Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Di Feng Xi


__ADS_3

Pertempuran antara Mo Jingtian dengan Dewa Alkimia telah menyebabkan banyak kerusakan. Kekuatan destruktif yang dihasilkan meluas ke segala penjuru Celestial. Air laut berubah menjadi pasang, beberapa gunung api mulai mengalami erupsi. Ini benar-benar sebuah bencana.


Xie Wuqing yang berada di kediamannya langsung bergegas menemui ayahnya. Dia tiba di depan pintu yang tertutup rapat, lalu segera membukanya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tindakannya membuat Xie Song semakin merasa gelisah.


“Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ayah hanya diam saja?” tanya Xie Wuqing tanpa bertele-tele.


Xie Song menghela napas gusar. “Aku khawatir ini benar-benar tindakan dewa.”


“Memangnya kenapa? Apa dewa sedang menghukum manusia?” Xie Wuqing bertanya, tetapi dia segera menggelengkan kepala untuk menolak gagasannya sendiri. “Sepertinya tidak. Itu bersumber di Pulau Langit bukan? Ayah, tolong beri tahu aku jika kau tahu sesuatu.”


Tangan kanan Xie Song terangkat untuk mengurut keningnya. Kemudian dia berkata, “Ini sesuatu yang sangat jarang terjadi. Mungkin beberapa dewa sedang melakukan konfrontasi. Namun jangan cemaskan itu, aku lebih khawatir dengan keadaan Ying Fei dan Yue'er. Di mana mereka sekarang?”


Ekspre wajah Xie Song tampak sangat khawatir yang membuat penampilannya terlihat lebih tua dari biasanya. Sebelumnya dia sudah mencoba mendeteksi keberadaan Xie Ying Fei dan merasakan jejaknya di Pulau Langit. Namun sejak kekacauan itu terjadi jejak Xie Ying Fei mulai menghilang.


“Seharusnya Ayah bisa menemukan jejaknya, kan? Kita harus pergi mencari mereka,” ucap Xie Wuqing.


“Aku khawatir Ying Fei berada di Pulau Langit itu ....”


Xie Wuqing terkejut mendengar ucapan ayahnya. Jika kakaknya benar-benar berada di Pulau Langit itu maka sulit untuk memastikan keadaannya. Jangankan di tempat kekacauan, di Celestial saja keadaannya tidak begitu baik. Seseorang mungkin tidak akan selamat jika ada di sana.


“Aku akan mencari ke sana,” ucap Xie Song tiba-tiba.


“Tidak, Ayah. Jangan gegabah. Sebenarnya ....” Xie Wuqing menggantung ucapannya.


“Sebenarnya apa?” tanya Xie Song.


Xie Wuqing termenung sebentar. Awalnya dia ingin mengatakan tentang perlindungan Mo Jingtian terhadap Qing Yue'er, tetapi belum tentu juga gadis itu ada di sana. Bagaimana jika hanya Xie Ying Fei yang ada di Pulau Langit itu? Tidak, dia harus merahasiakan masalah ini.


“Ayah, lihat! Kekacauan di langit sepertinya sudah sedikit mereda. Tunggu sampai beberapa saat lagi, mungkin ini akan segera berakhir.”


Xie Song langsung menatap ke luar dan menyadari jika petir di langit memang sudah berkurang. Mungkin dia harus menunggu sebentar lagi. “Baiklah. Kita akan menunggu.”


***


Di Pulau Langit, Dewa Alkimia sudah didorong mundur beberapa kali. Ini sungguh membuat dia merasa semakin ingin tahu siapa identitas lawannya. Manusia pada umumnya tidak akan bisa melampaui dewa, tapi yang satu ini bisa mengunggulinya. Sebuah dugaan mulai singgah di pikirannya.

__ADS_1


“Katakan, apa kau adalah salah satu anggota Pengadilan Surgawi?” tanya Dewa Alkimia. Sekarang dia sudah menurunkan cambuknya.


“Bagaimana menurutmu?” Mo Jingtian menyeringai.


Dewa Alkimia mengerutkan keningnya. “Siapa pun kamu, tidak seharusnya kamu menghalangiku. Aku di sini untuk mengurus masalah Taotie. Jika kamu menghalangiku itu berarti kamu telah menantang Pengadilan Surgawi!”


“Kalau begitu berikan aku Slip Perintah Pengadilan Surgawi,” balas Mo Jingtian. Dia memiringkan kepalanya ke kiri.


Dugaan Dewa Alkimia menjadi semakin kuat. Hanya dewa yang mengetahui tentang Slip Perintah Pengadilan Surgawi. Jika dia tidak salah maka seharusnya pria di depannya ini juga seorang dewa, tapi siapa dewa yang berani melawannya secara langsung?


“Aku tidak mungkin menunjukkan Slip Perintah secara sembarangan,” ucap Dewa Alkimia yang membuat Mo Jingtian terkekeh. Dewa Alkimia langsung mendengus tidak senang karena kekehan itu terdengar seperti sedang mengejeknya.


Dewa Alkimia ingin berteriak, tetapi dia menundanya setelah melihat sorot mata Mo Jingtian yang berubah menjadi dingin. Pria itu menatapnya dengan tajam hingga membuatnya merasa sangat kecil.


“Kalau begitu kau harus pergi sekarang. Ini adalah wilayahku. Bahkan jika Pengadilan Surgawi berada di belakangmu, aku tidak takut untuk mengirimmu ke dunia bawah,” ucap Mo Jingtian.


