__ADS_1


Tiba-tiba Yuwen Ming jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar dengan wajah memucat. “Surga …. Manusia rendahan ini tidak bisa mengenali seorang dewa. Mohon ampuni aku.”


__ADS_2