Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 106 Kemarahan Arya


__ADS_3

Arya baru saja menyelesaikan meetingnya dengan regional. Seharusnya, mood Arya sangat bagus hari ini karena regional memuji performancenya yang baik di bulan ini dan sangat antusias dengan performancenya ke depan dengan memegang 10 tim Business and partners sebagai senior head.


Pengumuman itu akan secara resmi di kirimkan kepada semua karyawan melalui email. Foto profil Arya juga sedang dalam proses untuk dimasukkan ke portal website dengan jabatan dan deskripsi yang baru serta mencantumkan beberapa project - project besar yang sudah pernah dia handle.


Tapi sebaliknya, mood Arya sedang tidak karu - karuan hari ini karena kepalanya tidak berhenti memikirkan Dinda. Pertengkarannya tadi pagi, ucapan gadis itu, pesan dari Dimas yang dia lihat di ponsel Dinda, dan bayangan - bayangan interaksi gadis itu dengan rekan se kantornya membuat kepala dan hati Arya panas.


Tapi Arya masih terlalu selfish untuk mengakui perasaannya. Arya tahu benar bagaimana antusiasnya Dinda pada pekerjaan pertamanya. Arya mencoba bersikap professional. Dia menikmati kebersamaannya dengan gadis itu. Apakah dia sudah sepenuhnya melupakan Sarah? Apa Arya sudah bisa mengakui perasaannya pada Dinda? Semua pertanyaan - pertanyaan ini memenuhi kepalanya.


Meski ada satu jawaban yang paling simpel, tapi entah mengapa jawaban itu belum masuk di kepala seorang Arya Pradana.


Masih ada waktu sekitar 10 menit lagi menuju meeting berikutnya. Arya memanfaatkan waktu ini untuk ke toilet. Setelahnya, dia berbelok ke arah divisi Digital and Development untuk memeriksa keberadaan Dinda. Biasanya Dinda sudah mengirimkan pesan menanyakan kapan pulang, tetapi hingga tadi, Arya belum menerima satu pesan pun.


‘Apa dia masih bekerja?’, tanya Arya dalam hati.


Arya juga tidak berinisiatif untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu karena dia juga masih memikirkan pertengkaran mereka tadi pagi. Dia masih kecewa dengan perkataan Dinda meski dia sadar sebenarnya dialah yang salah, sampai gadis itu menarik kesimpulan sendiri.


Sedihnya, saat tiba di divisi DD, Arya tidak melihat Dinda atau siapapun yang dia kenal, kecuali Erick.


“Rick, (Dinda) kemana?”, tanya Arya sambil mengarahkan lirikan matanya ke kursi yang biasa digunakan Dinda.


Masih ada beberapa orang disana, sehingga dia juga tidak bisa menyebut nama Dinda secara terang - terangan.


“Sepertinya sudah pulang, Ar. Hanya sisa aku saja disini. Aku juga sepertinya sudah mau pulang. Kenapa? Kalian tidak pulang bareng?”, tanya Erick.


Di pikiran Erick, Dinda mungkin pulang lebih dulu karena Arya masih ada meeting.


“Tidak. Ya sudah. Thanks buat laporannya. Tidak ada revisi.”, ucap Arya sebelum berlalu menuju ruangannya.


“Kapan ke Bangkok?”


“Minggu malam.”, jawab Arya.


“Kembali lagi?”


“Sepertinya Jum’at.”


“Uuu.. lama juga. Hm… itu (Dinda) di bawa ga? Lama loh perginya, aku juga sepertinya meeting terus. Jadi gak bisa monitoring..”, kata Erick menggoda Arya.


Padahal, saat ini Arya sedang tidak dalam mood yang bisa digoda tentang hal seperti itu. Arya tidak menanggapi kata - kata Erick dan langsung berlalu ke ruangannya.


‘Dia kenapa? Sedang datang bulan? Kenapa moodnya buruk sekali?’, tanya Erick dalam hati.


Arya sudah sampai lagi di ruangannya. Ternyata tim Business bawahan Gilbert sudah berdiri di depan ruangan menunggunya.


“Loh, Pak Gilbert mana?”, tanya Arya.


“Cuti setengah hari, Pak. Tadi katanya sudah bilang pak Arya.”, ujar salah seorang bawahan Gilbert. Ada 4 orang yang hadir disana. Satu orang membawa laptop, dua orang membawa dokumen, dan satu lagi hanya membawa pulpen saja.


“Engga. Tidak ada email permintaan cuti yang masuk ke saya hari ini.”, ujar Arya.


“Oh.. masa? Pak Gilbert tadi siang mengambil tas dan langsung pulang. Ketika ditanya, dia bilang sudah izin setengah hari dan minta kami untuk menggantikan meeting.”, ujar salah seorang dari mereka yang memiliki posisi Assistant Manager.


