Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 171 Jadwal Periksa Kandungan


__ADS_3

“Din, kamu kapan jadwal periksa kandungan lagi?”, tanya mama Inggit.


Inggit memulai topik sarapan hari ini dengan pertanyaan penting. Aji mumpung ada Arya yang baru saja kembali malam tadi dari luar kota. Untuk mencegah puteranya itu melakukan perjalanan bisnis lagi, Inggit sedikit menyinggung topik sensitif ini.


“Harusnya minggu ini ma. Tapi Dinda belum tanya lagi ke dokternya.”, jawab Dinda sebelum menggigit sepotong sandwich buatan Bi Rumi.


“Ya sudah, kalau begitu, buruan kamu tanya dan booking tanggalnya, ya. Mama pengen menemani periksa juga.”, ujar Inggit mendengar jawaban Dinda.


“Apaan sih ma. Masa periksa kandungan rame - rame. Malu. Udah biarkan Arya saja yang menemani.”, ujar Andin mencegah bundanya.


“Tapi, sudah dua kali adik kamu ini tidak menemani. Masa bulan ini Dinda sendiri lagi. Ga mau mama.”, balas Inggit.


“Ma, bulan ini aku pasti akan menemani Dinda untuk periksa kok. Jadi ga perlu setting drama. Kali ini pemeran pendukungnya mba Andin?”, tanya Arya memberikan sindiran.


Dia sudah hafal betul dengan kebiasaan mamanya yang penuh drama.


“Kok kamu bisa tahu sih, Arya?.”, tanya Inggit merasa malu.


“Kamu Ibas, giliran ke berapa ngomongnya?”, tanya Arya.


“Abis mba Andin, trus mama tadi, harusnya giliran aku.”, Ibas menjawab tanpa berpikir panjang. Alhasil dia harus menerima sentilan halus dari Inggit yang tepat berada di sampingnya.


“Kamu, kenapa pake dibilang segala, sih.”, ujar Inggit memarahi Ibas.


Dinda hanya bisa tertawa. Dia tidak menyangka ternyata percakapan tadi adalah sandiwara Inggit agar Arya berjanji untuk mengantarkannya periksa. Dinda sudah mendapatkan janji Arya sebelumnya. Lagipula, kalau Arya tidak memenuhinya, dia sendiri yang akan rugi.


*******


“Mas Arya mau menemani aku pasti karena ga mau tidur di sofa lagi, kan?”, tanya Dinda.


Mereka sedang berada di ruang kerja Arya. Hari ini akhir pekan. Tapi, tidak ada aktivitas khusus yang mereka lakukan. Dinda juga tidak meminta karena Arya baru pulang dari luar kota semalam.


Sepertinya dia hanya akan membalas beberapa email, berangkat ke gym, dan kembali beristirahat.


“Memangnya, kalau kali ini aku gak bisa menemani kamu periksa kandungan, kamu akan hukum aku lagi?”, tanya.


Dinda mengangguk.


“Kamu ga kangen? Memangnya enak tidur sendiri?”, tanya Arya.


Pria ini sedang menggodanya.


“Hm.. lebih baik dari pada tidur bareng mas Arya tapi kesal. Jadi, mas Arya kali ini juga ga bisa menemani periksa? Ya sudah kalau begitu, gapapa. Aku periksa sendiri saja. Terserah mas Arya.”, ujar Dinda ngambek.


“Eh- eh… memangnya aku bilang tidak mau menemani? Aku kan cuma tanya apa kamu akan memberikan hukuman yang sama. Kok ngambek?”


“Aku janji akan menemani kamu. Kali ini, mau meeting apapun, aku tinggal. Demi kamu.”, ujar Arya dengan tatapan lembut mengarah ke Dinda.


“Walaupun tiba - tiba ada tim di Business and Partners yang butuh bantuan?”, tanya Dinda.


Arya mengangguk.


“Eh? Mana bisa begitu. Kalau gara - gara itu projectnya bermasalah gimana? Nanti kalau tahu - tahu mas Arya dipecat gimana?”


Arya terkejut dan heran mendengar respon istrinya.


“Katanya kamu mau aku menemani?”


“Ya, tapi dengan catatan pekerjaannya harus selesai. Bukan ditinggal.”


“Hahaha.. Manis banget sih kamu, Din.”, ujar Arya.


“Kenapa jadi out of topic?”


“Dulu waktu di kampus, kamu juga semanis ini?”, tanya Arya.


“Apanya?”


“Awas ya, kalau kamu menunjukkan sisi kamu yang seperti ini ke orang lain.”, ujar Arya menarik Dinda duduk dipangkuannya.

__ADS_1


“Pokoknya, mas Arya harus memastikan pekerjaannya selesai. Cuma 1-2 jam kok.”, kata Dinda.


