Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 73 Kehidupan Perkantoran bagian 2


__ADS_3

Meeting yang seolah tanpa henti membuat Arya kewalahan. Meskipun ada istirahat lunch, tetapi tetap saja makan siang bersama para manajemen akan membahas hal - hal yang berbau bisnis dan kantor.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Seharusnya, Arya sudah sampai di kantor untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Dia juga sudah ada janji untuk meeting dengan Erick dan Rini untuk pekerjaan yang berhubungan dengan Digital dan Development.


Namun apa daya, Arya harus rela terjebak dalam balutan meeting - meeting lain yang berhubungan dengan project yang didapatkan saat di Singapura tempo hari. Arya sudah lelah menjelaskan satu demi satu dan menjawab pertanyaan, namun pihak manajemen sepertinya tak terlihat ingin berhenti menghujaninya pertanyaan lagi.


Arya bahkan tak sempat untuk hanya sekedar memeriksa ponselnya. Beberapa manajer team di kantor yang sudah tidak sabar bahkan nekad untuk menghubunginya.


“Siang, Pak Arya. Maaf, saya benar - benar harus finalisasi proyek A hari ini, pak. Kapan bapak kembali ke kantor?”, tanya Arif, seorang manager tim di divisi Business and Partner.


“Saya usahakan sampai di kantor jam 5. Kita langsung diskusi begitu saya sampai. Kamu minta Siska untuk menyiapkan materinya. Ketemu di ruangan saya.”, jawab Arya.


Dia sudah beberapa kali menerima telepon seperti ini. Namun, tidak semua ia ladeni. Ia memilih mana yang lebih prioritas dan mengesampingkan yang tidak penting.


Setelah mengeluarkan beberapa strategi, Arya berhasil keluar dari percakapan para bos level atas di kantornya. Ia kemudian segera kembali ke kantor. Beruntung dia membawa mobilnya sendiri saat acara makan siang.


“Iya, kamu langsung ke ruangan saya.”, begitu kata Arya setelah melihat manajer tim yang menghubunginya tadi.


*****


Sudah hampir pukul 6 sore, namun Dinda belum juga mendapatkan balasan dari Arya. Dia mendengar kalau Arya sudah kembali ke kantor sekitar sejam yang lalu. Tapi, sepertinya dia melewati jalan yang lain sehingga tidak terlihat dari tadi.


Dinda berharap Arya melewati divisinya agar dia bisa memberi kode. Tetapi sayang, Arya justru lewat jalan yang satu lagi. Erick dan Rini juga memiliki meeting dengan Arya yang diundur. Setidaknya begitu yang Dinda dengar. Berarti Arya masih akan meeting sampai malam.


‘Apa aku pergi aja ya? Lagian dia juga sudah info melalui WhatsApp.’, ujar Dinda dalam hati.


“Ngapain sih Din? Sedang menunggu telepon seseorang? Dari tadi liatin ponsel kamu terus.”


“Ahh enggak kok mba Suci. Cuma liat jam aja.”, jawab Dinda setengah berbohong. Sebenarnya dia sedang menunggu balasan dari Arya. Tetapi, sekaligus melihat jam juga. Jadi, dia tidak sepenuhnya berbohong.


“Hm.. kenapa? Gak sabar ya mau party bareng?”, balas Suci.


“Party? Bukannya kita cuma Dinner bareng mba?”, tanya Dinda heran.


“Ahh iya, betul. Dinner bareng. Kan party juga namanya.”, jawab Suci seperti orang yang sedang ngeles.


“Okee guys, sudah mau jam 7. Aku sudah reservasi, mungkin kita bisa berangkat. Siapa yang mau bareng mobilku?”


“Hm? Bukannya cuma di depan? Kan bisa jalan, Andra.”, kata Dinda.


“Resto di Mall depan ternyata penuh, Din. Jadi, aku sudah reservasi yang di dekat jalan X.”


“Hah? Jauh banget dari kantor.”


