
“Sorry, pada sedang ada kerjaan ga?”, tanya Delina pada yang lain.
Mendengar pertanyaan dari Delina, beberapa menjawab dengan gelengan pertanda mereka tidak ada pekerjaan yang urgent.
“Aku ada sih, tapi masih lama kok deadlinenya, kenapa?”, jawab Andra. Beberapa lagi ada juga yang mengatakan hal serupa.
“Bisa berkumpul sebentar, ga? Aku ada beberapa pengumuman terkait tim building. Boleh bantu panggilin yang lain?”
Satu per satu karyawan di divisi Digital and Development berkumpul ke bagian tengah. Karena terlalu sempit dan dikhawatirkan menimbulkan gaduh, mereka akhirnya pindah ke ruangan meeting yang masih kosong di sekitar sana.
Melihat semua sudah berkumpul, kecuali Erick dan Rini yang sedang meeting, Delina mulai berbicara.
“Jadi, tim building kita kan lebih kurang tinggal dua mingguan lagi. Setiap divisi, nanti akan dibagi menjadi beberapa tim. Setiap aktivitas yang dilakukan termasuk perlombaan akan mempengaruhi performa tim. Di akhir acara, tim yang paling tinggi poinnya akan mendapatkan hadiah.”, kata Delina menjelaskan dengan rinci.
Delina sudah mendapatkan ACC dari Erick untuk membantunya melaksanakan perintah dari panitia acara tim building untuk melakukan beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaa.
“Oh.. hadiahnya?”
“Timnya berapa orang?”
“Gabung dengan tim Business and Partners, ya?”
“Bos - bos level manager, head gitu ikut ga?”
Satu per satu pertanyaan bermunculan dan membuat Delina sedikit bingung, tapi kemudian dia mencoba tenang dan menjawab satu per satu.
“Timnya terdiri dari 8 orang dan dicampur dari segala level dan divisi. Jadi kita bisa saja satu tim dengan mereka yang ada di divisi Business and Partners.”, jawab Delina.
“Wait wait, berarti kita bisa saja satu tim dengan Pak Arya, dong?”, tanya Suci yang langsung disambut dengan ‘hmmm’ (nada mengejek) pada Suci oleh Andra dan Bryan.
“Syuttt.. “, ujar Suci pada Andra dan Bryan agar mereka tutup mulut.
Tidak semua divisi Digital and Development mengetahui Suci menyukai Arya secara terang - terangan. Hanya teman terdekatnya saja yang duduknya berdekatan seperti Andra, Bryan (meski duduknya agak jauh), Delina, Dinda, Rini, dan Erick karena Rini dan Erick termasuk sering meeting dengan Suci. Suci juga sering menanyakan tentang Arya ke Erick.
“Wah.. habis sudah kalau se-tim dengan pak Arya. Pasti akan canggung banget. Bisa - bisa, kita mendadak tidak bisa menikmati acara tim building.”, celetuk seorang pria di bagian belakang.
“Jangankan itu, kalau se-tim dengan satu aja rekan dari Business and Partners, duh pasti akan canggung banget. Mereka kan selera jokes nya beda. Pada tegang - tegang semua. Apalagi para Manager seperti Bu Ranti dan Pak Gilbert yang galak banget. Wahh… kenapa harus ada kelompok segala, sih.”, tambah satu orang lagi yang protes.
Delina bingung harus menjawab apa karena meskipun dia merupakan karyawan tetap, tetapi posisinya masih junior dibandingkan yang lain. Dia tidak bisa menimpali dengan mudah.
“Tema tim building ini adalah Harmony and Rhythm. Jadi, panitia berharap melalui tim building ini, harmony dan loyalitas kita satu sama lain bisa terasah.”, Delina hanya bisa menjawab sesuai dengan informasi yang diberikan kepadanya oleh panitia.
