Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Makhluk di Laut Tulang Darah


__ADS_3

Qing Yue'er bergerak mendekati laut. Ketika sudah tiba di bibir pantai, dia bisa melihat airnya secara lebih jelas. Mungkin dari jauh kelihatannya seperti lautan darah, tetapi itu hanya air biasa yang berwarna kemerah-merahan. Qing Yue'er ingin menyentuhnya, tetapi segera ditahan oleh Mo Jingtian.


“Air ini akan menghancurkan apa pun yang melakukan kontak langsung. Jangan menyentuhnya.”


Akhirnya Qing Yue'er menarik tangannya kembali. Dia mencoba melemparkan batu yang ada di sana dan ketika batu itu masuk ke dalam air, dia bisa mendengar suara desisan samar. Ternyata batu itu terkorosi oleh air laut.


“Itu benar-benar menakutkan.” Qing Yue'er bergidik. Jika batu yang keras saja bisa dihancurkan oleh air laut, lalu bagaimana dengan kulit manusia yang sangat sensitif? Qing Yue'er tidak bisa membayangkan.


“Kita harus segera pergi,” kata Mo Jingtian. Kemudian pria itu menyuruh Qing Yue'er untuk mengikutinya. Mereka berjalan menuju dermaga yang berada tak jauh dari sana.


Qing Yue'er bisa melihat ada banyak perahu yang berjejer dengan ukuran kecil. Mungkin hanya muat untuk empat atau lima orang. Di atas dermaga ada sebuah lubang hitam yang mengambang di udara. Ukuran lubang hitam itu sama seperti ukuran giok di pasar giok.


Beberapa orang yang ada di sana mulai ribut dan saling berdesakan. Mereka yang ada di depan barisan memasukkan giok ke dalam lubang hitam. Kemudian sebuah perahu tertentu datang, siap untuk dinaiki.


Sekarang Qing Yue'er mengerti. Jadi seseorang yang ingin menaiki perahu harus memasukkan batu giok ke dalam lubang hitam. Kemudian timbul pemikiran di kepalanya, kira-kira ke mana batu giok itu berakhir? Tidak ada yang benar-benar tahu.


Papan dermaga di sana sangat sempit meskipun ukurannya panjang karena menjorok ke laut. Jadi seseorang harus berbaris untuk mengantri. Sebenarnya Qing Yue'er merasa malas berada pada situasi yang ramai dan bising seperti itu, tetapi tidak ada alternatif lain.


Tatapan mata Qing Yue'er fokus pada Mo Jingtian. Jika dia sendiri tidak betah berdesakan, bagaimana dengan pria itu? Qing Yue'er terkekeh. “Jingtian, apa kau tahan di situasi ini?”


“Kenapa tidak?” balas Mo Jingtian. Qing Yue'er mengangguk salut. Bagaimanapun juga pria itu memiliki status yang tinggi, tetapi masih mau ikut berdesakan dengannya di tempat ini.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran Qing Yue'er. Dia bergerak hendak memasukkan batu giok ke dalam lubang hitam. Namun, tiba-tiba seseorang menyerempetnya dan menyerobot untuk terlebih dahulu memasukkan giok.


Tubuh Qing Yue'er terpaksa terdorong ke samping. Dia tidak dalam keadaan siap, tubuhnya menabrak pagar pembatas yang untungnya bisa menahan agar tidak jatuh ke laut. Dia tidak bisa membayangkan jika pagar pembatas itu tidak ada.


Orang yang baru saja menyerempet Qing Yue'er adalah wanita dengan mata bulat dan bibir yang cukup tebal. Wanita itu menatap Qing Yue'er tidak senang. “Jangan memprotes! Aku sedang terburu-buru,” ketusnya.


“Ch!” Qing Yue'er mendecih tidak senang. “Apa kau tidak pernah diajari bersikap teratur?”


