
Hari berikutnya, Qing Yue'er langsung pergi untuk melihat Mo Jingtian. Pria itu sudah memasuki masa meditasinya. Sebenarnya dia merasa sedikit lega. Setidaknya saat Mo Jingtian terluka, dia bisa mengawasinya dari dekat.
Sesungguhnya dia tidak butuh seseorang yang kuat pada titik tak tertandingi. Yang dia inginkan hanya seseorang yang akan menjadi sandaran baginya. Dia tidak memedulikan apa pun selain itu.
Qing Yue'er akhirnya kembali ke kamar. Dia sedikit terkejut ketika melihat Jing Ling sudah ada di sana untuk menunggunya. "Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Jing Ling tidak merasa heran ketika Qing Yue'er tiba-tiba muncul dari udara kosong. Sepertinya sekarang dia harus terbiasa dengan keberadaan gadis itu yang selalu tak terduga.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya, ke manakah tujuanmu selanjutnya?" tanya Jing Ling.
"Aku ingin pergi ke Dataran Tengah," jawab Qing Yue'er. Dia duduk dengan santai sambil menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
"Dataran Tengah ...." Jing Ling nampak bergumam. Dia sedang mempertimbangkan apakah dia harus ikut atau tidak. Sekarang misinya telah selesai. Kemungkinan kakak laki-lakinya sudah sembuh. Jadi dia seharusnya bebas melakukan apa pun yang dia mau.
"Aku akan pergi denganmu," ucapnya dengan mantap.
Dataran Tengah adalah wilayah yang pasti ingin dijelajahi oleh hampir setiap orang. Di sana ada banyak sumber daya yang dapat meningkatkan kekuatan seseorang. Selain itu di sana juga terdapat banyak orang-orang berbakat. Akan sangat menyenangkan jika dia bisa pergi ke wilayah itu.
"Baik, hari ini juga kita akan berangkat." Qing Yue'er membiarkan Jing Ling ikut dengannya. Dia juga mungkin akan membiarkan Qi Rong pergi bersama.
Setelah matahari mulai naik, akhirnya mereka bertiga bersiap untuk meninggalkan kota Fuli. Perjalanan kali ini akan lebih panjang dari sebelumnya dan tentunya akan lebih sulit. Namun beruntung karena setidaknya Qing Yue'er sudah hampir mencapai puncak alam langit. Mungkin ini akan mempermudah mereka.
Kali ini mereka tidak akan pergi menaiki kuda, melainkan menggunakan derek atau sejenis bangau besar yang khusus digunakan untuk transportasi jarak jauh. Seseorang hanya perlu membayar menggunakan beberapa batu roh untuk menyewa derek-derek tersebut.
Qing Yue'er memilih derek yang besar. Di punggung derek itu ada tempat duduk yang cukup untuk empat orang. Karena ini adalah perjalanan jauh yang melewati perbatasan antar wilayah, dia tidak mau melakukan perjalanan terpisah. Kekuatan Qi Rong masih jauh di bawah, jadi akan lebih baik jika mereka berada dalam satu derek.
__ADS_1
"150 batu roh untuk empat kursi," ucap si penyewa derek.
Jing Ling memberikan kantong yang berisi batu roh. Penyewa itu menghitung selama beberapa saat sebelum akhirnya menarik derek untuk mendekat.
"Derek ini adalah derek yang sudah dilatih dengan baik. Kalian tidak perlu melakukan apa pun karena mereka sudah tahu tempat yang akan dituju. Dataran Tengah bukan?" Orang itu berkata dengan penuh kebanggaan.
"Ya benar." Qing Yue'er merasa cukup puas. Ini adalah kali pertama dia menaiki derek, karena burung seperti itu tidak ada di wilayah-wilayah kecil yang sebelumnya dia kunjungi. Jadi sekarang dia ingin mencobanya.
Dia dan kedua orang lainnya langsung naik ke tempat duduk. Setelah itu si penyewa memberikan isyarat kepada derek itu. Burung itu langsung mengepakkan sayapnya dan mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kota Fuli.
