
Hari berlalu dengan cepat. Jalanan malam yang seharusnya sepi masih saja padat merayap dengan kendaraan - kendaraan yang ingin segera pulang. Gerimis berganti dengan hujan lebat. Tak lama hujan mereda, kendaraan tumpah ke jalanan. Mobil Arya dan Dinda adalah salah satunya yang terjebak kemacetan.
Arya masih fokus mengemudi meskipun hanya bisa beringsut satu meter demi satu meter. Sementara Dinda sudah tertidur sejak beberapa menit yang lalu. Di sela - sela mengemudinya, Arya mengarahkan AC mobil ke tempat lain dan mengambil sebuah selimut di kantong kursi Dinda.
Pria itu tahu benar Dinda tidak kuat dengan AC dan menyelimuti tubuhnya. Setelah menimbang - nimbang saat terjebak macet di lampu merah, Arya memutuskan untuk membelokkan mobil nya ke kanan. Maps menunjukkan jalan tol yang macet parah karena ada galian lubang.
“Din, kita sudah sampai.”, Arya membangunkan Dinda begitu dia sampai di parkiran apartemen.
Ya. Arya memutuskan untuk berbelok ke arah apartemen yang jaraknya lebih dekat dari rumah Bianca tadi. Jika dia meneruskan pulang dengan keadaan macet seperti ini. Dia yakin mereka baru akan sampai pukul 12 malam.
“Uhmm…Umhhhh”, Dinda beringsut dan menggosok matanya untuk menyadarkan dirinya dari tidur lelap.
“Dimana ini, mas Arya?”, tanya Dinda begitu dia menyadari mereka tidak berada di rumah Arya.
“Apartemen. Lebih baik kita disini malam ini, karena macet.”, Arya keluar dari mobil. Ia membuka pintu tengah untuk mengambil tas kantornya. Selanjutnya dia bergerak ke belakang untuk mengambil sebuah tas olahraga.
Dinda menolehkan kepalanya ke belakang mencoba berbicara dengan Arya.
“Mas, tapi aku ga bawa baju ganti.”
“Tenang, saya sudah meminta Bi Rumi packing baju buat hal - hal dadakan seperti ini. Bi Rumi juga udah packing baju kamu.”, jelas Arya sambil menutup pintu belakang. Dia bergerak menuju pintu mobil di sisi Dinda menunggu gadis itu keluar.
“Kapan? Kenapa aku tidak tahu bajuku diambil.”, tanya Dinda polos. Sebenarnya dia masih setengah sadar. Arya membuka pintu mobilnya dan Dinda keluar dalam keadaan masih sedikit sempoyongan.
“Waktu kamu marah sama saya. Sudah yuk jalan.”, Arya berjalan lebih dulu dan meminta Dinda untuk mengikutinya.
“Hm..”, Dinda mengangguk - angguk. Hal yang paling dia inginkan sekarang adalah mandi dan mendaratkan tubuhnya di kasur.
Ini kali pertama Dinda ke apartemen Arya lagi setelah pertengkaran mereka waktu itu. Ada perasaan aneh setiap kali Dinda masuk ke apartemen Arya. Selain karena hanya mereka berdua disana, Dinda tak bisa menghilangkan bayang - bayang bahwa Arya pernah tinggal disana bersama mantan istrinya selama tiga tahun. Dinda seolah menjadi orang asing yang masuk ke kehidupan yang pernah ada disana.
‘Semoga hari ini aku tidak merasa seperti itu.’, ucap Dinda dalam hati.
Setidaknya Arya sudah mengganti dekorasi apartemen. Terakhir Dinda kesini, meski dalam keadaan hati yang sakit, Dinda melihat jelas tidak ada lagi barang - barang perempuan itu di apartemen ini.
Foto pernikahan yang dulu Dinda lihat juga sudah diganti menjadi foto pernikahan mereka. Sebelumnya, Dinda tidak menyadarinya. Ternyata, Arya justru memilih foto pernikahan dimana pria itu mencium bibir Dinda dengan tiba - tiba untuk dipajang di dinding atas ranjang. Disana, wajah kaget Dinda terlihat jelas.
“Kamu mandi duluan aja. Saya mau terima telepon dulu.”, kata Arya keluar dari kamar.