“Tidak ada. Baiklah, masuk.”, perintah Arya dengan nada dingin.


Tanpa banyak intro, mereka memulai meeting. Arya mengeluarkan banyak pertanyaan kritis di meeting kali ini.


“Siapa yang buat analisanya?”, tanya Arya.


“Pak Gilbert, Pak.”, jawab salah seorang diantara mereka.


“Kalian tidak terlibat?”, tanya Arya lagi.


Satu per satu saling lirik - lirikan dengan yang lain dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Arya.


“Kenapa? Jadi kalian meeting kesini, dari tadi menjelaskan A - Z yang menurut saya tidak jelas hanya berbekal bahan presentasi dari Gilbert? Orangnya bahkan gak ada sekarang.”, Arya sudah mengeluarkan taringnya.


Dia tidak lagi menyebut kata ‘Pak’ di depan nama Gilbert meski manager itu sudah berusia 40 tahun, dan lebih tua dari Arya.

__ADS_1


Plak..Arya membanting dokumen presentasi yang diberikan padanya ke atas meja dan membuat yang lain terkejut.


“Saya kan sudah pernah katakan berkali - kali. Kalian itu punya potensi untuk memberikan masukan. Di kantor, kalian itu tidak bekerja sendiri tapi tim. Sampai kapan kalian harus terus mengikuti kemauan Gilbert?”, Arya mengacak - acak rambutnya karena frustasi melihat bawahannya.


Arya sudah menyangka hal ini akan terjadi lagi. Tim 5 yang dibawahi oleh Gilbert sudah berkali - kali berbuat kesalahan. Bukan karena anak buahnya tetapi karena Gilbert sendiri. Menurut Arya, dia terlalu individualis dan masih menjunjung tinggi senioritas.


Menurutnya, pendapat dia adalah yang paling benar dan tidak membuka kesempatan bagi bawahannya untuk memberikan pendapat. Bahkan disaat seperti ini pun, dia malah tidak hadir.


Ting Tong… ponsel Arya berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.


Arya adalah orang yang jarang sekali membuka ponsel saat sedang meeting. Namun, karena masalah di tim 5 ini, dia memutuskan untuk membuka ponselnya dan membaca pesan yang mungkin penting untuk menjernihkan pikirannya.


Arya melihat pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dia belum membuka pesan itu dan baru melihat dari notifikasi saja. Sepertinya si pengirim mengirimkan foto kepada Arya. Berpikir bahwa itu pesan yang tidak penting, Arya hanya meletakkan ponselnya.


“Ya sudah. Masih ada waktu seminggu. Saya akan minta tim 8 untuk membantu kalian. Pak Albert sepertinya akan bersedia memberikan support. Saya yang akan menghubunginya besok.”, ujar Arya.


“Tapi bukannya pak Gilbert bukan di bawah pak Arya?”, salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.


“Mulai sekarang semua tim Business and Partners dibawah saya. Kalian mungkin akan mendapatkan informasinya besok.”, kalimat Arya langsung memberikan efek shock pada yang lain. Mereka tak kuasa untuk menyembunyikan ekspresi terkejut dan kagum mereka.


“Oh.. selamat Pak Arya.”, ujar mereka kemudian menyadari bahwa sepertinya level Arya sudah semakin tinggi.


Ting Tong


Ponsel Arya kembali berbunyi. Seperti tadi, dia tidak langsung membuka isi pesan yang masuk tapi hanya melihat dari notifikasi.


Dari: Nomor tidak dikenal


Sepertinya kamu belum melihat foto yang aku kirimkan.


Kamu yakin tidak ingin melihat pacarmu sedang bersama pria lain?


Begitu bunyi pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal tadi. Arya langsung membuka pesan dan melihat foto yang menampakkan Dinda bersama Dimas. Foto diambil dari sudut yang memperlihatkan Dimas dan Dinda terlihat dekat. Siapapun yang melihat foto ini akan menganggap Dimas melakukan sesuatu pada Dinda.


Wajah Arya yang tadi sudah tegang malah semakin menegang. Sorot matanya tajam tatkala dia melihat foto tersebut.


“Kita lanjut meetingnya besok. Kalian boleh keluar.”, kata Arya segera memerintahkan semua bawahannya yang ada di ruangan itu untuk kembali.


Pergerakan Arya tentu saja membuat karyawannya tadi, beberapa karyawan lain yang belum pulang, dan Erick kebingungan.


“Pak Arya, kenapa? Gimana meetingnya?”, tanya seseorang.


Mereka bertanya - tanya kenapa Arya tiba - tiba langsung terburu - buru seperti itu.


‘Ah… moodnya memang sedang buruk. Sepertinya besok bukan waktu yang baik untuk meminta tanda tangan.’, setidaknya itulah pemikiran rata - rata karyawan yang melihat ekspresi Arya barusan.


