Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kedatangan Entitas Tinggi


__ADS_3

Qing Yue'er mendekati tubuh fisiknya lalu mencoba untuk memasukinya. Perlu kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan. Bagaimanapun juga itu adalah nyawa yang mencoba masuk ke rumahnya. Jika terjadi kesalahan sedikit saja mungkin akan berdampak pada kejiwaannya.


Setelah beberapa usaha akhirnya Qing Yue'er berhasil kembali menempati tubuhnya. Cahaya samar dari perwujudan jiwanya mulai meredup dan menyatu ke dalam tubuhnya. Perasaan normal bisa langsung dia rasakan.


“Ingat, kamu tidak bisa menggunakan kemampuan ini secara acak. Hanya ada tiga kesempatan bagimu untuk menggunakannya,” ucap Mo Jingtian setelah Qing Yue'er berhasil.


“Tiga kesempatan?” Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya. “Bukankah ini terlalu sedikit?” sambungnya. Dia pikir dia bisa menggunakannya untuk seumur hidup. Ternyata tidak begitu.


“Tiga kali dan kamu sudah menggunakannya sekali.”


Qing Yue'er menatap Mo Jingtian dengan tatapan tidak setuju. “Yang ini masuk kedalam hitungan? Tapi aku tidak sengaja melakukannya.” Itu benar. Barusan dia tidak tahu apa yang terjadi dan jiwanya keluar bukan atas kehendaknya sendiri. Bagaimana itu bisa masuk ke dalam hitungan?


“Tidak ada pengecualian untuk ini.” Mo Jingtian menyunggingkan senyum tipis. “Kamu harus kembali menerobos.”


Baru saja Mo Jingtian berbicara tiba-tiba dimensi di mana mereka berada mulai terguncang. Ini membuat Qing Yue'er teringat dengan guncangan yang sebelumnya sempat memengaruhi kultivasinya. “Apa sesuatu terjadi di luar?” tanya Qing Yue'er.


“Aku bisa mengurus ini. Yue'er, jangan pikirkan apa-apa. Yang harus kau lakukan adalah melanjutkan kultivasimu,” jawab Mo Jingtian.


Entah kenapa Qing Yue'er tidak begitu yakin dengan jawaban itu. Guncangan yang dihasilkan oleh kipas Sheng Feng sudah membuatnya merasa ada sesuatu yang terjadi di luar. Namun, dia tidak tahu apa itu dan kenapa Mo Jingtian tidak membiarkannya tahu. Apakah itu sesuatu yang berbahaya?


Mo Jingtian merasakan keragu-raguan dalam pikiran Qing Yue'er. Dia memegang kedua pundak gadis itu, lalu berkata, “Kamu bisa mengetahuinya nanti. Energi spiritual dari Persik Surgawi akan menguap jika tidak segera digunakan.”


Qing Yue'er akhirnya menuruti ucapan Mo Jingtian. “Ketika aku membuka mata nanti, kamu harus ada di sini,” ucap Qing Yue'er. Sejujurnya dia sedikit khawatir. Namun, perasaan khawatirnya lenyap ketika melihat Mo Jingtian mengangguk. Ya, pria itu tidak akan mengingkari janjinya sendiri.


Tanpa berlama-lama lagi Qing Yue'er pun kembali mengambil sikap lotus. Kedua matanya tertutup dan aliran qi spiritual di dalam dantiannya kembali bergerak. Kali ini dia harus segera menerobos.

__ADS_1


Tatapan Mo Jingtian berubah menjadi serius. Dia sengaja menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi karena ingin melihat dulu akan sejauh mana Pei Qinghai dan Xie Ying Fei melakukan konfrontasi. Untuk sementara ini Qing Yue'er tidak boleh ikut campur.


Mo Jingtian menatap Qing Yue'er sesaat, lalu dia bergerak meninggalkan dimensi itu. Sosoknya kembali muncul di lokasi pertempuran Pei Qinghai dan Xie Ying Fei. Ketika dia tiba di sana, hasil pertempuran sudah mulai terlihat. Pei Qinghai memegang 80 persen kemenangan. Ini bukan hasil yang mengejutkan bagi Mo Jingtian.


“Tuan, Nyonya Xie mungkin akan kalah,” ucap peri jamur.


“Itu pasti terjadi jika Xie Ying Fei tidak menggunakan kipasnya. Akan lebih bagus jika dia tidak menggunakannya.” Mo Jingtian tidak terlihat cemas.


Di atas sana, Xie Ying Fei di dorong mundur hingga beberapa kali. Meskipun demikian wanita itu masih tidak merasa takut menghadapi Pei Qinghai. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap lawannya. “Kau tidak akan pernah berhasil. Aku akan lebih memilih mati daripada memberikan apa yang kau inginkan!”


