
“Tuan Mo, akhirnya kau mendapatkan kekagumanku,” ucap Duan Mu sambil tersenyum. Dia sudah banyak mendengar tentang Mo Jingtian, tapi ini pertama kalinya dia bisa benar-benar mengenalnya.
Melihat sendiri selalu jauh lebih baik daripada hanya mendengar kata orang.
“Jika kalian membutuhkan bantuanku, katakanlah. Meskipun sudah tua dan suka menganggur, aku masih bisa menyumbangkan sedikit tenaga,” katanya.
Qing Yue’er tersenyum mendengar itu. “Duan Tua, lebih baik kau datang ke Istana Tianjun dalam waktu dekat. Kau tidak ingin melewatkan pernikahan kami bukan?”
Pria itu menatap mereka dengan curiga. “Memangnya kapan kalian akan menikah?”
“Yah, itu tidak akan lebih dari seminggu sejak sekarang. Ayahku tidak mungkin datang. Jadi ….”
Qing Yue’er menggantung kalimatnya. Tujuan utamanya datang ke sini selain untuk meringankan hati Mo Jingtian adalah untuk ini, mengundang Duan Mu. Dia ingin seseorang dari keluarga ayahnya datang pada hari pernikahannya.
Duan Mu akhirnya mengangguk. “Aku tahu. Tenang saja! Karena aku sudah menangkap inti spiritual ikan-ikan itu maka aku bisa pergi kapan saja,” katanya dengan senang.
Qing Yue’er tersenyum. Dia menoleh pada Mo Jingtian dan bertanya, “Apa kau ingin kembali sekarang? Atau ingin pergi lagi denganku ke tempat lain?”
“Ada satu tempat yang aku ingin membawamu ke sana.”
“Di mana itu?” Qing Yue’er menjadi penasaran.
“Ayo pergi. Aku akan menunjukkan jalannya.”
Qing Yue’er langsung mengangguk. Mereka pun berpamitan kepada Duan Mu sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.
***
Sementara itu di Pengadilan Surgawi, lima dewa sedang berkumpul di sebuah paviliun putih yang cukup jauh dari pengadilan dalam. Semuanya adalah pria.
Ada yang sedang memainkan guqin, membuat catatan hukum, merawat binatang roh, menggeser bintang-bintang, dan mengatur temperatur udara dengan santai. Semuanya dilakukan dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Dewa Roh yang bernama Di Shen berhenti memainkan binatang rohnya. Dia menghela napas panjang. “Sungguh tidak nyaman. Bisakah kalian mengatakan sesuatu?”
Dewa Musik Di Zheng memetik senar guqinnya dengan tenang. Dia tersenyum. “Apa yang kau pikirkan, Shen?”
Di Shen meninggalkan kelinci rohnya di halaman berumput dan berjalan ke meja utama yang dibuat dengan giok putih. Di sana ada Di Fengxi yang sedang sibuk membuat catatan hukum dengan pena ajaibnya.
Ada juga Di Xing sang Dewa Bintang yang membuang waktunya dengan menggeser-geser bintang seperti orang kebosanan, dan Di Yu, Dewa Hujan yang sedang mengatur temperatur udara di langit dengan acak.
Kemudian Di Shen berkata, “Kematian Di Ming De sangat tidak normal. Aku sudah pergi memeriksa lokasinya.”
Di Fengxi yang mendengar itu sedikit teralihkan, tapi dia berpura-pura tetap sibuk. Sementara itu, Di Xing menoleh dan bertanya pada Di Shen, “Apa yang kau temukan di sana?”
“Jejak kekuatan roh di level ungu, lalu kekuatan spiritual dari kultivator roh perak level 1 dan 3. Namun, yang membuatku terkejut adalah jejak kekuatan jiwa.” Di Shen menatap mereka dengan serius. “Ini dari level tertinggi.”
Di Zheng menghentikan petikan senarnya. “Apa kau yakin?”
“Aku adalah Dewa Roh, tidak mungkin salah mengenali itu,” kata Di Shen dengan yakin.
Kemudian Di Zheng akhirnya ikut bergabung duduk bersama mereka. Dia menatap Di Yu dengan sabar. “Berhentilah bermain-main. Di Yu, jika kau membuat kesalahan, Di Ziyan akan memarahimu lagi karena menurunkan hujan di tempat yang salah!”
Di Yu terbatuk. Ekspresinya menjadi masam. “Hanya karena pengangkatan Di Ziyan lebih awal dariku lalu aku harus selalu mengalah kepadanya. Dasar wanita,” keluhnya.
Di Zheng menggeleng-geleng pelan. Kemudian dia beralih menatap Di Xing. “Terakhir kali Dewa Matahari marah karena kau tidak sengaja melemparkan beberapa bintang ke matahari. Apa kau ingin membuat pria tua itu marah lagi?”
__ADS_1
Di Xing akhirnya berhenti menggeser-geser bintang di langit. Dia tersenyum datar. “Kau belum menegur Fengxi, Tuan Di Zheng.”
