Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 100 Arya Cemburu?


__ADS_3

Suara burung dan ayam berbunyi pertanda pagi sudah menjelang. Sejak Kuswan pensiun, dia senang sekali mengoleksi burung dan bahkan beternak ayam. Kalau Inggit menggunakan bagian pekarangan rumah untuk berkebun, maka Kuswan menggunakannya untuk membuat kolam dan kandang ayam. Untuk burung, ia sengaja menggantungnya di dekat gudang belakang.


Jaraknya tidak terlalu jauh dari balkon kamar Dinda dan Arya. Sehingga, jika mereka tidak menutup balkonnya, maka suara - suara unggas itu akan masuk ke dalam kamar. Begitulah pemandangan hari ini, Dinda terbangun mendengar suara - suara unggas itu. Sedangkan Arya masih setia terlelap sambil menggamit erat pinggang Dinda.


Dinda memandangi wajah Arya. Meski sudah sering terbangun di sebelah pria itu, tetapi ini pertama kali dia memandangnya se-intens ini. Wajahnya sangat halus untuk ukuran pria meski warna kulit Arya sedikit tanning. Tapi, Dinda menyukainya.


Dinda memberanikan diri untuk menyentuh wajah pria itu. Saat jari Dinda sedang mencoba memegang bibir Arya, pria itu bangun dan berpura - pura ingin menggigit jarinya. Dinda terkejut dan berteriak.


“Jangaan mas Arya… haha.. Ih.. nakal banget, jangan pegang - pegang disitu, geli.”, ujar Dinda saat tangan Arya sudah menggelitik tubuhnya.


“Sebaiknya mas Arya melepaskan aku karena sudah saatnya untuk bangun.”, ujar Dinda lagi saat pria itu sudah menghentikan gelitikannya, namun masih tetap menggamit pinggangnya erat.


“Kita tidur sebentar lagi. Masih shubuh banget, Din.”, ujar Arya sambil memberikan kecupan singkat pada Dinda.


“Justru itu, seharusnya kita bangun.”, kata Dinda lagi.


“Aku lebih tertarik untuk memberikan tanda ini di leher kamu.”, Arya mengincar leher Dinda dan dia memberikan kissmark disana.


Dinda sudah tidak bisa melawan dan dia memutuskan untuk membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.


“Mas Arya, aku boleh tanya?”, Dinda memberanikan diri untuk membuka pembicaraan setelah Arya selesai dengan semua kissmark yang dia berikan.


“Hm?”, balas Arya lemah dengan suara baritone-nya.


Pria itu masih enggan bangun dari tidurnya dan masih setia meletakkan tangannya di pinggang Dinda.


“Mas Arya kenapa?”, Tanya Dinda.


“Hm? Memangnya saya kenapa?”, bukannya menjawab, Arya malah balik bertanya.


Kali ini dia menurunkan tangannya dari pinggang Dinda dan duduk. Dinda mengambil outer gaun tidurnya dan bangun dan duduk di kasur.


“Mas Arya tidak seperti biasanya. Sebelumnya, waktu mas Arya pulang dalam keadaan mabuk karena meeting dengan klien, aku masih menahan diri untuk bertanya. Tapi tadi malam, aku merasakan hal yang sama dari mas Arya. Mas Arya tetap tidak mau cerita?”, tanya Dinda menghadap ke arah Arya.


Tapi pria itu tak bergeming sama sekali. Dia hanya menatap ke balkon. Saat Dinda melihat Arya hendak bangun tanpa menjawab pertanyaannya, Dinda mengangkat tubuhnya dan duduk dipangkuan Arya, menghadap dan mendekatkan wajahnya. Entah dari mana dia mendapatkan keberanian ini.


Arya, tentu saja dia terkejut, tetapi bukan Arya namanya kalau tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia menatap Dinda yang pagi itu terlihat sangat seksi menurutnya.


“Hm.. kamu sudah mulai berani sekarang, ya? Atau kita tidak usah ke kantor saja hari ini?”, tanya Arya mencium bibir gadis itu singkat.


“Ih.. jangan sentuh - sentuh, mas Arya. jawab dulu pertanyaan aku.”, kata Dinda.


Seolah tidak mendengarkan perkataan gadis itu sama sekali, Arya terus menghujaninya dengan ciuman.


“Kenapa kamu cat rambut kamu jadi pirang?”, Tanya Arya sambil menyisir rambut Dinda dengan tangannya dan berusaha menegakkan kepala Dinda agar wajah mereka saling berhadapan. .


