
“Mas Arya, jangan…”, ujar Dinda yang harus rela meladeni skinship dari Arya sejak pagi tadi. Arya terus menciumnya tanpa henti dan menggodanya. Padahal, hari ini adalah hari Senin.
Seharusnya, Dinda sudah bersiap - siap menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya agar bisa sampai kantor tepat waktu. Namun, Arya terus saja menyanderanya di kasur. Bahkan, kini Arya sudah memblokade pergerakannya dengan mengangkat tubuhnya di atas Dinda dan menahannya dengan lengannya.
Pria itu ingin menghujani Dinda dengan beberapa ciuman lagi sebelum dia memulai aktivitasnya hari ini. Dia tahu benar jika minggu ini akan menjadi minggu yang sibuk lagi untuknya.
Arya sudah mendaratkan ciuman - ciuman singkat di bibir Dinda dan beberapa kali di lehernya sebelum pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.
Ibas, adik laki - laki Arya tak biasanya langsung menembus masuk ke kamarnya. Namun, sepertinya anak itu tidak tahu jika kakaknya sudah pulang dan berada di kamar. Alhasil, Ibas cukup syok dengan pemandangan yang dia lihat di depannya. Hal itu karena, pintu kamar Arya langsung mengarah ke ranjang begitu seseorang membukanya.
Selama Arya ke luar kota, Ibas menggunakan kamar Arya untuk menonton siaran televisi karena AC di kamarnya sedang rusak dan baru akan diperbaiki hari ini.
Begitu Ibas membuka pintu, Arya yang masih sibuk dengan aktivitasnya menoleh ke kanan karena dia mendengar suara pintu terbuka. Wajahnya langsung berubah marah karena Ibas telah mengganggu aktivitas paginya.
“Oops, sorry. Aku kira mas Arya belum pulang. Lagian kamarnya kenapa ga di kunci?”, ujar Ibas tanpa rasa bersalah meskipun di mulutnya terucap kata ‘Sorry’. Arya mengambil bantal dan melemparkannya ke arah pintu agar adik laki - lakinya itu segera pergi.
Sedangkan Dinda hanya bisa masuk ke dalam selimut, dan bersembunyi dibalik tubuh kekar milik suaminya.
“Anak itu benar - benar. . Mengganggu saja.”, ujar Arya.
Dinda memanfaatkan Arya yang lengah untuk segera bangkit dari kasur namun usahanya sia - sia karena kedua tangan Arya sudah memblokade pergerakannya. Sedikit saja bergerak, Arya bisa mengetahuinya.
“Mau kemana?”, ujar Arya menatap lekat Dinda.
“Udah ah.. Mas Arya. Hari ini hari Senin, kalau terlambat nanti saya harus bayar denda.”
“Ya udah saya bayarin.”, jawab Arya sekenanya.
“Mas..”, ujar Dinda memohon.
“Kalau begitu cium dulu. Dari tadi perasaan aku aja yang nyium. Kamu engga.”
“Malu ah.”, balas Dinda sambil menutup wajahnya.
“Kok malu sama suami sendiri.”
“Mas Arya aneh.”
“Apanya?”, tanya Arya.
“Gak tahu, bingung.”, jawab Dinda. Jujur, dia merasa bingung dengan tingkah Arya belakangan ini. Dinda senang Arya sudah memperlakukannya dengan baik, tetapi terkadang interaksinya menjadi lebih intens dibandingkan sebelumnya. Dan Dinda belum terbiasa.
“Mau mandi ga? Cium dulu makanya. Atau kamu mau mandi bareng?”, tanya Arya lagi dengan senyuman isengnya.
“Ih apaan sih, makin ngaco deh.”, Dinda memukul dada bidang Arya yang saat itu tidak menggunakan kaos atau piyama sama sekali. Dinda kadang bingung bagaimana pria ini bisa bertahan dengan dinginnya AC.
“Ya udah. Kalo gak mau mandi bareng, cium dulu. Baru setelah itu saya lepaskan kamu.”
Dinda menatap Arya sebentar. Dia merasa tidak adil tetapi dia tidak punya pilihan. Satu - satunya cara agar dia bisa terlepas dari drama pagi ini adalah dengan melakukan perintah suaminya. Akhirnya Dinda mencium Arya. Awalnya, Dinda hanya ingin menciumnya singkat, tetapi pria itu malah mengambil kesempatan dan melakukannya lebih lama.
