
Dua hari berikutnya, kabar pasukan iblis yang muncul di beberapa tempat mulai tersebar di Celestial. Orang-orang yang tidak tahu apa-apa hanya bisa ketakutan dan kebingungan. Bagaimana bisa ada pasukan iblis di Celestial?
“Sejak kejadian di Istana Guang malam itu, semuanya memang menjadi tidak normal! Pantas saja Istana Tianjun melarang orang-orang pergi keluar. Mungkin mereka sudah mengetahui bahaya ini,” seorang guru dari salah satu akademi di Celestial berbicara kepada rekannya.
“Kau benar. Celestial adalah tempat yang paling jauh dengan dunia bawah. Menurutmu, bukankah ini terlalu aneh? Pasti ada seseorang yang mengatur kemunculan iblis-iblis ini!” sahut orang lain.
“Apa kau ingat dengan pria yang muncul di perjamuan Istana Guang malam itu? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan dia?”
“Tidak tahu, tidak tahu. Malam itu terlalu misterius untuk kita. Istana Guang yang baik-baik saja itu bisa dikutuk dalam semalam. Jika bukan dewa, siapa yang bisa melakukan itu?”
Mereka menghela napas. “Lebih baik kita berhati-hati sekarang. Pasukan iblis itu mungkin belum menyerang. Tapi di dunia ini tidak ada iblis yang baik hati. Mereka pasti akan memulai kekacauan.”
“Benar. Kita harus berhati-hati.”
Sementara itu, situasi di Istana Tianjun menjadi lebih suram. Semua orang tampak tegang dan khawatir. Kabar tentang penyebaran pasukan iblis itu memang sangat memengaruhi mereka.
Qing Yue’er menatap kalung jimat di meja dengan kening berkerut. Kalung itu dibuat dengan bulatan-bulatan kecil batu giok yang berwarna putih. Di setiap bulatan terdapat gambar-gambar formasi yang rumit.
“Apa kau yakin ini akan berhasil?” tanyanya pada Mo Jingtian.
“Hanya itu yang bisa kupikirkan. Setidaknya jimat yang dibutuhkan harus sesuatu yang dipakai. Ibumu tidak boleh melepasnya,” jawab pria itu dengan sabar.
Akhirnya Qing Yue’er mengangguk. “Baiklah. Lagi pula tidak ada seorang pun yang mengetahui hal-hal ini. Bahkan jika kau meresepkan ramuan dari kotoran burung pun aku hanya bisa memercayainya,” gumamnya dengan lirih.
Mo Jingtian hanya menatapnya dengan datar. Apakah kecemasan gadis itu membuatnya tidak bisa mengatakan hal-hal manis?
“Jingtian, apa yang akan kau lakukan sekarang? Baili Linwu pasti sangat marah sampai mengeluarkan pasukan iblisnya.”
Pria itu menghela napas. Tangannya meraih tangan Qing Yue’er dan menggenggamnya dengan lembut. “Yue’er, jika kita menentang Baili Linwu maka mustahil untuk tidak membuatnya marah. Jangan takut.”
Qing Yue’er menunduk dengan perasaan rumit. Dia pikir selama ini dia adalah orang yang pemberani. Namun, ketika dihadapkan dengan situasi sekarang hatinya merasa takut.
Pasukan iblis sudah mulai muncul sedangkan dia tidak memiliki banyak waktu yang tersisa. Apakah setelah dia menyerahkan hidupnya, Mo Jingtian harus menyelesaikan masalah ini sendirian?
Sendirian. Betapa buruknya itu.
Dia mendongak menatap pria itu dengan sedih. Mo Jingtian sudah hidup ratusan ribu tahun sendirian. Namun, dia hanya bisa menemaninya tidak lebih dari lima tahun. Itu bahkan jauh dari seperseratus umur pria itu.
