Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Perubahan Padang Pasir


__ADS_3

Qing Yue'er melihat bagaimana seorang pria tua yang katanya merupakan seorang tabib sedang mencoba mengobati luka bakar. Itu terlihat sangat lambat dan pasti akan lama. Qing Yue'er merasa tidak sabar. Akhirnya dia segera maju ke depan menyingkirkan orang-orang.


“Hei! Apa yang akan kau lakukan?!” teriak seseorang.


“Minggir, minggir. Maaf, tapi kau terlalu lama. Biarkan aku yang menyembuhkannya,” ucap Qing Yue'er setelah tiba di depan pria yang terluka. Tindakan itu tentu saja menghasilkan kecaman dari orang yang ada di sana.


“Benar-benar gadis yang tidak memiliki sopan santun!”


Qing Yue'er tidak peduli. Dia segera mengambil air Yin Yang dan menyiramkannya di atas luka. Pria yang nyaris tak sadarkan diri itu langsung meringis. Orang-orang berpikir itu tidak akan berhasil. Namun, tak selang lama setelah itu luka bakar yang awalnya terlihat menakutkan sekarang sudah tampak membaik.


“Air apa itu?”


“Apakah itu ramuan obat rahasia?”


Orang-orang menjadi penasaran. Namun, setelah beberapa saat mereka mulai mencium aura dari air tersebut. Mereka dibuat terkejut setelah menyadari gadis yang tampak ‘biasa saja dan tidak menarik’ itu ternyata memiliki sebotol air Yin Yang yang dibuang secara cuma-cuma.


Timbul pertanyaan di dalam benak mereka. ‘Apakah gadis itu sebenarnya tidak semiskin yang terlihat?’


Mengesampingkan apa yang orang-orang pikirkan, pria yang terluka itu merasa sangat senang dan penuh syukur. Biasanya orang yang menderita hal yang sama seperti dia akan mengalami masa penyembuhan yang lama. Namun, berkat air Yin Yang sekarang lukanya sudah mulai membaik.


“Nona, terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas bantuanmu,” ujar pria itu, lalu bersiap berdiri untuk membungkuk pada Qing Yue'er. Namun, gadis itu langsung menahannya.


“Ah, kau tidak perlu melakukan itu. Aku hanya ingin tahu saja, sebenarnya ada apa di sini? Kenapa setelah melihat kau terluka mereka langsung bergegas membawamu ke belakang dengan resah?” Mereka yang dimaksud adalah pelayan-pelayan kedai.


Pria yang bernama Wang Yuhao itu menatap ragu sebentar. Dia tampak sedang menimbang apakah harus memberi tahu atau tidak. “Jika kau tidak mau memberi tahu maka aku akan pergi sekarang,” ucap Qing Yue'er.


“Tunggu sebentar! Memangnya Nona ini ingin pergi ke mana?”


“Padang pasir itu,” jawab Qing Yue'er.


Para pelayan segera menggelengkan kepala. “Nona, lebih baik jangan pergi ke sana. Itu adalah saran yang baik dari kami.”

__ADS_1


Qing Yue'er mengangkat sudut alisnya. “Kenapa?”


“Sebenarnya Tuan Wang ini baru kembali dari sana. Dia bisa menceritakan apa yang terjadi.”


Wang Yuhao akhirnya mengangguk. Akhirnya dia siap menceritakan semuanya. Dia menatap Qing Yue'er dengan serius, lalu mulai berkata, “Akhir-akhir ini ada banyak hal yang sedikit aneh di sana.”


“Hal aneh seperti apa?”


“Padang pasir ini merupakan tempat yang biasa dilalui oleh kultivator untuk pergi ke pegunungan Jingcai. Itu gunung yang katanya dihuni oleh seorang Abadi,” Wang Yuhao menjelaskan.


“Dihuni oleh Abadi?” Qing Yue'er merasa tertarik. Dia baru mendengar tentang hal ini. “Lalu?”


Wang Yuhao mengangguk. “Jika seseorang berkultivasi di sana maka ada kemungkinan terobosan. Itu hanya berlaku untuk orang-orang yang memiliki hati nurani. Jika memiliki niat buruk maka hanya malapetaka yang didapatkan.”


“Kalai begitu lukamu ini ....” Qing Yue'er merasa tidak nyaman untuk mengatakannya.


“Ah, tidak.” Wang Yuhao langsung membantah. Pasti yang dimaksud oleh Qing Yue'er adalah luka-lukanya ini merupakan malapetaka dari gunung Jingcai. Namun, bukan itu yang terjadi.


