
Pegunungan Jingcai berada dalam keheningan. Tidak ada yang berani membuat kekacauan di sana. Di atas batu panjang Mo Tianyu dan Mo Jingtian masih berada dalam posisi yang sama.
Sudah cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Tiba-tiba Mo Tianyu membuka mata lalu mendorong telapak tangannya ke punggung Mo Jingtian.
Tubuh Mo Jingtian condong ke depan lalu matanya langsung terbuka. Wajahnya masih terlihat sangat pucat. Darah merah langsung menyembur dari mulutnya.
Mo Tianyu menepuk-nepuk punggung Mo Jingtian dengan lembut. Pandangannya terfokus pada tatto hitam yang masih melekat di leher muridnya. Ah, sudah dia duga, semuanya tidak akan semudah itu.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Mo Tianyu.
“Apa Yue’er baik-baik saja?” Bukannya menjawab pertanyaan gurunya, Mo Jingtian malah melemparkan pertanyaan lain. Tidak ada yang terlalu dia khawatirkan kecuali gadis itu.
“Haiz …. Kau ini. Cemaskan dirimu terlebih dahulu sebelum mencemaskan orang lain.” Mo Tianyu mendesah. “Dia baik-baik saja. Sungguh.”
“Baguslah kalau begitu.” Mo Jingtian tiba-tiba melihat dua beruang yang berjalan mendekat. Mereka adalah Bulu Terang dan Bulu Gelap. Namun, dia tidak melihat sosok Qing Yue'er di sana.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” protes Mo Tianyu. Bagaimanapun juga dia mencemaskan Mo Jingtian.
“Aku juga baik-baik saja,” ucap Mo Jingtian. Dia mengusap sudut mulutnya lalu mencoba bangkit. Meskipun tubuhnya terasa lemah dan lelah, dia masih bisa bergerak.
Dia berjongkok lalu dengan takut-takut Bulu Terang dan Bulu Gelap mendekatinya. Mo Jingtian menggosok bulu-bulu beruang itu dengan acak. “Kalian sudah besar ya. Di mana majikanmu?”
“Nona ... Nona pergi ke Benua Tongxuan,” balas mereka bersamaan.
“Benua Tongxuan? Untuk apa?” Mo Jingtian menjadi heran. Mungkinkah sesuatu terjadi di sana?
“Jingtian, seriuslah sedikit.” Mo Tianyu mengeluh. Mo Jingtian jelas tidak baik-baik saja, tetapi pria itu malah sibuk dengan hal lain. Dia ingin membahas ini dengan serius.
Akhirnya Mo Jingtian menatap Mo Tianyu dengan serius. Tiba-tiba saja dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melawan Baili Linwu tanpa kerugian.
__ADS_1
“Jingtian, aku tidak ingin menyalahkanmu. Dan kau juga tidak melakukan kesalahan apa pun Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisimu,” ucap Mo Tianyu yang seakan tahu perasaan Mo Jingtian.
Akhirnya Mo Jingtian mengangkat telapak tangannya. Dia berusaha menyalurkan qi spiritual, tetapi hasilnya kosong. Tidak ada cahaya spiritual atau apa pun yang terlihat.
“Aku akhirnya kembali cacat,” ucap Mo Jingtian. Dia menipiskan bibirnya, tidak ada raut kesedihan atau dalam wajahnya. “Maafkan aku,” lirihnya.
Sekarang dia teringat pada masa lalu. Dulu ketika masih kecil, bukankah dia sudah mengalami ini? Diasingkan karena tidak bisa berkultivasi. Jadi dia tidak begitu putus asa. Dia sudah pernah mengalaminya.
“Mungkin langit menyesal sudah menciptakanku.”
Tiba-tiba saja Mo Tianyu menangis. Dia terisak dengan ingus yang keluar. Mo Jingtian menjadi bingung. Kenapa gurunya menangis? Jika ada orang yang menangis seharusnya dialah orangnya, bukan Mo Tianyu.
“Guru ….”