‘Kalau begini, kenapa dia harus menyuruhku menciumnya lebih dulu.’, ujar Dinda dalam hati.
*****
“Guys, town hall town hall.”, ujar Erick pada rekan se-divisinya.
“Memangnya ada townhall hari ini ya pak Erick? Perasaan tidak ada di kalender.”, ujar Azis bertanya.
“Iya, kayaknya di kalender saya juga tidak muncul.”, Delina juga ikut menyahut.
“Sepertinya ada sedikit kesalahan teknis. Yang jelas hari ini ada town hall ya, jam 10.”, ujar Erick.
Sepertinya ada kesalahan dari sistem dimana beberapa orang tidak mendapatkan undangan untuk townhall kali ini. Bahkan, Arya juga lupa bahwa hari ini dia ada town hall. Beberapa saat yang lalu, Siska menghubungi Arya karena meski jam sudah menunjukkan pukul 9.45, tetapi batang hidung bosnya juga belum terlihat.
“Halo, pak Arya. Pak Arya ada dimana? Hari ini ada town hall. Biasanya pak Arya sampai kantor jam 8 pagi. Sekarang sudah 15 menit lagi mau mulai saya belum melihat pak Arya.”, kata Siska di seberang telepon.
Arya yang sedang menyetir sedikit kaget karena menurutnya hari ini dia tidak ada agenda town hall.
“Serius kamu? Di kalender saya sepertinya tidak ada town hall.”, jawab Arya.
“Sepertinya ada kesalahan di sistem, Pak. Saya tidak tahu errornya di mana, tetapi saya dapat laporan beberapa orang juga tidak menerimanya.”, ujar Siska dengan nada sedikit bergetar karena dia takut sekali disalahkan.
“Ya sudah. Gak masalah. Town hall nya kamu undur 15 menit. Saya masih di perjalanan. Sebentar lagi sampai.”, ujar Arya. Dia lalu menutup teleponnya dan melajukan mobilnya.
“Kenapa mas?”, tanya Dinda di sebelahnya.
“Siska, dia info kalau pagi ini ada town hall. Tetapi saya tidak terima undangannya.”
“Oh? Berarti divisi Digital and Development juga dong mas?”, tanya Dinda ikut panik.
“Tentu saja.”
“Eh? Gimana ini? Kalau saya terlambat, nanti pasti diomelin.”, ujar Dinda.
“Heh.. kamu lupa siapa yang berkemungkinan besar akan mengomel kalau ada yang terlambat? Lupa ya kalau saya kepala divisinya?”, Arya mengingatkan.
__ADS_1
“Ahh.. benar juga. Tapi, kalau saya terlihat terlambat di depan orang lain, mas Arya juga akan memarahi saya kan?”
“Hemm…”
“Kok mikir? Bukannya saya terlambat karena mas Arya bersikap aneh pagi ini?”, protes Dinda.
“Kok aneh. Suami cium istrinya, masa aneh sih?”
“Soalnya, sebelumnya mas Arya gak pernah begitu.”, jawab Dinda mencoba untuk jujur.
“Kita lanjut di rumah ya. Kalau gak kita bisa telat.”, balas Arya berusaha menghindari topik yang ingin dibahas oleh Dinda.
Hampir semua anggota divisi gabungan B&P dan D&D sudah berkumpul di ruang meeting Amerika. Seperti biasanya, semua memasang wajah tegang, terutama mereka yang mengemban posisi manager.
Town hall memang menjadi mimpi buruk setiap bulan bagi mereka. Arya tidak akan segan - segan memanggil mereka ke ruangannya setelah meeting. Mereka bisa kehilangan nafsu makan seharian karena ulah Arya.
“Wajah tim Business and Partners tegang - tegang semua ya.”, ujar Andra berbisik pada Suci dan Delina. Bryan masih tak terlihat padahal biasanya dia datang pagi sekali.
“Seperti biasanya. Kaya kamu gak pernah ikut town hall saja.”, balas Suci.
“Kamu pasti merasa merdeka karena sekarang sudah berada di divisi D&D, kan Ci?”, kata Andra.
“Tetap saja, divisi pak Arya lebih oke dan paling bergengsi.”, balas Suci.
