Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kecemasan dan Ketidakpastian


__ADS_3

“Kesalahan karena ketidaktahuan bukan hal yang tidak bisa dimaafkan.” Mo Jingtian mengangkat tangannya dengan pelan. “Bangunlah.”


Yuwen Ming hanya bergeming. Dia tidak bangun dan masih berlutut di tanah. Kepalanya menunduk tanpa berani menatap ke depan. Seorang manusia biasa seperti dia tidak bisa menahan pengaruh dari aura kedewaan Mo Jingtian.


Bukan hanya Yuwen Ming, bahkan Qing Yue’er merasakan hal yang sama. Kakinya mulai menjadi lemah. Dia melangkah mundur lalu jatuh berlutut dengan perasaan rumit. Kali ini kesenjangannya dengan Mo Jingtian benar-benar menjadi jelas.


Dia menatap pria itu dengan bingung. Jadi seperti inikah Mo Jingtian yang sebenarnya? Seperti inikah dia ketika menjadi dewa dan Anak Surga yang sesungguhnya?


Mo Jingtian menghela napas. Dia menatap Qing Yue’er sekilas tapi tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya dia berbicara pada Yuwen Ming.


“Tidak ada seorangpun di Benua Tongxuan yang lebih layak daripada kau dan Yuwen Di untuk membantu menyelesaikan kekacauan ini. Orang-orang dari dunia atas juga memiliki masalah mereka sendiri.”


“Mungkinkah … Dewa mengetahui di mana Yuwen Di?” Yuwen Ming bertanya dengan ragu-ragu.


“Dia sudah lama mengasingkan diri di Laut Tenggara. Dengan tingkat kultivasinya, dia pasti masih hidup.”


Yuwen Ming terkejut mendengar itu. Laut Tenggara berada di tenggara Benua Tongxuan. Itu memang tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia karena gelombang ombaknya yang tinggi dan besar. Batu karangnya juga terjal dan sulit dilalui.


Dia tidak menyangka Yuwen Di akan memilih mengasingkan diri di tempat seperti itu. Akhirnya dia mengangguk dengan yakin. “Aku akan pergi mencarinya segera setelah ini.”


“Ketika Alam Atas mengalami kekacauan, Alam Bawah juga kacau. Yuwen Ming, satukan kekuatan dan binasakan iblis. Jika kau berhasil, perang tidak akan mencapai Tongxuan.”


Yuwen Ming bergetar mendengar itu. Rasa takut memasuki hatinya. “Jadi situasinya seburuk itu.”


“Pergilah. Ketika seluruh lubang iblis sudah ditutup, nasib Tongxuan jatuh di tangan kalian. Aku dan Qing Yue’er hanya akan membantu sampai di sana,” ucap Mo Jingtian dengan suara yang tenang dan lembut. Seperti angin yang berembus melewati daun telinga.


“Baik. Aku akan melakukan tugasku sebaik mungkin,” jawab Yuwen Ming dengan kepala menghadap ke bawah.


Mo Jingtian mengulurkan tangannya. Beberapa helai rambut putih tiba-tiba muncul di sana. Kemudian dia memberikan rambut putih itu kepada Yuwen Ming. “Itu akan membantu kalian ketika saatnya tiba.”


Yuwen Ming menerimanya dengan yakin. “Terima kasih.” Dia bersujud memberikan penghormatan sebelum akhirnya melangkah mundur.


Kemudian dia menatap Qing Yue’er dengan perasaan rumit. Dalam hati dia memiliki banyak pertanyaan yang tidak tahu apa jawabannya. Namun, dia tidak bertanya. Sosoknya hanya melayang pergi begitu saja.


Qing Yue’er ditinggalkan dalam kebingungan. Dia menunduk. Tiba-tiba tubuhnya ditarik berdiri oleh kekuatan yang tak terlihat.


“Sebagai pasangan Anak Surga, jangan pernah biarkan lututmu jatuh menyentuh tanah,” ucap Mo Jingtian dengan lembut.


“Aku ….”