Dewa Alkimia kembali marah. Meskipun dia bukan yang terhebat di Pengadilan Surgawi, tetapi dia menerima cukup banyak penghormatan di sana. Hubungannya dengan dewa lain juga cukup baik, tidak ada yang bersikap semena-mena padanya. Bagaimana mungkin dia tidak akan marah sekarang?


“Siapa kau?! Beraninya mengancamku!” teriak Dewa Alkimia.


“Cih, lebih baik katakan sekarang! Atau mungkin kau takut jika aku mengetahui identitasmu?” Tiba-tiba Dewa Alkimia tertawa terbahak-bahak.


“Aku tahu sekarang. Benar, sepertinya kau takut aku mengetahuinya. Itulah kenapa kau tidak mau menunjukkan identitasmu, kan? Benar-benar memalukan!” Tawa Dewa Alkimia bergema di tempat kekacauan itu.


Tatapan Mo Jingtian berubah menjadi datar. Tiba-tiba dia merasakan fluktuasi energi spiritual di danau di mana dia meninggalkan Qing Yue'er. Bibirnya terangkat sebelah. Sepertinya dia harus segera mengakhiri perdebatan tidak penting ini.


Mo Jingtian menatap Dewa Alkimia, lalu bertanya, “Bukankah kau ingin tahu siapa aku?”


“Hmm!” Dewa Alkimia hanya mendengus. Awalnya dia masih sangat percaya diri, tetapi tubuhnya langsung menegang ketika melihat perubahan pada penampilan Mo Jingtian. Mata hitam itu berubah menjadi keemasan, rambut hitam itu perlahan berubah menjadi putih, seperti air terjun. Kemudian wajah itu ... topeng perak itu ....


Wajah Dewa Alkimia berubah menjadi pucat pasi seperti baru saja melihat kematiannya. Kakinya mengambil langkah mundur hingga beberapa kali. “Kamu ... kamu ....” Tangannya bergetar menunjuk Mo Jingtian.


“Apa kau masih bisa tertawa sekarang?!”


Boomm, boomm, boomm!

__ADS_1


Ledakan berturut-turut terdengar jauh di belakang Mo Jingtian. Tanah di bawah kaki langsung terguncang hebat.


“Tuan, tahan amarahmu!” Naga hitam yang berada di dalam dimensi Mo Jingtian langsung memperingatkan tuannya. Dia tidak mau jika amarah tuannya akan membuat seluruh Pulau Langit ini berubah menjadi butiran pasir.


Mo Jingtian menarik napas panjang. Sementara itu Dewa Alkimia benar-benar tidak bisa berkutik sekarang. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Di Futian di sini. Bahkan selama ini tidak pernah sekali pun dia berpikir akan melakukan perselisihan dengan Dewa Kehancuran. Seperti sebutannya, dia adalah dewa yang bisa menghancurkan sesuatu tanpa menggunakan aturan.


“Di mana Slip Perintah Pengadilan Surgawi?” tanya Mo Jingtian.


Dewa Alkimia hanya bisa menggelengkan kepala. Seperti yang Mo Jingtian pikirkan, sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki Slip Perintah itu. Semua ini hanyalah kedok belaka.


“Menyalahgunakan kekuatan ...,” gumam Mo Jingtian. “Sayang sekali aku tidak bisa menghukummu.”


Rasa takut Dewa Alkimia sedikit berkurang. Dia merasa sedikit lega setelah mendengar kalimat Mo Jingtian. Sayangnya tak berapa lama kemudian dia mendengar pertanyaan yang membuatnya kembali merasa takut.


“Di Feng Xi atau Di Feng Xuan?”


Seketika Dewa Alkimia jatuh berlutut di depan Mo Jingtian. Rasa frustrasi menggerogoti jiwanya dan menjatuhkannya ke dalam lubang hitam. “Tolong jangan .... Maafkan aku!” pintanya dengan penuh permohonan.


Mo Jingtian berbalik membelakangi Dewa Alkimia. “Kau harus menanggung perbuatanmu,” ucapnya secara perlahan. Kemudian dia menjentikkan jarinya di udara menciptakan titik cahaya berwarna emas.


“Di Feng Xi, datang dan berikan pengadilan untuk Dewa Alkimia,” ucap Mo Jingtian.


Sepersekian detik kemudian, kilatan cahaya datang dari langit sebelum akhirnya mendarat di depan Mo Jingtian. Kilatan cahaya itu berubah menjadi sosok pria berjubah putih yang dikelilingi oleh cahaya keperakan. Penampilan wajahnya tersembunyi, tetapi Mo Jingtian bisa melihat keterkejutan di sana.


Di Feng Xi adalah dewa yang memegang kuasa atas hukuman para dewa yang melakukan kesalahan atau kejahatan. Dia sama sekali tidak menyangka akan menerima panggilan dari Mo Jingtian. Sudah sangat lama mereka tidak melihat satu sama lain. Dia tidak memiliki emosi, tetapi bayangan tentang bagaimana dulu dia belajar banyak dari Mo Jingtian tidak pernah bisa dilupakan.


“Apa yang dia lakukan?” tanya Di Feng Xi pelan.


“Kau harus menanyakannya sendiri,” balas Mo Jingtian. “Tidak ada waktu lagi, aku akan pergi sekarang,” ucapnya sambil melangkah pergi.


“Guru ....”


Mo Jingtian langsung menghentikan langkahnya. Kemudian dia mengangkat tangannya menghentikan kalimat Di Feng Xi. “Kau membuatku terdengar begitu tua jika memanggilku dengan sebutan itu.”


Di Feng Xi hanya bisa menunduk, mengurungkan apa yang ingin dia katakan. Kemudian dia membungkuk sampai sosok Mo Jingtian benar-benar menghilang. “Dia selalu seperti itu,” gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2