Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Serangan Baili Linwu


__ADS_3

“Jingtian, aku akan membantunya.”


Dengan cepat Qing Yue’er menyalurkan energi spiritualnya ke tubuh Di Fengxi. Dia segera menemukan luka dalamnya yang begitu kompleks. Banyak kerusakan pada organ internalnya. Itu tidak akan mudah untuk menyembuhkannya.


Luka luarnya juga parah. Ada banyak tusukan dan sayatan pedang. Qing Yue’er menjadi heran. Siapa yang sudah melukai Di Fengxi sampai seperti ini?


“Dengarkan aku ….” Di Fengxi menatap mereka dengan sedikit memohon.


“Fengxi, lupakan saja.” Mo Jingtian berkata dengan lirih. Dia tahu apa yang akan pria itu katakan, tapi itu tidak dibutuhkan.


“Tidak ….” Di Fengxi menggeleng pelan. Perasaannya menjadi rumit mengingat apa yang telah terjadi.


Hari ini dia dan keempat dewa lainnya telah berhasil menyingkirkan Di Mu dan Di Zhao. Hal itu membuat Baili Linwu menjadi semakin murka. Bukan hanya murka kepadanya dan keempat rekannya, pria itu juga murka kepada Mo Jingtian.


Baili Linwu berpikir mereka membunuh Di Mu dan Di Zhao atas perintah Mo Jingtian. Jadi, kebencian dan amarahnya semakin meledak.


Pria itu akhirnya membawa dewa lain untuk memburu kelompok Di Fengxi. Mereka berlima telah menghadapinya bersama-sama. Namun, dengan kuasa Tuan Pengadilan Surgawi, mereka tidak bisa menang.


Perasaan Di Fengxi menjadi sendu. Di Zheng telah mengirimnya pergi pada saat-saat kritis. Dia tahu mereka tidak akan mungkin bisa selamat. Entah Baili Linwu menghukum dan menyiksa mereka, atau justru membunuh mereka di tempat.


“Guru, Baili Linwu sudah mengetahui keberadaanmu. Dia akan datang ke sini,” ucapnya dengan lirih. “Selain itu ….”


Dia berhenti sebentar lalu memuntahkan seteguk darah merah. Qing Yue’er segera meningkatkan intensitas kekuatannya untuk menyembuhkan luka dalamnya.


Beberapa saat kemudian, Di Fengxi melanjutkan, “Baili Linwu juga … tak kunjung mendapatkan kipas Shen Feng dari Tuan Qing. Jadi, dia ingin … mencari benda itu di sini.”


Qing Yue’er menjadi terkejut mendengar itu. Perasaannya langsung tidak tenang. Jika Baili Linwu datang, bukankah itu terlalu berbahaya? Ada banyak orang di sini dan semuanya adalah keluarganya!


“Kalian harus cepat pergi,” lirih Di Fengxi. Air matanya tiba-tiba jatuh. Hatinya yang begitu bersih telah dipukul hari ini dengan melihat kekejaman Baili Linwu yang begitu nyata dan pengorbanan dewa lain untuk menyelamatkannya.


“Kita tidak akan ke mana-mana.” Mo Jingtian memegang bahu Di Fengxi. “Jika dia datang, maka biarkan datang. Tidak ada yang lebih aman daripada Istana Tianjun.”


Di Fengxi tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Jika Mo Jingtian sudah memutuskan, maka tidak ada yang bisa mengganggunya. Dia hanya takut sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.


“Yue’er, itu sudah cukup.” Mo Jingtian menginterupsi Qing Yue’er. “Aku akan mengantarnya ke kamarku. Biarkan dia bermeditasi di sana untuk memulihkan luka dalamnya,” ucapnya. Gadis itu hanya mengangguk dan memutus kekuatan spiritualnya.


Kemudian Mo Jingtian membawa Di Fengxi ke kamarnya. Dia merawat luka luarnya sebentar sebelum membiarkan murid satu-satunya itu melakukan meditasi pintu tertutup.


Ketika Mo Jingtian hendak pergi, Di Fengxi memegang tangannya dengan erat. Ekspresinya terlihat takut seperti anak kecil yang akan ditinggal ayahnya. “Apakah aku akan melihat Guru lagi?”

__ADS_1


Mo Jingtian mengangguk. “Ya.”


Di Fengxi merasa lega. Akhirnya dia melepaskan tangannya dan mulai menutup mata. Mo Jingtian menarik napas panjang lalu berjalan keluar dari kamar itu.


Qing Yue’er segera menghampirinya. Gadis itu terlihat khawatir karena memikirkan kata-kata Di Fengxi. Dia segera mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum.


“Jangan khawatir, Istana Tianjun tidak akan bisa diserang dan dihancurkan dengan mudah,” ucapnya dengan lembut.


“Tapi ini Baili Linwu.” Qing Yue’er menjadi gusar. Jika yang datang dewa lain, mungkin Mo Jingtian bisa mengalahkannya dengan mudah. Tapi Baili Linwu adalah sosok yang berbeda.


“Jingtian, mungkin Di Fengxi benar. Lebih baik kita pergi sebelum Baili Linwu datang.”


Mo Jingtian menggeleng. “Kenapa kita harus melarikan diri? Ini adalah rumahmu. Jika harus ada yang melarikan diri, itu bukan kau orangnya, tapi mereka yang datang untuk menyerang.”


Mendengar itu Qing Yue’er hanya bisa menggigit bibir. Mo Jingtian penuh dengan keyakinan, bagaimana dia bisa begitu pesimis?


Sebelum dia bisa berkata-kata, tiba-tiba suara ledakan terdengar di langit. Beberapa ekor cahaya melesat dan menghantam dinding transparan yang melindungi Istana Tianjun dari niat jahat seseorang.