“Ini adalah form yang harus rekan - rekan isi. Form ini bertujuan untuk mengetahui strong point rekan semua. Ada 4 jenis strong point. Kekuatan, Kecerdasan, Kerajinan, dan Kreativitas. Tim akan dibentuk berdasarkan 4 jenis strong point itu.”, Delina berusaha menjelaskan satu persatu, sambil Dinda membagikan form yang tadi ada di tangan Delina agar prosesnya lebih cepat.
“Setelah mengisi form ini, teman - teman akan dimasukkan ke dalam salah satu dari 4 kategori tadi. Nanti saat membentuk tim, panitia akan mengambil 2 nama secara acak dari 4 kategori tadi. Nah, dari situlah satu tim yang terdiri dari 8 orang akan terbentuk.”, tambah Delina lagi.
“Wah.. kayanya pak Arya punya semua strong point itu. Kira - kira dia bakal masuk mana ya?. Bingung bagaimana caranya agar tidak satu kelompok dengan pak Arya, atau manager - manager lain.”, celetuk seseorang.
“Udah.. lihat keberuntungan masing - masing aja. Kalau kalian kurang beruntung, pasti masuk grupnya Pak Arya.”, jawab orang lain di belakangnya.
“Tapi, kalau masuk ke tim Pak Arya, kemungkinan menangnya pasti lebih besar.”
“Yah.. tergantung hadiahnya juga.”
“Tapi, kalau pak Arya malah satu tim dengan yang lemah - lemah pasti juga kalah.”
“Eh.. tapi kan ini hanya penilaian saja, jadi belum tentu kita selama tim building akan bersama pak Arya terus. Paling juga sewaktu perlombaan saja.”
Satu per satu karyawan mengeluarkan pikirannya masing - masing sambil mengisi form.
Delina membiarkan semua orang mengisi 8 pertanyaan yang tersedia. Pertanyaannya sangat sederhana dan bisa dijawab kurang dari 5 menit. Sehingga, tidak butuh waktu lama, Delina sudah bisa mengumpulkan semua kertas.
“Kenapa gak online aja sih? Jadul banget metodenya.”
“Haha.. kurang tahu mas. Silahkan tanya ke panitia.”, jawab Delina sudah malas meladeni pertanyaan - pertanyaan yang lain.
“Terima kasih. Nanti grup akan diumumkan oleh panitia ke email masing - masing. Setiap tim akan mendapatkan label di t-shirt yang dibuat khusus untuk tim building ini.”
“Del, nanya dong. Misal, ternyata banyak yang strong pointnya mengarah ke kekuatan, trus bagi timnya gimana?”
“Hm.. itu nanti urusan panitia. Katanya sih, tetap akan dibagi rata. Teknisnya, maaf mba, saya kurang tahu.”, jawab Delina menyudahi tugasnya yang berat hari ini.
‘Coba saja yang bagiin formnya dan menjelaskan teknisnya pak Erick atau mba Rini, pasti gak akan ada yang berani tanya.’, gerutu Delina dalam hati.
Semua keluar dari ruang meeting, kecuali Andra, Bryan, Suci, Delina, dan Dinda. Mereka masih terus mengobrol di dalam ruangan.
“Kamu tadi ngapain ke ruang meeting Din?”, tanya Suci.
Dari tadi dia menahan diri untuk tidak bertanya, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk tetap menanyakannya.
“Oh, kamu kan tadi dipanggil mba Rini, ya. Udah jadi disamperin, Din?”, alih - alih Dinda yang menjawab, Delina malah bersuara duluan sambil menghitung jumlah form.
“Iya, udah mba. Tadi mba Rini panggil untuk kasih dokumen yang kemaren, minta di fotokopi juga. Ya biasalah buat meeting, mba.”, jawab Dinda dengan nada santai ke Suci.
__ADS_1
“Terus kenapa pake cari perhatian pak Arya segala?”, tidak seperti baisanya, Suci tiba - tiba berbicara sedikit nge-gas.
