
Malam sudah larut. Perhelatan lamaran Reza dan Bianca telah usai sejak dua jam yang lalu. Acara berlangsung meriah bahkan diakhiri dengan menyanyi dan karaoke, agenda yang biasanya tidak pernah hilang dari acara keluarga besar Arya. Meski, penyanyinya sudah pasti itu - itu saja. Tante Meri, tante Indah, dan beberapa anggota lainnya termasuk Fams.
Dinda, gadis itu sekarang disandera oleh Bianca di kamarnya. Bianca menginap di salah satu kamar Villa yang masih berada di bangunan utama, namun dia hanya sendiri di kamar itu. Setelah acara usai, Bianca langsung menelepon Dinda dan memintanya datang ke kamarnya.
Dinda tak bisa mengelak. Dia membersihkan dirinya terlebih dahulu dan meminta izin pada Arya untuk tidur di kamar Bianca malam ini. Tentu saja Arya menolaknya.
“Hahaha… lucu sekali kalian ini. Kalian sahabatan, tapi tidak tahu kalau sahabat kamu itu yang akan menjadi istri Reza?”, ujar Arya yang masih menganggap situasi ini lucu.
Arya dan Dinda saat ini sudah berada di kamar mereka. Setelah bebersih, Dinda langsung meminta izin pada Arya karena Bianca sudah sangat murka padanya. Tentu saja, Dinda harus menjelaskan runtutan kejadiannya terlebih dahulu pada Arya.
“Bianca kaget dong kamu sudah menikah?”, tanya Arya.
Dinda hanya bisa mengangguk malu.
“Kamu gak perlu menyembunyikan bahwa kita sudah menikah ke teman - teman kamu. Menurut saya, menyembunyikannya ke orang - orang di kantor sudah cukup karena memang akan masalah kalau mereka tahu. Atau kamu memang gak mau dikenal sebagai wanita yang sudah menikah?”, tanya Arya sambil menyesap minumannya.
“Enggak kok mas. Saya hanya kehilangan timingnya saja. Sudah sampai sini, bingung mau mulai dari mana saat menjelaskannya pada mereka.”
“Butuh saya yang menjelaskan?”
“Enggak enggak. Makasih. Saya bisa jelaskan sendiri, kok. Makanya saya mau izin ke mas Arya buat menginap di kamar Bianca malam ini.”
Arya mengarahkan matanya pada Dinda.
“Terus, kamu mau saya tidur sendiri disini?”
“Kan biasanya mas Arya tidur sendiri.”
“Ya.. aneh kalo kamu gak ada.”, ujar Arya sok cool.
“Tapi, masa saya harus balik malam - malam ke kamar dan sendirian. Jarak dari villa utama ke sini kan lumayan, mas.”, meski sudah melihat kondisi villa yang indah di siang hari, Dinda tetap merasa takut kalau malam karena sejauh mata memandang hanya ada pepohonan.
“Kamu telepon saya kalau sudah selesai. Nanti saya jemput. Lagian, sekarang memangnya kamu berani kesana sendiri?”
“Minta anterin mas Arya.”, jawab Dinda sambil tersenyum.
Alhasil, sekarang Dinda sudah ada di kamar Bianca dan harus melewati interogasi dari gadis ini.
“Jadi, kamu sudah menikah? Dengan mas Arya itu?”, tanya Bianca. Padahal, dia meminta Dinda kesini karena hal itu tetapi Bianca masih ingin memastikannya lagi.
Dinda mengangguk.
“Kamu kok gak cerita sih, Din? Kamu gak anggap kita teman? Kalau aku bukan calonnya mas Reza dan gak ketemu kamu disini, mungkin aku gak pernah tahu kamu sudah menikah.”, protes Bianca.
Dinda diam sebentar.
“Aku bingung mau mulai dari mana. Dan aku juga kehilangan timingnya. Semuanya terjadi begitu saja, Bi. Sangat cepat.”
“Aku dengar dari mas Reza, mas Arya itu sebelumnya sudah pernah menikah dan bercerai, ya?”
Dinda mengangguk.
“Kamu gapapa?”
Dinda kembali mengangguk.
“Jangan - jangan cowok yang waktu itu kamu curhatin ke aku, mas Arya?”
Dinda langsung memasang wajah panik. Dia lupa kalau dia pernah bercerita pada Bianca soal Arya. Walaupun dia mengatakan itu adalah cerita orang lain, tapi Bianca tidak bodoh.