Di Fengxi berdeham. Dia akhirnya menutup catatannya. “Aku sudah selesai.”
“Bagus.”
Sang Dewa Musik tersenyum. Di antara mereka berlima, dialah yang paling senior. Di Shen, Di Xing, dan Di Yu berada dalam satu generasi. Sementara Di Fengxi yang paling muda. Jadi, mereka semua sering mendengarkannya.
“Di Shen, selain jejak kekuatan jiwa itu, apa lagi yang kau temukan di Istana Guang?”
“Tidak ada. Tapi seseorang telah muncul di sana.” Di Shen menatap Di Fengxi dengan penuh arti. “Mo Tianyu.”
Di Yu mengerutkan kening. “Mo Tianyu? Orang yang pernah menolak kehendak surga itu? Bukankah dia adalah guru Di Futian?”
Di Shen mengangguk dengan serius. “Fengxi, apa kau tahu sesuatu tentang ini?”
Mereka semua menatap Di Fengxi dengan penuh selidik. Hubungan guru-murid antara dewa muda itu dengan Mo Jingtian memang sudah bukan rahasia lagi bagi mereka. Tidak ada yang membencinya, tapi mereka ingin tahu kebenarannya.
Di Fengxi menggeleng dan mencoba tetap tenang. Semalam dia mengetahui tentang keberangkatan Mo Jingtian. Dia juga mengetahui apa yang menanti di Istana Guang.
Namun, Mo Jingtian sudah memintanya untuk mengawasi dari jauh. Jika ada dewa lain yang datang dan pria itu tidak bisa menahannya barulah dia diizinkan ikut campur.
“Aku tidak tahu. Sepanjang malam, aku selalu berada di paviliun,” katanya.
Di Xing menggaruk jarinya yang terasa gatal karena ingin menunjuk ke langit. Dia berbisik pada mereka, “Mungkinkah Di Futian yang melakukan itu?”
“Kenapa kau berpikir itu adalah dia?”
Pria berjubah biru itu mengibaskan rambut panjangnya. “Bukankah kekuatan jiwa tidak boleh dilatih? Kita semua tahu pria itu bukan orang yang taat aturan. Itu bukan tidak mungkin dia telah melatih kekuatan jiwa setelah ….”
Mereka saling menatap satu sama lain. Beberapa saat kemudian Di Yu menoleh pada Di Fengxi. “Apa kau sungguh tidak tahu ini? Ini adalah masalah serius. ‘Orang itu’ pasti akan murka jika mengetahuinya,” bisiknya dengan hati-hati.
Di Fengxi menunduk dan terlihat ragu-ragu. Akhirnya Di Zheng berkata, “Tidak apa-apa. Bahkan jika Di Futian melakukan itu, pasti karena Di Ming De merencanakan sesuatu yang buruk. Belakangan ‘orang itu’ terlihat lebih khawatir dan tidak sabaran. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan itu?”
Di Shen melihat ke sekeliling lalu berbisik, “Sebenarnya aku punya kabar terbaru selain tentang kematian Di Ming De.”
Mereka semua langsung menatapnya. Di Shen selalu menjadi sumber informasi tercepat di kelompok itu. Itu karena kemampuan istimewanya sebagai Dewa Roh. Dia bisa mendengar apa yang tidak mereka dengar dan melihat apa yang tidak mereka lihat.
“Apa itu?”
“Dia ingin membangun kekuatan baru,” bisiknya. “Dengan melakukan ritual pengorbanan darah.”
Mereka yang mendengar itu langsung melebarkan mata. Tentu saja itu hal yang mengejutkan. Ritual pengorbanan darah adalah teknik terlarang. Siapa yang menyangka Tuan Pengadilan Surgawi akan mengambil langkah seperti itu?
“Tapi ini adalah rahasia yang sangat besar. Aku benci memiliki kemampuan ini. Jika dia tahu aku mengetahui rencananya, dia pasti akan membunuhku,” lirih Di Shen dengan penuh penderitaan.
“Apa lagi yang kau tahu?” Di Fengxi segera bertanya.
“Hanya itu. Aku percaya kalian tidak akan mengkhianatiku, jadi aku berani mengatakannya di sini.”
Di Xing mengangguk mengerti. “Tenang saja. Tidak ada seorang pun di Pengadilan Surgawi yang bisa kau percayai lebih dari kami berempat.”
“Benar.” Di Zheng setuju. “Sekarang kita sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Perjamuan di Istana Guang mengundang begitu banyak ahli alam surgawi. Ini pasti kesempatan baginya untuk mengorbankan darah mereka.”
Di Yu tertawa mengejek. “Jadi begitulah kenapa Di Ming De datang ke sana.”
__ADS_1
Mereka menghela napas lalu saling diam selama beberapa saat. Kemudian mereka akhirnya menatap Di Fengxi. “Apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan?”
Orang yang ditanya menjadi bingung. “Kenapa kalian bertanya padaku?”
