
Pasar giok adalah tempat yang misterius karena para penjualnya bukanlah manusia normal. Penampilannya memang sama seperti manusia, tetapi mereka sama sekali tidak berbicara dan tdak memiliki sorot kehidupan di matanya. Mereka seperti cangkang kosong yang bergerak entah dengan kekuatan apa.
Ketika Qing Yue'er tiba di sana, dia melihat pemandangan itu dengan takjub. Ada banyak kios-kios yang dijaga oleh masing-masing satu penjual. Kebanyakan penjualnya pria tua atau wanita tua.
Giok-giok yang dijual juga tersedia dalam berbagai ukuran dan warna. Namun, bentuknya sama, tidak terlalu bulat dan sedikit lonjong. Mungkin tidak seindah giok lain, tetapi ada aura tersendiri yang terpancar dari dalam.
Qing Yue'er mengamati seseorang yang sedang melakukan transaksi. Pembelinya adalah pria yang mengenakan topi bambu. Mungkin usianya sekitar paruh baya. Pria itu memilih satu batu giok, lalu mengeluarkan sebuah belati emas dari kantongnya.
Belati emas ditunjukkan pada penjual, tetapi tidak ada respons apa pun yang didapatkan. Kemudian pria itu menggantinya menggunakan pedang yang masih bersarang di dalam sarung. Setelah itu barulah si penjual mau menerimanya. Ternyata transaksi di sana tidak menggunakan batu roh, melainkan melalui pertukaran barang.
Qing Yue'er langsung tertarik mencoba. Dia bersama dengan Mo Jingtian bergerak mendekati salah satu penjual. Dia mencoba memilih batu yang terlihat menarik. Namun, dia tidak tahu harus memilih yang bagaimana.
“Jingtian, apa aku perlu memilih dengan teliti? Apa kualitas giok akan menentukan sesuatu?” tanya Qing Yue'er.
“Tentu saja.” Mo Jingtian mengangguk. “Giok ini akan menentukan kapal yang akan kita gunakan. Perlu diketahui bahwa siapa pun tidak akan bisa terbang di atas Laut Tulang Darah. Orang yang pergi melintasi laut itu harus menggunakan perahu khusus. Jika tidak maka kematian sudah menanti.”
Qing Yue'er merasa cukup terkejut. Jadi laut itu benar-benar memiliki aturan alam tersendiri. Dia menjadi penasaran, apa benar tidak ada seseorang yang mengatur semua ini? Sepertinya itu terdengar menakjubkan.
“Aku masih tidak yakin jika di tempat ini tidak ada seseorang yang berkuasa. Jika tidak ada penguasa bukankah tempat ini akan menemui kekacauan?” Qing Yue'er akhirnya bertanya.
“Yue'er, ada banyak hal di dunia ini yang tidak masuk akal dan berada di luar kendali manusia,” ucap Mo Jingtian.
Akhirnya Qing Yue'er mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut. Sepertinya semua hal yang terjadi di sini memang terjadi secara alami. Dia kembali fokus pada batu giok dan meminta Mo Jingtian untuk memilihkan satu untuknya.
Mo Jingtian mengambil satu giok berwarna biru langit yang bercampur dengan warna putih kapas. Itu mungkin tidak tampak terlalu indah, tetapi Qing Yue'er merasa ada sesuatu yang istimewa di sana.
“Aku akan membayarnya menggunakan ....” Qing Yue'er berpikir beberapa saat hingga akhirnya mengeluarkan pedang yang sebelumnya digunakan untuk terbang ke tempat ini.
__ADS_1
Namun, ketika Qing Yue'er menunjukkan pedang itu, si penjual tidak memberikan respons. “Ah, kau tidak mau?” Qing Yue'er merasa cukup bingung. Pedang miliknya juga bukan senjata biasa, tetapi orang itu tidak mau menerimanya.
Sejujurnya Qing Yue'er tidak memiliki banyak harta karena kebanyakan harta yang dia miliki sudah disumbangkan di alam bawah sebelum pergi ke Celestial. Qing Yue'er mengusap dagunya sambil berpikir. Kira-kira apa yang bisa dia gunakan untuk bertukar?
Beberapa saat kemudian Qing Yue'er mengeluarkan sebotol air Yin Yang, siapa tahu orang itu berminat. Sayangnya harapannya tidak terkabul. Ini membuat Qing Yue'er merasa resah.
“Jingtian, apa yang membuat dia tertarik? Lihat, wajahnya itu bahkan tidak bergerak sama sekali.” Qing Yue'er sedikit menggerutu.
“Coba berikan beberapa keping sisik naga emas,” kata Mo Jingtian.
Qing Yue'er sebelumnya tidak berpikir sampai di sana. Lagi pula dia hampir tidak pernah mengambil sisik naga emas dari Jinlong. Setelah Mo Jingtian mengatakan itu, barulah dia merasa itu adalah ide yang bagus. Qing Yue'er mengangguk dan segera meminta sisik naga pada Jinlong.