“Mas Arya ada main belakang sama kamu?”, tanya Bianca to the point.
Dinda bingung menjawabnya.
“Walau bagaimanapun mas Arya adalah pria yang punya masa lalu, Bi. Aku juga gak bisa mengontrol kalau dia bertemu dengan mantan istrinya.”
“Jadi, dia bertemu mantan istrinya lagi setelah bercerai?”
“Bi, suaranya jangan kencang - kencang, nanti terdengar dari luar.”
“Ya.. kamu aneh. Masa suaminya ketemu mantan dibiarin? Aku, kalau mas Reza berani ketemu mantan pacarnya saja, akan aku gantung dia. Ini kamu, suaminya ketemu mantan istrinya kamu iyain aja?”, intonasi Bianca sudah berubah emosi.
“Waktu itu kan kamu saranin aku untuk percaya.”
“Ya kan aku gak tahu kalau itu kamu? Memang mas Arya bilang apa?”, tanya Bianca.
“Aku cuma salah paham. Dia sama sekali tidak melakukan apa yang aku pikirkan.”
“Kamu percaya?”
__ADS_1
“Ya mau bagaimana lagi? Masa aku tanya sama mantan istrinya.”
“Hayok, besok kalo sudah sampai rumah, kita temuin mantan istrinya mas Arya. Bilang kalo mas Arya sudah punya istri. Jangan ganggu - ganggu lagi.”, ujar Bianca emosi.
“Jangan, Bi.”
“Loh, kok jangan? Kamu itu istrinya mas Arya sekarang. Dia bukan siapa - siapa nya lagi. Kamu lebih berhak, wanita itu saja yang gak tahu diri. Udah bercerai masih nempel - nempel.”, Bianca tak bisa menahan emosinya.
“Sekarang udah gapapa, kok. Aku juga gak mau ketemu sama mantan istrinya. Ketemu fotonya saja aku langsung kehilangan kepercayaan diri. Bagaimana kalau bertemu orangnya.”
“Dinda.. Kamu itu cantik. Kamunya aja yang dari dulu introvert. Jadi, kamu gak pernah sadar kalau kamu cantik. Kamu ingat gak, di kampus banyak yang minta aku buat mengenalkan mereka ke kamu. Tapi kamu bilang aku bercanda. Kamu itu cantik, Din.”
Dinda hanya terdiam. Dia memang tidak bisa menyela Bianca.
“Menurut kamu, kenapa mas Arya mau menerima perjodohan ini. Pasti karena pertama, kamu itu cantik. Yakin deh. Tipikal cowok kaya mas Arya yang hot itu, maaf ya Din, tapi menurut aku dia memang hot. Tadi pas sekali lihat,, kayanya dia punya badan yang six pax deh, ya ampun. Kalau belum kenal mas Reza, mungkin aku mau sama dia. Hahaha.”, Bianca mendadak random.
“Tapi mas Arya emang six pax ya, Din?”, tanya Bianca memastikan.
“Iya.”, Dinda mengangguk polos tanpa sadar apa yang dikatakannya.
“Ihh Dinda..”, ujar Bianca memukul lembut bahu Dinda.
“Eh? Aku.. aku bilang apa tadi?”, Dinda langsung salah tingkah.
“Jadi, sudah sampai mana hubungan kamu dengan mas Arya. Kalian kan sudah tiga bulan menikah nih katanya. Kamu sudah melakukan ‘itu’ belum?”
“Ih apaan sih, Bi.”
“Ciuman?”, tanya Bianca.
“Udah ah, Bi. Jangan membicarakan itu.”
“Ya kan aku penasaran. Kamu kan gak pernah pacaran. Ke club aja ga pernah. Terus langsung dapatnya tipikal cowo kaya mas Arya.”
Dinda merasa sangat canggung mendengar komentar - komentar Bianca yang sudah menjurus.
“Aku aja sudah ciuman sama mas Reza.”, ujar Bianca sangat jujur.
“Bianca, kamu gak boleh begitu. Harus ‘sah’ dulu.”, ujar Dinda terkejut.
“Ih.. kamu tuh ya. Selalu aja, Bianca jangan gitu. Bianca bajunya jangan gitu, Bianca bahaya.”,kata Bianca sambil menirukan gaya Dinda berbicara.
“Iya. Iya. Aku mengerti, kok.”, jawab Bianca.
