Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 102 Ngobrol Cantik di Kamar Dinda


__ADS_3

“Hai Din, apa kabar kamu?”, sapa Bianca setelah dia melihat Dinda mendekat ke arahnya.


Saat ini, mereka sedang ada di halte depan gedung perkantoran Dinda. Dinda sudah berjanji akan mengundang Bianca ke rumah untuk melihat referensi foto - foto mereka. Bianca juga masih ingin menanyakan banyak hal pada Dinda.


Tempo hari, Arya datang terlalu cepat dan bahkan tidak memperbolehkan Dinda menginap. Sehingga, Bianca hanya bisa bercengkrama sedikit.


Dinda membalas sapaan Bianca dengan tak kalah ramahnya. Dia sangat senang bertemu temannya ini lebih sering dari sebelumnya. Dan ini menjadi warna baru untuk hidup Dinda. Dia juga bisa lebih bebas bercerita karena Bianca sebentar lagi akan menjadi keluarga besar.


Dinda juga berpikir untuk meminta pendapat Bianca bagaimana caranya dia bisa memberitahukan ketiga sahabat mereka tentang pernikahan Dinda. Meski terdengar simpel tapi Dinda sangat takut karena jika saja dia salah menjelaskan, bisa bisa ketiga temannya mengamuk.


Ekspresi riang yang ada di wajah Dinda saat menyapa Bianca perlahan berubah karena dia melihat seseorang di depannya. Dimas, pria sekarang ada di hadapan mereka dengan ekspresi bersahabat di wajahnya. Hal itu tentu membuat Dinda tidak nyaman.


“Hai Din”, sapa Dimas pada Dinda.


“Ternyata Dimas ini buka cafe di kantor kamu ya? Wah.. aku sampai gak kenal loh tadi. Soalnya kan waktu itu kita cuma ketemuannya sebentar.”, ujar Bianca girang.


Dinda hanya bisa memberikan ekspresi biasa untuk sekedar berbasa basi agar tidak terkesan sombong saja.


“Iya, saya juga kaget karena bisa ketemu Dinda di tempat yang sama.”, kata Dimas.


Dimas membuka 5 cabang Cafenya di berbagai gedung perkantoran berbeda. Dua lagi baru akan diresmikan segera. Sehingga dia punya 7 gerai. Tetapi, dia malah lebih sering memantau Cafenya yang ada di gedung perkantoran, tempat Dinda bekerja.


“Hmm.. makasih ya bantuannya tadi.”, kata Bianca pada Dimas.


“Ya udah, kita pesan ojol sekarang yuk. Aku yang pesan aja.”, Dinda tak ingin berlama - lama bercengkrama disini karena dia juga tidak ingin terlibat percakapan yang canggung dengan keberadaan Dimas.


“Eh.. ga usah Din. Aku bisa antar, kok. Kebetulan aku menuju arah yang sama. Tadi aku sudah beritahu Bianca dan dia setuju.”, ujar Dimas menjelaskan.


‘Apa-apaan dia ini? Apa karena dia sudah lama di Amerika jadi sangat friendly pada siapapun?’, bathin Dinda dalam hati.


“Bi, kamu kenapa main iya - iya aja sih ajakan Dimas. Kamu kan gak kenal sama dia. Aku juga belum tentu setuju.”, bisik Dinda di telinga Bianca.


Dinda tanpa sadar menolehkan kepalanya ke arah atas gedung perkantoran seolah - olah dia bisa melihat Arya.


“Kenapa? Apa Arya akan marah padamu kalau kamu naik mobilku?”, tanya Dimas yang menangkap arah pandang Dinda.


“Maaf Dimas sudah membuat kamu menunggu. Maaf sekali, tapi kita naik ojol aja, tidak apa - apa.”, ujar Dinda kemudian.


“Kenapa sih Din?”, tanya Bianca yang masih saja tidak bisa membaca situasinya.


Dinda memberikan kode tipis - tipis memohon agar Bianca tidak bertanya lagi padanya dan hanya mengikutinya saja.


Ekspresi wajah Dimas jelas kecewa.


“Tidak apa - apa. Kalau begitu aku pergi dulu. Hati - hati.”, kata Dimas berlalu dan masuk ke dalam mobilnya.


‘Kenapa semakin gadis itu menolak, semakin aku tertarik padanya? Dia jelas berbeda dengan Sarah. Ah..’, ujar Dimas dalam hati.


Dia mengeluarkan senyuman yang ambigu dan memberikan tatapan penuh arti. Jiwa kompetisinya tertantang dengan sikap Dinda yang terus menerus menolaknya dan menjauh darinya.