Dinda hanya mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi. Tempat yang dari tadi memang ingin dia masuki karena badannya sudah lengket. Dinda menyelesaikan semua rutinitasnya dalam waktu 30 menit. Dia juga memanfaatkan waktu ini untuk keramas karena dia merasa keringat sudah menerjang seluruh bagian rambutnya.
Begitu Dinda keluar, Arya sudah berada di dalam kamar. Shirtless.
“Ih mas Arya.”, ujar Dinda kaget karena pria itu seenaknya berjalan tanpa bajunya mendekat ke arah kamar mandi.
“Kenapa? Saya mau mandi, masa mandi pakai baju.”
“Yakan bisa bukanya di dalam saja.”
“Sepertinya kemarin malam kamu sudah lihat semua, kenapa masih malu? Dan ini juga bukan kali pertama loh kamu melihat saya shirtless.”
“Tetap saja.”, jawab Dinda berjalan menuju meja rias. Tak lupa dia berjalan menghindari Arya.
Tapi, lengan pria itu bergerak lebih cepat dan lebih dulu mendekap Dinda. Arya mengecup lembut leher Dinda. Bagian yang paling dia sukai dari gadis itu karena Arya bisa menyesap aroma Dinda disana.
Meski ini sudah kesekian kalinya, tapi Dinda selalu merasa setiap sentuhan Arya seperti pertama kali. Jantung Dinda berdegup kencang dan dia tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.
Arya tersenyum menang. Dia selalu berhasil membuat Dinda mengeluarkan ekspresi yang dia suka.
“Mas A-Arya..”, ujar Dinda terbata - bata.
Arya menghentikan ciumannya dan melonggarkan dekapannya pada Dinda.
“Tunggu 15 menit lagi. Aku mandi dulu. Gaun tidur kamu ada di lemari.”, ujar Arya masih dengan senyuman jahilnya.
‘Apa - apaan sih dia. Tunggu 15 menit lagi? Kenapa aku harus menunggunya mandi? Eh? Apa dia mau melakukannya lagi malam ini?’, Dinda langsung menelan ludahnya.
‘Ah.. tidak mungkin. Besok juga masih hari kerja. Tidak mungkin. Tapi.. apa karena itu dia membawaku ke apartemen? Ahh bodo ah.. Aku mau mengeringkan rambutku saja.’, Dinda tenggelam dalam pikirannya yang semakin lama malah semakin liar sehingga dia tak sanggup lagi meneruskan imajinasinya.
Dinda segera mengambil hair dryer di laci meja rias yang ada di kamar itu. Dia bisa mendengar guyuran shower Arya dari kamar mandi. Di sela - sela mengeringkan rambutnya, Dinda masih tidak berhenti untuk memikirkannya kembali.
__ADS_1
‘Hm.. apa aku harus memakai parfum ya? Fiuh.. hmm aku harus merapikan rambutku dan memakai lipstik tipis. Hm..’, Dinda terus memperhatikan penampilannya di depan cermin.
‘Bagaimana mas Arya bisa mempertahankan perut sixpack nya ya. Padahal kebanyakan orang yang selalu bekerja sambil duduk pasti sudah menimbun lemak. Apa setiap weekend nge-gym mempengaruhi bentuk tubuhnya? Aah.. dada bidangnya juga bagus..Tunggu, Dinda! Apa yang kamu pikirkan…. Tidak .. tidak. Kamu sudah berubah jadi seperti Bianca.’, teriak Dinda dalam hati.
‘Tapi apa salahnya memikirkannya. Dia kan suamiku. Eh! Dinda.. Kamu kok jadi aneh sih..Stop stop stop’, berapa kalipun Dinda berusaha menghindar dari gejolak pikirannya, Dinda terus saja kembali memikirkan topik yang sama. Dia seperti berbicara dengan berbagai kepribadian Dinda di dalam tubuhnya.
“Fuhh kenapa disini panas sekali ya? Apa AC nya kurang dingin?”, ujar Dinda sambil menggerak - gerakkan gaun tidurnya.
Gadis itu sudah selesai mengeringkan rambutnya. Tak lama, Arya juga keluar dari kamar mandi. Pria itu sudah mengenakan piyamanya. Masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Arya berjalan mendekat ke arah Dinda yang berdiri disamping meja riasnya.
