Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Hitam dan Putih


__ADS_3

Di dalam hutan Baihu, seorang pria tua sedang bersungut-sungut tidak senang. Dia mengikuti ke mana jejak Ling Suyao sampai berakhir di suatu tempat. Tidak ada yang istimewa di tempat itu, tapi di sanalah jejak itu menghilang. Dan yang paling penting dia juga menemukan dua ekor bangkai singa besar. Apa mungkin muridnya telah bertarung melawan singa itu, lalu?


Dia mengedarkan pandangannya. Seharusnya jika gadis itu memang mati karena kalah melawan singa, maka mayatnya tidakan akan ke mana-mana. Atau setidaknya jika singa itu memakannya maka seharusnya ada sesuatu yang tersisa, entah itu kain atau sesuatu yang lain. Namun, ternyata tidak ada apa pun di sana. Tidak ada sesuatu yang tersisa. Dia juga heran, kenapa singa ini mati?


Dia memeriksa bangkai singa yang sudah mulai membusuk, berharap ada jejak manusia yang tersisa. Namun, yang dia temukan hanya belatung-balung yang menggerogoti daging singa. Sungguh menjijikkan. Akhirnya He Jin mencari ke sekeliling. Tidak ada sesuatu yang sempurna, pasti ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuknya.


Kemudian pandangannya terpaku pada tumpukan abu yang mencurigakan. Dia bisa melihat beberapa bekas abu pembakaran yang tentunya berbeda dengan sesuatu yang lain. Dia segera meraupnya. Tangannya menjadi bergetar. Bahkan jika itu hanyalah abu, dia masih dapat merasakannya.


Menurut sudut pandangnya, abu itu sudah ada di sana dari lima atau enam hari yang lalu. Itu sudah cukup lama. Dan itu tepat dengan mulai menghilangnya Ling Suyao. Tidak salah lagi, itu adalah kematiannya. Muridnya yang berharga sudah tidak ada lagi. Bagaimana dia harus menyikapi ini?


Dia mendengus dan mencari-cari aura yang lain. Namun, dia tidak menemukan aura manusia yang mencurigakan. Lalu siapa yang melakukannya? Jika bukan seorang manusia maka yang mungkin menyerang Ling Suyao adalah seekor binatang roh. Binatang roh yang memiliki serangan api!


He Jin melompat ke langit. Dia sudah memiliki kemungkinan-kemungkinan yang masuk ke otaknya. Diantaranya adalah, binatang roh berkekuatan api menyerang kelompok Ling Suyao karena gadis itu menyinggungnya atau sedang menaklukkannya. Ada juga kemungkinan yang lain, yaitu seseorang menyerang gadis itu menggunakan binatang roh yang sudah dikontrak. Keduanya sama-sama memungkinkan. Tidak, dia harus mencari tahu sekarang!


***


Hari berikutnya Qing Yue'er sedang bersantai ketika tiba-tiba Xiao Mo datang menemuinya. Anak kecil itu mengenakan pakaian putih. Sekilas Qing Yue'er menemukan kalau anak itu memiliki sedikit kemiripan dengan Ying Jun. Bagaimana kalau kedua orang ini bertemu? Dia tidak bisa memikirkannya. Jika dilihat dari sifat Ying Jun pasti mereka akan mulai bertengkar.


"Kenapa kau datang ke sini? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Qing Yue'er setelah mengamati Xiao Mo.


"Nona, tuan memintamu datang untuk mengunjunginya." Xiao Mo mengatakannya tanpa terlihat antusias. Ketenangannya memang harus dipuji untuk anak seumurannya. "Sekarang," lanjutnya.


Qing Yue'er mengangguk. Dia berjalan bersama beriringan dengan Xiao Mo. "Xiao Mo, apa kamu tidak belajar di sini juga?"


"Memangnya kenapa aku harus belajar di sini?" tanya Xiao Mo. "Aku memiliki tuan untuk mengajariku."


"Kamu memanggilmu tuan, kenapa bukan guru? Bukankah kamu berarti kakak senior bagiku?" Ekspresi Qing Yue'er berubah menjadi rumit. Membayangkan Xiao Mo menjadi kakak seniornya ... itu lucu sekali. Bagaimanapun usianya sendiri lebih tua dari anak itu.


"Tidak, dia bukan guruku," Xiao Mo menatap Qing Yue'er, "lebih tepatnya dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang itu."


Qing Yue'er mengangguk. Dia memahami maksudnya. Mungkin Han Qiong tidak mengangkat Xiao Mo menjadi muridnya, tapi dia tetap mengajari anak itu tentang sesuatu, tentang ilmu dan juga hukum. "Dia memperlakukanmu dengan baik bukan?"


"Tentu saja. Aku tidak tahu bagaimana jika tidak pernah bertemu dengannya," ucap Xiao Mo. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.