“Enggaklah, cuma beda beberapa kilometer saja kok, Din. Hanya 15 menit dari sini kalau kita naik mobil. Makanya, kamu mau nebeng siapa nih? Mobil aku sudah ada Bryan dan Delina. Kamu sama Andra saja, ya?”, jawab Suci.


“Eh? Mobil mba Suci ga muat? Aku sama mba Suci saja. Masa berdua saja sama mas Andra.”


“Ya ampun, Din. Kaya sekali dua kali aja berdua sama gue. Biasa ke Cafe juga kan kita sering bareng.”


“Tapi itu kan Cafe, banyak orangnya. Kalo di mobil…”


“Jangan gitu, Din. Sedih loh, Andra. Sebentar doang 15 menit.”, kata Suci.


“Tapi, atau Bryan aja yang sama Andra, aku sama mba Suci.”, kata Dinda.


“Aku ga tahu tempatnya, cuma Bryan aja yang tahu.”


“Atau mba Delina sama aku dan mas Andra, gimana? Fas mana?”, kata Dinda masih terus berusaha.


“Udahlah, Delina harus aku drop dulu di suatu tempat, dia mo beli kosmetik. Andra harus buru - buru. Fas naik motor dia. Udah, kamu sama Andra aja. 15 menit kok, gpp. Kan udah lama kenal Andra, dia gak gigit, kok.”


Dinda merasa terpojok. Jika mereka memberitahunya sejak tadi, dia mungkin akan menolak. Tapi sekarang dia seperti dikeroyok dan tidak bisa kabur. Dengan berat hati, Dinda akhirnya mengikuti usulan mereka.


Kebetulan, Andra parkir di lantai basement yang berbeda dengan Suci, akhirnya dia harus berjalan ke sana, hanya berdua Andra. Dia ingin naik dari lobi kantor saja, tapi tentu saja dia merasa tidak enak. Sudah ditraktir yang ulang tahun, malah minta di jemput. Akhirnya, Dinda mengurungkan niatnya dan mengikuti Andra ke parkir mobilnya.


“Hai Din. Mau kemana kamu?”, di perjalanan, Andra malah melupakan dompet beserta kunci mobilnya di atas. Dia harus kembali lagi dan meminta Dinda menunggu sebentar di depan lift basement.


Disanalah dia bertemu dengan Dimas yang juga ingin pulang dan sedang berjalan menuju mobilnya.


“Mau ada acara makan - makan bareng.”, jawab Dinda berusaha se-umum mungkin. Dia tidak ingin memperpanjang percakapan karena dia tahu sedikit tentang hubungan Arya dan Dimas.


“Oh.. bareng teman kantor? Dimana?”, tanya Dimas. Meski Dinda berusaha menjawab singkat. Sepertinya lawan bicaranya masih tak ingin menghentikan percakapan mereka.


“Iya.. belum tahu. Aku lupa tanya nama restonya. Tapi katanya 15 menit dari sini.”, jawab Dinda.

__ADS_1


“Hm.. 15 menit dari sini, ya. Ada apa ya, 15 menit dari sini. Kayanya ga banyak resto.”, kata Dimas. Dia sedang mencari - cari beberapa resto yang mungkin ada 15 menit dari sini jika menggunakan mobil. Tapi, entah dia baru saja kembali dari Amerika, dia tidak ingat ada resto 15 menit di sekitar sini.


Resto terbanyak ada di Mall seberang yang jaraknya bukan 15 menit. Tinggal jalan saja, sudah sampai.


Dinda hanya diam mendengarkan.


“Hm.. kenapa tidak di mall depan saja?”


“Saya juga kurang tahu.”, jawab Dinda singkat. Seolah menerima kode dari Dinda bahwa dia tak ingin berpanjang lebar dengan percakapan mereka, Dimas akhirnya undur diri.


“Baiklah kalau begitu. Saya pulang dulu.”, jawab Dimas sambil menekan tombol kunci mobilnya. Sebuah mobil berwarna putih tak jauh dari mereka berbunyi. Dimas melambai dan segera memasuki mobilnya.