“Jingtian ….” Dia menangkupkan tangannya di wajah pria itu. “Jika yang terburuk terjadi dan aku benar-benar mati, bisakah kau menungguku? Aku pasti tidak akan meninggalkanmu sendirian.”
Mo Jingtian menatap kedua mata gadis itu dengan lembut. “Jika kau tidak ingin melepaskanku, kenapa kita masih harus melakukannya?”
__ADS_1
Qing Yue’er mengusap rahang tegas pria itu lalu mengecup bibirnya. “Kita harus melakukannya bahkan jika tidak ingin.”
Pria itu diam lalu menariknya ke pangkuannya. Ibu jarinya mengusap tanda phoenix biru di dahi Qing Yue’er. Dia berkata, “Aku akan menunggumu. Seratus tahun, seribu tahun …. Jika bisa, aku bahkan akan menghentikanmu di sungai kelupaan, dan menarikmu dari dunia bawah.”
Senyum kecil muncul di wajah gadis itu. “Apa kau bisa melakukannya?”
“Aku harus bisa, bukan?”
Qing Yue’er tersenyum. “Tapi kita tidak tahu apakah aku akan mati atau tidak. Bagaimana jika semua yang kita tahu hanyalah kebohongan?”
“Maka aku akan berlutut dan bersujud kepada langit. Aku akan menjadi dewa dan Anak Surga yang baik.”
Mo Jingtian mengambil kalung di meja lalu memberikannya pada Qing Yue’er. “Berikan pada ibumu. Jangan biarkan dia melepasnya apa pun situasinya.”
Qing Yue’er mengangguk. Dia sekali lagi mengecup bibir Mo Jingtian sebelum akhirnya berdiri. “Kalau begitu aku akan menemui ibuku sekarang.”
Pria itu hanya tersenyum dan memerhatikan kepergiannya tanpa berpaling. Kemudian Qing Yue’er pun pergi menemui ibunya yang sedang berada di kamar.
Sejak serangan Shaman hari itu, Xie Yingfei selalu berada di kamar. Tentu saja kamarnya sudah dipasang dengan beberapa formasi untuk berjaga-jaga seandainya serangan jarak jauh itu datang lagi.
Cara itu mungkin aman, tapi cukup merepotkan karena menyebabkan dia tidak bisa pergi ke mana-mana. Sementara dia masih harus melakukan berbagai persiapan untuk pernikahan Qing Yue’er.
Qing Yue’er masuk ke kamar ibunya dan melihat wanita itu sedang menyulam kipas bundar yang biasanya dibawa oleh mempelai wanita di hari pernikahan. Itu membuatnya tersenyum.
“Ibu, kenapa repot-repot? Kita bisa membelinya jika mau.”
Xie Yingfei tersenyum. Dia mengusap hasil sulamannya yang sudah setengah jadi. “Ini adalah pernikahan putriku satu-satunya. Bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain melakukannya?”
Perasaan Qing Yue’er menjadi hangat. Dia memerhatikan hasil sulaman itu yang sangat rapi. Bentuknya dua burung, yaitu satu phoenix dan satu vermillion.
“Aku baru tahu ternyata Ibu sangat pandai menyulam. Bagaimana caranya? Apakah aku bisa mencoba?”
Sepanjang hidupnya ini dia belum pernah belajar menyulam. Menurutnya itu hal yang terlalu feminin. Dia lebih menyukai bertempur daripada menyulam.
“Kau ingin mencobanya? Kalau begitu lihatlah.” Xie Yingfei dengan senang hati mengajari Qing Yue’er sementara gadis itu hanya mengangguk-angguk mencoba mengingat langkah-langkahnya.
Setelah itu, Xie Yingfei memberikan sulamannya pada Qing Yue’er untuk dilanjutkan. Namun, setelah beberapa kali percobaan, dia hanya membuat benang itu kusut dan berantakan.