“Kau membuatku sedih, ah. Kenapa kau meminta maaf padaku?” Mo Tianyu berbicara di sela-sela tangisannya. “Kalaupun kau tidak bisa menang sekarang, aku tidak akan menyalahkanmu. Ini bukan salahmu, Jingtian. Jangan meminta maaf.”
Ekspresi wajah Mo Jingtian menjadi rumit. Dia menghela napas lalu merangkul gurunya dengan akrab. “Terima kasih sudah memaklumiku,” katanya.
Mo Jingtian tidak mengomentari itu. Dia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, “Guru, aku ingin tahu bagaimana aku bisa berakhir di sini.”
Mo Tianyu langsung mengusap air matanya. Dia sudah lupa kapan terakhir kali menangis. Rasanya menjadi sedikit manusiawi. Lagipula siapa yang tidak sedih melihat kondisi murid yang direduksi menjadi seperti itu?
“Yue’er yang memanggilku ke sini. Katanya Tuan Abadi yang tinggal di sini sudah menolong kalian,” jawab Mo Tianyu.
“Tuan Abadi? Apa Guru sudah bertemu dengannya?”
“Belum. Makanya aku sedikit heran. Di mana orang itu jika benar-benar ada? Atau mungkin Qing Yue’er yang berbohong? Mungkin dia yang meletakkan tubuhmu di sini.”
“Tidak.” Mo Jingtian menolak gagasan itu. “Sepertinya memang ada Tuan Abadi di sini. Hanya saja dia belum mau menunjukkan diri.”
__ADS_1
“Nanti jika dia mau menunjukkan diri, aku pasti akan berterima kasih padanya,” ujar Mo Tianyu. Kemudian dia kembali menjadi serius. “Kita harus mencari cara untuk melepaskan belenggu itu.”
Mo Jingtian menatap ke kejauhan. “Kurasa aku mulai lelah.”
“Kamu tidak bisa berbicara seperti itu. Baili Linwu masih berpangku tangan di tahta Pengadilan Surgawi. Apa kau akan membiarkannya begitu saja, hah?”
“Aku hanya ingin beristirahat sebentar.” Selama ini dia sudah berusaha sebaik mungkin. Dia terluka dan kelelahan di sana sini. Hanya sekarang, ketika dia lumpuh, dia bisa sedikit mengistirahatkan tubuhnya.
Mo Tianyu pun mengerti itu. Namun, dia tidak ingin membiarkan Mo Jingtian lumpuh tanpa kekuatan. Setidaknya dia harus bisa melindungi dirinya sendiri dan orang yang dia sayang.
“Kau tidak bisa membiarkan Qing Yue’er melakukan semuanya sendirian. Kau tahu sendiri, gadis itu bertekad melawan Baili Linwu.”
“Ya. Di sana masalahnya,” ucap Mo Jingtian.
Mo Tianyu mengangguk dengan semangat. “Kalau begitu kau akan melepaskan belenggu itu?”
“Tidak. Tidak untuk sekarang.”
Kening Mo Tianyu langsung berkerut. “Lalu bagaimana cara agar kau bisa membantu gadis itu jika kekuatan saja kau tidak punya?”
Mo Jingtian menunduk lalu meraba lehernya. Belenggu itu ada di lehernya. Bukankah itu berarti hanya tubuh fisiknya yang lumpuh? Tiba-tiba seringaian muncul di bibirnya.
“Kurasa kalian melupakan satu hal,” ucap Mo Jingtian.
Mo Tianyu menatap Mo Jingtian dengan heran. “Apa itu? Kau punya hal lain?”
Saat itu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Mereka berdua langsung menoleh pada sumber suara. Pada saat itulah dia melihat orang itu, Tuan Abadi datang.
Ekspresi Mo Tianyu langsung berubah drastis. Kedua matanya melebar penuh kejutan dan kejutan. “T—Tuan Pengadilan Surgawi ….”
__ADS_1
“Mantan.” Orang itu membenarkan. Senyum tipis tersungging di wajahnya yang ramah.
Mo Tianyu langsung membenarkan seruannya. “Ya. Mantan Tuan Pengadilan Surgawi! Bagaimana … bagaimana Tuan bisa ada di sini?!”