
Xie Song memimpin Qing Yue'er masuk ke bangunan tersebut. Namun, sebelum masuk dia berhenti sebentar lalu menggambar sebuah rune di udara. Setelah itu dia menempatkan rune tersebut di pintu yang masih tertutup.
Qing Yue'er mengamatinya baik-baik. Kemudian dia melihat pintu itu yang langsung terbuka. Xie Song sendiri tidak banyak bicara dan hanya mengajaknya untuk mengikutinya dengan baik.
Di ruangan yang sedikit gelap itu Qing Yue'er bisa melihat banyak plakat-plakat kecil yang di atur sedemikian rupa. Plakat itu berisi nama-nama yang kedengarannya sedikit kuno. Itu mungkin nama-nama mendiang leluhur klan Xie.
Xie Song membungkuk pada barisan plakat leluhur dengan hormat. Qing Yue'er langsung mengikutinya. Bagaimanapun dia harus memberi penghormatan pada pendahulu klan.
Setelah itu Xie Song menatap Qing Yue'er sejenak. “Kemarin aku belum menunjukkan padamu siapa dewa yang kami junjung namanya. Patung itu hancur tapi aku masih menyimpan lukisannya. Apa kau ingin melihatnya?”
Qing Yue'er menggosok hidungnya yang tidak gatal. “Jika menurut Kakek aku perlu melihatnya maka aku akan melihatnya,” ucapnya dengan asal.
“Ke sini,” ajak Xie Song sambil berjalan menuju kotak kayu yang cukup besar. “Karena kamu adalah keturunan klan Xie maka kamu harus mengetahuinya.”
Qing Yue'er hanya mengangguk. Kemudian dia melihat kakeknya yang mulai membuka kotak tersebut. Sebuah cahaya keemasan langsung menyebar setelah tutup kotaknya dibuka. Qing Yue'er merasa sesuatu yang cukup menakjubkan. Seperti ada sesuatu di kedalaman hatinya yang terpanggil.
Xie Song tersenyum tipis lalu secara perlahan dia mengambil gulungan kertas yang ada di dalam kotak. Tanpa menunggu lama dia langsung membuka gulungan kertas tersebut. Sedikit demi sedikit apa yang terlukis di permukaan kertas mulai tampak.
Jantung Qing Yue'er berdetak dengan kencang saat melihatnya. Seorang pria terlukis dengan sempurna di atas kertas. Meskipun pria itu dilukiskan dari samping, tetapi ketampanannya tidak bisa diabaikan.
Rambut panjangnya terurai seperti air terjun. Wajahnya yang meskipun tertutup oleh topeng, tetapi masih terlihat begitu sempurna. Pria itu berdiri sambil memeluk burung vermillion berwarna merah membara yang warnanya hampir menyatu dengan jubahnya.
Di belakang pria itu terdapat bulan purnama yang melingkar penuh. Bulu-bulu vermillion tampak beterbangan di sekitarnya. Ini adalah eksistensi yang begitu memikat sekaligus memiliki keilahian secara naluriah.
Qing Yue'er menahan napasnya selama beberapa detik. Dia bisa merasakan aura keagungan hanya dengan melihat lukisan itu. Apakah ini masih Mo Jingtian yang dia kenal? Kenapa dia merasa perbedaannya sedikit jauh?
Dia mengalihkan perhatiannya ke bagian bawah lukisan. Di sana tertulis sebuah nama yang sudah tidak asing lagi baginya, yaitu Di Futian.
Qing Yue'er hanya bisa terdiam. Meskipun dia sudah tahu ini tapi tetap saja dia masih merasa terkejut. Bagaimana dia bisa dengan mudah menyelaraskan kenyataan semacam ini? Pria yang bersamanya selama lebih dari tiga tahun ternyata adalah dewa yang namanya bahkan dijunjung tinggi oleh keluarganya. Dia benar-benar ... tidak bisa mengekspresikannya sekarang.
“Di Futian. Ah, meskipun aku tidak tahu bagaimana keberadaannya sekarang tapi aku percaya surga akan memberikan apa yang dia inginkan.” Xie Song berkata sambil meletakkan lukisan itu di atas sebuah platform.
Kemudian dia menyalakan selembar kertas kertas berwarna emas yang tersimpan di sebuah laci. Ketika kertas itu terbakar, aroma cendana langsung tersebar ke seluruh ruangan. Saat itu tiba-tiba cahaya emas keluar dari kertas tersebut.