Dinda merasa sangat deg-deg-an sampai - sampai dia bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri. Arya terus berjalan mendekat hingga Dinda merasa terjebak di dinding dan tidak bisa mundur lagi. Dinda secara refleks memejamkan matanya karena wajah Arya yang sudah semakin dekat. Bahkan bulir - bulir tetesan dari rambut pria itu jatuh di bahu Dinda.
Dinda memejamkan matanya rapat seperti sedang menantikan bibir pria itu mendarat di bibirnya. Tetapi, Dinda justru merasa Arya semakin dekat dengan telinganya.
“Ikut saya ke meja kerja. Ada yang mau saya tanyakan ke kamu.”, ujar Arya kemudian.
“Eh?”, ujar Dinda refleks.
Respon Arya barusan berbeda jauh dari bayangan dan imajinasinya tadi. Dinda yang tadinya memejamkan matanya, mulai membuka mata itu. Dia heran. Dia juga masih mendapati wajah Arya yang masih dekat dengannya.
Arya mengangkat tangannya dan mendaratkan jarinya memegang bibir ranum Dinda.
“Kamu pakai lipstik? Memangnya kita mau ngapain?”, tanya Arya sambil menyunggingkan senyuman liciknya.
“Come, Come.”, lanjut pria itu lagi setelah dia merenggangkan jaraknya dengan Dinda dan berjalan menuju ruang kerja miliknya. Dia bahkan mengulurkan tangannya saat berkata ‘Come, Come’. Arya sangat puas melihat ekspresi Dinda saat itu.
‘Eh? Kenapa jadi aku yang seolah - olah mau melakukan sesuatu disini? Apa - apaan sih mas Arya..’, Dinda berteriak dengan segenap tenaga dalamnya meskipun dari luar tidak terdengar. Dia dengan patuh mengikuti langkah Arya menuju keluar kamar.
Berbeda dengan di rumah, Arya tidak meletakkan ruang kerjanya di dalam kamar. Ia juga tidak membuatnya sebagai ruangan, tetapi semacam open space yang hanya disekat di sebelah area dapur lebih tepatnya dekat minibar. Dia meletakkan sebuah rak - rak berisi bunga kaktus sebagai pembatas.
“Duduk.”, ujar Arya pada Dinda.
‘Kenapa aku seperti mengenal situasi ini? Aku seperti sedang disidang di kantor oleh Pak Arya. Bukan suaminya, mas Arya.’
Dinda duduk patuh seperti anak kecil di depan meja kerja Arya. Pria itu tentu saja duduk di seberangnya seperti seorang bos.
“Kamu lulusan sistem informasi, kan?”, itulah pertanyaan pertama Arya pada Dinda. Pria itu terlihat memegang sebuah tablet. Tapi Dinda tidak melihat isinya.
“Intern di kantor X di divisi Digital and Development adalah pekerjaan pertama kamu?”, tanya pria itu lagi.
Dinda kembali mengangguk.
“Sebenarnya kenapa mas Arya menanyakan itu?”, akhirnya Dinda memberanikan diri untuk bertanya.
“Kenapa kamu tidak masuk ke start-up atau mengincar posisi sebagai product analyst dan sejenisnya di perusahaan yang bergerak dibidang software. Kenapa memilih di perusahaan ini?”, alih - alih menjawab pertanyaan Dinda, Arya malah menghujani Dinda dengan pertanyaan lainnya yang lebih berat.
“Hm.. saat di kampus, kakak kelas saya bilang kalau resume bekerja di perusahaan ini sangat bagus untuk modal di perusahaan lain.”, Dinda menjawab masih dengan nada yang ragu.
“Berarti kamu gak punya rencana untuk meniti karir di perusahaan yang sekarang? Kamu ingin pindah setelah masa intern kamu berakhir?”
“Eng-nggak juga si Pak, tapi setidaknya saya bisa bekerja dan mendapatkan pengalaman dulu di perusahaan ini.”, Dinda refleks menyebut Arya dengan panggilan ‘Pak’ karena dia merasa seperti sedang di kantor kalau begini.