"Lalu di mana keluargamu?"


Xiao Mo terdiam dengan ekspresi yang berubah. Qing Yue'er menyadarinya jadi dia langsung menghentikan percakapannya. Mungkin anak itu masih belum ingin menceritakan hal-hal padanya. Tidak apa-apa, lagipula mereka juga bukan seseorang yang menjalin hubungan dekat.


"Aku salut padamu. Tuan sangat menghargaimu, mungkin baru kali ini dia memperlakukan seseorang seperti itu," ucap Xiao Mo.


Qing Yue'er tersenyum. "Itulah kenapa seseorang harus menjadi cerdik."

__ADS_1


"Jadi kamu mengaku cerdik? Mungkin lebih tepatnya licik." Xiao Mo mencemooh.


"Ah, itu tidak mungkin." Sudut bibir Qing Yue'er menjadi berkedut. Ketika dia memandang ke depan ternyata mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan.


"Masuklah, aku akan memeriksa tanaman herbal di luar." Xiao Mo berjalan menuju kebun tanaman herbal milik tuannya.


Qing Yue'er tersenyum kecil dan berjalan mendekati pintu masuk. "Guru, muridmu datang." Tanpa menunggu lama terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Dia pun membuka pintu dan berjalan masuk.


Seperti biasa, Han Qiong sedang sibuk di halaman belakang. Kali ini pria tua itu sedang memperhatikan botol-botol yang tertata rapi di atas meja. Sesekali dia akan mengambil dan mengendusnya sesaat sebelum akhirnya meletakkannya lagi. Dia menoleh ke arah Qing Yue'er. "Kemarilah."


Qing Yue'er mendekat dan memberikan salam formalitas. "Ada apa guru memanggilku?"


"Gadis, aku memiliki banyak ramuan. Cobalah untuk mencari mana yang merupakan obat dan mana yang racun." Han Qiong memandang Qing Yue'er dengan mata yang tidak asing.


Sekarang Qing Yue'er terkekeh. Orang itu lebih terlihat seperti Han Qiong yang pertama kali dia jumpai di kota Fuli dulu. Memang orang tua itu memiliki sikap yang berubah-ubah. Pasti itu akan bagus untuk melakukan penyamaran.


Qing Yue'er membuang pikirannya. Dia mulai mengambil botol-botol untuk memeriksa isinya. Botol pertama memiliki cairan bening. Ketika dia mencium aromanya ternyata tidak ada aroma apa pun. Dia mengerutkan kening dengan heran, tapi dia segera meletakkan botol itu dan beralih ke botol yang lain. Mengambilnya dan memeriksa seperti botol sebelumnya.


Awalnya dia begitu percaya diri, tapi ternyata dia terlalu berlebihan. Setelah memeriksa semua botol, dia benar-benar dilanda kebingungan. Bagaimana tidak? Semua isi di dalamnya memiliki ciri-ciri yang sama, tidak berbau dan tidak berwarna. Dia mengedarkan kekuatan rohnya untuk mendeteksi lebih lanjut.


Ketika melihat cahaya hijau di tangan Qing Yue'er, Han Qiong menjadi terkejut. "Kamu sudah melakukan terobosan kekuatan roh?"


"Itu benar, tapi itu juga bukan hal yang begitu menakjubkan," ucap Qing Yue'er sambil melakukan tugasnya.


Qing Yue'er tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Han Qiong. Dia lebih fokus ke pekerjaannya. Menggunakan kekuatan roh ternyata tidak memberikan banyak pengaruh untuknya. Mungkin karena gurunya juga sudah tahu kalau dia adalah spiritualis dunia jadi apa yang diujikan untuknya adalah sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh spiritualis dunia.


Meskipun begitu, dia tidak menjadi putus asa. Dia meneliti detal-detail terkecil dari semua botol selama hampir satu jam. Setelah itu akhirnya dia pun menemukan sesuatu yang berbeda. Dia tersenyum senang dan menjatuhkan dirinya ke kursi. Napasnya menjadi lebih lega sekarang.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Han Qiong.


"Ya," Qing Yue'er menatap penuh percaya diri, "hanya ada satu racun di sana."


"Jadi yang mana?"


"Botol paling ujung kanan," jawab Qing Yue'er.


Han Qiong mengangkat kedua alisnya. "Kenapa kamu berpikir itu adalah racun?"


Qing Yue'er tidak banyak bereaksi. "Karena hanya botol itu yang memiliki embun di bagian tutupnya."


Tawa Han Qiong langsung meledak. Dia tidak tahu kenapa gadis itu memiliki pemikiran konyol seperti itu dan anehnya jawabannya adalah suatu kebenaran. Bagaimana dia bisa berpikir sampai di sana?