“Eh? Cari perhatian ke Pak Arya? Maksud mba Suci?”, Dinda sampai kehabisan kata - kata mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Suci.
“Ya.. kamu pake nabrak - nabrak dia segala, ampe kaya di drama - drama gitu. Kamu sengaja ya? Jangan - jangan selama ini kamu juga suka lagi sama Pak Arya.”, tanya Suci menyudutkan.
Andra dan Bryan melihat Suci dengan tatapan bingung.
“Hahaha.. Gak tahu mba, tadi tiba - tiba aja. Aku juga gak tahu bahkan kalau di meeting itu ada Pak Arya, dia kaya jalan dari arah berlawanan, trus tahu - tahu nabrak.”, jawab Dinda mengatakan yang sesungguhnya. Meski nada bicara Suci terdengaar menantang, tapi Dinda berusaha menjawab dengan santai.
‘Kenapa aku harus menjelaskan hal ini, sih. Okee sih mba Suci suka sama mas Arya. Tapi masa sudah sampai seperti ini. Seolah - olah aku habis menggoda pacarnya saja.’, Dinda hanya bisa protes di dalam hati.
“Yaelah.. Ci. Kamu tuh udah punya pacar, euy. Masih aja obses sama Pak Arya. Biasa kali Dinda nabrak orang yang kebetulan itu, Pak Arya. Lagian, memang Pak Arya siapanya kamu sih. Pacar bukan, laki juga bukan. Posesif amat.”, kali ini Bryan pasang badan membela Dinda.
“Ya udah, nanti kamu sogok aja si Siska, biar kamu bisa satu tim sama Pak Arya di saat tim building. Nanti kita lihat, dia tertarik ga sama kamu. Kalo engga, harusnya kamu ga usah berlebihan kaya gini.”, Andra mengeluarkan ide gilanya.
“Ide bagus.”, ujar Suci pada Andra.
Tentu saja respon itu membuat yang lain bengong termasuk Dinda. Mereka semua tahu perkataan Andra hanya lelucon dan Suci malah mengiyakan.
‘Apa - apaan sih mba Suci ini.’, tanpa sadar, Dinda jadi kesal sendiri.
Pembicaraan tentang pak Arya selesai, dan mereka lanjut mengobrol hal lain. Ketegangan perlahan meluntur karena cerita dari Andra sangat - sangat lucu. Mereka memutuskan untuk keluar dari ruang meeting karena sepertinya sudah waktunya pak Erick kembali.
Delina dan Suci keluar terlebih dahulu. Suci masih mencoba untuk membicarakan rencananya tadi menyogok Siska, sekretaris Arya agar dia bisa satu kelompok dengan pria itu.
Bryan, Dinda, dan Andra keluar belakangan karena mereka merapikan ruang meeting terlebih dahulu. Saat ketiganya keluar sambil tertawa karena ada yang bahasan lucu lainnya yang sedang dibicarakan, Erick dan Arya datang dari sisi sebelah kiri.
Saat itu, Dinda tidak sadar kalau Bryan sedang membersihkan beberapa potongan kertas yang entah datang dari mana di jilbab Dinda sehingga keduanya jadi sangat dekat. Andra juga masih berada di jarak yang tidak terlalu jauh dan masih tertawa bersama Dinda karena cerita lucu tadi masih terus dilanjutkan.
Arya yang melihat itu langsung panas. Meski dari luar dia terlihat tenang, tetapi dia tidak senang dengan interaksi mereka. Karena Delina dan Suci sudah keluar lebih dulu dan Arya tidak melihat itu, dia kira Bryan, Andra, dan Dinda, hanya mereka bertiga di ruang meeting itu.
Dinda masih tidak menyadari keberadaan Arya dan langsung mengambil duduk sementara Andra belok ke arah kanan karena ingin ke toilet. Hanya Bryan yang menyadari tatapan tidak suka dari Arya meski hanya sekilas.