“Huu.. karna divisinya atau karena pak Arya. Udah, Ci. Move on. Dengar - dengar pak Arya sudah punya pacar.”, kata Andra, laki - laki biang gosip di kantor ini mulai beraksi menyebar rumor.
“Dapat gosip dari mana kamu?”, tanya Suci penasaran. Meskipun dia tahu 50% kalimat yang keluar dari mulut Andra adalah bohong, tapi dia tetap ingin tahu.
“Siska dan beberapa manager di Business and Partners.”
“Seperti apa gosipnya?”
“Mau tahu, bayar. Traktir aku di cafe bawah.”
“Heh… kamu ini tahu saja caranya bertransaksi.”
“Tentu saja.”, ujar Andra.
Kemudian suasana di ruangan mendadak berbeda karena orang yang ditunggu - tunggu sudah datang. Arya Pradana, kepala Divisi Business and Partners, merangkap sebagai kepala Divisi Digital and Development (untuk sementara waktu) masuk ke ruangan.
“Good Morning, semuanya.”, ujar Arya menyapa dengan suara bariton yang tegas dan bersemangat.
“Morning.”, jawab semua karyawan yang hadir disana. Suara mereka kalah dari suara bariton Arya. Entah karena penuh ketegangan atau memang mereka sedang tidak bersemangat.
“Good Morning, semuanya.”, Arya mengulanginya lagi.
“Saya minta maaf karena ada kesalahan teknis dalam pengaturan jadwal meeting hari ini. Bahkan, saya juga baru tahu kalau kita ada meeting hari ini…”, ujar Arya. Kalimatnya terpotong karena seseorang baru saja memasuki ruangan.
Siapa lagi kalau bukan Dinda yang memang datang terlambat gara - gara pria yang ada di hadapannya saat ini. Beruntung, Dinda terlambat bersama Bryan yang juga mengintil di belakangnya, dan satu orang lagi Manager salah satu tim di Business dan Partners.
“Wah.. besar juga nyali Dinda datang terlambat di meeting ini.”, ujar Andra sambil berbisik pada Suci dan Delina. Mereka berdiri berdekatan.
“Oke, masuk - masuk. Khusus hari ini, keterlambatan meeting, saya maklumi karena kesalahan yang tadi saya sebutkan.”, ujar Arya pada ketiga karyawan yang baru datang, termasuk Dinda.
Untuk sejam kemudian, Arya melanjutkan meetingnya dengan baik meski tanpa persiapan. Dia menanyai semua Manajer terkait perkembangan project - project mereka. Arya juga mengucapkan terima kasih kepada support dari Digital and Development atas berhasilnya aplikasi smart report yang mereka kembangkan. Sehingga dapat mempermudah tim Bisnis.
*****
“Tumben kamu telat, Bryan.”, tanya Andra.
“Ban mobil kempes. Padahal sudah tanggung. Akhirnya jalan sampai kantor.”
“Luar biasa.”, ujar Andra.
“Aku mau traktir Andra minum kopi di bawah. Pada mau ikut? Delina, Dinda, Bryan, yuk. Tolong WA Fas juga.”, perintah Suci.
Sore hari memang menjadi rutinitas beberapa karyawan yang akan lembur seperti Suci untuk minum kopi di Cafe bawah. Suci lantas membawa Andra karena dia ingin mendengar gosip dari pria itu.
“Aku enggak deh, mba.”, ujar Dinda menolak dengan sopan.
“Kenapa? Hayuk. Kayanya kamu lagi gak banyak kerjaan.”
“Ehmm…”, Dinda bingung cara menolaknya. Suci benar, dia memang tidak banyak pekerjaan hari ini. Project Smart Report sudah selesai. Sebagai intern, Dinda tinggal menunggu project selanjutnya jika ada.
“Udah.. tidak usah merasa gak enak dengan kejadian tempo hari. Yuk.”, ujar Suci berusaha merayu Dinda untuk ikut.
Dinda akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti ajakannya. Mereka segera turun ke bawah dan berencana bertemu Fas yang bekerja di divisi Finance langsung di Cafe. Di perjalanan menuju lift, mereka bertemu dengan Arya yang kemungkinan bersiap - siap untuk meeting.