“Semenakutkan itu?” Qing Yue'er merasa terkejut setelah mendengar ini. Jadi masalahnya ada di padang pasirnya. Apakah ini dikendalikan oleh sesuatu atau mungkin ini tempat yang alami seperti Laut Tulang Darah?


“Itu sebabnya aku tidak ingin kau datang ke sana,” ujar Wang Yuhao.


“Lalu apa kau melihat hal lain? Makhluk lain, misalnya iblis atau yang lain?” Qing Yue'er bertanya.


“Tidak. Aku tidak melihatnya, tapi aku takut kalau penglihatanku yang tidak mampu untuk melihat itu semua.”


Qing Yue'er akhirnya mengangguk mengerti. “Ini bukan yang pertama, kan?” Dia menatap para pelayan dan mereka semua mengangguk mengiakan. “Baiklah. Terima kasih atas informasinya,” ucap Qing Yue'er.


“Jadi kau tidak akan pergi ke sana, kan?” tanya Wang Yuhao.


“Tentu saja ... aku akan tetap pergi.” Qing Yue'er tersenyum, lalu dia segera pergi meninggalkan mereka yang masih terkejut mendengar jawabannya.

__ADS_1


“Dia benar-benar masih akan pergi? Bukankah itu benar-benar mencari kematian?”


Wang Yuhao menghela napas. Apa pun itu, dia tidak akan ikut campur. Lagi pula dia sudah mengatakan yang seharusnya dikatakan. “Lebih baik kalian pergi berikan dia pelayanan yang baik,” katanya. Para pelayan kedai setuju dan mereka pun langsung kembali pada pekerjaan masing-masing.


***


“Jingtian, Jingtian, aku baru saja mendengar hal yang menarik,” tutur Qing Yue'er setelah tiba di sebelah Mo Jingtian.


“Apa itu?”


“Orang itu ternyata terluka di padang pasir. Suhu udara yang meningkat drastis sudah membuat kulitnya terbakar. Tidak terbayangkan bagaimana panasnya pasir itu.”


Mo Jingtian tidak tampak terkejut. Dia hanya mendengarkan Qing Yue'er dengan penuh perhatian. “Apakah ini hal yang sama atau berbeda dengan Laut Tulang Darah? Bukankah ini sama-sama berbahaya?” tanya Qing Yue'er.


“Jika perubahan itu terjadi baru-baru ini, maka ada faktor lain atau sesuatu yang sudah memengaruhinya. Berbeda dengan Laut Tulang Darah, tempat itu memang berbahaya, tetapi dari dulu masih sama seperti itu.”


Qing Yue'er menggosok hidungnya. “Dia bilang semua ini terjadi selama beberapa saat terakhir. Bukankah itu berarti ada faktor lain? Mungkinkah ini perbuatan iblis?”


“Kita akan tahu nanti,” ucap Mo Jingtian. Pada saat itu beberapa pelayan datang dan menyajikan beberapa hidangan padahal Qing Yue'er tidak memesan apa pun sebelumnya.


“Nona, Tuan, terimalah salam hangat dari kami.” Mereka membungkuk pada Qing Yue'er dan Mo Jingtian. Sepertinya sekarang mereka sudah memutuskan untuk menjalin hubungan baik.


“Ah, terima kasih.” Qing Yue'er tersenyum senang. Setelah pelayan itu pergi, dia langsung mengamati hidangan dengan teliti. Dia dikejutkan dengan semuanya. Ternyata hal yang dihidangkan di sini bukan semata-mata hanya makanan biasa. Hidangan-hidangan itu mengandung energi spiritual yang cukup banyak.


“Wah, luar biasa,” Qing Yue'er menyanjung. Setelah itu dia pun langsung memasukkan mereka ke dalam mulut.


Mo Jingtian tersenyum tipis melihat tingkah Qing Yue'er. Meskipun gadis itu sudah menjadi orang yang memiliki kekuatan tinggi, ternyata itu tidak bisa mengubah fakta bahwa dia memiliki selera makan yang cukup besar.


Beberapa orang tidak menyukai makan karena makan dianggap sebagai hal yang sia-sia. Mereka tidak akan mati meskipun tidak makan selama beberapa tahun. Namun, Qing Yue'er tidak sama seperti mereka. Gadis itu masih menyukai makan.


“Setelah ini kita akan segera berangkat,” kata Qing Yue'er, ia menenggak anggur yang tersedia dan merasa segar setelahnya. Mo Jingtian pun mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2