Tak selang lama tiga keping sisik naga sudah muncul di telapak tangan Qing Yue'er. Dia segera menunjukkan itu pada penjual dan penjual itu langsung mengambil benda itu.
“Ah, seleramu cukup besar juga,” komentar Qing Yue'er. Sisik naga adalah barang yang langka karena benda itu harus didapatkan dari binatang ilahi. Sedangkan keberadaan seekor naga saja sulit untuk diketahui. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan barang seperti itu.
“Hanya batu giok jelek seperti ini dan kau tidak mau menerima tawaran apa pun dariku?! Kalau begitu biarkan kakek ini memberi tahumu jika kau ini hanya seorang penjual rendahan di pasar pengap!” pria itu berteriak, tetapi si penjual tetap tidak bergerak.
Pria itu menjadi semakin kesal dan segera melayangkan pedangnya ke depan. Hal yang tidak terduga tiba-tiba terjadi. Mata penjual yang selalu kosong mulai memancarkan cahaya semerah darah. Cahaya itu seperti laser yang sedang membidik sasaran.
Perubahan itu langsung mengejutkan si pria. Ketika cahaya merah itu mendarat di kepalanya, dalam hitungan detik sebuah ledakan langsung terjadi. Itu pemandangan yang mengejutkan siapa pun. Kepala pria itu meledak dan isinya langsung muncrat ke segala arah.
Semua orang yang menyaksikan itu benar-benar tercengang. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa penjual di pasar giok memiliki kekuatan yang menakutkan seperti itu. Diam-diam mereka bergidik ngeri atas hal yang baru saja terjadi.
Qing Yue'er juga tidak kalah terkejut. Jadi mungkin ini salah satu alasan kenapa pasar giok bisa berjalan hingga bertahun-tahun lamanya. Penjual-penjual itu meskipun bukan seperti manusia pada umumnya, tetapi memiliki kekuatan khusus untuk membela diri.
“Ternyata mereka seperti itu,” gumam Qing Yue'er.
__ADS_1
Mo Jingtian tersenyum tipis. Dia sudah mengetahui hal ini sejak lama. Orang-orang yang tahu pasti tidak akan berani membuat masalah di sini karena pasar giok ini bukan tempat bagi seseorang untuk bersikap semena-mena.
“Jingtian, ayo pergi,” ajak Qing Yue'er yang merasa sudah selesai dengan urusan giok. Dia sudah siap pergi ke Laut Tulang Darah sekarang. Mo Jingtian mengangguk dan berjalan bersama Qing Yue'er.
Mereka keluar dari pasar giok melewati gerbang batu yang terlihat sangat kuno. Di sana ada banyak kelompok yang berkerumun. Mereka tampak sibuk membicarakan sesuatu.
“Kapan harta itu akan keluar? Siang ini?” tanya pria pertama.
“Orang-orang berkata seperti itu. Namun, harta itu akan keluar di seberang Laut Tulang Darah. Jadi kita harus menyeberang ke sana,” balas pria ke dua yang sedang membersihkan pedangnya.
“Aku sedikit takut,” ungkap pria pertama sambil menundukkan kepala malu.
“Jangan jadi pengecut! Lagi pula selama kita mengikuti peraturan pasti kita akan selamat.”
“Benar apa kata Saudara Qiong. Katanya harta yang akan segera keluar ini bisa menyamai senjata dewa. Bukankah itu sangat hebat?” Pria ke tiga ikut berbicara.
Qing Yue'er yang mendengar pembicaraan itu merasa cukup tertarik. Sebuah harta akan keluar di seberang Laut Tulang Darah? Ini adalah kebetulan untuknya. “Jingtian, apa kita akan pergi ke sana?” tanya Qing Yue'er.
Mo Jingtian mengangguk. “Selama tidak ada tanda-tanda iblis di Laut Tulang Darah, maka kita akan menyebrang ke sana.”
Qing Yue'er bersorak di dalam hati. Dia selalu tertarik dengan apa yang disebut harta. “Kalau begitu ayo pergi sekarang!” seru Qing Yue'er cukup keras.
Mereka bergerak hingga cukup jauh dari pasar giok. Setelah itu pemandangan laut langsung menyambut. Namun, Qing Yue'er lagi-lagi dibuat terkejut oleh apa yang dilihat matanya. Merah! Itu adalah lautan luas yang berwarna merah seperti darah. Ini benar-benar sesuai dengan namanya, Laut Tulang Darah.
Apa yang mengherankan bukan hanya itu. Ada lagi, air laut di sanayang tidak memiliki ombak sedikit pun. Benar-benar seperti laut yang sudah mati. Dari jarak yang jauh pun seseorang akan merasa tidak nyaman. Ini terasa sedikit menakutkan, terutama karena energi di sana benar-benar terasa sangat mati.
Qing Yue'er menelan ludahnya. Ternyata rumornya memang benar. Laut Tulang Darah memang menakutkan.
__ADS_1