“Hmm.. bukannya waktu itu aku sudah pernah bilang ya?”, jawab Dinda.


“Kapan?”


“Waktu Pillow Talk?”


“Hm.. mungkin saya terlalu sibuk menyesap aroma kamu jadi saya tidak memperhatikan apa yang kamu katakan.”, jawab Arya.


“Jahat.”


“Loh?”


“Mas Arya tidak memperhatikan saya ngomong.”


“Maaf. Sekarang, kenapa kamu cat rambut kamu jadi pirang? Padahal orang juga tidak akan melihatnya karena kamu mengenakan hijab.”


“Tapi kan mas Arya lihat.”


“Eh? Jadi kamu mengecat rambut kamu saat kita menikah? Sebelumnya tidak?”


“Emm.. saya penasaran bagaimana kalau saya cat rambut jadi pirang.”


“Jadi, hanya karena penasaran? Bukan karena kamu mau menikah lalu cat rambut?”


“Hm.. kesan saya terhadap mas Arya di awal pernikahan membuat saya takut. Jadi saya mau cat rambut, supaya terlihat badass dan mas Arya tidak semena - mena dengan saya.”, jawab Dinda jujur.

__ADS_1


“Nyatanya? Kamu berhasil terlihat badass?”, tanya Arya pelan sambil memegang bibir Dinda dengan jari tangannya.


Dinda menggeleng dan Arya meresponnya dengan senyuman lalu lanjut mencium bibir Dinda lagi. Kecupan yang dalam dan lama.


“Jadi, kita mau cuti saja hari ini?”, tanya Arya setelah melepaskan ciumannya.


Bukan basa - basi atau sekedar menggoda, tapi Arya bersungguh - sungguh pada perkataannya. ‘Bagaimana kalau hari ini dia menghabiskan waktu dengan Dinda saja.’, begitu pikirnya.


“Kalau mas Arya gak mau jawab pertanyaan aku, jangan harap bisa cium - cium aku. Skinship dilarang sampai mas Arya mau cerita.”, Dinda mengancam dengan ekspresi wajahnya yang imut.


“Barusan dicium juga langsung luluh.”, goda Arya.


Rambut Dinda yang pirang masih acak - acakan. Bahu sebelah kanannya terekspos karena outer yang dia gunakan turun ke lengannya. Arya tak menyia - nyiakan kesempatan itu dan langsung mencium bahu itu  dalam.


“Ih.. kan aku bilang dilarang cium - cium sampai mas Arya mau cerita. Kalau begitu mas Arya kena denda, satu ciuman 100ribu.”, ujar Dinda.


“Hahaha murah sekali. Saya bayar sekarang dan kamu gak usah ke kantor, ya?”, ujar Arya.


“Ah.. kalau begitu 1 juta. Kan hari ini gajian dan mas Arya menjabat dua divisi sekaligus, pasti gajinya besar.”


“Aku transfer sekarang. Dua puluh juta? Berarti 20 ciuman? Kamu kuat menerima semuanya?”, tanya Arya dengan gentle dan suara berat.


“Ih.. mas Arya mesum. Aku mau mandi aja.”, ujar Dinda akhirnya meninggalkan Arya di kasur.


“Beneran Din. Aku kasih kamu pin aku, kamu bisa transfer sendiri.”, ujar Arya masih terus menggoda Dinda.


“Mas Arya curang.”, teriak Dinda dari samping ruang pakaian.


“Loh kok curang. Kan aku bilang mau bayar. Bahkan aku kasih kamu ATMnya, biar kamu ambil transfer sendiri.”


“Pokoknya mas Arya curang. Kepala divisi vs Intern, mana seimbang?”


“Loh kok main posisi sekarang? Perjanjiannya kan kalau cium kamu, bayar 1 juta. Nah saya bayar nih kamu 20 juta. Kok malah dibilang curang.”


Iya  kan saya gak tahu kalo gaji mas Arya ternyata banyak.”


“Hahahaha”, Arya tertawa lepas. Dia dibuat garuk - garuk kepala dengan sikap Dinda yang kelewat polos.


Arya menatap Dinda dalam dari ranjangnya. Berbagai pikiran masuk ke dalam otaknya.


******


Suasana di kantor pagi ini begitu cerah. Senyum para karyawan sumringah sambil melihat ponsel mereka. Payday atau hari gajian yang ditunggu - tunggu sudah tiba. Bersamaan dengan pengumuman team building ke Lombok yang sudah semakin dekat dan budget per orang yang sudah diumumkan.