Tak lama setelahnya, Andra turun dan menghampiri Dinda.


“Yuk, Din. Sorry gue sampai lupa kuncinya ditaruh dimana.”


“Iya, gpp.”, Dinda mengikuti Andra menuju mobilnya yang letaknya agak ke ujung. Andra mempersilahkan Dinda untuk masuk.


Dinda merasa sedikit tidak nyaman karena hanya mereka berdua di dalam mobil. Dinda sudah biasa pergi dengan teman - teman kantor atau kampusnya, tapi jika beramai - ramai. Misalnya di dalam mobil ada 3 - 5 orang dan tidak hanya dia sendiri yang perempuan.


Seumur - umur, dia hanya pernah pergi berdua dengan pak Cecep, supir di rumah Inggit, mas Arya, dan Ibas. Dimana mereka memang orang di rumah. Posisi Dinda yang sudah menikah membuatnya semakin tidak nyaman. Meski tidak ada orang di kantor yang mengetahui itu.


“Okai, kita jalan.”, ujar Andra.


“Nama restonya apa? Kayanya setahu aku ga ada resto selain yang ada di sekitar mall dan di dalam mall, deh.”


“Adaa… gue sering pergi bareng Suci. Nanti kamu juga tahu. Amaan kok, tenang aja. Udah bilang mama belum?”, kata Andra yang sebenarnya terdengar sarkas di telinga Dinda.


Dinda tidak menjawabnya. Dia memilih untuk mengarahkan pandangannya ke luar.


“Denger - denger, kamu udah punya pacar ya, Din?”, setelah keluar dari parkiran, Andra memberanikan diri bertanya.


“Hm? Pacar? Belum mau mikirin, Andra.”, jawab Dinda.


“Kenapa? Mo langsung nikah aja ya?”, balas Andra.


Dinda memilih untuk tersenyum tipis saja dan tidak menimpali.


“Jujur aja kalo punya pacar, ga bakal kita gangguin, kok. Haha.”, lanjut Andra lagi.


“Hmmm.. okay.”, Andra mendadak malah jadi nervous.


Dia sudah meminta bantuan Suci dan yang lain agar membuat Dinda berada di mobilnya hanya berdua dengannya. Andra ingin menembak Dinda di waktu - waktu menuju resto. Tapi, Andra malah tak bisa mengeluarkan kata - kata sama sekali.


“Di kantor, ada yang kamu suka ga?”, akhirnya Andra mencoba mengeluarkan pertanyaan seperti itu.


“Kenapa jadi bahas itu sih. Udah ah.”, Dinda menolak untuk melanjutkan percakapan.


“Jawab aja kali, Din. Ada ga?”, tanya Andra.


“Hmm..”, Dinda bingung mau menjawab apa.


“Kalau bingung bilangnya berarti ada.”


“Loh, kok bisa begitu kesimpulannya?”


“Kalo ga ada, kamu sudah pasti langsung bilang nggak ada.”, lanjut Andra.


“Dimana sih, restonya? Masih lama, ya?”, Dinda beberapa kali melirik ponselnya, masih menunggu jawaban dari Arya. Tapi pesannya masih centang 2 dan belum terbaca.


“Sebentar lagi nyampe, kok. Dari tadi liatin ponsel terus. Lagi nunggu telpon pacar?”, tanya Andra.


“Lagi ngitung, katanya 15 menit, kok perasaan dari tadi udah mau 20 menit belum sampai juga.”, kata Dinda.


“Sebentar lagi sampe. Itu mobil Suci sudah mau masuk parkir.”, ujar Andra.


“Yang mana mobilnya?”, kata Andra.


“Itu, SUV putih.”, kata Andra sambil menunjuk ke arah mobil yang masuk ke parkiran basement.


Dinda melihat bangunan dimana mobil tersebut masuk dan melihat tulisan ‘Club’ terpampang di depannya.


“Yang benar, ini tempatnya? Katanya resto. Ini kan Club.”, kata Dinda.