Ekspresi Qing Yue’er menjadi sedikit pucat. Dia segera mendongak dan melihat retakan-retakan pada dinding formasi perlindung. Itu tampak begitu rapuh dan bisa dihancurkan dengan mudah.


“Mereka benar-benar datang.” Perasaannya menjadi tidak pasti. Dia masih ingat bagaimana Baili Linwu melukai Mo Jingtian di masa lalu. Dan dia tidak ingin adegan itu terulang lagi.


Qing Yue’er tidak mengerti apa maksud pria itu. Dia ingin bertanya lebih jauh, tapi Mo Jingtian sudah berjalan pergi menuju halaman istana. Kedua matanya langsung ditutup.


“Bukankah aku sudah mau melakukan tugasku? Tapi pernikahan kami bahkan belum dilaksanakan,” lirihnya dengan sedih.


Dia menunduk, lalu menarik napas panjang. Di masa lalu dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Baili Linwu menyerang Mo Jingtian. Tapi malam ini dia harus melakukan sesuatu.


Kedua matanya terbuka dengan kilatan dingin. Sosoknya langsung melesat cepat bersamaan dengan suara ledakan yang mengguncang Istana Tianjun.


Orang-orang juga keluar dari kediaman mereka. Para petinggi istana kebingungan dan terkejut dengan serangan mendadak itu. Mereka segera pergi dan memeriksa apa yang sedang terjadi.


Sesampainya di halaman istana, mereka akhirnya melihat Mo Jingtian ada di sana. Pria itu hanya diam sambil mendongak ke atas memerhatikan kekacauan yang terjadi.


Xie Song meringis melihat sosok tak terlihat yang mencoba menghancurkan formasi pelindung istana. Dia segera berlari mendekati Mo Jingtian.


“Tuan, siapa mereka?”


“Orang yang tidak akan bisa kau hadapi,” Mo Jingtian berkata dengan dingin. “Istana Tianjun memiliki formasi Tujuh Perangkap Naga Langit. Cepat aktifkan formasi itu!”

__ADS_1


Pria tua itu sedikit terkejut karena Mo Jingtian mengetahui tentang salah satu formasi peninggalan leluhur klan Xie. Namun, mengingat identitasnya yang tidak biasa, itu seharusnya tidak mengherankan.


Xie Song ingin mengetahui mengenai si penyerang, tapi dia tidak berani menunda perintah Mo Jingtian. Akhirnya dia segera memerintahkan para petinggi istana untuk mengaktifkan formasi.


Mereka segera bergerak dan menempatkan diri dalam posisi masing-masing. Tujuh orang duduk membentuk lingkaran besar di halaman istana. Mereka semua saling menatap dan mengangguk dengan mantap.


Kemudian Xie Song memerintahkan, “Mulai!”


Mereka segera membentuk segel tangan dengan cara yang berbeda. Setiap orang memiliki segel sendiri-sendiri yang rumit. Beberapa saat kemudian, cahaya terang melesat dari posisi mereka ke dinding pelindung di langit.


Whooshh! Whoosshh!


Dinding yang retak itu mulai diperbaiki dan diperkuat. Di atas sana, Baili Linwu yang melihat itu langsung mendengkus dingin. Dia dan dua dewa di belakangnya akhirnya menunjukkan penampilan mereka.


“Apa kalian pikir formasi rendahan seperti ini akan berguna?!”


Para petinggi istana langsung mendongak. Ekspresi mereka berubah pucat ketika melihat tiga sosok yang berdiri di langit sambil menatap mereka dengan dingin. Tubuh mereka menjadi gemetar.


Bukankah itu Tuan Pengadilan Surgawi? Bagaimana mungkin mereka tidak mengenalinya?


“Baili Linwu, apa kau sudah memikirkan ini? Semua orang akan tahu sifat busukmu yang sebenarnya. Dan jika kau tidak bisa menang malam ini, kepercayaan mereka tidak akan bisa kau dapatkan lagi,” Mo Jingtian berkata dari bawah.


“B*jingan! Akhirnya aku melihatmu lagi!” Baili Linwu berteriak. “Siapa yang peduli dengan kepercayaan manusia-manusia bodoh?! Malam ini aku akan membunuhmu dan tidak akan ada seorang pun yang layak untuk mengganggu jalanku lagi!”


Mo Jingtian mendengkus. “Bermimpi.” Dia mengalihkan perhatiannya pada para petinggi istana lalu berteriak, “Formasi ofensif pertama!”


Para penatua sedikit ragu pada awalnya, tapi Xie Song dan Xie Yang tidak. Mereka berdua segera membentuk segel tangan hingga akhirnya kelima orang lainnya melakukan hal yang sama.


Beberapa saat kemudian, tujuh cahaya kembali melesat ke langit. Tujuh cahaya itu membentuk tiga anak panah transparan berukuran raksasa yang dengan kecepatan kilat langsung menghantam lokasi di mana ketiga dewa itu berada.


Boommm!


Ledakan dahsyat yang mengguncang langsung terdengar hingga bermil-mil jauhnya. Tanpa menunggu hasil, Mo Jingtian kembali berteriak, “Formasi ofensif ke dua!”


Cahaya perak melesat ke langit membentuk qi pedang yang langsung membelah udara. Retakan hitam muncul akibat serangan itu. Ruang spasial tidak bisa menahan kekuatan destruktifnya.


Suara angin seolah menjerit. Tiga cahaya melesat mundur dari ruang kekacauan.


“Formasi ofensif ke tiga!”

__ADS_1


Suara amarah Baili Linwu yang menggelegar langsung terdengar, “Mo Jingtian keparaatttt! Aku benar-benar akan membunuhmu!”


__ADS_2