Wanita itu langsung menyilangkan tangannya dengan wajah yang terangkat tinggi. Arogansinya tampak begitu nyata. “Itu bukan urusanmu.”

__ADS_1


Perahu sudah tiba di depan dermaga dan siap dinaiki. Wanita itu tersenyum mengejek. “Apa gunanya keteraturan? Kau hanya membiarkan orang lain mengambil tempatmu. Selangkah lebih lambat!” Setelah mengatakan itu, dia langsung meninggalkan Qing Yue'er dengan perasaan penuh kemenangan.


“Jika aku bertemu dengannya nanti, akan lebih baik jika aku bisa membotaki kepalanya,” gumam Qing Yue'er yang merasa cukup kesal. Sekarang tidak ada waktu baginya untuk membuang waktu karena tidak ingin menghambat orang yang menunggu di belakangnya.


Dengan segera Qing Yue'er memasukkan batu gioknya ke lubang hitam. Setelah itu perahu dari barisan terjauh langsung bergerak dengan sendirinya menuju ujung dermaga. Tanpa menunggu lama Qing Yue'er dan Mo Jingtian turun dengan hati-hati ke perahu.


Di dalam perahu tidak ada apa pun, bahkan dayung sekalipun. Perahu itu hanya perlu digerakkan menggunakan energi spiritual jadi mereka tidak memerlukan dayung.


Qing Yue'er duduk dan membiarkan Mo Jingtian yang menggerakkan perahu. Dengan kecepatan sedang perahu pun bergerak ke tempat tujuan. Qing Yue'er berdiam diri sambil mengamati keadaan di sekitar. Dia tidak merasakan semilir angin sedikit pun.


“Jingtian, apa kau tahu bagaimana terciptanya tempat ini?” tanya Qing Yue'er.


Mo Jingtian menatap lurus ke depan. “Itu gampang. Sebenarnya dulunya tempat ini merupakan bekas pertempuran besar. Itu sudah terjadi sangat lama.”


Qing Yue'er mencoba menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam laut. Dia langsung terkejut ketika melihat tumpukan tulang di dalam air. Itu benar-benar tumpukan tulang yang tak terhitung jumlahnya.


Dia menoleh menatap Mo Jingtian. “Kalau begitu, tulang-tulang di dalam sana adalah sisa-sisa pertempuran itu?” Kemudian pria itu mengangguk.


Mo Jingtian menggelengkan kepala. “Itu merupakan sebuah pengecualian.”


Qing Yue'er akhirnya mengangguk. Namun, dia sungguh merasa tidak menyangka. Ternyata nama Tulang Darah itu bukan hanya sebatas nama untuk menakut-nakuti seseorang, tetapi memang begitulah keadaannya.


Sebuah perahu bergerak menyalip perahu Qing Yue'er. Di sana ada empat orang pemuda yang sangat berisik. Di antara mereka ada satu pemuda yang hanya diam menunduk. Setelah Qing Yue'er perhatikan sepertinya mereka bukan sedang bercanda, tetapi sedang menggertak pemuda yang menunduk.


“Kakak Ji, lihat dia. Aku tidak tahu kenapa kakek menyuruhnya ikut dengan kita,” ujar pemuda yang mengenakan pakain berwarna cokelat. Namanya adalah Shang Tong. Tatapannya melirik pada pemuda yang pendiam.


“Benar. Ini pertanyaan yang tadi ingin kutanyakan,” timpal pemuda lain yang bernama Shang Qi.


“Kalian seperti tidak tahu saja. Bukankah kakek hanya tidak ingin membuat paman Yang marah?” Shang Ji tertawa keras yang langsung ditimpali oleh dua pemuda lainnya.


“Benar juga. Lagi pula paman Yang memiliki kekuatan yang baik, tapi kenapa putranya hanya tumbuh menjadi seonggok sampah?” Shang Tong mendecakkan lidahnya dengan heran.