‘Gila.. apa dia baru saja marah karena aku mengambil potongan kertas di baju dan jilbab Dinda. Aku bahkan tidak menyentuhnya, kenapa tatapannya bisa mematikan begitu.’, ucap Bryan dalam hati dan langsung kembali ke tempat duduknya yang berada agak jauh di depan kaca transparant.
‘Bagaimana jika aku mendekati Dinda, dia mungkin akan membunuhku. Hm.. tapi..menarik juga.’, ucap Bryan dalam hati.
“Erick, jangan lupa laporan analisa yang untuk klien di Bangkok, kamu kirim ke saya besok, ya.”, ucap Arya tegas dengan suara baritonnya.
Meski dia sedang berbicara dengan Erick, tetapi tatapannya mengarah pada Dinda. Lagi - lagi Suci menangkap momen itu meskipun hanya sebentar. Dinda, dia sudah menatap layar komputernya. Meski dia baru saja mendengar suara Arya, tapi dia memutuskan untuk tidak menoleh ke belakang.
‘Sebenarnya ada apa sih dengan pak Arya. Kenapa aku terus merasa dia itu suka dengan Dinda, ya. Ah gak mungkin, pria berkelas seperti pak Arya suka sama anak intern kemaren sore. Yaa.. walaupun aku akui Dinda itu cantik, tapi kan dia jadul, polos, gak seksi, gak ada seru - serunya juga buat cowok. Aku dengar mantan istrinya luar biasa seksi dan berkelas. Gak mungkin sekarang dia turun level jadi sama si Dinda.’, pikir Suci dalam hati.
‘Dua cecunguk itu. Kenapa sih nempel terus sama Dinda. Apalagi yang tinggi putih itu, sepertinya dia tahu sesuatu. Tatapannya juga membuatku kesal. Huh.. si Erick merhatiin ga sih. Kenapa dia tidak melakukan tugasnya dengan baik.!’, Arya langsung mendengus kesal begitu sampai di ruangannya.
Bahkan, tanpa dia sadari, Arya sudah membanting pintu dan membuat kaget beberapa orang yang berada dekat dengan ruangannya, termasuk Siska.
“Si Bos lagi kenapa Sis?”, tanya seorang laki - laki yang merupakan anggota tim Pak Gilbert.
“Gak tahu. Perasaan tadi moodnya masih baik - baik saja.”, ucap Siska sambil mengangkat bahunya.
“Aduh.. mana Pak Gilbert izin cuti setengah hari lagi. Kan saya yang harus presentasi di meeting nanti. Aduh kalau di banting dokumen sama Pak Arya, gimana ya.”, pria itu sangat cemas karena Arya sangat killer dan galak.
Meski usianya masih relatif muda untuk orang yang mengemban posisi sepertinya, tapi Arya tidak pandang buluh. Dia tak memandang bawahan dengan faktor usia. Selama mereka bisa memberikan kontribusi dan performance yang bagus, Arya juga akan memberikan perlakuan yang setara.
“Ahh.. mana panitia aneh lagi, masa tim building ada acara di bagi per grup segala. Gak kebayang deh tegangnya orang yang satu tim dengan pak Arya. Bisa - bisa langsung pura - pura sakit.”, ujar pria di sebelahnya.
“Grupnya dibagi setelah sampai sana. Jadi, mau gak mau semua harus datang.”, balas Siska.
“Panitia rese ya. Pada mau ngerjain orang.”, imbuhnya lagi.
Siska hanya tersenyum. Dalam hati sebenarnya dia berharap satu grup dengan Pak Arya. Ya.. walaupun dia galak, tapi kan lumayan bisa menikmati wajahnya yang tampan saat tim building nanti. Kali aja, bisa dapat foto berdua. Begitu kira - kira yang ada di pikiran Siska.
Sementara di ruangan Arya.
Pria itu melempar dokumen sekenanya ke atas mejanya. Dia meregangkan dan melepas dasinya. Hari ini dia ada meeting di luar, sehingga pakaiannya lebih formal dari biasanya.
