Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Harta Peninggalan Raja Iblis


__ADS_3

Setelah pergi menemui Shaman Agung, Baili Linwu kembali ke Pengadilan Surgawi bersama Di Ziyan. Jubah hitamnya telah dibuka dan kini menampilkan pakaian kedewaannya yang berwana putih keemasan.


Pada saat itu, langit tiba-tiba gelap. Awan hitam bergemuruh dan petir mulai muncul. Kedua orang itu yang berada di halaman belakang kediaman khusus Tuan Pengadilan Surgawi pun mendongak ke atas.


“Tuan, hukuman langit sepertinya akan datang,” kata Di Ziyan.


Baili Linwu hanya menunjukkan senyum mengejek. “Bodoh sekali. Ribuan hukuman tidak pernah bisa menyakitiku, kenapa langit masih repot-repot mengirimkannya?”


Dia mengangkat tangannya lalu sebuah kotak muncul di atasnya. Kotak hitam itu diukir dengan misterius. Ukurannya tidak begitu besar ataupun kecil. Dia meneteskan darahnya di atas bagian kuncinya, lalu bunyi klik langsung terdengar.


Langit menjadi semakin gelap. Baili Linwu segera membuka tutup kotak itu. Sebuah batu permata hitam yang bersinar merah keunguan tersimpan di dalamnya. Auranya begitu kompleks antara aura dewa dan iblis. Batu itu melayang ke udara lalu segera ditangkapnya.


Ekspresinya menjadi dingin ketika menggenggam batu itu yang bentuknya seperti hati manusia. Dia menatap benda itu dengan senyum mengejek. “Orang lain pasti tidak tahu bahwa selama ini aku telah menghindar dari hukuman langit.”


Di Ziyan hanya menunduk. Dia tidak berani berkomentar.


“Ayahku mengeluarkan hatinya sendiri dengan susah payah. Kemudian dia meleburkannya dengan darah para dewa dan orang-orang suci. Usahanya tidak sia-sia. Dia benar-benar bisa membuat harta ini,” ucap Baili Linwu dengan puas.


Dia mengangkat batu hitam di tangannya ke langit bertepatan dengan sambaran petir yang turun ke arahnya. Petir itu langsung menghantam batu hitam itu hingga menimbulkan suara ledakan keras.


Namun, tidak ada apa pun yang terjadi. Batu hitam itu tetap utuh dan Baili Linwu baik-baik saja tanpa luka sedikit pun. Dia hanya melangkah mundur beberapa kali.


Tawanya langsung menggema. Dua pilar petir turun lagi, tapi dia kembali menggunakan batu itu untuk dijadikan tameng. Bahkan tanpa kultivasi pun dia tetap baik-baik saja menghadapi hukuman itu.


Di Ziyan tidak bisa berkata-kata. Dia sudah melangkah mundur karena energi kekacauan dari serangan petir itu tidak sepele. Melihat Baili Linwu yang tidak terluka sedikit pun membuatnya sekali lagi mengakui kehebatan harta di tangannya.


Langit pun kembali cerah. Hukuman itu sudah berhenti. Di Ziyan kembali mendekati Baili Linwu. “Tuan, harta itu memang menakjubkan.”


Baili Linwu tersenyum lebar. “Raja Iblis menghabiskan seluruh waktu dan hidupnya untuk membuat Giok Penantang Surga ini. Dia ingin menciptakan harta yang bisa membuat kaum iblis terhindar dari hukuman langit sehingga kami tidak perlu takut lagi pada apa pun. Bagaimana mungkin ini tidak menakjubkan?”


Senyumnya tiba-tiba berubah menjadi dingin. “Sayangnya ketika benda ini berhasil diciptakan, Tuan Pengadilan Surgawi sialan itu mengalahkannya dan memenjarakannya di tempat yang bahkan sampai sekarang tidak aku ketahui. Keparaattt!”


Pria itu mendengkus lalu menatap batu di tangannya dengan penuh cinta. “Tapi itu tidak masalah. Selama aku bisa menyingkirkan para pengganggu itu dan menemukan ayahku, benda ini akan kembali ke pemilik yang sebenarnya.”


“Kemudian kaum iblis akan sepenuhnya terbebas dari dunia bawah. Tidak akan ada lagi dewa-dewa yang menyebalkan. Dunia akan menjadi milik ras iblis sepenuhnya!” Baili Linwu tertawa keras memikirkan itu. Sudah lama sekali dia memimpikan hari itu tiba.