“Kalau dari awal kita bilang Club, kamu pasti ga mau ikut. Lagian ada Bryan, Fas, semua ikut, kok. Udah tenang aja.”

__ADS_1


“Maaf Andra, tapi kalo ke Club, aku ga bisa. Aku turun disini aja. Anggap aku sudah terima traktiran kamu.”, Dinda ingin keluar dari mobil Andra, tetapi posisinya mereka masih di tengah jalan. Andra juga mengunci mobilnya.


“Tenang aja. Club itu ga seperti yang kamu pikirkan, kok. Lagian banyak banget yang meeting di Klub juga. Ada private room nya. Kita ga perlu berbaur dengan orang - orang di luar.”, kata Andra mencoba menjelaskan.


“Walaupun ini meeting sekalipun dan yang ajak pak Erick. Aku juga tetap gak mau. Plis, aku mau pulang aja.”, kata Dinda.


“Din, jangan gitu dong. Rame, kok.”, Andra sudah mulai kehilangan kesabarannya.


Menurutnya, Dinda kolot sekali. Masa hanya diajak ke Club saja reaksinya sampai berlebihan seperti itu. Terlebih, mendengar cerita tempo hari dari Suci, Andra menilai Dinda terkesan sok suci.


“Andra, plis. Aku minta maaf gak bisa ikut party kamu. Sekarang juga sudah jam 7 malam. Aku bilang ke orang rumah akan makan malam di resto, bukan di Club.”, Dinda terus membujuk Andra untuk menurunkannya sebelum masuk ke parkiran basement. Tapi Andra tidak menghiraukannya.


Dinda hanya bisa diam sampai Andra berhenti di parkiran basement. Dia mengalah dan akan pergi saat Andra sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


“Aku pulang.”, jawab Dinda yang sudah turun dari mobil Andra.


“Kamu lebay banget, sih. Cuma ke club doang. Kita gak ngapa - ngapain. Cuma makan.”


“Bukan lebay, Andra. Tapi prinsip. Aku bukan tipe orang yang pergi ke klub untuk alasan apapun dan se-aman dan biasa apapun itu menurut kamu. Kalau kamu bawa aku ke tempat yang sesuai dengan omongan kamu tadi pagi, aku akan ikut.”


“Kenapa? Kamu biasa mainnya di hotel?”, entah karena emosi, atau merasa terintimidasi dengan perkataan Dinda, Andra justru mengeluarkan kalimat yang akan membuatnya menyesal.


“Apa kamu bilang?”, tanya Dinda tak percaya. Seorang Andra yang beberapa bulan ini dia kenal supel, ramah, dan baik bisa menjadi orang yang berbeda malam ini.


“Din, Andra! Hayuk.”, terdengar teriakan Suci dari kejauhan. Sepertinya mereka sudah memarkirkan mobil dan berjalan ke arah Dinda dan Andra berada untuk sama - sama menuju lobi. Andra menoleh, sedangkan Dinda masih menatap tajam pada Andra.


“Makasih buat ajakannya. Tapi maaf, aku gak bisa ikut.”, jawab Dinda yang kemudian melepaskan pegangan tangan Andra dan berjalan menuju pintu keluar parkiran.


“Lah.. Din, kamu mau kemana?”, kata Andra. Teman - teman di belakangnya juga bingung.


Dinda berjalan ke arah pintu masuk parkiran tadi yang seharusnya hanya boleh dilewati oleh mobil dan motor. Dia tidak menghiraukan Andra, atau Suci dan yang lainnya yang jaraknya masih jauh.


Dinda hanya ingin keluar dari tempat ini. Beruntung parkiran hanya ada satu lantai dibawah lantai utama. Dinda hanya perlu melewati pintu masuk mobil dan motor untuk keluar. Seharusnya, pintu keluar adalah melalui lift yang ada di dekat tempat Suci dan yang lain berdiri.