__ADS_1


“Kalian tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Shang Lian. Itu karena ibunya yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Jika bibi Ling tidak pergi meninggalkan paman Yang pasti Shang Lian akan menerima lebih banyak perhatian. Bukankah begitu, Shang Lian?”


Pemuda pendiam yang memiliki nama Shang Lian itu mengepalkan tangannya yang ada di balik pakaian. Dia masih bisa bersabar jika mereka hanya menghinanya. Namun, dia tidak bisa diam jika ibunya digosipkan dengan buruk.


Shang Lian mengangkat wajahnya dan menatap Shang Ji dengan marah. “Jangan pernah membicarakan hal buruk tentang ibuku!”


Shang Ji menatap Shang Lian tanpa merasa bersalah. “Apa aku salah bicara? Bukankah ini memang kenyataan? Ibumu meninggalkan ayahmu tanpa alasan yang jelas. Apa mungkin dia memiliki pria simpanan tanpa sepengetahuan kita?”


“Kamu .... B*jingan!” Shang Lian merasa tidak terima. Dia segera berdiri dan bersiap meluncurkan serangan.


“Shang Lian! Apa-apaan kamu ini? Kamu berani menantang Kakak Ji?!” Shang Tong berdiri di depan Shang Ji dan berniat melindunginya dari Shang Lian. “Jika kau ingin bertengkar maka aku tidak keberatan!”


Kedua mata Shang Lian memerah. Dia menarik pedangnya dan mulai menerjang ke depan. Tentu saja gerakannya itu membuat kapal sempit mereka bergoyang. Shang Li merasa sedikit panik, tetapi dia tidak bisa menghentikan pertarungan mereka.


Shang Tong menggunakan kakinya untuk menepis pedang Shang Lian. “Bahkan jika kau berjuang sekuat tenaga kau tidak akan mungkin bisa menang melawan kami. Jangan bermimpi!”


“Aku akan membunuh kalian!” Shang Lian berteriak marah. Sudah habis kesabaran yang selama ini dia simpan. Mereka selalu mengasingkannya dan memperlakukannya dengan buruk. Sekarang dia ingin membalas semua keluhannya.


Kapal mereka menjadi semakin bergoyang ketika perkelahian akhirnya terjadi. Semakin lama guncangan kapal menjadi semakin besar. Qing Yue'er melihat ini dari jauh dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebenarnya dia merasa kasihan melihat Shang Lian, tetapi sepertinya pemuda itu mengabaikan keselamatan mereka semua.


Pedang Shang Lian berhasil menebas lengan Shang Tong hingga berdarah begitu banyak. Tanpa sengaja darahnya menetes ke dalam air laut hingga beberapa tetes.


Mo Jingtian yang melihat ini merasa sedikit kesal. “Mereka benar-benar mengundang masalah.”


Qing Yue'er tidak mengerti apa maksud ucapan Mo Jingtian. Belum juga dia sempat bertanya tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Air laut tampak mengeluarkan gejolak yang cukup besar. Ini terlalu mencolok karena sebelumnya air laut selalu tenang.


Tiba-tiba sesuatu yang tidak terduga muncul dari dalam air. Rangkaian tulang belulang putih berdiri membentuk makhluk yang tidak diketahui. Itu adalah rangkaian tulang manusia yang membentuk makhluk abstrak. Tingginya mencapai beberapa meter dan itu terlihat mengerikan.


Makhluk tulang itu bukan hanya ada satu karena pada menit selanjutnya muncul beberapa lagi makhluk yang serupa. Para pemuda Shang yang melihat ini langsung menghentikan pertarungan seketika. Tentu saja mereka merasa terkejut sekaligus takut.


Qing Yue'er sendiri tidak bisa tetap tenang. Saat ini dia juga berada di lingkaran makhluk tulang tersebut. Bukankah ini berarti sekarang dia berada dalam bahaya?

__ADS_1


__ADS_2