“Qing Yue’er, kau membuat kesalahan ketika aku menghadapi Tuan Pengadilan Surgawi.”

__ADS_1


Qing Yue’er menatap Mo Jingtian dengan bingung. Kesalahan apa yang telah dia buat?


“Namun, kau juga memberikan pengorbanan yang tak ternilai untukku,” lanjut pria itu.


“Aku tidak melakukan pengorbanan apa pun,” ucap Qing Yue’er dengan kening berkerut.


“Kau melakukannya dan aku berterima kasih untuk itu. Sebagai balasannya, aku akan memberimu pengetahuan yang akan menentukan hidupmu dan juga nasib dunia.”


Qing Yue’er masih tidak mengerti. Apakah pria itu sungguh Mo Jingtian? Kenapa dia menjadi sangat berbeda? Mo Jingtian tidak mungkin mengucapkan terima kasih seperti itu. Itu bukan sifatnya.


Dia segera bertanya, “Pengetahuan apa itu?”


“Anak Surga diharuskan bisa menentukan nasib baik dan buruk. Apa itu cinta, apa itu takdir dan apa itu tanggung jawab, dia harus mengetahuinya dengan jelas. Hati tidak bisa menjadi belenggu, dan cinta tidak bisa dibandingkan dengan keselamatan dunia.”


“Aku tidak mengerti.”


Mo Jingtian melangkah mendekat. “Cinta adalah ujian terakhir untuk putra surga. Ketika hati siap untuk kehilangan, maka dia tidak akan dipengaruhi lagi oleh emosi apa pun.”


Qing Yue’er akhirnya teringat satu hal. Dia tersenyum tipis. Kedua matanya sedikit berair. “Aku tahu langit menginginkan hidupku. Mungkin itu yang kau maksud. Kau harus merelakan kematianku. Jika hanya itu yang bisa aku lakukan, dan itu yang menjadi takdirku, aku bersedia.


“Namun, aku ingin memastikan satu hal. Jangan ada seorang pun dari orang-orang yang aku kasihi yang harus mati. Biarkan aku dan hanya aku.”


Qing Yue’er menggigit bibirnya. “Jadi kau sudah berubah pikiran? Lalu bagaimana cara aku bisa membantumu? Kau selalu merahasiakan itu. Dan kau hanya akan membiarkan langit yang ….”


Tiba-tiba Qing Yue’er menyadari satu hal. Kedua matanya melebar. Dia melangkah mundur sambil mengusap matanya yang sedikit basah.


Mo Jingtian pernah mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkannya tahu. Bahwa pria itu hanya akan membiarkan langit yang memberitahunya. Lalu … mungkinkah yang saat ini berbicara dengannya bukan benar-benar Mo Jingtian?


Pada saat itu tiba-tiba pria itu mengerutkan kening. Dia menggeram dan berteriak, “SIALAN! Sekarang kau bahkan sudah berani mengambil kesempatan untuk memengaruhi pikiranku! Apa kau pikir kau bisa melakukan itu untuk memberitahunya?!”


Seluruh aura keagungannya menghilang dalam sekejap. Tidak ada aura kedewaan lagi. Dia menjadi seperti Mo Jingtian yang biasa.


Qing Yue’er terkejut melihat itu. Perubahan itu terlalu drastis. Dari seseorang yang suci dan tenang, Mo Jingtian menjadi seseorang yang bisa berteriak dan mengutuk. Itu terlalu mengherankan.


“Jingtian ….”


“Yue’er, jangan dengarkan omong kosong itu. Aku hanya ingin menggunakan sedikit aura kedewaan pada Yuwen Ming agar dia bisa diyakinkan, tapi aku tidak menyangka ini ternyata menjadi hal yang buruk,” ucap Mo Jingtian. Suaranya terdengar sedikit cemas.


“Aku belum mendapatkan jawabannya, tapi kau sudah kembali pada kesadaranmu. Sangat disayangkan.”


Qing Yue’er berbalik membelakangi Mo Jingtian. Hatinya menjadi tidak menentu. Dia tidak tahu harus bagaimana bereaksi.