Qing Yue'er menghirup aroma cendana yang menyebar di sana. Tentu saja hal ini langsung membuatnya teringat pada sosok Mo Jingtian, pria itu memang memiliki aroma cendana yang identik. Dengan cepat dia langsung menepis bayangan itu.
Sejujurnya dia penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh kakeknya. Dia melihat cahaya emas yang tercipta dari kertas itu tampak melayang ke langit-langit sebelum akhirnya menghilang.
“Apa yang sedang Kakek lakukan?” tanya Qing Yue'er.
“Kakekmu ini sedang menyematkan permintaan pada Di Futian agar langit mau membantu kita.”
Qing Yue'er tidak tahu apakah harus tertawa atau tidak. Maksudnya, apakah Mo Jingtian memiliki pekerjaan seperti itu? Sungguh dia tidak bisa membayangkannya. Itu tidak terlihat cocok dengan gambaran Mo Jingtian yang selama ini sudah bersama dengannya.
“Yue'er, kamu juga harus melakukannya sekali,” perintah kakeknya tanpa memperhatikan ekspresi Qing Yue'er.
“Kakek, jika dia benar-benar tahu maka aku pikir apa yang Kakek inginkan pasti akan dia lakukan,” gumam Qing Yue'er.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Xie Song yang tidak mendengar gumaman Qing Yue'er.
Qing Yue'er langsung menggelengkan kepalanya. Kemudian dia pun ikut membakar kertas emas itu. Dalam hati dia berbisik, “Jingtian, jika kamu mendengarku maka aku ingin mengatakan satu hal. Jangan datang! Maksudku, jangan ikut campur saat aku akan mengurus klan Liu. Apa kau tahu sekarang?”
__ADS_1
Qing Yue'er menyaksikan cahaya emas yang melayang ke langit-langit. Dia kembali berbisik, “Jangan menertawakanku. Aku hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar bisa mendengar permintaan dari orang-orang.”
Setelah selesai dia melihat kakeknya yang kembali menggulung lukisan Mo Jingtian. Orang tua itu memperlakukan lukisan tersebut dengan sangat hati-hati. Qing Yue'er hanya bisa menghela napasnya.
“Jika kamu bisa naik menjadi dewi maka aku harap kamu bisa bertemu dengannya,” ucap Xie Song sambil menyimpan lukisan itu.
“Kenapa aku harus bertemu dengannya?” tanya Qing Yue'er.
“Setidaknya kamu harus menyampaikan kekagumanku padanya,” ucap kakeknya dengan senang. Seolah apa yang dia katakan adalah hal yang sangat wajar. Surga, ternyata kakek Qing Yue'er adalah penggemar berat Mo Jingtian.
Rasanya Qing Yue'er ingin berteriak dan mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Di Futian. Dia sudah berbicara dengannya berkali-kali dan bahkan, dia sudah pernah berpegang erat padanya. Namun, tentu saja dia tidak bisa mengatakan semua itu. Ya, itu adalah rahasianya.
“Kenapa Kakek bisa begitu mengaguminya?” tanya Qing Yue'er setelah menjadi lebih tenang.
“Aku hanya mendengarnya dari leluhur yang sudah tiada. Leluhur mengatakan jika Di Futian mengalami banyak pertentangan di Pengadilan Surgawi. Namun, dari sudut pandang leluhur, Di Futian adalah satu-satunya yang memiliki keagungan dewa sejati. Aku pikir Di Futian memiliki alasan tersendiri dalam melakukan apa pun.”
Qing Yue'er hanya bisa tercenung. Mo Jingtian mengalami banyak pertentangan dengan Pengadilan Surgawi? Sepertinya dia baru tahu mengenai hal ini. Memangnya apa yang sudah pria itu lakukan? Dia menjadi ingin tahu.
“Sudah, sudah. Jangan membicarakan itu lagi. Tujuanku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk hal ini, tetapi ada hal penting lainnya,” ucap Xie Song yang membuyarkan pemikiran Qing Yue'er.
“Apa itu?”
Xie Song berjalan ke tempat lain. Dia berusaha membuka sebuah pintu yang ada di sana. Ajaibnya Qing Yue'er tidak tahu sejak kapan ada pintu itu di sana. Dia baru menyadarinya sekarang. Mungkinkah kakeknya yang memang sebelumnya sengaja menyembunyikan pintu tersebut?
Qing Yue'er melihat kakeknya yang mengambil kunci dari lengan bajunya. Kunci itu bukanlah kunci biasa karena bentuknya yang sedikit unik. Itu lebih terlihat seperti trigram yang memiliki 8 sisi. Kunci itu diletakkan ke tempatnya dan seketika pintu itu langsung terbuka.