“Iyaa.”, balas Arya.


“Jangan main ditinggal pekerjaannya, nanti dimarahi.”


“Siapa yang berani memarahi divisi Business and Partners?”, tanya Arya.


“Hm.. siapa ya.. Bos nya mas Arya, siapa?”, tanya Dinda polos.


“Hahahha… ya sudah. Tunggu sampai kamu jadi kepala divisi, ya. Biar tahu siapa bosnya.”


Dinda langsung memajukan bibirnya pura - pura kesal karena pertanyaannya tidak dijawab serius oleh Arya.


“Cium dulu.”. Ujar Arya menyerahkan bibirnya. Namun, Dinda malah memukulnya lembut dengan kedua tangannya.


“Cium dulu, nanti aku kasih hadiah.”, jawab Arya masih di posisi yang sama.


“Hadiahnya apa? Jangan bilang ciuman lagi.”, kata Dinda.


“Engga. Hadiah kali ini berbeda. Kalau cium di bibir dapet hadiah kategori paling rendah, kalau cium di bibir dan pipi, dapat kategori medium. Kalau cium bibir, pipi, dan leher, dapat hadiah eksklusif.”, terang Arya.


“Dasar mesum..”


“Tapi suka, kan?”, ujar Arya iseng.


Dinda memberikan ekspresi datar, padahal wajahnya sudah merah.


“Kamu ini, masa suami sendiri dibilang mesum. Jadi, mau hadiah yang mana, ayo. Aku masih harus balas email. Confidential, kamu gak boleh lihat.”, ujar Arya memajukan kepalanya agar Dinda bisa memilih hadiahnya.


Dinda menelan ludahnya dan menghela nafas sebentar. Kemudian dia mencium pipi kiri Arya.


“Oiya kalau pipi harus dua - duanya. Pipi kiri dan pipi kanan.”, ujar Arya.


Dinda kembali menghela nafas kesal karena merasa ditipu. Namun, kemudian dia mencium pipi kanan.


“Pilih hadiah paling rendah?”, kata Arya.


“Oh, kalo di bibir harus 3 menit.”, goda Arya.


“Memangnya kita mau ngapain ciuman sampai 3 menit, mas.”, kata Dinda menepuk bahu Arya. Lagi - lagi dia merasa sudah dibohongi.


“Lagian mana bisa ciuman sampai 3 menit, nafasnya kapan?”, lanjut Dinda lagi dengan polos.


Arya kesulitan menahan tawanya.


“Kamu bisa membaginya. Satu menit berarti 3x ciuman. Kalau per 30 detik, berarti 6 kali. Gimana?”, tanya Arya dengan senyum licik khasnya.


“Mas Arya!”, teriak Dinda yang sudah kesulitan untuk mengatasi kejahilan suaminya ini.


Entah darimana Arya bisa belajar trik - trik jahil seperti ini.


“Iya, sayang. Mau pilih mana?”, tanya Arya lagi sambil menahan tawanya.


“Hadiahnya apa?”, tanya Dinda yang mulai ragu dengan Arya. Jangan - jangan hadiahnya tidak sesuai dengan effort yang sudah dia berikan.


“Pokoknya eksklusif kalo kamu mau lakuin semuanya.”, kata Arya masih dengan wajah yang persuasif tak kalah dari iklan di televisi.


Akhirnya Dinda mengikuti permainan Arya karena dia sangat penasaran dengan hadiahnya.


“Wah.. seksi sekali istri aku ini. Sedang menggoda, ya? Sampai 6x lo, ciumannya.”


“Kan mas Arya yang kasih aturan, gimana sih?”, Dinda sangat malu dengan godaan dan kejahilan Arya.


“Oke, mau yang medium nih hadiahnya? Gak sayang? Sudah sejauh ini kamu melangkah. Yang eksklusif lebih keren, loh din!”, kata Arya berusaha menggoda Dinda kembali.


“Ya udah.. Cup.”, Dinda memberikan kecupan singkat di leher Arya.


“Ga boleh ada rule tambahan lagi. Jangan bilang harus sekian kali dan sekian menit di leher.”, ujar Dinda memperingatkan suaminya sebelum dia membuka mulutnya untuk berbicara.

__ADS_1


“Enggak, kok. Tenang aja. Congratulations! Kamu dapat hadiah eksklusif. Kamu buka laci sebelah kiri.”, kata Arya.


Dinda turun dari pangkuan Arya dengan wajah girang dan membuka laci sebelah kiri. Dia penasaran dan tidak sabar dengan hadiah yang akan diberikan pria itu. Didna melihat sebuah amplop disana.


“Hm?”, Dinda melayangkan wajah heran melihat amplop itu.