Arya membaca email yang baru masuk ke mailboxnya. Email dari HRD yang mengumumkan bahwa Arya sudah naik jabatan dan memeganG ke sepuluh tim yang ada di Business and Partners. Hal ini sudah akan berlaku mulai awal bulan depan.
Sesuai dengan diskusi sebelumnya bersama Manajemen, Arya akan memegang semua tim sebagai Senior Head of Business and Partners. Untuk sementara dia juga masih memegang tim Digital and Development. Arya sudah menolak penawaran double jabatan dan manajemen mau tidak mau harus menyetujuinya karena Arya adalah aset paling berharga untuk perusahaan.
Menurut kabar angin yang Arya dengar, sepertinya akan ada kabar baik tentang kepala divisi yang baru untuk tim Digital and Development. Meskipun Arya masih belum mengetahui bagaimana informasi pastinya. Jika semua berjalan dengan lancar, Arya bisa lebih leluasa dan Dinda tetap bisa bekerja di divisi yang sekarang.
Ting Tong. Ponsel Arya berbunyi. Tanda pesan masuk dari seseorang.
Arya membuka ponselnya dan terkejut karena menerima pesan dari Arga, adik Dinda.
From: Arga (Adik Ipar)
Mas Arya, cowok, senior kampus yang waktu itu mendekati mba Dinda coba menghubungi aku lagi. Dia minta nomor mba Dinda.
Arya sudah memberikan pesan pada Arga tempo hari, bahwa jika senior Dinda mencoba menghubunginya kembali, Arga harus menyampaikan padanya.
__ADS_1
Baru saja Arya panas karena Andra dan Bryan, sekarang dia harus panas lagi karena senior Dinda.
Arya memutuskan untuk menghubungi ponsel Arga supaya dia bisa berbicara langsung.
“Halo, Arga?”, sapa Arya begitu sambungan teleponnya terhubung.
“Iya mas. Oh, Arga kira mas Arya sedang di kantor.”
“Iya lagi di kantor. Makasih infonya. Kamu tolong kirimkan nomor laki - laki itu ke mas, ya.”, perintah Arya.
“Eh?”, Arga langsung bingung. Dia jadi penasaran dan sedikit takut, kenapa Arya malah meminta nomor pria itu.
“Kamu kirim nomornya ke mas. Biar mas yang bicara langsung ke dia.”, jawab Arya.
“Bicara apa mas?”
“Kamu kasih aja.”
“Hm. Baik mas.”, jawab Arga. Dia tidak punya pilihan lain selain memberikan nomor itu. Tiba - tiba Arga sedikit menyesal mengatakan hal ini.
‘Ah.. ga mungkin lah mas Arya berbuat yang aneh - aneh dengan pria ini. Dia kan hanya mendekati saja, dia juga tidak tahu kalau mba Dinda sudah menikah.’, Arga mencoba menenangkan diirnya.
Ting tong.
Nomor laki - laki yang dikatakan Arga tadi sudah berhasil masuk ke ponsel Arya. Tanpa berpikir panjang, Arya langsung menghubungi pria itu. Tapi, notifikasi untuk mengikuti meeting selanjutnya sudah keburu muncul di layar laptop Arya.
Arya memutuskan untuk mematikan lagi sambungan teleponnya yang memang belum terhubung.
*****
Jam pulang kantor sudah lewat. Beberapa orang sudah mulai keluar satu per satu. Sebagian masih setia berada di depan laptopnya karena ada deadline yang harus mereka kerjakan. Dinda, dia memeriksa ponselnya berkali - kali tetapi belum ada pesan dari Arya.
Biasanya jika Arya tidak memberikan kabar di jam - jam segini, Dinda akan inisitatif bertanya pada Arya apakah mereka akan pulang bersama. Tetapi, karena insiden pagi ini, Dinda masih merasa marah dan enggan mengirimkan pesan itu.