Semua surga dunia bagi para pencari cuan kantoran datang di hari bersamaan. Plus, tidak banyak meeting berat di divisi Digital and Development membuat Dinda dan yang lain sudah berdiskusi merencanakan untuk makan di luar.


Jam 11 pagi menjelang siang biasanya masih menjadi jam - jam sibuk buat mereka. Tetapi khusus hari ini tidak untuk team Digital and Development. Sepertinya hanya Erick dan Rini yang masih berkutat dengan laptop sementara yang lain sibuk mencari tempat makan baru.


“Sini Din, kamu setuju gak kalau makan yang ini?”, tanya Delina pada Dinda.


Suci dan Andra sudah bergabung di meja tengah mencari restoran terbaru dan reviewnya dari laptop milik Suci. Suci dan Delina duduk. Berhubung meja tengah dan meja Dinda dekat, Dinda hanya perlu menggeser kursinya mendekat.


Sementara yang lain, Andra, Fas, dan Bryan yang baru datang berdiri di belakangnya. Bryan memilih untuk berdiri di sebelah Dinda, Andra yang melihat itu ikut berdiri di sebelah Delina agar bisa lebih dekat dengan Dinda yang ikut melihat daftar restoran yang dilihat Suci.


Tak lama, Arya terlihat berjalan mendekati divisi mereka dari kejauhan. Namun rupanya, hanya Bryan yang melihat itu sementara yang lain sibuk melihat restoran. Mereka benar - benar All-Out sampai melihat review, menu, dan harga resto satu per-satu.


Arya menatap tajam ke arah tempat duduk Dinda. Gadis itu dikelilingi oleh Bryan, Andra, dan satu orang lagi yang tidak dia kenal. Meski disekitarnya juga ada Suci, Delina, dan Fas yang notabene wanita, tetapi Arya malah fokus pada jarak antara Bryan yang malah semakin dekat dengan Dinda.


‘Apa - apaan mereka? Apa tidak panas berdekatan seperti itu? Aneh.’


“Hei Arya, Ah.. Pak Arya. Sebentar, masih ada satu email setelah itu kita makan.”, teriakan Erick yang sudah menyapa Arya sukses membuyarkan perhatian yang lain. Suci, Andra, semuanya terkejut dan menoleh termasuk Dinda.


Meski tak terkejut seperti yang lain, Dinda tetap kaget pria itu ada di depannya. Sosok Pak Arya di kantor berbeda dengan mas Arya yang dia lihat di rumah.


‘Mas Arya kalau di kantor, pesonanya beda.’, ujar Dinda dalam hati.


‘Eh? Mikir apa sih aku. Ya ampun.. Kenapa belakangan ini aku malah jadi sering muji mas Arya, sih? Dinda, Dinda, Dinda, sadar. Kamu jangan ikutan centil kaya Bianca.’, Dinda mencubit tangannya sendiri supaya dia segera tersadar.


“Dinda, ke ruangan saya. Ada yang mau saya diskusikan.”, perintah Arya yang sontak membuat yang lain terkejut.


‘Hm… bukannya dia janji mau makan siang bersama siang ini. Kenapa dia malah memanggil Dinda? Bukannya dia kesini karena mau turun bersamaku.’, pikir Erick dalam hati. Namun dia tak bisa menyuarakannya.

__ADS_1


Bryan menarik tangannya. Beberapa detik yang lalu, Bryan ingin memegang bahu Dinda namun perintah `Arya membuatnya menarik tangannya kembali. Entah kenapa Bryan merasa Arya mengatakan itu karena dia melihat pergerakan tangan Bryan. Walaubagaimanapun, hanya dia yang mengetahui hubungan Arya dan Dinda (meski dia mengira Arya berkencan dengan Dinda).


“Eh? Ah.. iya Pak.’, Dinda langsung mengambil notes dan pulpennya lalu bangun dan mengikuti arah jalan Arya.


“Memangnya Dinda masih ada pekerjaan di sana ya? Bukannya project nya dia sudah selesai?”, tanya Andra dengan wajah innocentnya.


Bryan hanya menatap kepergian mereka.


“Pak Erick, memangnya Dinda masih belum selesai dengan smart report? Kenapa belakangan dia sering sekali dipanggil langsung oleh pak Arya? Bukannya saya juga ada di project itu?”, Tanya Suci. Meski bermaksud bertanya, tetapi pertanyaan yang dilontarkan Suci malah terlihat seperti protes.


Erick bingung harus menjawab apa dan hanya mengangkat bahunya saja.