Cahaya terang langsung terlihat dari dalam pintu. Qing Yue'er terkejut ketika menyadari apa yang ada di baliknya adalah tempat yang sama sekali berbeda. Dia mengikuti kakeknya melangkah masuk dan berakhirlah dia di sebuah bukit yang diselimuti oleh rumput hijau.
Xie Song sedikit tersenyum. Kemudian dia melangkah mendekati pohon pinus raksasa tersebut. Dengan perasaan yang akrab dia menepuk-nepuk pohon besar itu sambil berkata, “Lihat, aku datang membawa cucuku.”
Tiba-tiba pinus itu tampak menggeliat seolah mendengar apa yang dikatakan oleh Xie Song. Daunnya melambai-lambai tertiap angin, seakan sedang menyapa kedatangan Qing Yue'er.
Melihat hal ini tentunya membuat Qing Yue'er merasa takjub. Apakah pohon pinus ini dapat mengerti ucapan kakeknya? Ini memang cukup membuatnya terkagum-kagum.
“Yue'er, kemarilah. Biarkan aku memberi tahu hal penting,” ucap Xie Song.
Qing Yue'er langsung menuruti ucapan kakeknya. Dia datang dan duduk di samping orang tua itu. Duduk di bawah pohon besar itu, udara terasa sangat sejuk. Ini adalah sebuah kedamaian. Qing Yue'er benar-benar merasakannya.
“Apa kau tahu harta klan Xie yang sebenarnya?” tanya Xie Song yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Qing Yue'er.
“Harta klan Xie yang sebenarnya bukanlah pedang yang sangat kuat, bukan sebuah teknik bela diri kelas dewa, bukan juga batu kristal sepele yang bisa meningkatkan kultivasi warga satu klan.”
“Kalau begitu ....”
Xie Song menganggukkan kepalanya. “Ini, pohon pinus ini.” Dia menatap Qing Yue'er dengan rumit. “Pohon pinus inilah harta klan Xie yang sebenarnya.”
Qing Yue'er melebarkan matanya sedikit. Dia tidak pernah menyangka akan mendengar hal ini. Dia pikir harta klan Xie adalah sebuah senjata yang memiliki kekuatan dewa. Atau mungkin juga sebuah teknik bela diri yang ketika digunakan akan bisa meluluhlantakkan Celestial.
Bahkan, dia yakin kalau orang-orang juga berpikir hal yang sama sepertinya. Mereka pasti tidak menduga jika harta yang dikejar-kejar oleh klan Liu adalah sebuah pohon pinus raksasa. Jika seperti ini, hanya berarti bahwa pohon itu pasti bukan pohon pinus biasa.
“Sudah sangat lama aku menyembunyikan ini. Aku berusaha sekeras mungkin untuk merahasiakan semuanya. Namun, aku harus kecewa karena klan Liu ternyata mengetahui kebenarannya. Mereka mengetahuinya dan itulah kenapa mereka membuang banyak usaha untuk mencoba merebut pohon ini.”
__ADS_1
Qing Yue'er bisa melihat kesedihan di kedalaman mata kakeknya. Pasti orang tua itu sudah banyak melakukan upaya untuk mempertahankan pohon tersebut. Meskipun dia belum tahu apa peran pohon pinus dan apa manfaatnya, tetapi dia bisa tahu kakeknya sangat menghargai pohon itu.
“Kakek, kamu adalah pria yang hebat,” ucap Qing Yue'er.
Xie Song sedikit terhibur dengan ucapan itu. Dia tersenyum lalu berkata, “Aku menyusun banyak rencana hanya untuk menipu semua orang dengan cara membuat harta lain untuk dipalsukan. Orang lain percaya dan tidak terlalu peduli, tetapi klan Liu tetap tahu kebenarannya. Aku pikir mungkin ini adalah takdir.”
“Pohon pinus ini sudah ada sejak dari waktu yang tidak diketahui. Ternyata aku gagal untuk tetap merahasiakannya.”
“Kakek, jika itu takdir maka ini namanya bukan kegagalan. Kakek sudah berusaha untuk melakukannya dengan baik. Namun, bagaimana dengan takdir yang ingin membiarkan klan Liu tahu? Jangan menyalahkan diri,” ucap Qing Yue'er dengan lembut.
“Gadis baik. Kenapa kamu sangat pintar menghiburku?” Xie Song terkekeh pelan.