Pei Qinghai menatap sinis. “Aku akan melihat sampai mana kau akan bertahan dengan keras kepalamu itu.” Tawanya terdengar menggema di kehampaan malam. Tubuhnya mulai bergerak lagi meluncurkan beberapa serangan secara sekaligus.


Mo Jingtian mendengus melihat semua ini. Dia menyeringai dan dengan keras bertanya, “Pei Qinghai, tidakkah kau takut dengan kemarahan Dewa Angin?”


Pei Qinghai yang mendengar pertanyaan seperti itu langsung tertawa terbahak-bahak. “Dewa Angin yang tidak bisa pergi ke mana-mana? Apa kau pikir dia akan datang ke sini menyelamatkan istrinya?” Nadanya terdengar sangat arogan.


Kali ini Pei Qinghai mengalihkan pandangannya pada Mo Jingtian. Samaran Mo Jingtian membuat dia tidak bisa mengenali indentitasnya. Bagi Pei Qinghai, saat ini Mo Jingtian terlihat seperti pria tanpa nama yang hanya ingin mengusiknya.


“Jangan banyak bicara atau aku akan melenyapkanmu terlebih dahulu!”


Mo Jingtian bergeming di tempatnya. Tentu saja tidak ada ketakutan sama sekali dalam ekspresinya. “Kalau begitu lakukanlah,” ucap Mo Jingtian.


“Mencari kematian!” Pei Qinghai berseru marah. Dengan cepat dia berbalik dan melesat turun ke bawah. Tangannya sudah teracung ke depan disertai dengan cahaya abu-abu yang melapisinya.


“Kau yang mencari kematian,” ucap Mo Jingtian. Bayangannya naik ke atas menyambut kedatangan Pei Qinghai. Tangannya bergerak menarik tangan Pei Qinghai dan membantingnya. Seketika tubuh Pei Qinghai langsung meluncur ke bawah dengan kecepatan mengerikan.

__ADS_1


Boomm!


Ledakan terjadi ketika tubuh Pei Qinghai menghantam tanah. Sebuah lubang besar tercipta di tempat pendaratannya. Itu kekuatan yang sangat menakutkan. Hanya dengan satu serangan saja keadaan Pei Qinghai langsung berubah sepenuhnya.


Pria itu terbatuk hingga memuntahkan banyak darah merah. Tubuhnya terasa remuk redam. Pei Qinghai tidak bisa bergerak lagi. Dia hanya bisa menatap Mo Jingtian dengan wajah memucat penuh ketakutan. “Si ... siapa kamu?!”


“Tidak penting. Aku hanya tidak ingin seseorang melakukan pertumpahan darah di tempat ini.”


“Jika kau membunuhku ... tuanku pasti tidak akan pernah mengampunimu,” ucap Pei Qinghai dengan bersusah payah.


Mo Jingtian merasa bosan mendengar ancaman seperti ini. Jika dihitung mungkin sudah ribuan kali dia mendengarnya di sepanjang perjalanan hidupnya. Meskipun begitu, dia tahu apa yang dikatakan Pei Qinghai bukanlah omong kosong. Sosok itu pasti akan datang. Tunggu sebentar lagi.


“Pergi dari tempat ini. Tidak ada hal baik yang menantimu,” ucap Mo Jingtian pada Xie Ying Fei.


“Bagaimana dengan ....”


Mo Jingtian menatap Xie Ying Fei sesaat. Tatapannya sedikit tajam dan sinis. Ini membuat Xie Ying Fei tidak berani memprotes. “Baik. Aku akan pergi,” ucapnya. Sejak melihat bagaimana Pei Qinghai dengan mudahnya dikalahkan oleh Mo Jingtian, Xie Ying Fei merasakan ada ketakutan tertentu di lubuk hatinya.


“Bagus.”


Xie Ying Fei baru saja akan pergi ketika tubuhnya tiba-tiba membeku. Ini membuatnya merasa terkejut. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya beberapa kali, tetapi tidak berhasil. Jangankan tubuhnya, bahkan jarinya tidak satu pun bisa digerakkan. Apa yang terjadi?


Mo Jingtian yang menyadari hal ini akhirnya mengerutkan kening. “Apa dia datang sekarang?”


“Bagaimana mungkin bawahanku bisa terluka seperti ini?” Sebuah suara datang dari arah jauh. Cahaya berwarna putih bergerak secara perlahan hingga akhirnya tiba tidak jauh dari posisi Mo Jingtian. Cahaya itu perlahan membentuk sosok seorang pria dengan penampilan paruh baya. Aura yang keluar dari tubuhnya mungkin sudah ditekan, tetapi orang lain masih bisa merasakannya.

__ADS_1


Ketika melihat siapa pria itu, peri jamur dan Xie Ying Fei langsung bergidik ngeri. Mereka mengetahui siapa itu. Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak mengetahui Dewa Alkimia?!


__ADS_2