__ADS_1


Dia akan senang jika bisa mengetahui bagaimana cara membantu Mo Jingtian. Namun, itu artinya dia akan mati. Dia harus merelakan hidupnya dan harus merelakan perpisahannya dengan pria itu.


Jika dia marah, haruskah dia marah pada langit? Jika dia sedih, haruskah dia sedih karena telah terlahir dan bertemu dengan Mo Jingtian? Bagaimana mungkin?


Bahkan satu detik yang dilalui bersama Mo Jingtian sangatlah berharga. Bagaimana mungkin dia akan menyalahkan tadir yang telah mempertemukan mereka?


Memikirkan semua itu hanya membuat hatinya sakit. Dia harus membunuh keserakahannya. Dia bisa mendapatkan cinta Mo Jingtian, itu seharusnya sudah cukup.


Pada saat itu, tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang. “Jangan pikirkan itu lagi. Sungguh … pasti ada cara lain.”


“Jingtian, tapi yang kita hadapi bukanlah manusia ataupun dewa. Apa kau masih tidak mengerti? Bagaimanapun kau menghindar, itu tidak akan berhasil. Apakah kau tidak mendengar apa yang telah keluar dari mulutmu? Cinta adalah ujian terakhirmu.”


Mo Jingtian semakin mengeratkan pelukannya. “Bagaimana mungkin aku bisa merelakanmu mati? Yue’er, kita sudah ditakdirkan menjadi pasangan. Kenapa kau harus mati? Jika kau mati, aku tidak tahu untuk apa aku hidup.”


Itu membuat Qing Yue’er semakin sakit. Dia memejamkan matanya dengan sedih. “Itulah hal yang harus kau ubah,” gumamnya dengan lirih.


“Apa maksudmu?”


Qing Yue’er melepaskan pelukan Mo Jingtian. Dia berbalik menatap pria itu dan mencoba menguatkan hatinya. “Kau harus mengubah tujuan hidupmu. Jangan hidup untuk aku, hiduplah untuk keselamatan dunia.”


Mo Jingtian menggeleng. Kedua tangannya ditangkupkan di pipi gadis itu. “Kau pikir … bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu? Aku serakah dan menginginkan keduanya.”


Qing Yue’er merasa sedikit frustrasi. “Kau yang mengatakan sendiri, bagi manusia hidup itu sangat singkat. Dan kami memiliki siklus inkarnasi.”


“Bahkan jika kau bereinkarnasi hanya dalam setahun setelah kematian, aku masih tidak akan merelakan itu.” Mo Jingtian terlihat cukup takut. Pria itu memegang tangannya dengan erat.


“Yue'er, ini bukan tentang bagaimana kau akan hidup lagi, tapi bagaimana aku harus … melakukan itu. Dengan tanganku sendiri. Dengan cara itu. Bagaimana mungkin ....”


“Jingtian—”


“Yue’er, jangan membujukku lagi.” Sorot mata emas itu tampak sendu. “Kumohon ….”


Qing Yue’er tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan Mo Jingtian memohon padanya. Tapi dia tidak bisa membiarkan pria itu jatuh untuknya. Dia tidak ingin menikmati cintanya di saat dunia berada dalam ancaman kehancuran.


“Aku harus bagaimana, Mo Jingtian? Kau membuatku tidak mengerti,” ucapnya dengan lidah yang kelu.


“Kau hanya harus berada di sisiku. Kita pasti akan mengatasi ini,” ucap Mo Jingtian. Bahkan kalimatnya kini terdengar tidak pasti.


Qing Yue’er hanya bisa memeluk pria itu dengan erat. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Memaksa Mo Jingtian juga tidak akan berhasil. Dia hanya akan menunggu bagaimana langit akan bertindak untuknya.


Takdir indah sudah ditulis untuknya dan untuk Mo Jingtian. Siapa yang bisa menebak rencana langit? Mungkin keajaiban akan datang.

__ADS_1


__ADS_2