Cuaca hari itu begitu bagus. Qing Yue'er bisa melihat bentang alam yang luas dari atas. Ada banyak area hijau yang membuat semuanya terlihat lebih indah. Angin yang sejuk menerpa mereka, membuat suasana terasa lebih damai.
"Aku tidak menyangka akhirnya akan pergi menuju Dataran Tengah," ucap Qi Rong.
Dia sangat ingat bagaimana terpencilnya wilayah kerajaan Linxiang yang menjadi tanah kelahirannya. Lalu dia pergi ke Akademi Xinfeng yang memiliki lebih banyak interaksi dengan murid-murid lainnya.
Bukankah ini benar-benar sesuatu yang mengejutkan? Jika orangtuanya tahu, mereka pasti akan merasa khawatir sekaligus bangga.
Qing Yue'er menyetujui ucapan Qi Rong. Namun meskipun begitu, dia masih tidak puas. Ada banyak hal yang harus dia lakukan, termasuk kembali ke klannya. Dan itu semua membutuhkan lebih banyak perjuangan lagi.
Derek masih terus melaju. Qing Yue'er tidak menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Dia mulai menutup mata untuk mencoba bermeditasi.
Ketika waktu menjelang sore, tiba-tiba derek terhenti. Qing Yue'er merasakannya. Seharusnya ini belum sampai di tempat tujuan, tapi kenapa derek mereka berhenti tanpa perintah?
Akhirnya Qing Yue'er membuka matanya. Di atas awan putih ini dia melihat ada kereta kuda yang berhenti tidak jauh darinya. Kuda-kuda itu bukanlah kuda biasa, karena memiliki kemampuan terbang di atas langit. Orang yang memiliki kereta seperti itu pasti bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Di bagian depan ada seorang pria yang duduk dengan wajah tegas. Sepertinya dia adalah kusir yang mengendalikan kuda-kuda itu.
Qing Yue'er mengerutkan kening. Dereknya berhenti karena dihentikan oleh orang yang ada di dalam kereta. Kenapa ada hal seperti ini? Siapa yang ada di sana?
"Mungkinkah seseorang bisa memberitahu kenapa derek kami harus dihentikan?" tanya Qing Yue'er. Dia masih sopan dan tidak ingin membuat masalah.
Suara tawa renyah terdengar dari dalam kereta yang tertutup rapat. Itu adalah suara wanita yang tidak bisa diketahui umurnya. Namun dari suaranya saja seseorang bisa menilai kalau pemilik suara itu pasti orang yang panas.
"Kamu tidak tahu di mana salahmu?" tanya wanita itu dari dalam kereta.
Jing Ling yang ada di sebelah Qing Yue'er pun berbisik, "Dia hanya memulai masalah. Jelas-jelas kita tidak melakukan kesalahan apa pun."
Suara Jing Ling begitu rendah, tapi sepertinya wanita yang ada di dalam kereta itu mendengar bisikannya. Suara tawanya kembali terdengar.
"Oh, kalian pasti tidak tahu." Dia menghela napas. "Tidak apa-apa. Nona ini harus memberitahu kalian di mana salahnya. Bukankah seorang senior harus berbaik hati menunjukkan di mana letak kesalahan junior?"
"Hmm." Qing Yue'er mendengus pelan. Namun dia hanya diam dan menunggu apa yang akan diucapkan oleh wanita aneh itu.
"Kesalahan kalian hanya ada satu," ucap wanita itu dengan enteng.
"Bukankah kamu tidak perlu bertele-tele?" Qing Yue'er berkata dengan jengah. Dia tidak tahu apa yang diinginkan pihak lain dan tidak tahu apakah dia adalah seorang teman atau musuh. Namun dia merasa tidak sabar dengan omong kosong ini.
"Kenapa kamu begitu tidak sabar?" tanya wanita itu yang diakhiri dengan sebuah tawa lagi.
"Baiklah. Mungkin kalian tidak mengetahui hal ini," ucap wanita itu dengan jeda sesaat.
__ADS_1
"Namun, berpapasan dengan keretaku adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan."