Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 140 Menyelamatkan Dinda


__ADS_3

Arya mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan Dinda. Dia mencoba untuk tenang dan mengerahkan segala tenaga dan pikirannya untuk mencari keberadaan Dinda di saat - saat Golden Time ini. Jika lewat beberapa menit saja, dia mungkin tidak akan bisa menyelamatkan istrinya.


‘Dinda!’, kata Arya dalam hati ketika menemukan keberadaannya.


Arya langsung mempercepat pergerakannya dan menangkap Dinda lalu segera naik keatas. Kemunculan Arya bersama Dinda membuat orang - orang yang sedang menanti di atas kapal lega.


Suara helaan nafas mereka dan gumaman - gumaman mereka saat Arya berhasil naik terdengar jelas.


“Ah… akhirnya. Walaupun bukan aku yang turun tapi jantungku sudah mau copot.”


“Oh Pak Arya… Ah..Akhirnya.. Walaupun dia galak  dan dingin, tapi tadi aku sempat khawatir jika dia juga tidak bisa naik ke atas. Syukurlah.”


“Pak Arya, Pak Arya.”


“Jadi siapa yang jatuh?”


‘Fuh.. Syukurlah. Awalnya aku tidak begitu panik karena tahu Arya pandai berenang dan menyelam. Tapi lama sekali dia kembali membuatku jadi takut.’, ujar Erick menepuk - nepuk dadanya.


Dengan bantuan para petugas yang juga turun ke laut, Arya berhasil membawa Dinda kembali ke badan kapal. Arya memperhatikan area dada Dinda yang tidak turun naik dan seperti tidak bernafas. Tanpa membuang waktu lagi, Arya langsung melakukan pertolongan pertama (CPR) karena Dinda tidak sadarkan diri dan denyut nadinya juga sangat lemah.


“Satu Dua Tiga….”


“Satu Dua Tiga….”


‘Hayolah… Din… Sayang please…’, jerit Arya di dalam hati.


Arya melakukan beberapa kali CPR. Ia tak lagi bisa menyembunyikan wajah panik, khawatir, dan takutnya. Arya berhenti sejenak dan memeriksa kembali keadaan Dinda. Namun, Dinda masih tidak bereaksi.


‘Oh God!’, tanpa berpikir panjang lagi, Arya langsung melakukan tindakan selanjutnya memberikan beberapa kali nafas buatan dengan cara yang pernah ia pelajari di kelas menyelam terdahulu saat masih berada di Amerika.


“Hukkk….”


“Bagaimana? Sudah ada reaksi?”


“Bagaimana? Ada pergerakan?”


 “Shutt… Pak Arya sedang melakukan sebisanya. Jangan membuat panik.”


Bisikan - bisikan karyawan kembali terdengar. Tadinya mereka mengerubungi begitu melihat Dinda sudah di bawa naik namun petugas dan Siska berusaha membubarkan atau setidaknya menggeser mereka agar Arya dan Dinda bisa mendapatkan ruang yang cukup.


Arya kemudian kembali melakukan beberapa kali CPR dan tindakan pemberian nafas buatan bergantian beberapa kali.


‘Din… please…kembali.. Please… sayang aku mohon…’, Arya sudah benar - benar kelelahan melakukan tindakan penyelamatan dan mengulangi siklus CPR serta nafas buatan beberapa kali. Mentalnya juga lelah karena berapa kalipun dia meminta dirinya sendiri untuk tenang dan fokus tetapi bayangan - bayangan buruk secara bergantian bermunculan di kepalanya.


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Saat hampir menyerah, suara batuk terdengar dari Dinda yang mengeluarkan air yang ada di dalam mulutnya.


“Dinda? Kamu ga apa - apa? Ada yang bagian yang sakit?”, tanya Arya langsung memegang bagian tengkuk belakang gadis itu dan memeriksa keadaannya.


Gadis itu menggeleng lemah. Nafasnya masih belum beraturan. Ia beberapa kali memejamkan matanya berusaha untuk sadar.


Dinda masih kelelahan, shock, dan mendapatkan after effect dari pemberian CPR masih terbatuk - batuk berusaha untuk mengatur nafasnya.


Dinda mengedarkan pandangannya di sela - sela usahanya untuk berusaha bernafas dengan teratur. Ia memegang erat lengan Arya yang membantunya untuk duduk.


“Kamu beneran gapapa? Ada yang sakit?”, tanya Arya kembali pada Dinda.


“Tidak. Tidak ada yang sakit, Pak.”, jawab Dinda dengan suara lemah.

__ADS_1


“Perut kamu?”, tanya Arya memegang perut Dinda untuk memastikan kehamilannya baik - baik saja.


“Hm.. tidak apa - apa.”


“Hah…. “, barang sedetik Arya berusaha untuk menghela nafasnya karena lega.


“Pak… ada ruangan yang bisa digunakan?”, tanya Arya pada petugas kapal yang juga memantau mereka tadi.


