
Malam yang panjang. Qing Yue'er menghabiskannya dengan merawat pohon Persik Surgawi yang sekarang sudah tumbuh lebih besar. Sudah lama dia tidak memeriksanya dan hanya membiarkan Ying Jun yang merawatnya.
Di sana dia membawakan banyak air Yin Yang untuk menyiramnya. Hanya dalam sekejap air itu langsung dikeringkan. Pohon itu benar-benar memiliki selera yang besar. “Kamu harus tumbuh lebih cepat,” ucap Qing Yue'er dengan pelan.
Tangannya bergerak mengambil beberapa daun yang menguning. Saat itu tiba-tiba dia merasakan sepasang tangan yang memeluk pinggangnya dari arah belakang. Aroma cendana yang kuat langsung merasuk ke hidungnya.
Seketika gerakan tangannya langsung terhenti. Debaran jantungnya menjadi tidak menentu. Dia berbalik ke belakang dan melihat pria yang sudah dicari-cari beberapa waktu yang lalu.
“Apa? Sudah merindukanku, hm?” Mo Jingtian mencolek dagu Qing Yue'er yang langsung dibalas dengan desisan.
“Ke mana kamu pergi?” tanya Qing Yue'er dengan penuh selidik. Dia meneliti pria di hadapannya itu tapi tidak ada hal yang cukup aneh.
“Apa yang salah? Aku hanya pergi sebentar,” ucap Mo Jingtian dengan tenang.
Qing Yue'er menelan ludahnya. Yah, memang benar pria itu hanya pergi sebentar. Bahkan, tidak sampai berhati-hari. Namun, dia tidak bisa tetap tenang seperti biasanya. Apakah dia terlalu berlebihan?
“Jingtian, aku ingin tahu tentang cincin cahaya yang ada di sini,” kata Qing Yue'er sambil mengangkat jarinya. “Apa mungkin ada fungsi tertentu? Atau mungkin mengartikan sesuatu yang lain?
“Tentu saja.” Mo Jingtian langsung menjawab.
“Kalau begitu apa itu?”
“Hal sepele seperti ini bahkan kamu tidak tahu? Begitu bodoh.”
“....”
Qing Yue'er memelotot pada Mo Jingtian. “Kamu menyebutku bodoh?”
“Tidak. Maksudku, ketika seorang pria memberikan hal seperti ini pada wanita, apa maksudnya?” Mo Jingtian menatap kedua mata Qing Yue'er dengan lekat.
“Kamu ....” Wajah Qing Yue'er menjadi semerah tomat.
“Aku apa?” tanya Mo Jingtian yang tidak mau melepaskan pembicaraan ini begitu saja.
Tiba-tiba Qing Yue'er tidak tahu harus berkata apa. Dia terlalu malu untuk mengatakannya. Dengan perlahan dia berbalik membelakangi Mo Jingtian. Sebenarnya bukan ini yang dia maksudkan. Dia hanya ingin bertanya tentang maksud dari cincin cahaya yang tiba-tiba menyala.
__ADS_1
Mo Jingtian menyunggingkan senyum tipis. Dia tahu apa yang ditanyakan oleh Qing Yue'er, tapi dia juga tidak bisa mengatakan kebenarannya. Ya, cincin cahaya itu akan menyala ketika salah satu dari mereka berada dalam keadaan bahaya. Jika dia mengatakannya sekarang mungkin Qing Yue'er akan merasa cemas dengan kepergiannya.
“Apa sesuatu telah terjadi?” tanya Mo Jingtian.
“Ya ....”
“Apa itu?”
“Pria sepertimu tidak memasuki mata ibuku, apa pendapatmu?” tanya Qing Yue'er sambil melanjutkan pekerjaannya.
“Benarkah?” Mo Jingtian sedikit terkejut, tapi pada akhirnya dia malah terkekeh.
“Kenapa kamu tertawa? Tidakkah kamu merasa cemas?” Qing Yue'er bertanya dengan cemberut. Pria itu benar-benar menjengkelkan.
“Apa yang harus aku cemaskan?” tanya Mo Jingtian dengan tenang.
Qing Yue'er berbalik dan menatap Mo Jingtian dengan putus asa. “Bagaimana kamu bisa setenang ini? Bagaimana jika ....”
“Jika apa?”
“Hahaha. Benar, benar.” Qing Yue'er mengangguk sambil tertawa. “Jadi, aku tidak perlu memikirkannya.”
Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya memandangi bagaimana gadis itu tertawa. Dia sendiri tidak akan berbicara sesuatu yang muluk-muluk atau berlebihan. Lebih baik bertindak dari pada berbicara omong kosong.