Semuanya langsung tegang, kecuali Suci. Andra, Bryan, dan Delina sedikit deg - deg-an karena mereka belum terbiasa bekerja dengan bos strict dan tegas seperti Arya. Erick jauh lebih lunak dan friendly. Jadi setiap bertemu, mereka tak bisa mengendalikan jantung yang berdebar karena aura gelap Arya. Suci terlihat santai bahkan tersenyum karena berpapasan dengan Arya adalah momen paling ditunggu untuknya.
Dinda, gadis itu sedikit tegang karena dia takut salah tingkah. Sebelumnya Dinda merasa bisa dengan mudah bersikap biasa di depan Arya saat ada orang lain di kantor. Tetapi, setelah merasakan banyak sekali sikap manis dan skinship pria itu beberapa hari terakhir, Dinda merasa sulit untuk mengendalikan ekspresinya.
Sebelumnya, Arya juga bersikap cuek padanya baik di rumah maupun di kantor. Tetapi, Dinda bisa merasakan Arya sedang menatapnya saat ini.
“Mau meeting ya, pak?”, ujar Suci berusaha bersikap seramah mungkin agar kesalahannya tempo hari bisa Arya lupakan.
__ADS_1
“Hm.”, Arya menjawab singkat.
Suci baru saja ingin mengatakan sesuatu lagi tetapi pintu lift sudah keburu terbuka. Namun, di dalam lift ternyata sudah ada beberapa orang. Arya mempersilahkan yang lain untuk masuk terlebih dahulu.
Suci, Bryan, Andra, dan Delina masuk secara bergantian. Awalnya mereka merasa tidak enak karena masuk lebih dulu dibandingkan Arya. Namun, Arya beralasan bahwa dia hanya turun 2 lantai. Berada di depan akan lebih baik agar dia lebih mudah keluar lift.
Dinda masih termenung di tempatnya padahal yang lain sudah masuk ke dalam lift.
“Dinda! Din?”, panggil Delina.
“Oh?”, Dinda tersadar dari lamunannya. Mendengar namanya dipanggil, Dinda langsung berjalan memasuki lift. Sayangnya, begitu Dinda masuk, sensor lift berbunyi, pertanda lift sudah melebihi kapasitas. Dinda akhirnya refleks keluar dari lift.
“Ya sudah, aku yang selanjutnya aja. Duluan saja, nanti aku menyusul.”, ujar Dinda keluar dari lift. Saat itu, Dinda belum sadar jika Arya belum naik ke dalam lift. Seseorang yang tidak mereka kenal di dalam lift juga langsung menutup pintu lift karena dia merasa tidak sabar sudah menunggu lama. Tinggallah Arya dan Dinda di depan lift menunggu giliran selanjutnya.
“Kamu sengaja biar satu lift sama saya?”, ujar Arya di belakangnya.
“Eh?”, Dinda menoleh ke belakang. Dia baru sadar bahwa selain dirinya, ada Arya yang berdiri disana dan belum naik lift. Dinda juga menoleh ke sekitar dan hanya ada mereka berdua di lorong lift.
“Saya kira tadi pak Arya sudah masuk.”, ujar Dinda.
“Kenapa jadi salah tingkah begitu?”, tanya Arya. Dinda seperti orang blank yang bingung dan jelas hal itu membuat Arya tersenyum.
“Eng-nggak kok.”
“Ya udah, pencet liftnya. Kalau nggak kita berdiri terus loh disini.”, ujar Arya pada Dinda. Karena posisinya, Arya senang sekali memerintah gadis itu kalau di kantor. Label ‘Asisten Pribadi’ belum Arya lepaskan dari Dinda.
“Oh iya.”, ujar Dinda dengan cepat dan menekan tombol lift ke bawah.
“Mau kemana sama mereka?”, tanya Arya.
“Ah… minum kopi di bawah.”, jawab Dinda.
Arya mengangguk. Pintu lift terbuka. Kebetulan sekali, lift yang mereka naiki kosong.
“Mau ke lantai berapa pak?”, tanya Dinda.
Arya tersenyum.
“Satu ciuman.”, kata Arya.
“Eh? Tapi kan sekarang di kantor, Pak.”, protes Dinda. Dia tahu apa yang dimaksud dengan pria itu.
“Tapi hanya ada kamu dan saya. Barusan panggil lagi, berarti dua.”, ujar Arya.