“Ada… ada Pak. Silahkan.”, tanpa pikir panjang, Arya segera menggendong Dinda dan mengikuti arah jalan petugas tadi.


“Siska, tolong carikan selimut atau pakaian kering yang bisa digunakan.”, kata Arya saat melewati Siska.


“Oh?.. Ah.. Baik, Pak.”, jawab Siska yang masih bingung dan blank saat melihat Arya menggendong Dinda.


Tidak hanya Siska, beberapa karyawan lain juga memberikan ekspresi yang sama terutama karyawan perempuan. Suci dan Delina juga memberikan ekspresi yang tak kalah bingung melihat kejadian tadi dari awal hingga saat ini yang terjadi sangat cepat.


“Ini Pak, silahkan.”, petugas mengarahkan Arya ke ruangan deck yang biasa digunakan oleh petugas kapal untuk beristirahat. Tidak terlalu besar tetapi cukup dan tertutup.


Dinda memperhatikan ekspresi Arya dengan intens saat mereka tak lagi ada di keramaian. Ekspresinya sudah berbeda. Dinda bisa merasakan aura dingin dari pria itu. Tanpa banyak bicara, Arya langsung melepaskan hijab Dinda. Dia baru akan melepaskan pakaian gadis itu saat tangan Dinda memegang lengannya seolah mempertanyakan tindakannya.


“Bisa berbahaya memakai pakaian yang basah di tengah laut seperti ini. Begitu Siska datang membawa selimut atau pakaian kering, kamu bisa menggunakan itu”, kata Arya menjelaskan.


Arya kembali membuka baju Dinda perlahan mulai dari outernya kemudian kemeja yang ia kenakan.


“Mas Arya…”, panggil Dinda pelan. Ia seolah memberikan sinyal agar Arya tak melepaskan pakaiannya.


“Kamu bisa ga sih dengarin saya?”, kata Arya dengan suara tinggi dan membuat Dinda terkejut.


Tok tok tok tok


Arya segera mengarah ke pintu dan menemukan Siska disana.


“Maaf Pak, saya hanya bisa mendapatkan ini.”, kata Siska membawakan selimut dan beberapa helai pakaian kering.


“Oh iya… Sis, maaf nanti begitu sampai di pantai, kamu bisa cari kapal kecil yang bisa bawa kita kembali ke penginapan?”, tanya Arya.


Melihat Siska yang masih sedikit kebingungan, Arya kembali berbicara.


“Tidak masalah, saya bisa kembali bersama Dinda. Kalian lanjut saja acaranya.”, kata Arya.


“Saya saja yang kembali bersama Dinda, Pak. Saya bisa menemaninya kembali ke penginapan. Pak Arya bisa lanjut acara Team Buildingnya kalau begitu.”, kata Siska menawarkan.


“Tidak apa - apa. Saya juga harus ganti baju, kan.”


“Tapi…”, Siska sedikit ragu dan bingung.


Dinda adalah perempuan, walaubagaimanapun, tentu saja akan lebih nyaman bagi Siska sebagai sesama perempuan untuk menemaninya. Tapi, kalau melihat dari sisi lain, Arya juga lebih bisa diandalkan untuk memastikan keselamatan Dinda karena dia lebih senior.


Siskapun tidak bisa mengatakan apa - apa karena dia mengenal nada bicara Arya yang tidak ingin dibantah.


“Baik kalau begitu, Pak. Apa saya perlu… ”, Siska akhirnya hanya menjawab seperti itu karena dia juga bingung harus bagaimana.


Siska berusaha menawarkan pada Arya agar dia bisa membantu Dinda.


‘Aduh.. aku bingung. Bagaimana ya mengatakannya.. Ah sudahlah. Aku ikuti sesuai perintah saja.’, pikir Siska dalam hati.


“Okay. Thanks, Siska.”


“Baik Pak Arya, saya permisi.”, jawab Siska.

__ADS_1


Arya menutup pintu dan kembali pada Dinda. Tanpa babibu lagi, dia langsung melepaskan pakaian Dinda dan memasangkan pakaian kering yang baru padanya. Dinda tidak lagi menghentikan Arya karena dia bisa merasakan aura dingin dari pria itu. Dinda hanya berani meliriknya sejenak, kemudian diam.


“Pak Arya gak ganti baju?”, tanya Dinda pelan. Namun Arya tak menjawabnya.


*******


“Kamu. Kalau aku tidak ada disana, kamu sekarang sudah di kantor polisi karena menyetir sambil mabuk. Apa sih yang sedang kamu pikirkan, Dimas? Kemarin begitu, sekarang begitu lagi.”, kata Sarah pada Dimas yang sedang mendapatkan perawatan oleh suster di UGD.


Sarah kembali bertemu dengan Dimas di klub karena petugas menghubunginya. Ternyata Dimas masih menyimpan nomor ponsel Sarah sebagai dial 1 dan belum menggantinya.