Qing Yue'er menghela napasnya. Kemudian dia kembali melanjutkan perawatannya pada pohon persiknya. Dia masih merasa tidak nyaman. Sedekat apa pun dia dengan Mo Jingtian, entah kenapa seolah masih ada saja dinding transparan yang memisahkannya.
Bukan karena perasaan mereka yang berbeda. Namun, ada tempat yang belum bisa dia jangkau. Mo Jingtian itu seperti lubang hitam yang sangat dalam. Banyak misteri yang disimpan, yang sampai saat ini masih belum bisa dia ketahui. Bahkan, setelah mengetahui identitasnya, dia masih merasa ada banyak hal yang disembunyikan olehnya.
Napas panjang kembali terhela. Tidak apa-apa, nanti dia pasti akan segera menyusurinya. Dia pasti akan menghancurkan dinding penghalang itu. Dia tidak akan membiarkan pria itu menyimpan banyak hal di belakangnya.
***
Istana Guang.
Seorang pria tua sedang menatap penuh amarah pada pemuda yang saat ini berlutut dengan wajah pucat. Pemuda itu menunduk dengan takut-takut.
__ADS_1
“Katakan pada kakek, apa benar kamu pergi ke alam bawah beberapa waktu yang lalu?!”
“Kakek, i—itu tidak benar. Bagaimana mungkin aku bisa menyusup ke sana?”
“Hua Tian, jangan berpikir kakekmu ini bodoh! Siapa yang lebih bisa kupercayai? Bawahanku lebih jujur daripada cucuku sendiri. Kamu benar-benar mengecewakanku.”
Hua Tian mengangkat wajahnya. Kali ini di menatap kakeknya dengan marah. “Bagaimana Kakek bisa mengatakan hal seperti ini? Kenapa juga aku tidak boleh pergi ke alam bawah?”
Hua Mingshan menatap Hua Tian dengan mata memelotot. “Masalahnya kamu datang ke alam bawah dengan sikap yang tidak bermoral! Kamu ingin merebut binatang ilahi milik orang lain bukan? Betapa tidak tahu malunya itu!”
“Bukankah itu hanya milik orang-orang rendahan? Naga itu pasti akan sia-sia jika tetap berada di benua Tongxuan itu. Jika aku bisa merebutnya maka potensinya akan lebih besar,” ucap Hua Tian yang tidak mau kalah.
“Siapa yang bilang naga itu tetap berada di benua Tongxuan?!” Hua Mingshan berseru.
“Bukankah aku benar? Pemiliknya hanya gadis dari wilayah rendahan itu. Apa yang bisa diharapkan darinya? Pergi ke Celestial? Itu pasti mimpi!”
Hua Mingshan memukul cucunya. “Kamu yang bermimpi! Apa kamu tahu siapa gadis itu? Putri dari Xie Ying Fei! Orang yang sudah membawa kehancuran klan Liu!”
“Apa?!” Mulut Hua Tian ternganga lebar. Apa barusan dia salah dengar? Gadis itu ... keturunan klan Xie? Bagaimana mungkin?!
“Apa kamu terkejut sekarang?!” teriak Hua Mingshan dengan marah.
“Ayah, sudah jangan memarahinya lagi. Tian'er masih muda jadi wajar jika membuat suatu kesalahan.” Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang mendekat. Penampilannya terlihat sangat kuat dan gagah.
Hua Mingshan mendengus. “Ingat ini, jangan berbuat macam-macam lagi! Jika aku mengetahuinya maka aku tidak akan segan untuk menggantungmu di atas menara.” Setelah mengatakan itu dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Hua Tian segera memeluk kaki ayahnya dengan berpura-pura terlihat menyedihkan. “Ayah, bagaimana kakek bisa seperti itu? Seharusnya dia membalaskan keluhanku bukannya malah menyalahkanku.”
“Tian'er, bangun dulu. Seorang pria jangan bersikap seperti ini. Kamu harus memiliki harga diri yang tinggi,” ucap Hua Yan sambil menarik putranya berdiri.
Akhirnya Hua Tian pun bangkit berdiri. Kemudian dia mendengar ayahnya kembali berkata, “Kamu benar. Aku tidak tahu kenapa kakek malah memarahimu. Bagaimanapun juga gadis itu hampir mencelakaimu.”
Kedua mata Hua Tian langsung berkilat dengan kemenangan. Dengan nada penuh keluhan dia pun berkata, “Benar. Jika saat itu aku tidak segera melarikan diri maka aku pasti sudah mati dan tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ayah lagi.”
Hua Yan mengangguk. “Ayah akan memikirkan cara untukmu.”
__ADS_1
“Terima kasih, Ayah.” Hua Tian langsung membungkuk dengan senang. Bibirnya menyeringai. Jika ayahnya sudah seperti ini maka dia akan mendapatkan jalan lain.