
“Hmm ....” Terdengar suara gumaman samar dari dalam peti. Mo Jingtian diam dan menunggu sampai orang yang ada di dalam peti berbicara. Itu butuh waktu beberapa saat sampai gurunya mau berbicara.
“Apa sesuatu terjadi di luar?” Suara itu terdengar serak dan tua. Hanya dengan mendengar suaranya saja seseorang mungkin sudah bisa memperkirakan usia pemiliknya. Pasti dia sudah hidup lama di dunia ini.
“Itu Dewa Alkimia,” jawab Mo Jingtian. “Dia ingin mengambil kipas Sheng Feng dan membalas kehancuran klan Liu.”
“Jadi apa kau tahu kenapa dia ingin mengambil kipas itu?” tanya sang guru. Mo Jingtian terdiam hingga membuat gurunya kembali bertanya, “Ke mana dia sekarang?”
“Aku menyerahkannya pada Di Feng Xi,” balas Mo Jingtian.
Terdengar helaan napas dari dalam peti. Mo Jingtian bisa menebak ekspresi gurunya di dalam sana. Orang tua itu mungkin kecewa, atau mungkin juga sedang merasakan sedikit kecemasan.
“Di Feng Xi .... Apa kau percaya padanya?”
Mo Jingtian hanya diam. Di dunia yang kejam ini, hanya ada beberapa orang yang pantas dipercaya. Berapa kali dia terluka hanya karena sebuah kepercayaan? Itu semua adalah pelajaran hidup yang tidak bisa dilupakan.
“Dewa Alkimia menginginkan kipas Sheng Feng, apa kamu berpikir jika Qing Yexuan mungkin mengetahui sesuatu?”
“Aku tidak bisa mengatakan iya, tetapi penahanannya memang terlalu misterius,” ucap Mo Jingtian. Dewa menikah dengan seorang manusia memang sebuah kesalahan. Mereka yang melakukan sebuah kesalahan biasanya akan dikirim ke Gunung Salju Abadi untuk menerima hukuman. Namun keberadaan Qing Yexuan berbeda dari yang semestinya.
“Dia tidak ada di Gunung Salju Abadi?”
Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. “Aku belum memeriksanya sendiri. Hanya beberapa orang yang melaporkan.”
Gurunya terdiam beberapa saat. Setelah itu dia kembali bertanya, “Kau tahu apa yang harus dilakukan sekarang?”
Mo Jingtian menyipitkan matanya. Beberapa saat kemudian dia pun menjawab, “Mengamankan kipas Sheng Feng.”
__ADS_1
Guru di dalam peti langsung terkekeh. “Kau masih sama cerdasnya seperti dulu,” ucapnya yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Mo Jingtian. “Hidup terlalu lama memang bukan hal yang menyenangkan. Aku juga sedang menunggu ajalku datang. Lebih cepat akan lebih baik.”
Kepala Mo Jingtian sedikit menunduk. “Seharusnya Guru tidak terburu-buru. Guru harus menunggu sampai orang itu dikirim ke neraka.” Setelah dia berkata seperti itu, gurunya langsung tertawa. Sudah lama sejak Mo Jingtian mendengar tawa itu.
“Itu adalah tujuanmu. Jingtian, kamu harus memahami untuk apa kamu dilahirkan. Jangan pernah lupakan siapa yang sudah membuat rambutmu memutih seperti ini.” Suara gurunya terdengar lebih tajam, berbeda dengan sebelumnya.
Kedua mata Mo Jingtian berkilat dengan cahaya tertentu. Dia memegang helaian rambut yang sudah memutih sepenuhnya. Orang lain mungkin berpikir itu terlihat menarik, kenyataannya ada cerita dibalik itu semua.
Dulu dia merasa tidak senang ketika melihat rambutnya yang berbeda dari manusia normal. Orang lain akan melihatnya dengan cara yang aneh. Mereka akan berpikir dia adalah sebuah bencana, kutukan atau manusia yang tak diinginkan. Hanya dengan itu saja dia sering menjalani kehidupan yang sulit.
Mo Jingtian terkekeh. Tentu saja semuanya sudah berlalu dalam waktu yang lama. Sekarang dia tidak memiliki masalah seperti itu lagi. Bahkan dia bisa mengubah rambutnya menjadi warna-warni. Sayangnya bukan itu yang dia inginkan.
“Aku tahu.” Mo Jingtian mengangguk. Dia tahu siapa yang sedang dia hadapi dan seperti apa kekuatannya. Ini mungkin bukan hal yang mudah untuknya.