__ADS_1


"Bagaimana? Bukankah aku benar?" Qing Yue'er bertanya dengan bangga.


"Ya ya ya, kamu benar kamu benar. Aku tidak tahu juga ternyata ada embun di sana. Seharusnya aku tidak usah menutupnya agar kamu tidak menemukannya dengan cepat," ucap Han Qiong yang seolah menyesali kecerobohannya sendiri.


"Bagaimana Guru bisa seperti itu? Seharusnya Guru merasa senang karena aku bisa menemukannya," protes Qing Yue'er.


Han Qiong tertawa lagi. Setelah beberapa saat akhirnya dia pun berhenti menertawakan sesuatu. Dia merubah ekspresinya menjadi lebih serius. "Gadis, aku akan mengatakan sesuatu."


"Apa itu?"


"Beberapa hari lagi aku akan melakukan meditasi pintu tertutup," ucap Han Qiong.


Qing Yue'er menatap gurunya dengan heran. Apakah biasanya seorang guru akan mengatakan itu jika mereka akan melakukan meditasi puntu tertutup. Namun, itu juga hal wajar. Mungkin gurunya akan menutup diri dalam waktu yang lama. Itu tidak baik juga jika mereka tidak saling mengetahui. "Apa itu akan lama?"


"Bukan masalah lama atau sebentarnya. Sebenarnya aku sedikit khawatir, kamu baru saja mendapatkan binatang itu. Bagaimana jika ada seseorang yang mengincarnya? Itu akan berbahaya." Wajah Han Qiong menampakkan penyesalan.


"Tidak apa-apa. Aku pikir mereka juga mungkin memiliki otak. Jika ada yng memilih menyerangku maka mereka juga akan berhadapan dengan binatang terkontrak milikku. Seharusnya seseorang tidak sebodoh itu," ucap Qing Yue'er dengan santai. Dia tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal. Sebenarnya dia tetap tenang bagaimanapun juga.


Han Qiong tampak menghela napas. "Seharusnya seperti itu." Dia ingin menunda sampai waktu yang lebih lama lagi, tapi dia sudah menunda dari sebelum perburuan roh diadakan. Saat itu dia ingin memastikan muridnya baik-baik saja jadi dia ikut pergi ke acara itu dan menunda meditasinya. Namun siapa yang akan tahu hal-hal akan benar-benar di luar dugaan.


Dia tidak bisa menunda sampai lama atau panggilan terobosannya sendiri akan menguap dan menghilang. Pada saat itu dia akan sulit mencari peluang untuk bisa menerobos lagi.


"Guru bisa tenang. Tidak akan ada yang terjadi, tapi aku ingin bertanya satu hal." Qing Yue'er menatap gurunya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Jika orang-orang di sini ingin mencelakaiku apakah aku boleh melakukan sesuatu?" tanya Qing Yue'er.


Han Qiong menatap muridnya dengan sorot mata yang rumit. Namun, setelah beberapa saat dia tersenyum dengan tulus. "Lakukan apa yang menurutmu benar. Bukankah seperti itu?"


Qing Yue'er mengangguk. "Aku akan melakukan sesuatu yang benar di mataku. Meskipun orang lain melihatku melakukan hal yang salah, tapi selama aku merasa benar maka itu akan baik-baik saja."


"Bagus. Itu adalah pemikiran yang bagus," puji Han Qiong.


Hukum hitam dan putih itu tidak ada yang konkret. Jika kita memandang sesuatu adalah benar, belum tentu orang lain berpikir demikian. Sebaliknya juga terjadi pada hal-hal yang dinilai salah. Kenapa begitu? Jawabannya sangatlah mudah, sudut pandang setiap orang seringkali berbeda-beda. Mungkin itulah kenapa manusia tidak boleh menghakimi sesuatu dengan semena-mena.


Dia tidak menyangka Qing Yue'er akan memiliki pemikiran seluas ini. Ah, gadis itu benar-benar luar biasa. Dia beruntung telah menemukan bibit yang sangat bagus.


Qing Yue'er tersenyum. Baginya seseorang tidak bisa berpikir terlalu sempit. Ya, ada banyak kepala di dunia ini. Jadi sudut pandang orang juga berbeda-beda. Sekarang dia sudah memiliki izin dari gurunya jadi perasaannya sudah menjadi lebih lega.


"Kalau begitu hari ini sudah cukup. Berhati-hatilah di sini. Mungkin aku akan menutup diri dalam waktu yang lama," ucap Han Qiong.

__ADS_1


Qing Yue'er mengangguk. Setelah itu dia pun berpamitan untuk kembali ke asrama. Dia tidak tahu, tapi ada banyak pikiran yang masuk ke otaknya dan sepertinya akan terjadi sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan.


__ADS_2