******


Di parkiran beberapa menit yang lalu sebelum foto diambil dan dikirim ke ponsel Arya.


Dinda sedang menunggu lift untuk kembali ke lobi. Tanpa sengaja dia bertemu Dimas dan tidak bisa naik karena lift sudah penuh dengan orang lain.


“Loh, Dinda? Kamu ngapain disini sendirian?”, tanya Dimas.


“Ah.. tadi diajak pulang oleh mba Delina. Rekan kerja yang sering bersamaku ke Cafe, yang suka menggunakan rok pendek dan rambut bergelombang panjang berwarna hitam.”, kata Dinda menjelaskan karena Dimas tidak tahu siapa yang dia maksud.


“Ahhh.. oke. Aku tahu. Trus kenapa masih disini. Dia sedang ambil mobil?”


“Ternyata dia harus segera kembali karena suatu alasan dan tidak jadi pulang bersama. Sekarang aku mau ke lobi untuk memesan ojek online.”, tutur Dinda.


Karena Dimas mengajaknya berbicara, Dinda lupa menakan tombol lift ke atas. Disana, tidak ada orang lain lagi selain mereka.


“Oh.. kalau begitu naik mobilku saja.”, ujar Dimas menawarkan.


“Tidak - tidak. Tidak apa - apa, aku tunggu ojek online saja.”, jawab Dinda.


“Kamu konsisten sekali menolak ajakanku. Hm.. karena Arya?”

__ADS_1


Dinda hanya diam dan itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Dimas.


“It’s okay. Oh ya, aku punya hadiah untukmu.”


“Eh?”, tanya Dinda bingung.


Dia kira Dimas akan berhenti dan melanjutkan perjalanannya menuju mobilnya di parkiran. Ternyata dia malah menawarkan hadiah. Ekspresi Dinda tentu saja bingung. Hadiah? Memangnya dia sedang ulang tahu? Begitulah kira - kira yang dipikirkan oleh Dinda.


“Aaa.. bukan apa - apa.. Hanya hadiah kecil yang juga aku bagikan ke beberapa rekan lain. Aku kira kamu suka sekali dengan teh hijau. Setiap kali ke cafe, kamu selalu pesan teh hijau. Aku mendapat souvenir dari salah seorang distributor Cafe. Teh hijaunya enak sekali dan ini unlimited. Belum di produksi bebas. Aku teringat kamu dan ingin sekali memberikannya padamu.”, jelas Dimas.


“Oh.. tidak perlu. Aku menerima niat baikmu. Tapi aku tidak bisa menerima hadiah itu.”, jawab Dinda menolak.


“Ayoolah. Aku janji tidak akan menawarkan kamu untuk naik mobilku atau mengantarkanmu pulang. Aku hanya ingin kamu menerima hadiah ini. Sebagai pemilik Cafe, aku ingin sekali memberikanmu teh ini. Tehnya enak sekali. Aku juga memberikannya kepada beberapa rekan yang lain. Tenang saja.”, ujar Dimas.


Dinda merasa tidak enak karena dia melihat ketulusan dari mata Dimas untuk murni memberikannya hadiah ini.


“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih banyak.”


“Kalau begitu, ikut aku sebentar. Mobilku ada di barisan itu, tehnya ada di sana. Tenang saja, lift basement biasanya sangat lama. Aku yakin baru akan datang sebentar lagi.”, ujar Dimas.


Dinda mengikuti Dimas menuju ke mobilnya. Mobil Dimas di parkir di area depan yang masih sangat terbuka, jadi Dinda berpikir tidak akan apa - apa.


“Ini teh hijau asli dan sangat terkenal. Mereka melakukan proses khusus untuk memproduksinya dan menjaga originalitas rasa dan aroma. Kamu harus mengikuti petunjuk yang ada di buku di dalam kotak ini agar bisa menikmati teh dengan nikmat……”, Dimas terus menjelaskan tentang teh hijau yang dia berikan pada Dinda. Dimas memberikan kotaknya sambil menjelaskan.


Sesekali dia menunjuk beberapa icon dan gambar di kotak untuk menunjukkan elemen - elemen yang sedang dijelaskan. Dimas juga mengambil buku dari kotak yang sudah dia buka di dalam mobilnya.


“Nah, nanti kalau kamu sudah membuka teh ini, kamu bisa menemukan buku ini di dalamnya. …..”, Dimas terus menjelaskan beberapa poin penting di dalam buku itu.


Dinda memang sangat menyukai teh hijau. Mendengar penjelasan Dimas yang sangat rinci membuatnya tertarik dan sedikit mendekat untuk melihat lebih jelas halaman di buku yang ditunjukkan oleh Dimas.