Dia mencoba bersabar dan berusaha sekali lagi, tapi kemampuannya tidak membaik sama sekali. Itu hanya membuatnya kesal dan kehabisan kesabaran.
“Lupakan! Aku tidak menginginkannya lagi,” gerutunya sambil mengembalikan itu pada ibunya.
__ADS_1
Xie Yingfei terkekeh. “Biarkan aku saja. Lagipula tidak ada hal yang bisa aku lakukan di sini.”
Qing Yue’er akhirnya ingat dengan tujuan awalnya. Dia segera mengeluarkan kalung batu giok itu dan menunjukkannya pada wanita itu. “Ibu, calon menantumu membuat ini untukmu. Dengan kalung ini, Ibu tidak perlu berlindung di kamar lagi.”
Mendengar hal itu, Xie Yingfei menjadi senang. “Benarkah?”
Qing Yue’er mengangguk lalu membuka kunci kalung itu. Dengan perlahan dia memakaikannya di leher ibunya. Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Jangan melepasnya, Ibu. Setidaknya sampai semua kekacauan ini selesai,” ucapnya dengan lirih.
Xie Yingfei tiba-tiba memeluk gadis itu dengan erat. Hatinya menjadi sedih mengingat dia mungkin akan kehilangan putri kesayangannya itu. Waktu yang mereka habiskan sungguh sangat sebentar.
“Ibu, jangan sedih. Setelah Baili Linwu dikalahkan, ayah pasti akan terbebas. Dia akan kembali ke sini dan menemanimu lebih lama lagi,” ucap Qing Yue’er setengah berbisik.
Air mata Xie Yingfei merebak dan wanita itu terisak. Qing Yue’er hanya bisa memejamkan mata sambil mengusap punggung ibunya. Dia harus menguatkan hatinya sendiri.
Sementara itu, Mo Jingtian kedatangan tamu ketika Qing Yue’er sedang bersama ibunya. Seorang pria muncul dari udara tipis. Pria itu menunduk memberikan salam kedewaannya.
“Di Futian, sudah cukup lama sejak kita bertemu,” ucap pria yang tak lain adalah Di Moxie. Pembawaannya yang halus dan tenang masih sama seperti dulu, meskipun hatinya sedang dilanda kekhawatiran.
Mo Jingtian menatapnya dengan lurus. “Kenapa kau datang ke sini?”
“Dalam situasi seperti sekarang, tidak ada yang bisa menenangkanku kecuali dirimu.”
Di Moxie melangkah mendekat. Dia sudah mendengar tentang kemunculan pasukan iblis. Dia juga mendengar Di Fengxi dan dewa lain yang menentang Baili Linwu. Ini membuatnya ingin menemui Mo Jingtian.
“Di Futian, bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?” Di Moxie bertanya.
“Hmm … bagaimana jika kau mengajakku melihat-lihat pasukan iblis itu?” Mo Jingtian balas bertanya. “Pasti sudah lama sejak kau bertemu pasukan iblis.”
Di Moxie sedikit terkejut dengan gagasan itu. “Kita akan pergi sekarang?”
“Ya.” Mo Jingtian mengangguk. “Selain itu … kita perlu menjemput beberapa orang.”
Kedua alis Di Moxie terangkat. “Menjemput beberapa orang?” Dia menjadi heran. Siapa yang akan Mo Jingtian datangkan pada situasi ini?
Mo Jingtian tidak menjawab. Dia mengambil alat tulis dan meninggalkan pesan untuk Qing Yue’er. Jika gadis itu kembali dan menemukannya tidak ada di kamar, dia pasti akan khawatir.
Setelah selesai, dia pun berdiri. “Mengenai siapa yang akan datang, kau akan tahu nanti,” ucapnya pada Di Moxie.
“Baik. Aku akan menemanimu.” Di Moxie tidak ragu sama sekali. Dia mengibaskan tangannya lalu sosok mereka berdua langsung menghilang ke dalam udara tipis.
__ADS_1