“Apa cita - cita kamu? Hm.. setidaknya karir yang ingin kamu capai 3 atau 5 tahun kedepan?”, Arya terus menghujani Dinda dengan pertanyaan - pertanyaan berat lainnya.
“Hm? Saya belum benar - benar memikirkannya.”
“Kamu sudah di tengah semester masa intern dan belum memikirkan proyeksi karir ke depan? Terus apa motivasi kamu bekerja?”
“Hm.. hmm..”, Dinda bingung harus menjawab apa. Dia sama sekali tidak memikirkan karirnya ke depan. Saat pertama kali lulus, yang ada di pikiran Dinda hanya mencari pekerjaan dan bisa menjadi wanita karir. Entah posisinya apa, yang penting dia ingin menjadi wanita yang independen.
“Jangan bilang kamu tidak pernah memikirkannya sama sekali? Terus kamu bekerja hanya ingin terbawa ombak saja, tanpa tujuan yang jelas? Yang ada kamu hanyut.”, pertanyaan Arya kali ini sudah sangat mengintimidasi menurut Dinda.
Dinda melihat sosok pak Arya di depannya dan merasa sangat gugup.
‘Apa - apaan dia ini. Apa dia sekarang dalam mode kepala divisi di kantor? Kenapa menyeramkan sekali. Pertanyaannya kenapa terlalu berat? Memang salah kalau aku belum memikirkan karir ke depan? Aku kan hanya ingin menikmati masa - masa di kantor seperti sekarang ini. Mungkin aku akan memikirkannya nanti.’
Arya menyadari Dinda yang bingung dan tidak bisa menjawab pertanyaannya.
“Din, kalau kamu mau jadi wanita karir, bekerja di perusahaan, setidaknya kamu harus memikirkan proyeksi karir kamu kedepan supaya path yang kamu lalui jelas dan kamu juga bisa fokus mengejar apa yang ingin kamu kejar. Dua tahun, lima tahun itu adalah waktu yang singkat.”
__ADS_1
Dinda yang tadinya menunduk kembali menatap Arya.
“Selain divisi Digital and Development, apa ada divisi di kantor kita yang membuat kamu tertarik?”, Tanya Arya.
“Hm.. Business and Partners untuk industri IT, hmm selain itu tidak ada divisi di kantor yang cocok dengan background saya, Pak.”, jawab Dinda.
“Perusahaan lain yang membuat kamu tertarik untuk bekerja disana?”
“Ada beberapa sih, Pak. .Pertama …. Kedua ….”, Dinda menyebutkan setidaknya 10 nama perusahaan yang dia tertarik untuk bekerja disana.
Arya lanjut menanyakan pertanyaan yang sama, posisi apa yang Dinda inginkan di masing - masing perusahaan tersebut dan bahkan menanyakan alasannya. Tak terasa waktu 20 menit berlalu.
“Kamu pikirkan dan petakan pertanyaan saya tadi menjadi ‘Target Karir kamu kedepan’. Baik di perusahaan yang sekarang maupun di 10 perusahaan yang kamu sebutkan. Dan satu lagi, kamu tidak akan bisa mengisi posisi Business and Partners, apapun itu selama saya masih menjadi kepala divisi disana. Karena saya adalah suami kamu. Hubungan yang masih sebatas berkencan saja tidak diperbolehkan antar satu kepala divisi apalagi pernikahan.”, ujar Arya menjelaskan pada Dinda.
Cepat atau lambat, Arya tahu benar dia harus menjelaskan ini pada Dinda. Dinda memang sudah tahu, tetapi sebagai anak baru lulus kemarin, mungkin Dinda tidak menganggapnya serius, sehingga Arya perlu memperjelas bagian itu pada Dinda.
“Iya Pak. Bagaimana dengan divisi Digital and Development? Sampai kapan Pak Arya akan memimpin divisi ini?”, Meski sangat ragu, Dinda harus memutuskan untuk menanyakan pertanyaan ini. Dia bahkan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pertanyaannya karena takut.
“We’ll see. Sejujurnya saya tidak ingin menghancurkan impian kamu jika ternyata kamu ingin terus bekerja di divisi Digital. Tapi saya belum melihat target karir yang kamu inginkan. We’ll talk about it later.”, ujar Arya.
