
Di atas permukaan lautan air yang sangat dingin, seorang wanita dengan rambut hitam panjang nampak menapakkan kakinya. Mengambang tanpa basah tersentuh oleh air. Keanggunannya hanya bisa dilukiskan oleh siluet purnama.
Wanita itu mengetukkan kakinya di permukaan air dengan ritme tertentu. Setelah beberapa saat, lautan air yang nampak tenang mulai memunculkan riak yang semakin lama berubah menjadi gelombang besar.
Wanita itu masih menyaksikan dengan tenang. Tak lama kemudian seseorang yang terlihat asing nampak keluar dari gelombang itu.
Itu adalah sosok pria dewasa yang terlihat sangat sederhana. Rambutnya bahkan hanya dibiarkan tergerai begitu saja. Jubahnya yang seputih salju benar-benar polos tanpa hiasan apa pun.
Meskipun kultivasinya tersembunyi, wanita itu selalu tahu bahwa sedikit pun dia tidak boleh menyinggung orang ini. Bahkan orang sepertinya harus berhati-hati dengannya.
"Wilayah perairan abadi dalam lindunganmu, Di Moxie. Salam hormat dari Xie Ying Fei, klan Xie Celestial," sapa wanita itu dengan hormat.
Pria yang bernama Di Moxie itu mengangkat kedua alisnya. Dia sepertinya tidak asing dengan nama Xie Ying Fei. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengingatnya.
Xie Ying Fei, jenius dari klan Xie yang dikabarkan sedang dalam masa kekacauan. Ada apa wanita itu datang memanggilnya?
"Bagaimana kau tahu cara memanggilku?" tanya Di Moxie.
"Penguasa perairan langit dan bumi, orang rendahan ini sangat membutuhkan bantuanmu." Xie Ying Fei berlutut di hadapan Di Moxie. Dia bahkan lupa menjawab pertanyaan Di Moxie dan langsung memohon dengan sepenuh hati.
"Bantuan? Apa yang kau inginkan? Aku tidak bisa ikut campur terlalu banyak. Apa lagi klan Liu memiliki latar belakang yang tidak sederhana," jawab Di Moxie.
Xie Ying Fei masih berlutut. Kali ini dia benar-benar bersikeras untuk mendapatkan bantuan dari Di Moxie. Semakin hari memang kekuatan klan mereka melemah. Jika dia berdiam diri maka kehancuran akan menjadi akhir satu-satunya.
Di Moxie mengangkat tangannya dan setetes air bening melayang di depannya sebelum kemudian jatuh lagi ke bawah.
"Aku tidak akan menolongmu. Seseorang yang lebih tepat akan datang untuk membantu kalian," ucapnya.
Xie Ying Fei dibuat tertegun oleh ucapan Di Moxie. Seseorang datang menyelamatkan mereka? Siapa dia?
"Aku menghormatimu Xie Ying Fei. Bahkan jika hidupmu dalam kesulitan, tetap pertahankan kesetiaanmu." Di Moxie berkata sebelum akhirnya lenyap seketika. Suaranya masih bergema di udara kosong.
"Kesetiaan?" gumum Xie Ying Fei. Hatinya bergetar ketika membayangkannya. Ingatannya jatuh pada sosok pria yang sudah lama tak dia jumpai.
"Yexuan ...." Xie Ying Fei menunduk.
Entah sampai kapan penderitaannya akan berakhir. Hanya ada satu keinginan yang tersisa. Dia ingin keluarganya kembali utuh. Tentang bayi kecil yang terabaikan, dan tentang suaminya yang mungkin tak bisa lagi dia jumpai.
__ADS_1
"Qing Yue'er, apa dia masih bisa datang? Mungkin aku harus mencari tahu tentangnya." Sebuah harapan bersinar di matanya.
***
"Kalian tahu keluarga Jiang? Aku merasa kasihan dengan mereka. Semenjak Jiang Shu dikabarkan menghilang, keluarga mereka menjadi kacau."
"Kacau bagaimana?"
"Apa kau tidak tahu? Keluarga cabang mereka saling berebut harta warisan."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan kecantikan kita yang lumpuh?"
"Maksudmu Jiang Yini? Ya bagaimana lagi, dia diasingkan karena sudah tidak berguna untuk mereka."
Perbincangan seperti itu terdengar di berbagai tempat. Qing Yue'er yang kini duduk di kedai makan pun mendengarnya. Dia baru saja sampai di kota Fuli dan langsung disuguhkan dengan topik pembicaraan yang menarik.