Tapi, pergi kesana sama saja mengulangi lagi percakapannya dengan Andra tadi. Dinda juga marah dengan sikap Andra malam ini, dia hanya ingin cepat - cepat keluar dan pulang.


Suci, Delina, dan yang lainnya bergerak lebih cepat menuju ke tempat Andra berada saat ini.


“Kenapa Dinda? Gak jadi ikut?”, Tanya Suci.


“Ya.. seperti yang lo lihat. Dia kabur begitu saja.”, jawab Andra.


“Lo sih.. Udah gue bilang, kan. Dinda itu bukan tipe yang dengan mudah mau lo ajak ke klub, meskipun bareng - bareng.”, Bryan angkat suara.


Siang ini, dia sudah mewanti - wanti rencana Andra. Betul, Andra memang berulang tahun dan mengajak semuanya untuk makan malam. Tapi, muncul ide di pikirannya untuk mengganti tempat agar lebih seru. Dia merasa bisa mengajak Dinda ke tempat ini.


Mendengar cerita Suci tempo hari, Dinda pasti tidak keberatan untuk diajak ke Klub. Dia juga berencana untuk mengajak Dinda berpacaran malam ini. Tapi, semua rencananya di luar dugaan. Hancur berantakan, bahkan dia sudah melampiaskan emosi pada Dinda dan membuat gadis itu marah.


“Lo ngomong apa ke dia sampai dia pergi begitu aja? Ga mungkin Dinda yang kita kenal main jalan gitu aja, Andra. Lo pasti ada ngomong sesuatu kan?”, ucap Delina. Dia juga jadi merasa tidak enak.


“Gue gak bilang apa - apa. Begitu dia lihat mobil lo masuk sini, dia langsung minta turun.”, ucapan Andra memang benar, tetapi Andra berbohong. Dia tahu benar bahwa hal yang membuat Dinda pergi adalah perkataannya yang sudah keterlaluan. Tapi, Andra juga tak siap jika harus dihakimi teman - temannya.


“Ya udahlah kita - kita aja. Kalau dia ga mau, ga usah.”, ucap Suci.


“Apa karena lo nembak dia, dia kabur?”, Fas yang biasanya hanya tenang dan diam mulai angkat bicara.


“Belum sempat, Fas.”, balas Andra greget.


“Udahlah, cewek bukan cuma dia seorang. Lagian, gue juga bingung. Setelah apa yang gue lihat, dia kok kaya sok suci banget.”, protes Suci.


“Tapi, apa yang kamu lihat kan belum tentu benar, Ci.”, ucap Bryan.


“Memang apa yang aku lihat? Kamu aja kabur waktu aku ceritain tentang Dinda.”, balas Suci.


“Tetap saja, kamu belum konfirmasi ke orangnya, kan.”, lanjut Bryan.


“Mau konfirmasi gimana, Bryan. Kamu mau tanya ke dia apakah dia benar tidur sama cowok di hotel. Terus minta dia menjelaskan banyaknya kissmark di lehernya? Yang ada dia kabur seperti sekarang.”


“Apa? Tidur? Kissmark? Yang benar kamu, Ci?”, Bryan tercengang.


“Makanya kamu jangan sok suci juga. Lagaknya gak mau mendengarkan gue berbicara tentang Dinda. Kaget kan lo. Jangan tanya bukti, Delina juga lihat.”, tegas Suci.


Bryan terdiam. Hatinya masih ingin membela, tapi informasi yang diterima begitu menghebohkan untuknya. Jika itu orang lain yang tidak Bryan kenal, dia mungkin akan percaya begitu saja. Tapi ini Dinda. Rekan kerjanya yang dia lihat berbeda dari yang lain sejak pertama kali masuk.


“Ah.. sudahlah. Kelamaan berdiskusi disini, kita gak jadi bersenang - senang. Ayo masuk. Kamu yang bayar kan, Andra.”

__ADS_1


“Iya… tenang aja.”, balas Andra yang sebenarnya masih tenggelam memikirkan perkataannya tadi.


__ADS_2