‘Gadis seperti itu, sudah sejauh apa perasaan Arya padanya? Apa aku benar - benar tidak punya kesempatan?’, tanya Dimas dalam hari.


******


“Woahhh… bagus sekali kamar kamu, Din?”, ujar Bianca yang takjub begitu masuk ke kamar Dinda dan Arya.


Dinda sudah meminta izin Arya untuk mengajak Bianca kesini. Awalnya Arya menolak karena dia merasa privasinya terganggu. Tapi, Dinda memohon dan mengatakan tidak akan ada barang - barang Arya yang akan mereka sentuh. Dinda juga tidak akan mengajak Bianca ke ruang kerja Arya. Hanya di kamar saja.


“Lebay kamu. Bukannya kamar di rumah kamu juga seperti ini?”, balas Dinda.


Sama seperti Arya, Bianca juga berasa dari keluarga yang mapan berlebihan. Jadi, sudah pemandangan biasa jika Dinda melihat kamar seperti ini saat masuk ke rumah Bianca.


Dia sekarang sudah duduk di sofa kamar. Dinda ikut duduk di sebelahnya setelah dia mengganti bajunya dengan yang lebih casual. Sementara, Bianca sudah berpakaian sangat casual dari pertama kali dia datang.


“Hayoo.. Mana foto - foto pernikahan kamu? Tadi aku sudah lihat yang di atas kasur. Wah.. itu beneran Dito yang memotret, Din?”, Tanya Bianca.


“Iya.. bagus ya hasil jepretan dia.”, puji Dinda.


“Awalnya aku ragu dengan pilihan mas Reza untuk tidak menghire orang dari studio foto. Tapi ternyata saat melihat foto - foto lamaran kemarin, aku jadi terkesima dengan hasil fotonya.”, balas Bianca.

__ADS_1


“Wah.. Dinda.. Ini kamu seintens ini interaksi pertamanya dengan mas Arya? Dia sampai meluk kamu serapat ini loh!”, komentar Bianca saat melihat satu persatu foto Dinda dan mas Arya.


‘Ah.. kamu akan lebih terkejut kalau melihat fotoku yang terpajang di apartemen mas Arya. Aku harap foto itu tidak ada di album foto yang ini.’, ujar Dinda berharap di dalam hati.


“Haha.. saat itu mungkin mas Arya hanya sedang menguji kesabaranku.”, kata Dinda.


“Hah, kenapa?”, Tanya Bianca.


Dinda bingung apakah dia harus menceritakannya pada Bianca atau tidak. Saat Arya meminta Dinda untuk membatalkan pernikahan dan Dinda menolak itu, Arya seperti balas dendam dengan melakukan skinship sesukanya.


“Ah.. enggak.”, balas Dinda yang akhirnya memutuskan untuk tidak menceritakan itu pada Bianca. Biarlah itu menjadi rahasianya saja.


“Katanya kamu bulan madu di Maldives, ya Din? Foto - fotonya mana?”, Tanya Bianca.


“Hm.. cuma sedikit. Itu juga langsung aku pindahin ke laptop, soalnya takut kelihatan kalau menyimpannya di hape.”


“Mana - mana?”, Bianca begitu penasaran sehingga Dinda terpaksa menunjukkannya agar gadis ini puas.


“Wah … wah.. Wah…”, kata itu tak lepas dari mulutnya saat melihat foto - foto Dinda dan Arya saat bulan madu.


“Jadi, di ranjang ini kalian berbuat sesuatu?”, Tanya Bianca. Penat melihat foto - foto, dia pun berniat untuk ke balkon dan berusaha menggoda Dinda saat melihat ranjang mereka.


“Tapi, bagus banget ya, tata letak kamar mas Arya. Di samping kamarnya, gak jauh ada balkon yang mengarah ke kebun. Udara segar sudah langsung masuk pagi - pagi dengan sendirinya. Kenapa masih perlu AC, ya?”, Tanya Bianca.


“Itulah yang aku bingung. Mungkin kepribadian mas Arya yang seperti es batu itu karena dia kebal terhadap dingin. Kamu bayangin aja, mas Arya pasang AC 16 derajat sampai pagi. Dia membuatku harus meringkuk memeluknya supaya aku tidak kedinginan.”, kata Dinda. Dibalik komplain dan curhatan yang dia sampaikan pada Bianca, tersurat kejujuran dan kepolosan Dinda yang tidak dia sadari.


“Wah.. kamu ini gayanya sok polos, tapi pamer pelukan sama mas Arya di ranjang, ya Din?”


Mendengar komentar Bianca, Dinda langsung menyadari bahwa dia sudah mengatakan kalimat yang salah.