"Saudara-saudara sekalian, perkenalkan namaku adalah Han Qiong!"
Tiba-tiba ada suara yang cukup keras datang dari depan. Itu adalah suara seorang pria tua yang membawa kantong-kantong teh di tangannya.
Tubuhnya terlihat pendek dan sedikit gempal. Jenggotnya yang panjang juga sudah memutih. Lalu dipunggungnya tergantung topi bambu yang sudah rusak. Dia lebih terlihat seperti seorang pengemis.
Orang-orang yang ada di kedai langsung berbisik-bisik. Sebagian dari mereka tidak percaya dengan hadiah menarik yang ditawarkan. Lihat saja, pakaian pria tua itu bahkan terlihat sangat lusuh. Memangnya hadiah apa yang bisa dia berikan?
"Kakek Tua, hadiah menarik apa yang kau berikan?" tanya seseorang.
"Aih, kenapa juga kau harus bertanya. Dilihat dari penampilannya, pasti hanya beberapa koin perak. Itu pun mengambil jatah makannya dalam sehari," ejek yang lain.
Penghinaan itu tentu saja membuat Han Qiong marah. Dia menghentakkan tehnya dengan kasar ke meja. "Kalian benar-benar manusia hina! Jika kalian tidak berminat maka cukup diam tanpa perlu menghinaku!"
"Aiyoh, kenapa jadi dia yang marah?" Kerumunan orang-orang hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu mereka pun mengabaikan pria tua itu.
Han Qiong mengedarkan pandangannya. Tatapannya jatuh pada dua gadis cantik yang saat ini sedang menikmati pangsit hangat. Mereka nampak tidak peduli dengan hal-hal di sekitarnya.
Dia langsung berjalan mendekati kedua gadis itu. "Hehehe, Gadis, apa kau mau bertaruh denganku?"
"Apa yang akan kau berikan jika aku menang?" tanya Qing Yue'er tanpa memalingkan wajah.
__ADS_1
"Sesuatu yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat," jawab Han Qiong dengan kekehan khasnya.
"Apa itu? Apa kau percaya padanya?" bisik Jing Ling pada Qing Yue'er.
"Tidak ada ruginya jika aku mencoba." Qing Yue'e menjawab dengan ringan.
Han Qiong yang mendengar ucapan Qing Yue'er kembali terkekeh. "Siapa bilang tidak ada ruginya? Jika kau salah maka aku akan memasukkan satu tetes racun pada tubuhmu."
Orang yang mendengar penuturan itu pun langsung marah. Bagaimana bisa ada orang sekonyol itu. Bahkan hadiahnya pun terlalu abu-abu, tapi risikonya begitu besar.
"Orang gila macam apa itu?! Jangan pedulikan dia! Sungguh konyol!" Jing Ling berseru marah. Meskipun mereka tidak tahu racun apa namun tetap saja itu adalah racun.
"Beri aku sedikit bocoran agar aku lebih tertarik dengan penawaranmu," ucap Qing Yue'er pada Han Qiong.
Han Qiong membelai janggutnya. "Baiklah. Sesuatu yang tak terlihat ini akan membawa seseorang pada sebuah kekuatan."
"Lalu?"
"Mampu melawan kelompok orang dalam sepersekian detik."
"Lalu?"
Han Qiong mendengus. "Kenapa kau tidak memintaku untuk mengatakan semuanya saja?!"
Qing Yue'er terkekeh. "Baiklah. Ayo kita mulai."
Tentu saja keputusan Qing Yue'er hanya bisa dianggap bodoh oleh orang lain. Siapa yang akan begitu senggang untuk bermain dengan kakek tua seperti Han Qiong? Mungkin hanya gadis itu yang mau melakukannya.
Namun Qing Yue'er tidak peduli. Sejak tadi dia tidak mampu merasakan aura dari Han Qiong. Entah itu karena pria tua itu tidak berkultivasi atau sebaliknya karena dia memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi darinya.
Yang jelas, dia tidak akan melakukan tindakan tanpa kepercayaan diri yang tinggi. Dia selalu percaya pada kemampuannya sendiri.
***
Halo pembaca semua.
Sudah lama ya cerita ini nggak update, hehe.
__ADS_1
Sehubungan dengan merebaknya Covid-19, jangan lupa jaga kesehatan ya untuk kalian. Kenakan masker jika keluar dan jangan lupa cuci tangan dengan benar.
Stay Safe.