Dinda sudah mengikuti Arya dengan patuh. Pria itu terus berjalan menuju ruangannya. Membuka pintu dan membiarkan Dinda masuk. Dinda menutup pintunya begitu dia berada di dalam. Saat dia melayangkan pandangannya, Arya sudah duduk di sofa kantornya. Bukan mejanya.


‘Apa ada yang salah dengan laporan kemarin? Seharusnya semua sudah sesuai. Kenapa Pak Arya masih memanggilku?’, Tanya Dinda.


Dia benar - benar zero idea, kenapa Arya memanggilnya sampai harus mengikuti ke ruangannya.


“Duduk.”, kata Arya pada Dinda.


Dinda tampak ragu, namun dia segera mengikuti perintah Arya untuk duduk di sofa. Lama Dinda menunggu Arya untuk memulai kalimatnya, karena pria itu tidak kunjung membuka pembicaraan mereka.


“Emm..”, Dinda mencoba untuk membuka suara namun Arya keburu mengeluarkan kata - katanya.


“Bagaimana dengan proyeksi karir kamu? Memangnya kamu punya waktu kosong untuk haha hihi dengan rekan setim kamu sementara sudah hampir dua minggu tetapi belum ada perkembangan sama sekali dengan proyeksi karir yang sama minta?”, tanya Arya padanya.


‘Hah?’, begitulah kata pertama yang terlintas di kepalanya setelah mendengarkan kalimat Arya.


“Proyeksi karir? Maaf Pak Arya, tapi itu kan?”


“Kenapa? Kamu berpikir itu sesuatu yang harus dibahas di rumah? Lalu kenapa kamu tidak pernah membahasnya di rumah, sampai saya harus memanggil kamu disini?”


‘Hah?, bukannya dia yang selalu datang padaku menarikku ke ranjang dan membuatku tidak bisa melakukan apa - apa hingga paginya? Apa dia tidak sadar?’, ujar Dinda dalam hati. Tapi dia mengurungkan niat untuk mengatakannya.


“Sekarang, bagaimana perkembangannya? Kamu sudah memikirkannya atau belum? Atau kamu malah sibuk memikirkan apa yang kamu lakukan dengan para pria di divisi kamu itu saat team building di Lombok?”


“Hah?”, kali ini Dinda menyuarakan kebingungannya.


“Kamu bisa gak sih jaga jarak sama pria - pria yang ada di divisi kamu itu?”


“Memangnya mereka pria?”


“Terus mereka apa? Dinosaurus?”, sahut Arya dan sukses membuat Dinda tertawa.


“Mereka hanya rekan kerja di kantor, saya tidak pernah menganggapnya sebagai pria sama sekali.”, ujar Dinda.


“Sebentar, ini di kantor, kenapa kita membahas itu?”, Dinda segera masuk kembali ke mode profesionalnya. Dia terbawa arus pembicaraan Arya sehingga lupa bahwa sekarang dia sedang berada di kantor.


“Eh, tapi kenapa Pak Arya berkata begitu. Saya tidak pernah mendekati siapapun sejak… Pak Arya cemburu?”, entah nyali dari mana, Dinda berani menanyakannya pada Arya, di kantor pula.


“Heh, cemburu? Pokoknya, jaga jarak sama laki - laki di divisi kamu. Mereka semua punya maksud tidak baik. Saya juga laki - laki, jadi saya tahu.”, ujar Arya mengalihkan pembicaraan.


Dinda memicingkan matanya karena dia merasa aneh dengan sikap Arya.


“Termasuk pak Erick?”


“Iya, termasuk Erick. Justru dia yang paling berbahaya. Dan satu lagi. Pemilik cafe di bawah, jangan sekali - sekali dekat - dekat dengan dia lagi.”, perintah Arya.


“Dimas? Sahabat Pak Arya?”


“Siapa bilang dia sahabat saya? Musuh, iya.”, kata Arya dengan penuh penekanan.


“Jadi, Pak Arya meminta saya kesini cuma karena pak Arya cemburu?”, goda Dinda lagi.


“Siapa yang cemburu. Saya cuma melindungi marwah kamu sebagai wanita. Ketiga laki - laki itu, saya sering lihat di club, jadi saya tahu tipe seperti apa mereka.”


“Pak Arya suka sama saya?”


“Udah, saya mau makan di luar sama Erick. Kamu, tetap nempel sama teman perempuan kamu, jangan dekat - dekat tiga bocah kemaren sore itu.”, ujar Arya sambil bangun dari duduknya dan bermaksud untuk keluar ruangan.


Arya terkejut karena begitu dia membuka pintu, Erick sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2