Saat itulah seseorang yang tidak mereka sadari berada disekitar situ, memotret Dimas dan Dinda. Dia mengambil sudut yang sangat bagus dan bisa membuat siapapun salah paham. Orang itu langsung mengirim foto itu pada Arya. Dua menit menunggu, belum ada tanda Arya membaca / melihat pesan itu.


Akhirnya orang itu kembali memberikan chat yang lebih jelas agar Arya membuka dan melihat fotonya. Begitu ceklis sudah muncul dan menandakan pesan sudah dibaca, orang itu tersenyum dan penasaran menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dia berharap ada orang lain lagi disana, tetapi nihil. Tak ada siapapun selain Dinda dan Dimas yang masih asyik berbicara mengenai teh.


Ting.. setelah menunggu beberapa menit, akhirnya lift di basement 2 terbuka. Seseorang keluar. Hanya sendiri. Orang misterius yang mengambil foto tadi bisa melihat dari tempatnya bersembunyi dan menutup mulutnya menahan tawa karena yang datang benar - benar Arya. Dia sudah tak sabar membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Arya datang dengan tatapan tajam melihat ke arah kiri dan kanan sebelum akhirnya menemukan keberadaan Dinda dan Dimas. Karena mereka menghadap ke arah depan, mereka tidak menyadari kehadiran Arya yang sudah berjalan tegap ke arah mereka.


“Pokoknya, kamu pastikan urutannya benar. Ohiya jangan ditutup ya kalau sudah dibuka. Ingat, simpan di tempat yang suhunya sesuai petunjuk…. “, Dimas masih menjelaskan dengan antusias. Tiba - tiba, seseorang menarik lengan Dinda dengan kuat.


“Ikut saya…”, kata Arya langsung menarik kasar lengan Dinda tanpa memikirkan dan mempedulikan Dimas yang juga terkejut karena kehadiran pria itu.


“Mas.. sakit.. Mas Arya.. “, Dinda yang masih terkejut dan bingung dengan kehadiran Arya yang langsung menarik lengannya hanya bisa merintih kesakitan karena genggaman pria itu yang cukup kuat.


“Mas Arya apa - apaan. Mas.. sakit… mas… mas Arya…”, Dinda masih merintih. Mobil Arya ternyata juga diparkir tak jauh dari sana. Hanya beberapa puluh meter saja.


Mendengar Dinda merintih kesakitan, Dimas yang tadinya tidak ingin ikut campur mengikuti mereka.


“Arya… Kamu apa - apaan, dia kan sudah bilang sakit. Lepaskan.”, ucap Dimas.


“Heh.. Diam kau. Bukan urusanmu. Dia istriku. Lebih baik kau pergi sebelum aku menghajarmu disini.”, ucap Arya dengan nada mengancam. Sorot matanya tajam. Dimas tidak pernah melihat ekspresi Arya yang semarah ini.


Dimas memutuskan untuk mengikuti kata Arya dan menghindar karena dia tidak ingin membuat keributan. Dinda juga memberikan tatapan agar Dimas tidak ikut campur.


“Masuk.”, perintah Arya pada Dinda agar gadis itu masuk ke dalam mobil.


Dinda yang bingung dengan sikap Arya hanya bisa mengikuti perintahnya dan masuk ke dalam mobil. Arya kemudian menutup pintu mobil di sisi Dinda dengan kuat sampai gadis itu tersentak kaget.


Arya tidak langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia menghampiri Dimas dan menarik kerah bajunya.


“Aku sudah memperingatimu untuk tidak mendekati istriku. Dasar brengsek, aku akan mengurusmu nanti.”, ucap Arya dengan tegas.


Ia melepaskan cengkramannya dan masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kasar. Dinda tidak berani melirik ke arah Arya dan hanya diam sambil memikirkan apa kesalahan yang dia lakukan. Dinda bingung, dia merasa tidak melakukan apapun yang membuat Arya marah.


“Mas Arya kita mau kemana?”, Dinda melihat Arya tidak mengambil jalan biasanya. Arya justru memutar ke arah lain.

__ADS_1


Saat sudah mendekati tujuan, Dinda baru sadar kalau sepertinya Arya membawanya ke apartemen.


‘Dia kenapa sih? Kenapa dia tiba - tiba marah? Kenapa dia tidak pulang ke rumah dan malah membawaku kesini? Biasanya dia kesini kalau macet, kemalaman, atau … ada masalah yang harus diselesaikan? Tapi apa? Aku tidak merasa berbuat kesalahan. Apa dia cemburu? Tidak mungkin, tadi pagi saja dia tidak mau menjawab pertanyaanku, jadi mana mungkin dia cemburu. Lalu apa?’, Dinda hanya bisa bertanya - tanya dalam hati.


__ADS_2