Dengan hati-hati dia kembali menyimpan batu itu. Kemudian dia menggenggam tangan Di Ziyan dengan lembut. “Ziyan, selama ini kaulah yang selalu membantu dan menemaniku. Setelah aku berhasil nanti ….”


Dia membelai wajah wanita itu. “Aku akan menjadikanmu istriku. Dan kau bisa meminta apa pun yang kau mau.”


Di Ziyan sedikit terkejut mendengar itu. Dia segera menggeleng. “Tuan, kau tidak perlu melakukan itu.”


Baili Linwu tersenyum menyeringai. “Kenapa? Apa kau takut memiliki suami sepertiku?”


Wanita itu menunduk. Meskipun sudah lama mengenal dan menjadi bawahan Baili Linwu, dia memang masih takut kepadanya. Jika dia menjadi istrinya dan tidak bisa menyenangkan hatinya, mungkin pria itu akan membunuhnya.

__ADS_1


“Tuan, aku masih tidak mengerti dengan satu hal.” Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Apa yang tidak kau mengerti?”


Di Ziyan menatap lurus pada pria itu dan bertanya, “Giok Penantang Surga itu begitu hebat. Kenapa Tuan tidak menggunakannya sendiri untuk menaklukkan tiga alam?”


Baili Linwu mendengkus. “Meskipun benda itu memang bisa membantu melindungiku dari hukuman langit dan bahkan menipu kenaikanku saat menjadi dewa, penggunaannya tetap terbatas. Hanya pemilik asli yang bisa membuat benda itu mengeluarkan kemampuannya sampai batas.”


“Ziyan, aku hanya bisa memanfaatkan seperempat dari kekuatan sesungguhnya. Itulah kenapa mantan Tuan Pengadilan Surgawi itu tidak begitu cemas ketika Giok Penantang Surga hilang. Selama pemilik sesungguhnya tidak kembali, tidak akan ada yang bisa menguasai benda itu sepenuhnya.”


Di Ziyan akhirnya mengerti setelah mendengar penjelasan itu. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa kekuatan benda itu jika berada di tangan pemiliknya. Pasti akan sangat menakutkan.


“Apakah Mo Jingtian mengetahui hal ini?”


Baili Linwu tertawa keras mendengar pertanyaan itu. “Mo Jingtian? Kenapa dia harus tahu hal-hal kuno ini? Dia hanya anak laki-laki yang bahkan tidak bisa melarikan diri dari takdirnya. Jika bukan karena keberuntungannya hari itu, dia pasti sudah lama mati di bawah racun pemberianku.”


Tatapan pria itu menjadi begitu dingin. Kebencian dan amarahnya tersirat jauh di dalam matanya. “Mengingatnya hanya membuatku marah!” geramnya kemudian.


“Kalau begitu jangan mengingatnya lagi. Tuan, silakan ….” Di Ziyan mempersilakan Baili Linwu untuk masuk. Mereka akhirnya meninggalkan halaman belakang itu.


***


Pada malam harinya, Di Mu datang menghadap Baili Linwu. Wajahnya tampak muram dan marah. Ekspresinya tidak begitu bagus saat dia memberi hormat pada tuannya. Ada ketakutan juga yang tak bisa dikatakan.


“Ada apa? Apa kau gagal lagi?!” Baili Linwu langsung mengerutkan kening ketika melihat ekspresi Di Mu.


“Namun apa?!”


“Beberapa dewa memblokirku. Mereka sepertinya sudah mengetahui hal-hal yang aku lakukan,” tutur Di Mu sambil menunduk. Dia tidak berani menatap tuannya langsung.


Baili Linwu yang mendengar itu langsung mendengkus. “Siapa yang kau maksud?”


“Mereka adalah Di Shen, Di Zheng, dan Di Fengxi.”


Amarah Baili Linwu menjadi semakin naik setelah mendengar nama Di Fengxi. Dia menggertakkan gigi, telapak tangannya mengepal erat.


“Di Fengxi ….” Suara desisannya keluar dari sela-sela giginya.


“Mo Jingtian benar-benar memanfaatkan muridnya dengan baik!” geramnya dengan murka. Dia sangat marah sampai ingin memuntahkan darah. Apakah hidupnya hanya untuk dikacaukan oleh Anak Surga itu?!


“Tuan, kendalikan amarahmu.”


“Aku tidak akan bisa lebih marah dari ini!” teriak Baili Linwu. “Di Mu, beri tahu pada yang lain, tidak peduli apakah itu manusia atau dewa, selama seseorang menghalangi kalian, bunuh mereka!”