“Pak Arya.”
“Tiga.”
Dinda menghela nafasnya karena sudah tidak bisa membantah pria ini. Tiba - tiba lampu lift mati. Dinda terkejut dan langsung refleks memejamkan matanya dan berteriak takut. Arya dengan santai memeluknya dari belakang dan menghidupkan senter.
“Kamu kelamaan pencet lantainya. Jadinya liftnya mati dan gak aktif. Kita harus tunggu ada orang yang pencet liftnya. Tenang aja.”, ujar Arya.
“Ciumannya di rumah, kok. Gak sekarang, ga usah takut.”, lanjut Arya lagi.
“Jahil.”, ujar Dinda memukul dada bidang Arya. Arya sudah membalikkan posisi gadis itu agar bisa memeluknya dari depan. Arya tersenyum menang karena bisa menjahili gadis itu.
Tak lama lampu lift hidup dan pintu sepertinya akan segera terbuka. Dinda langsung melepas pelukan Arya dan bersikap biasa. Lebih tepatnya mendorongnya. Ternyata lift naik kembali ke lantai atas dan seseorang dari bagian manajemen masuk. Seseorang yang tentunya memiliki level yang lebih tinggi dari Arya.
Karena, begitu melihat orang tersebut, Arya berusaha memperbaiki postur berdirinya dan merapikan jasnya.
“Oh Arya.”, ujar pria itu.
Dinda menekan tombol lantai ground floor karena dia memang mau ke lobi. Dia menoleh ke belakang berusaha menanyakan lantai berapa Arya ingin turun.
“Tolong lantai 4, ya.”, ujar Arya pada Dinda.
Pria dari manajemen tadi sedikit bingung.
“She’s an intern.”, ujar Arya menjawab tatapan pria itu.
“Ahh.. then 6th floor for me, please.”, ujar pria itu pada Dinda.
“Hm. Sure.”, ujar Dinda menekan lantai 6 juga.
“So, I heard you succeed on your project and will be promoted soon. We will no longer need the Head for Digital and Development. You can take over. You can be the Head for both and all the Business and Partners from now on.”, ujar pria itu.
Sejak tiga minggu yang lalu, HRD memang sudah memberikan kabar kepada Arya melalui email bahwa pria itu akan segera dipromosikan menjadi Head untuk semua team Business and Partners plus Digital and Development.
Terdapat 10 team business and partners di dalam perusahaan. Saat ini, Arya hanya membawahi setengahnya yakni 5 tim Business and Partners. Sedangkan 3 tim dan 2 tim lainnya dibawahi oleh kepala divisi berbeda (levelnya masih dibawah Arya).
Sejak kepala divisi Digital and Development (divisi yang baru dibentuk) mengundurkan diri atau lebih tepatnya diberhentikan secara tidak hormat karena indikasi fraud/penipuan, Arya mengemban tanggung jawab double untuk membawahi divisi tersebut.
Berkat kinerjanya yang dinilai sangat baik, manajemen memutuskan untuk mengangkat Arya ke posisi yang lebih tinggi. Lima tim Business and Partners di bawah Arya akan mendapatkan manajer baru yang akan dibawahi oleh Arya langsung, sekaligus kepala Divisi untuk 3 tim dan 2 tim lainnya juga akan dibawahi oleh Arya.
Selain itu, manajemen juga mempertimbangkan untuk menggabungkan divisi Digital and Development ke dalam ranah Arya. Namun, hingga saat ini Arya masih belum memutuskan. Jika Arya menerima posisi tersebut, Dinda tidak akan bisa bekerja lagi di tempatnya sekarang.
__ADS_1
Setiap promosi dilakukan, pengecekan profil dan data pribadi juga akan diperbaharui. Cepat atau lambat, identitas Dinda sebagai istri Arya juga akan ketahuan. Meski tidak akan ada sanksi karena Dinda bergabung setelah mereka menjadi suami istri, tapi tetap saja, Dinda harus berhenti.
“We can discuss about it later.”, Arya memberikan kode pada pria itu untuk mendiskusikannya nanti karena di dalam lift sedang ada bawahannya. Untuk saat ini, Arya tak ingin Dinda mengetahui soal ini. Dia baru saja memperbaiki hubungan mereka dan belum ingin menambah masalah baru.