“Eng- Enggak, maksud aku.. Ya… dingin, aku harus bagaimana? Guling juga sama dinginnya dengan AC. Sementara tubuh mas Arya kan hangat, terus dia juga suka gak pakai baju…”, Dinda segera menutup mulutnya tatkala kebodohannya malah bertambah.


“Hem… aku penasaran deh, gimana cara kamu bisa gak ketahuan sudah jadi istri mas Arya di kantor, kalau kamu aja tuh sejujur dan sepolos itu bilang ke aku semua rahasia kamu?”, tanya Bianca greget dengan temannya satu ini.


Dari dulu, Dinda memang sudah sepolos itu. Bahkan Bianca benar - benar tidak tenang meninggalkannya sendirian kalau sedang diajak oleh teman - teman kampusnya jalan atau hangout bareng. Bianca bisa sedikit tenang karena mayoritas ajakan - ajakan itu selalu ditolak Dinda karena dia lebih suka di rumah.


“Jarang?”, kata Bianca.


“Hm.. kadang - kadang sesekali keceplosan tapi gak ada yang sadar kok. Lagian siapa sih yang bakal mikir seorang pak Arya itu menikah sama aku? Aku siapa sih? Cuma intern kemaren sore.”, ujar Dinda.


“Intern kemaren sore. Bukan siapa - siapa. Tapi bisa bikin mas Arya gak bolehin kamu nginep? Bikin kamu takut naik mobil Dimas? Bela - belain jemput kamu ke rumah aku? Anter dan jemput kamu ke kamar aku waktu di villa?”, kata  Bianca pada Dinda.


Bianca selalu merasa Dinda terlalu underestimate dirinya.


“Kamu tahu gak sih, senior kita mas Bagas yang dulu anak fakultas hukum, satu fakultas sama aku, naksir sama kamu? Padahal aku baru bawa kamu sekali loh ke fakultas. Eh besoknya dia nanya nomor kamu, dong.”, kata Bianca mengingatkan Dinda.


“Paling dia cuma cari teman doang. Lagian itu kan senior kamu. Mungkin basa - basi.”


“Din, bedain mana basa - basi, mana yang mau ngegebet. Kamu itu terlalu underestimate diri kamu sampai gak tahu orang sekitar tuh ada yang suka sama kamu.”


“Dimas, juga suka kan sama kamu?”, tembak Bianca langsung.


“Bi, shuttt… kalau ada yang dengar, nanti salah paham.”, ujar Dinda khawatir. Padahal pintu kamar sudah tertutup.


“Kalau kamu tahu dia punya perasaan seperti itu, kenapa kamu malah mengiyakan saat dia mengajak kita naik mobilnya?”, Tanya Dinda.


“Ya… waktu itu aku belum tahu. Aku kira dia memang ingin membantuku saja. Tapi, melihat ekspresi wajahnya saat kamu kekeh naik ojol, aku jadi sadar.”, ungkap Bianca.


“Ohiya, darimana dia bisa tahu tentang mas Arya?”, tanya Bianca lagi.


“Dimas itu sahabat mas Arya dulu waktu kuliah di Amerika. Tapi karena hal yang tidak bisa aku jelaskan, hubungan mereka gak baik sekarang. Makanya aku gak mau memperburuk situasi dengan berada dekat dengannya.”


“Yah.. walaupun aku belum tahu bagaimana perasaan mas Arya sebenarnya.”, Dinda menghela nafasnya.


“Kenapa? Terus menurutmu kenapa dia over protektif kalau dia ga ada perasaan sama kamu Dinda.. Haduh.. Pusing ya, ngomong sama kamu.”, ujar Bianca frustasi


“Tapi mas Arya ga pernah bilang Cinta, Suka, atau semacamnya ke aku.”


“Dan kamu?”

__ADS_1


“Hm?”


“Dan bagaimana perasaan kamu ke mas Arya? Kamu cinta gak sama dia? Masa kamu mau tahu perasaannya, tapi kamu tidak tahu pada perasaanmu sendiri?”, Tanya Bianca.


“Aku takut.”, jawab Dinda.


“Takut apa?”, tanya Bianca lagi


“Aku mulai terbiasa dengannya. Aku mulai menginginkannya. Aku nyaman. Tapi, kalau aku mengakuinya dan ternyata mas Arya meninggalkanku. Aku gak mau jadi seperti Bunda.”, ujar Dinda.


Ini pertama kali Bianca melihat sisi Dinda yang seperti ini. Dia tahu kalau papa Dinda sudah tidak bersama mereka sejak lama. Meski tidak pernah bertanya dan mendapatkan penjelasan, tapi Bianca cukup mengerti untuk menduga bahwa papa Dinda pergi begitu saja.