“Bunuh siapa pun yang menentangkuuu!!!” teriaknya dengan keras. Awan hitam seolah ditarik oleh amarahanya. Langit malam menjadi suram tanpa cahaya bulan dan bintang.

__ADS_1


Di Mu segera mengangguk dengan takut. Kali ini sepertinya Baili Linwu benar-benar ingin menunjukkan niatnya secara terbuka. Bahkan jika dewa-dewa di Celestial murka, itu sudah diputuskan.


Dia dengan cepat menyerahkan cincin spiritual yang berisi darah ahli alam surgawi kepada Baili Linwu. Setelah itu, dia pun bergegas pergi.


Baru saja Di Mu pergi, Di Zhao datang untuk melaporkan hal yang sama. Itu membuat Baili Linwu semakin murka. “Siapa lagi pelakunya kali ini?!”


“Tuan, itu adalah Di Xing dan Di Yu,” jawab Di Zhao dengan suara yang bergetar. Tangannya yang mengulurkan cincin spiritual juga gemetar.


Baili Linwu mendengkus dingin. Hampir semua dewa tahu kalau kelima dewa itu memang sering bersama. Jadi, dia bisa menyimpulkan mereka telah bersekongkol untuk mendukung Mo Jingtian.


Dia mengambil cincin spiritual dari Di Zhao lalu menatap benda itu dengan dingin. “Apa kau sudah mendengar pesanku kepada Di Mu?” tanyanya.


Di Zhao mengangguk. “Dia sudah mengatakannya, tapi ….”


“Tapi apa?”


Pria yang ditanya itu menelan ludahnya dengan gugup. “Tapi … apa itu akan baik-baik saja jika aku membunuh dewa lain? Aku takut langit akan--aahh!”


Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, Baili Linwu sudah mencekik lehernya dengan kuat. Wajahnya langsung berubah ungu karena tidak bisa bernapas. Dengan cepat dia mengangguk berkali-kali.


“Ba--baik …. Aku akan … akan melakukannya ….”


Baili Linwu langsung melempar tubuh Di Zhao hingga menghantam dinding. Tatapannya begitu tajam dan dingin. “Jika kau membantah dan melangkah mundur sekarang, akan kupastikan hidupmu akan lebih buruk daripada kematian!”


Wajah Di Zhao menjadi pucat. Dia segera berlutut dengan takut. “Tuan, aku akan patuh! Aku akan patuh!”


“Pergilah sekarang! Bantai siapa pun yang mencoba menghalangimu!” teriak Baili Linwu dengan dingin.


Dengan cepat Di Zhao segera mengangguk dan pergi dari sana. Baili Linwu mendengkus melihat kepengecutannya. Setelah itu, dia pun berjalan menuju ruang bawah tanah yang dia bangun di bawah kediamannya.


Pencahayaan di sana remang-remang hanya dengan sedikit lampu spiritual. Dindingnya dibangun dengan batu-batu hitam tanpa dipoles yang memberikan kesan suram.


Udara terasa lebih berat jika dibandingkan dengan dunia luar. Orang yang masuk ke sana setelah tinggal di Pengadilan Surgawi akan merasa seperti telah masuk ke dimensi yang sama sekali baru.


Baili Linwu berjalan mendekati sebuah kolam yang ada di tengah ruangan. Itu bukan kolam biasa karena isinya adalah lautan darah.


Dia melemparkan cincin spiritual pemberian Di Zhao dan Di Mu ke dalam kolam. Setelah itu, ketinggian kolam langsung naik yang menandakan bahwa jumlah darahnya menjadi semakin banyak.


Tawa dingin langsung keluar dari mulutnya. Jumlah darah di kolam mungkin belum cukup untuk melakukan ritual yang diarahkan Shaman Agung. Namun, itu pasti tidak akan lama lagi.


“Di Ziyan ….” Dia memanggil nama itu dengan lirih. Tak selang lama kemudian, wanita itu muncul.


“Tuan, apa kau membutuhkan bantuanku?”


Baili Linwu menatap wanita itu tanpa ekspresi. “Aku tidak ingin menunda lagi. Segera sebarkan pasukan iblis ke delapan sudut Celestial dan tunggu aba-aba dariku. Aku ingin Mo Jingtian dan dewa-dewa bodoh itu tahu seperti apa amarah Yan Diyu!”

__ADS_1


Di Ziyan sedikit terkejut, tapi kemudian mengangguk patuh. “Baik. Aku akan segera melakukannya.”


Wanita itu melangkah mundur lalu sosoknya menghilang ke dalam udara kosong.


__ADS_2