“Sejak gadis itu datang ke Celestial pasti sudah banyak menarik perhatian mereka. Apa kau sudah memastikan identitasnya?”
“Kamu tidak terdengar bahagia.”
“Aku hanya tidak tahu takdir akan semengerikan ini. Aku ....”
“Kamu tidak ingin kehilangan dia, apa aku benar?” tebak sang guru. Mo Jingtian tidak tahu harus mengatakan apa. Ini merupakan kekhawatiran yang sudah lama disimpan sendiri.
“Tidak apa-apa. Langit tidak akan terlalu kejam pada kalian. Ngomong-ngomong bawalah dia ke sini. Aku ingin mengatakan beberapa hal padanya.”
Mo Jingtian mengangguk. “Apa ada hal lain yang ingin Guru katakan?”
“Tidak ada. Kau bisa pergi sekarang.”
__ADS_1
Akhirnya Mo Jingtian menepuk peti batu itu sebentar. Setelah itu barulah dia berdiri. Kakinya melangkah menjauh beberapa kali sebelum berhenti secara tiba-tiba. Mo Jingtian memutar tubuhnya menatap peti batu. “Sebentar lagi lembah itu akan terbuka. Apa Guru benar-benar tidak ingin memperpanjang umur? Mungkin untuk 500 atau 1000 tahun lagi.”
Hening. Tidak ada jawaban apa-apa. Akhirnya Mo Jingtian tidak bertanya lagi. Sepertinya gurunya memang sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi. Sebenarnya gurunya sama sekali bukan sosok yang sangat luar biasa. Dia bukan dewa, melainkan seorang manusia yang berumur panjang berkat kultivasinya.
Mo Jingtian menghargai gurunya seperti ayahnya sendiri. Ada hal yang dia kagumi dari orang tua itu, yaitu penolakannya terhadap Kehendak Surga. Benar, dulu gurunya adalah seorang kandidat dewa, tetapi dia menolak kedatangan Kehendak Surga. Orang tua itu tidak ingin masuk ke dalam lingkaran lumpur hitam.
Dulu dia juga ingin mengikuti jejak gurunya, tetapi dia tidak bisa. Beberapa kali dia menolak Kehendak Surga tetapi hal itu masih terus datang mengejarnya, bahkan sampai melukainya. Itu benar, Kehendak Surga yang hanya sebuah titik cahaya kecil nyaris tak berbentuk itu pernah melukainya dan membuatnya tidak sadarkan diri selama beberapa tahun.
“Itu sudah takdirmu,” ucap gurunya pada saat itu.
Mo Jingtian menatap langit yang sangat cerah. Dia menarik napas panjang dan menyudahi pikirannya. Sekarang tujuannya sudah semakin jelas. Hanya dengan kedipan mata sosoknya tiba-tiba menghilang, menyisakan kekosongan yang sangat tenang.
***
Qing Yue'er baru saja menjawab banyak sekali pertanyaan dari kakek dan pamannya. Mereka berdua memikirkan tentang kekacauan di Pulau Langit dan khawatir jika itu bersangkutan dengannya. Namun Qing Yue'er berhasil meyakinkan mereka jika dia tidak tahu mengenai masalah itu.
Sekarang dia sedang berjalan kembali ke kediamannya ketika melihat Mo Jingtian yang muncul secara tiba-tiba. “Hah, kamu mengejutkanku.”
“Bersiaplah, kamu harus pergi menyusul ibumu,” ucap Mo Jingtian.
“Tiba-tiba? Apa terjadi sesuatu padanya?”
“Tidak ada. Kamu hanya harus menemaninya, pasti akan ada banyak hal baru untukmu.” Mo Jingtian tersenyum. Dia ingin membiarkan Qing Yue'er mengetahui dunia lebih luas lagi.
“Apa kita akan pergi bersama?” tanya Qing Yue'er.
Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. Dia akan pergi memeriksa Gunung Salju Abadi secara pribadi. Setelah itu mungkin akan ada banyak hal yang terjadi. “Aku mungkin akan menemuimu di sana. Tentang Puncak Awan Abadi, kamu bisa menanyakannya pada Ying Jun.”
__ADS_1
Qing Yue'er mengangguk. Dia merasa bersemangat sekarang. Setelah mengalami terobosan ke level 8 akhirnya dia akan melakukan perjalanan lagi. Ini akan menjadi petualangan selanjutnya.