“Ingat, deadline nya dua minggu lagi. Kamu harus bisa kasih saya laporan proyeksi karir kamu, DUA MINGGU LAGI. Jangan lupa bikin PPT-nya, karena saya mau kamu presentasi.”, lanjut Arya. Meski ini adalah pembahasan internal mereka berdua, tapi Arya membuatnya sangat serius.
‘Kenapa pakai PPT segala? Memangnya ini di kantor.’, protes Dinda dalam hati.
“Ingat, kalau tidak selesai, nama kamu saya coret dari daftar karyawan yang ikut Team Building.”, kata Arya dengan nada baritonnya yang tegas.
“Tapi itu kan urusan internal di kantor, Pak. Kenapa harus dihubungkan dengan proyeksi karir yang menjadi diskusi kita berdua. Ini namanya penyalahgunaan wewenang.”, Dinda memberikan protes keras.
Gadis itu menantikan momen team building ini sejak lama. Sebagai lulusan yang baru bekerja, semua teman - temannya sudah lebih dulu memamerkan masa - masa team building mereka di instagram.
“Kamu sudah menikah, kan?”, Tanya Arya.
“Iya.”
“Kamu istri orang, kan?”, tanya Arya lagi.
“I-iya.”, Dinda menjawab ragu sambil memikirkan kemana arah pembicaraan Arya.
“Kamu tetap akan pergi kalau suami kamu tidak mengijinkan?”, lanjut Arya.
“Aaah… Iya saya paham Pak Arya.”, jawab Dinda sambil menunduk lagi.
‘Kenapa dia semakin sering menggunakan kekuasaannya sebagai suami?’, tutur Dinda kesal dalam hati.
‘Tidak boleh menginap. Tidak boleh dekat - dekat Dimas. Tidak boleh ini. Tidak boleh itu.’, Dinda melanjutkan protes - protesnya dalam hati sampai tidak sadar Arya sudah berjalan mendekat ke hadapannya.
“Oke.. meeting kita selesai. Sekarang lanjut ke meeting berikutnya.”, ujar Arya menurunkan suaranya, membuatnya terdengar halus dan seksi.
Pria itu juga mematikan lampu ruang kerja, sehingga ruangan tengah apartemen itu hanya disinari oleh sebuah lampu redup yang membuat suasana semakin romantis.
“Berapa kali kamu panggil saya ‘Pak’?’, tanya Arya lembut dihadapan Dinda.
“Oh?”, Dinda langsung bingung.
“Kamu harus membayar semuanya malam ini. Sepertinya, lipstik kamu akan segera memudar begitu kita masuk ke kamar.”, ujar Arya mengecup bibir Dinda. Kecupan singkat tapi sukses membuat Dinda terkejut.
‘Aaakkk.”, Dinda berteriak begitu Arya sudah menggendongnya.
“Kamu pakai parfum? Sudah siap - siap rupanya?”, Arya terus menggoda Dinda. Arya menutup pintu kamar dengan sekali tendangan dan berjalan ke arah ranjang.
“Sepertinya kamu harus meminta Bi Rumi untuk menaruh setengah lingerie kamu di apartemen.”, Arya mengeluarkan senyum liciknya.
Dinda membulatkan matanya tidak percaya.
Arya sudah mendudukkan Dinda di atas ranjang. Sebelum ikut menaiki ranjang, Arya melepas piyama bagian atasnya.
Dinda refleks menutup matanya. Meski lampu yang nyala tinggal lampu nakas saja, tapi Dinda bisa melihat dengan jelas tubuh Arya.
“Sepertinya kamu sudah melihat semuanya. Kenapa masih malu.”, kata Arya tersenyum tipis sebelum akhirnya menaiki ranjang, mengangkat sedikit wajah Dinda dan menciumnya lembut. Ciuman yang lebih intens, lebih lama, dan membuat tubuh Dinda bergetar. Jantung gadis itu berdetak kencang.
__ADS_1
Arya sudah membuat hatinya berdetak seperti roller coaster malam ini. Ia membuatnya diam tak berdaya saat diinterogasi tentang karirnya ke depan. Sekarang, Arya malah memberinya kenyamanan dengan berbagai sentuhan - sentuhan lembut yang membuat Dinda lagi - lagi tidak akan bisa melupakan malam ini.