“Berarti kamu sudah mencintainya, Din. Kamu sudah menyukai, mas Arya.”, ujar Bianca.


Dinda terdiam. Dia ingin mengatakannya tapi dia tidak yakin pada konsekuensi hati yang harus diterima. Dinda takut kecewa.


“Sekarang begini. Hubungan kalian bagaimana? Interaksi, komunikasi, skinship? Berapa kali kalian melakukannya? Bagaimana sikap mas Arya akhir - akhir ini?”, Tanya Bianca.


Dinda berusaha berpikir kembali bagaimana hubungan mereka akhir - akhir ini, mengikuti urutan pertanyaan Dinda.


“Adakah yang mengindikasikan mas Arya tidak menyukai kamu?”, tanya Bianca lagi.


“Tpai, bukankah laki - laki bisa tidur dengan siapa saja dengan mudah?”, Tanya Dinda.


“Aku ragu mas Arya seperti itu. Kalau yang aku dengar dari mas Reza. Meski mas Arya terlihat cool dan modern dari tampilannya. Tapi dia pria yang konservatif. Pacarnya selama ini bisa dihitung pake jari. Mustahil dia berbuat sejauh ini kalau dia tidak ada perasaan ke kamu, Din.”, ucap Bianca meyakinkan.


“Gini aja. Dari pada kamu bingung. Aku saranin kamu tanya langsung ke mas Arya.”


“Eh? Mana aku berani.”


“Trus, kamu mau nunggu ketidakpastian ini terus? Underestimate diri terus? Gak yakin terus? Yang ada kamu capek, Din. Kamu harus agresif. Kalau mas Arya belum bilang ke kamu, kamu harus bilang atau at least, bikin dia mengakui perasaannya ke kamu.”


“Aku kan bukan kamu Bi.”, ujar Dinda. Gadis di depannya adalah ratu agresif. Kalau tidak, mana mungkin pergerakan hubungannya dengan Reza bisa secepat ini. Berbeda sekali dengan Dinda.


Tok tok tok


Mereka bisa mendengar dengan jelas bahwa pintu kamar diketuk.


“Apa itu Bi Rumi? Tapi sepertinya minuman dan makanan sudah di antar dari tadi.”, pikir Dinda dalam hati.


“Sudah jam berapa sih?”, Tanya Bianca. Mereka sudah mengobrol panjang dan tidak ingat waktu.


“Huuukkk… Dinda kaget. Jangan - jangan mas Arya sudah pulang?”, Dinda segera berjalan menuju pintu dan membukanya.


Bravo. Arya sudah mejeng di depan kamar. Arya tahu jika ada Bianca bertamu ke rumah karena Dinda sudah menjelaskan dan meminta izinnya tadi. Arya tidak langsung membuka pintu karena mengantisipasi jika Bianca ternyata masih ada disana.


“Mas Arya”, sapa Dinda tersenyum sambil menyalami tangan pria itu.


“Masih ada Bianca?”, Tanya Arya.


Dinda mengangguk.


Bianca buru - buru membereskan barang - barangnya dan segera keluar dari kamar. Bianca cukup tahu tata krama di dalam kamar orang lain tanpa ada yang memberitahu. Arya pasti lelah, ingin bebersih, berganti pakaian dan sebagainya. Sudah sepatutnya Bianca melanjutkan obrolan mereka di luar.


“Malam mas Arya. Maaf sudah mengganggu.”, ucap Bianca segera permisi keluar.


“Sebentar ya Bi. Duduk dulu saja di sofa yang sana, aku akan menyusul.”, ucap Dinda segera.


Sebenarnya dia ingin segera menyusul Bianca agar temannya itu tidak canggung berada di luar rumah, karena mungkin saja nanti ada Ibas atau mba Andin yang lalu lalang. Tapi mas Arya sudah menyeretnya ke dalam kamar. Dinda terpaksa ikut dulu.


Cuppppp


Bibir Arya langsung menyambar istrinya begitu masuk ke dalam kamar dan pintu tertutup. Arya menyesap bibir ranum Dinda dengan lembut dan cukup lama. Setidaknya lima menit berlalu sebelum Arya melepas ciumannya.


“Hah hah hah..”, nafas Dinda tersengal.


“Mas Arya.”, ucap Dinda pada Arya karena langsung mencium gadis itu tanpa aba - aba.


“Jangan lama - lama. Aku sudah telepon Reza, dia akan kesini dan menjemput Bianca.”, kalimat pertama yang dikeluarkan Arya terdengar seperti mengusir temannya.

__ADS_1


__ADS_2