“Heh.. harusnya aku sudah mengganti pengaturan dial 1 di ponselku. Maaf merepotkanmu.”, kata Dimas dengan nada sarkas.


“Aku tidak tahu kenapa kamu begini. Tapi, bisakah kamu mengendalikan dirimu sedikit.”


“Setidaknya aku lebih bisa mengendalikan diriku dibandingkan dengan kamu.”, kata Dimas.


“Lebih baik aku, aku tidak berbohong pada diriku sendiri tentang apa yang aku inginkan. Aku berusaha mendapatkannya dan tidak bersikap seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.”, ucap Sarah.


“Permisi Ibu. Boleh silahkan melakukan pembayarannya di resepsionis dan mengambil obatnya juga ya Bu.”, kata seorang suster pada Sarah.


“Sekarang aku harus melakukan ini untukmu.”, kata Sarah membalas dengan sarkas sambil menunjukkan papan berisi kertas yang tadi diberikan suster padanya.


Dimas tak menjawab dan memilih untuk membaringkan tubuhnya. Sarah segera berjalan menuju tempat yang diberitahukan oleh suster tadi.


“Ah.. dimana sih? Kenapa rumah sakit ini besar sekali. Ini aku dimana lagi.”, Sarah terus mengomel sepanjang jalan karena dia sudah merasa kebingungan.


“Ya sudahlah, mungkin saja lewat sini.”, kata Sarah sambil berjalan mengikuti instingnya.


Dia tidak bertanya dan terus saja berjalan. Padahal sebenarnya resepsionis berada di area yang berbalik dari arah ia berjalan saat ini.


Langkah Sarah terasa ringan. Dia menganggap saat ini dia sedang jalan - jalan biasa meski bedanya berjalan diantara pasien dan keluarga pasien. Dia sekarang memasuki area yang tidak terlalu ramai dan mulai bingung kemana harus melangkah karena ada 3 koridor yang berbeda dengan tanda yang dia anggap mirip - mirip.


Saat itulah perhatiannya menangkap sosok yang paling tidak ingin dia temui namun disaat bersamaan dia juga terkadang ingin menemuinya.


“Mama Inggit.”, kata Sarah dalam hati saat melihat sosok Inggit bersama dengan putera bungsunya, Ibas. Orang - orang yang sangat dia kenal dan selama tiga tahun pernah menjadi keluarganya.


Diarah yang berlawanan, Inggit justru merasa terkejut saat melihat Sarah, mantan menantu yang dia harap tidak akan pernah bertemu kembali. Namun, takdir berkata lain. Di dunia yang sempit ini, mereka harus bertemu di rumah sakit.


Lama Inggit terdiam. Awalnya Ibas belum menyadarinya karena dia sibuk memperhatikan ponselnya. Namun, saat Inggit berhenti, barulah Ibas tersadar bahwa ada Sarah disana. Saat ia sadar, Sarah sudah berjalan mendekati mereka.


“Ah… kenapa harus bertemu dengan dia disini. Sudah ma, kita terus saja, tidak perlu menggubrisnya.”, kata - kata Ibas sudah terlambat karena Sarah sudah berada kurang dari 4 meter dari mereka sekarang.


“Halo… Ma.. Apa kabar?”, kata Sarah menyapa Inggit dengan senyuman.


Sebaliknya, tak ada senyuman di wajah Inggit sama sekali.


“Seharusnya aku yang memasang ekspresi seperti itu, Ma. Mama yang memintaku untuk mengakhiri semuanya.”, kata Sarah pada Inggit.


“Jangan panggil saya Mama. Saya sudah bukan mertua kamu lagi.”, kata Inggit.


“Ma, lebih baik kita pergi saja.”, kata Ibas berbisik di telinga Inggit.


“Apa kabar adikku tersayang. Kamu sudah lulus kuliah, ya?”, kata Sarah juga tak meninggalkan sapaannya pada Ibas, adik ipar kesayangannya (sarkas).


“Mba Sarah, saya rasa kami tidak ada urusan dengan Mba. Permisi.”, kata Ibas kemudian menggandeng mamanya untuk segera pergi dari sana.


“Mama Inggit ternyata ahli juga ya mencari menantu yang sesuai dengan selera mama Inggit. Aku selalu penasaran, sebenarnya menantu seperti apa sih yang mama Inggit pengen. Heh.. ternyata hanya wanita seperti Dinda.”, kata Sarah begitu Inggit berjalan melewati dirinya.


Inggit baru saja ingin melanjutkan langkahnya namun dia berhenti dan berbalik.

__ADS_1


“Ya.. dia yang terbaik buat anak saya. Jangan kamu coba - coba merusak hubungan mereka.”, kata Inggit kemudian berlalu.


‘Heh.. merusak? Bagaimana kalau Arya sendiri yang mau? Tunggu saja, ma.’, kata Sarah dalam hati.


__ADS_2