“Bukankah kau sudah mengetahui semua ini?”
“Fengxi, kau tidak bisa membohongi kami. Kami mungkin tidak termasuk dewa-dewa hebat di Pengadilan Surgawi, tapi kami juga tidak sebodoh itu,” ucap Di Zheng dengan serius yang disetujui oleh yang lain.
“Bergosip ria seperti ini mungkin menyenangkan, tapi bukankah kami adalah dewa? Bagaimana kita bisa terus berdiam diri tanpa melakukan apa pun?” Di Shen menambahi.
“Benar.” Di Xing mengangguk. “Fengxi, sampaikanlah kepada Tuan Mo. Jika dia membutuhkan seseorang untuk melakukan pekerjaan, kami bersedia melakukannya.”
Di Fengxi yang mendengar itu merasa hatinya menghangat. Meskipun keempat dewa itu kadang-kadang terlihat begitu manusiawi dengan banyak bersantai dan bergosip, mereka jauh lebih baik karena tidak terjerumus ke dalam lingkaran Baili Linwu.
Dia tersenyum tipis. “Selama ini guruku tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Dia hanya menginginkan kesadaran dewa-dewa. Jika situasinya terdesak, mungkin akulah yang akan meminta bantuan kalian.”
“Itu tidak masalah. Kami pasti akan selalu siap.”
Sementara itu, di paviliun lain yang berukuran lebih besar, situasinya tampak lebih serius. Dua orang pria berlutut menghadap Baili Linwu yang duduk di kursi dengan wajah murka.
“Benar-benar tidak berguna! Tidak bisakah seseorang melakukan tugas dengan benar?!” teriak Baili Linwu pada mereka. Kedua orang itu hanya menunduk dan gemetaran di lantai
“Di Ming De, dewa yang sudah berada di level 4 roh perak, tidak bisa membantai manusia-manusia lemah itu. Di Honghuo mati di alam rendahan. Dan kalian … kalian bahkan tidak mampu membantuku menangkap Mo Jingtian! Apakah aku sudah mengangkat kalian dengan sia-sia?!”
“Tuan, tapi ketika kami sampai di benua Tongxuan, Di Honghuo sudah mati dan mereka sudah pergi,” jawab salah satu pria yang berlutut.
“Diam!”
Baili Linwu mengambil cambuk lalu segera mencambuk orang itu dengan keras. Suara ringisan kesakitan langsung terdengar. Pria yang satunya menjadi semakin ketakutan.
“Tuan, mohon ampuni kami! Sekarang kami sudah tahu di mana pria itu biasanya bersembunyi dan kami pasti akan segera menangkapnya!”
“Menangkapnya?!” Baili Linwu tertawa mengejek. “Bukankah kalian hanya akan membuang waktu lagi?!”
Mereka menunduk dengan takut. Pada saat itu, seorang wanita yang tak lain adalah Di Ziyan melangkah memasuki paviliun. Dia tersenyum melihat kemarahan Baili Linwu.
“Tuan, jangan terlalu marah. Aku tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk kita,” ucap Di Ziyan dengan tenang.
Baili Linwu langsung menoleh padanya. “Apa yang bisa mereka lakukan?”
Di Ziyan melangkah mendekati Baili Linwu. Dia mengambil alih cambuk di tangan pria itu lalu menggulungnya dengan perlahan. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
“Tuan, aku sudah menyelidiki kematian Di Ming De dan itu memang benar dilakukan oleh Mo Jingtian.”
Mendengar itu hanya membuat Baili Linwu semakin marah. Setelah mendapatkan belenggu iblis, Mo Jingtian bukan hanya tetap bisa bepergian ke sana kemari, pria itu bahkan memiliki kekuatan jiwa yang tinggi!
Tidak mengherankan dia ditakdirkan menjadi Anak Surga. Ini hanya membuatnya ingin segera membunuhnya. Jika tidak, entah siapa yang tahu metode apa yang akan dilakukan Mo Jingtian untuk membunuhnya.
Kilatan berbahaya tiba-tiba muncul di mata Baili Linwu. “Cara yang tertutup dan rendah hati tidak berhasil dilakukan. Kalau begitu aku tidak akan ragu lagi,” gumamnya dengan dingin.
“Di Mu, Di Zhao ….” Baili Linwu menatap kedua pria yang masih berlutut di lantai. “Bukankah kalian tidak ingin mendapatkan hukuman?”
Di Mu dan Di Zhao mengangguk dengan cepat. “Tuan, jika kau membutuhkan sesuatu, katakanlah,” mereka berkata dengan takut-takut.
Baili Linwu tersenyum dingin. Matanya tiba-tiba berubah menjadi merah. “Pergi dan bantai siapa pun kultivator ahli alam surgawi dan di atasnya. Ambil darah mereka lalu serahkan kepadaku!”
__ADS_1
Dia menatap kedua orang itu dengan tajam, lalu berteriak, “Aku ingin kekuatanku kembali SECEPATNYA!!!”