“Terus kapan mau kasih tahu yang lain?”, tanya Bianca lagi.
“Aku bingung. Tapi untuk sekarang, aku mohon kamu jangan cerita - cerita dulu ya ke mereka. Aku mau menemukan momen yang tepat untuk kasih tahu ke mereka.”
“Ya.. kalau kamu bilang begitu. Aku ikut aja. Jadi sekarang kamu tinggal dimana? Pantas waktu itu aku melihat banyak produk pria di tas kamu.”
“Hihi, iya.. Sepertinya Bi Rumi lupa untuk memisahkan tasnya. Mas Arya sering ada perjalanan bisnis, jadi kadang sudah tersedia di dalam tas dan mungkin Bi Rumi main ambil aja.”
Bianca mengangguk.
“Kamu bahagia?”, tanya Bianca lagi pada Dinda.
“Hem?”
“Kamu bahagia gak menikah dengan mas Arya?”
“Aku gak tahu.”
“Loh, kok gak tahu?”
“Sekarang, aku beneran mau tanya, kamu sudah ‘hm-hm’ belum sama mas Arya?”
“Ah, jangan bahas itu deh Bi.”, Dinda takut dia keceplosan dan Bianca marah besar. Dia tahu Bianca sangat tulus dan mencemaskannya. Dia tidak ingin Bianca salah paham dan membuatnya semakin rumit.
Bianca memicingkan matanya ke arah Dinda. Dia ingin mengulik informasi dari sahabatnya ini. Dinda adalah orang terpolos yang pernah dia kenal. Dan sekali lihat, dia sudah tahu tipe pria seperti apa mas Arya itu karena Bianca sudah sering menjalin hubungan dengan laki - laki.
“Jangan melihatku seperti itu, Bi.”, ujar Dinda.
“Aku mau lihat aura kamu.”
“Apaan sih.”, ujar Dinda.
“Iya.. iya.. Pokoknya kalau kamu ada masalah, kamu cerita ke aku, ya. Apalagi kalau yang berhubungan dengan mantan istrinya mas Arya. Kalau dia ganggu kamu, kamu harus langsung telpon aku. Biar aku yang bantu ngelabrak.”, ujar Bianca.
“Pasti.”, balas Dinda tersenyum.
__ADS_1
Dinda masih ingat. Dulu ada kakak kelas tingkat atas yang tanpa A-I-U-E-O langsung melabrak Dinda di kantin. Tidak main - main, kakak kelas itu langsung menyiram Dinda dengan es teh. Dinda dituduh menjadi penyebab kayak kelas itu putus dengan pacarnya. Bianca yang kemudian menyiram balik kakak kelas itu dengan kuah bakso sisa miliknya.
Dinda sangat syok dengan kejadian itu sampai - sampai dia tidak ingin makan di kantin selama sebulan. Dan Bianca lah yang menemaninya karena jarak fakultas terdekat memang dengan fakultas Bianca.
“Senang deh, sekarang kita akan jadi keluarga. Dibandingkan keluarga aku yang cenderung sepi, aku suka dengan suasana keluarga mereka. Rame banget. Kamu gak lihat tadi, mereka rame banget dan ramah - ramah. Tante Meri juga walaupun cerewet tapi baik banget.”, ujar Bianca pada Dina.
“Nah iya benar.”
“Tapi.. sepertinya Fams, adiknya mas Reza kurang suka deh sama aku. Kasih tahu dong caranya biar akrab dengan dia. Aku lihat kamu akrab banget tadi.”, meski sudah dilamar, Bianca bisa merasakan rasa tidak suka Fams padanya.
“Hm.. kalau boleh usul, sepertinya kamu harus coba ajak dia jalan. Buat dia nyaman. Dan, sesekali kamu bisa kasih waktu untuk mas Reza jalan dengan adiknya. Kasih juga mereka waktu berdua.”
“Hm..gitu ya. Oke. . akan aku coba. Makasih, Din. Kamu menginap disini, kan?”
“Emm.. maaf ya, Bi. Aku harus balik.”
“Kenapa? Menginap disini aja yuk, Din.”, kata Bianca memohon.
“Hehe.. mas Arya gak mengizinkan. Gapapa, yah. Nanti kapan - kapan kita staycation bareng sama yang lain.”
“Keburu honeymoon akunya, Dinda. Mas Arya egois, masih ketemu mantan tapi istrinya juga gak dikasih longgar.”