Dia coba menunggu 30 menit, tapi belum juga ada pesan dari Arya.
“Din, kamu belum mau balik?”, tanya Delina yang sudah bersiap - siap.
“Oh? Iya, ini mau balik.”, jawab Dinda.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja dengan menggunkaan ojek online. Toh Arya tidak memberikan kabar.
“Kamu pulang naik apa?”, tanya Delina.
“Ojek online aja. Nanti begitu sampai lobi aku akan pesan.”
“Eh.. bareng aku aja yuk. Hari ini aku bawa mobil.”, ajak Delina.
“Oh?”
“Rumah kamu dimana? Kayanya dulu pernah bilang ya, aku lupa deh”
“Em… daerah Z, mba.”, Dinda terpaksa harus menyebutkan alamat rumah Bundanya karena tidak mungkin dia mengatakan alamat rumah Arya.
“Oh.. tapi aku mau singgah ke daerah ***** juga. Ada mall di sekitar situ yang punya butik bagus - bagus.”\, Dinda mencoba mengarahkan ke Mall yang berada di dekat perumahan Arya agar dia tidak memutar terlalu jauh.
“Hm.. boleh - boleh. Walaupun sedikit memutar, gapapa. Lagian, aku sepertinya belum pernah pulang bareng kamu. Yaudah yuk ke parkiran. Mobil aku parkir di basement 2.”, ujar Delina.
Dinda akhirnya mengikuti Delina menuju ke parkiran.
“Cafenya tumben tutup lebih awal.”, celetuk Delina saat melihat sekilas ke Cafe milik Dimas yang sudah bersiap - siap untuk tutup.
“Ah iya. Tumben.”, Dinda hanya menjawab sekenanya karena dia tidak tertarik dengan bahasan itu.
Kring kring kring
Mereka sudah sampai di parkiran basement dua, tempat mobil Delina parkir. Namun, belum sampai ke mobil, ponsel Delina tiba - tiba berbunyi.
“Iya, halo.”, Dinda mengedarkan pandangannya ke arah lain saat Delina memberikan instruksi ‘tunggu sebentar’ karena dia ingin mengangkat telepon dulu.
“Hm? Hah? Aduhh.. Hm.. gimana ya.. Ya sudah deh.”, setidaknya itulah kata - kata yang bisa di dengar oleh Dinda dari Delina.
“Duh.. Din.. gimana dong. Maaf banget nih, mobil kakak aku mogok dan dia ada acara malam ini. Jadi dia mau pake mobil aku. Aku harus buru - buru pulang. Duh, maaf banget, ya. Sudah sampai sini, jadi gak enak.”, jelas Delina yang merasa bersalah karena tidak jadi mengantarkan Dinda.
“Oh.. iya gapapa, kok. Ya sudah buruan mba. Nanti diomelin kakaknya.”, jawab Dinda.
Karena mereka sudah sering jalan bareng, Dinda sudah tahu betul karakter kakak perempuan Delina yang rempong, ribet, dan galak abis. Jadi, dia mempersilahkan Delina untuk segera pulang tanpa harus mengantarnya.
“Maaf banget ya. Lain kali aku akan antar, ya. Daaa.. Dinda.. Hati - hati naiknya.”, tutur Delina melambaikan tangannya dan segera berlari menuju mobilnya. Tak lama saat Dinda kembali ke arah lift untuk menuju lobi, dia sudah melihat Delina kembali melambaikan tangan menuju keluar.
‘Yah.. naik lagi.’, bathin Dinda dalam hati.
Lift ke basement terkenal lama sekali karena di sisi ini, hanya tersedia dua lift.
__ADS_1
“Loh, Dinda? Kamu ngapain disini sendirian?”, tanya Dimas yang baru saja keluar dari lift. Dinda tidak kebagian lift itu karena sudah ada beberapa orang yang mengantri dan naik duluan. Sehingga tinggal dia sendiri.