Kemudian dia menatap Qing Yue'er dengan serius. “Leluhur pernah berkata bahwa pohon pinus ini adalah harta sekaligus senjata yang kuat. Mereka memintaku untuk jangan pernah memberikannya pada orang di luar klan Xie. Seharusnya memang seperti itu. Namun, ini lucu karena sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana cara pohon ini bekerja. Nyatanya pohon ini belum pernah keluar dari tempatnya.”
Setelah mendengar ini Qing Yue'er menjadi bertanya-tanya. Mungkinkah pohon pinus ini bisa merubah wujudnya menjadi sebuah senjata seperti pedang atau hal lain? Jika bahkan kakeknya tidak tahu, bagaimana dia akan tahu?
“Apa pun itu aku tidak ingin pohon pinus ini jatuh ke tangan orang lain. Yue'er, bisakah kamu membantu kakek untuk menjaganya?” tanya Xie Song dengan serius.
Qing Yue'er tidak langsung mengatakan persetujuan. Dia menatap ke kejauhan. Rasanya sedikit berat jika dia harus dipercaya seperti ini. Dia tidak tahu seperti apa masa depan dan dia sendiri tidak tahu bagaimana nasibnya.
“Kenapa kakek berbicara seperti ini? Kakek masih akan hidup dalam waktu yang lama,” ucap Qing Yue'er.
“Ah, bagaimana kita tahu kapan aku akan mati? Bisa saja nanti ketika kita menyerang klan Liu aku akan mati di sana.”
Qing Yue'er langsung memukul Xie Song. “Jangan berkata seperti itu, Kakek.”
Xie Song terkekeh lagi. “Jadi, bagaimana?”
Akhirnya Qing Yue'er menjawab, “Aku akan mencoba untuk menjaganya, tapi aku juga tidak bisa berjanji akan bisa melakukannya untuk selamanya.”
“Tidak apa-apa. Aku merasa lebih lega sekarang,” kata Xie Song.
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekarang dia lebih memikirkan satu hal. Kakeknya tidak tahu bagaimana cara menggunakan pohon pinus ini. Sedangkan klan Liu terus menekan untuk mendapatkannya. Jadi, apakah klan Liu mengetahui bagaimana cara menggunakan pohon itu?
Dia menjadi semakin tidak mengerti. Namun, dia tidak bisa memikirkan banyak hal. Yaa, mungkin dia akan tahu nanti. Ngomong-ngomong dia juga sebenarnya penasaran kenapa kakeknya menyerahkan hal seperti ini padanya. Kenapa tidak kepada paman Wuqing saja?
“Kamu mungkin berpikir tentang Wuqing,” ucap Xie Song yang seperti mengetahui pikiran Qing Yue'er. “Wuqing adalah pria yang lembut, aku rasa dia terlalu lembut. Melihatmu yang berani melawan Xie Mao dan berani memasuki klan Liu sendirian, membuatku berpikir kalau kamu adalah orang yang tepat.”
Qing Yue'er akhinya mengangguk mengerti. Dia berdiri lalu menepuk-nepuk pohon pinus raksasa. “Di masa depan kamu harus bekerja dengan baik. Aku pasti akan menemukan cara untuk menggunakanmu dan saat itu kamu mungkin harus tunduk kepadaku.”
Pohon itu tiba-tiba mengeliat lagi. Qing Yue'er tersenyum melihatnya. “Anggap saja ini adalah persetujuan darimu. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Ya, jangan khawatir. Kamu tidak akan jatuh ke tangan si Liu-Liu itu.”
Xie Song tersenyum melihat hal ini. Kemudian dia mengajak Qing Yue'er untuk kembali ke ruangan leluhur. Namun, tiba-tiba dia melihat ada sesuatu yang jatuh dari atas dan berhenti tepat di depan Qing Yue'er.
“Apa ini?” Qing Yue'er yang merasa penasaran pun langsung mengambil benda itu. Rupanya itu adalah bunga pohon pinus yang sudah berwarna cokelat. Ketika dia memegangnya dia bisa merasakan tekanan qi spiritual dari dalam bunga tersebut.
“Ini adalah ... apakah dia memberimu ini untuk terobosan?” tanya Xie Song dengan takjub.
Kedua mata Qing Yue'er langsung berbinar. Dia menganggukkan kepalanya dengan senang. Jika dilihat dari qi spiritual yang melimpah, dia bisa menyimpulkan satu hal. Ini adalah sumber daya untuk meningkatkan level kultivasinya. Dan ini akan berguna seperti buah Persik Surgawi yang pernah dia makan.
“Kakek, sepertinya aku harus mencoba menyempurnakannya,” ucap Qing Yue'er dengan antusias.
__ADS_1