“Hush.. “, Dinda menutup mulut Bianca. Dia tahu sahabatnya itu sedang bercanda.
“Yaa.. abisnya semalam doang. Padahal dia kan tidur bareng sama kamu tiap malam. Masa ga dikasih.”, protes Dinda.
Dinda hanya mengangkat bahunya. Dia tidak punya pilihan selain patuh.
“Ya udah. Mau aku anterin? Kamu kan penakut. Hahaha.”, Bianca menawarkan. Dia tahu benar jika Dinda sangat - sangat penakut.
“Enggak, aku telepon mas Arya, nanti dia jemput.”
“So sweet banget… mau ngapain sih malam - malam dingin begini sampai dijemput segala gak boleh menginap?”
Dinda memicingkan matanya meminta Bianca untuk berhenti menggodanya.
“Yaa.. abis kan aneh. Gak boleh nginep. Trus sampai rela dijemput. Trus tadi kalian juga menghilang dan tiba - tiba muncul pas mau foto. Abis ngapain kamu, hayoo ngaku? Ato, abis diapain mas Arya kamu, Din?”, tanya Bianca terus bercanda dan menyudutkannya.
“Oh? Hm..”, Dinda tidak bisa menjawab. Dia tidak bisa berbohong tetapi juga tidak tahu harus menjawab apa.
“Yahh.. apalah aku ini yang masih harus tidur sendiri.”, ujar Bianca lagi.
Dinda memilih untuk segera menelepon Arya.
“Halo.. mas Arya. Boleh dijemput sekarang ya, mas.”, kata Dinda yang sudah menyambungkan ponselnya.
“Hm. Aku jalan, ya.”
Dinda menutup teleponnya setelah Arya menjawabnya.
“Kamu balik kapan?”, tanya Bianca.
“Besok siang kayanya. Mas Arya belum info.”
“Jadi, kamu harus menyembunyikan pernikahan kamu sampai kepala divisi yang baru, masuk?”, tanya Bianca. Dinda tadi sudah sempat menceritakannya.
“Iya.. kalau tidak, aku harus berhenti atau pindah ke divisi lain yang mungkin juga sulit.”
“Hm.. tapi mas Arya kan sudah punya pekerjaan yang lumayan. Kamu harus banget kerja, Din? Aku aja nanti mau jadi Ibu Rumah Tangga aja. Istri yang baik dan manis di rumah.”, ujar Bianca sambil bergaya centil.
“Haha.. Hm..aku sudah menunggu momen - momen bekerja seperti ini, Bi dan aku enjoy banget. Jadi, rasanya sayang kalau aku harus berhenti. Aku mau jadi wanita karir.”, jawab Dinda.
“Hm..Baiklah. Kamu yakin bisa menyembunyikannya di kantor?”
“Mas Arya profesional sekali di kantor, bahkan aku merasa dia sangat berbeda kalau di kantor. Menyeramkan, juga.”, ujar Dinda dengan gaya berbisik.
“Haha.. kayanya kamu sudah jatuh cinta deh sama mas Arya.”
“Eh? Kok kamu mikir gitu?”
“Kamu terlihat nyaman di dekatnya, membicarakannya, bahkan hanya dengan membayangkannya, kamu tersenyum. Kamu ga sadar?”
“Oh? Kapan si. Nggak ah.”, Sampai saat ini, Dinda belum pernah memikirkannya. Apakah dia menyukai Arya? Apakah dia cinta? Dinda hanya merasa sekarang dia sudah lebih nyaman berada di dekat pria itu dibandingkan dengan sebelum - sebelumnya.
Di kepalanya, seseorang akan tertarik dengan orang lain, menjalin hubungan, kemudian saling cinta dan menikah. Tetapi saat ini dia sudah menikah, apakah fase jatuh cinta itu akan muncul? Jujur Dinda masih bingung dan tidak pernah memikirkannya.
“Jangan sampai kamu jatuh cinta lebih dulu dan lebih banyak dari mas Arya, ya.”, ujar Bianca mengingatkan. Dia sudah beberapa kali melewati hubungan percintaan dan selalu jatuh pada masalah yang sama. Terlalu cinta, membuatnya terlalu sakit dan sulit untuk melepaskan.
Untuk saat ini, Dinda hanya mengangguk paham pada nasehat Bianca.
__ADS_1