Arya menganggukkan kepalanya memberikan tanda agar Dinda membuka amplopnya.


“Oh?… ini beneran mas Arya? Beneran asli?”, tanya Dinda kaget.


“Beneran? Mas Arya ini beneran? Serius?”, saking tidak percaya, Dinda bertanya berkali - kali.


Hadiah yang diberikan Arya adalah dua tiket pesawat liburan ke Korea Selatan PP. Arya tanpa sengaja melihatnya di wishlist jurnal Dinda dan memutuskan untuk membelinya.


“Iya, kita bisa babymoon disana. Nanti kalau usia kandungan kamu sudah aman untuk melakukan penerbangan dan liburan jauh.”, jelas Arya.


“Makasih ya mas Arya.”, ujar Dinda langsung memeluk Arya.


“Ohiya, boleh tahu hadiah level rendah dan medium?”, tanya Dinda teringat pada level hadiah yang diberikan Arya.


“Hm… hadiahnya tetap sama. Bedanya hanya di timeline. Untuk level rendah, aku kasih tahu kamu seminggu sebelum berangkat. Untuk level medium, aku kasih tahu kamu sebulan sebelum berangkat.”, kata Arya menjawab dengan penuh percaya.


“Ihhhhhh…. Mas Arya iseng banget.. Semuanya toh sama saja. Kenapa effortnya beda, harus cium sana sini.”, protes Dinda.


“Hm.. jangan salah. Meski perbedaannya hanya di timeline, tapi kamu akan merasakan kebahagiaan yang berbeda. Kalau kamu tahu hadiahnya sekarang, kamu akan merasa antusias dan bahagia sampai nanti waktu perjalanan. Lebih lama dibandingkan dengan kalau kamu tahunya sebulan atau seminggu sebelumnya.”, terang Arya dengan detail.


“Hm.. iya juga sih. Tapi..”, Dinda mengerti maksud Arya tapi dia masih belum menerima sepenuhnya.


“Anyway, makasih mas Arya. Cup.”, Dinda kembali mencium bibir pria itu dan segera berlalu.


Arya tersenyum puas melihat tawa merekah di bibir istrinya.


“Pasti dia akan buka laptop dan searching tempat - tempat yang dia inginkan sekarang.”, ujar Arya berbicara sendiri sebelum kemudian melanjutkan pekerjaannya.


*******


“Mas Arya, hari ini aku ambil cuti. Nanti ketemu di rumah sakit sekitar jam 11.30, ya. Jangan telat.”, titip Dinda sebelum Arya berangkat ke kantor.


Arya mengangguk sebelum mencium singkat bibir istrinya dan masuk ke dalam mobilnya. Dinda melambaikan tangan begitu Arya sudah melajukan mobilnya keluar pagar rumah.


Di kantor.


“Pak Arya, mohon maaf ada masalah di tim 6. Bu Ranti tiba - tiba harus membereskan trouble di project yang ditugaskan ke bawahannya. Tapi, beliau ada arrange meeting dengan PT Sejahtera. Meeting penting ini sudah diundur 3x dan kalau diundur lagi, artinya kita akan kehilangan projectnya.”, jelas Siska segera mengabarkan pada Arya.


Saat itu, Arya sudah bersiap membereskan mejanya karena setengah jam lagi dia mau berangkat menuju rumah sakit.


“Sh*t, kapan meetingnya?”, tanya Arya.


“Sekarang, Pak. Mereka sudah ada di ruang meeting Internasional. Satu tim full dan anggota tim 6 terkait sudah berada disana. Mereka menunggu Bu Ranti. Tapi Bu Ranti tidak mungkin bisa kesini dalam waktu cepat.”, ujar Siska.


“Oke, kamu sudah terima bahannya dari Bu Ranti.”, tanya Arya berdiri membawa ipadnya.


“Kamu print sekarang, kita berangkat ke ruang Internasional. Kamu kasih saya timer, pokoknya meeting ini 1 jam harus selesai karena saya ada urusan penting.”, ujar Arya.


“Baik Pak.”


********


Arya berhasil menyelesaikan meeting dengan durasi 1 jam lebih 10 menit. Project berhasil di dapat dan klien juga terlihat puas dengan penjelasan yang diberikan. Waktu yang Arya punya untuk bisa sampai ke rumah sakit semakin tipis.


Dia harus menolak dengan halus ajakan PT Sejahtera untuk makan siang bersama dan segera melaju menuju Rumah Sakit.


Ternyata, tidak hanya urusan pekerjaan yang tidak bersahabat dengannya hari ini, tetapi jalanan juga seolah mengajaknya untuk bertarung. Jam sudah menunjukkan pukul 11.20, tetapi jalanan di depannya padat merayap. Padahal, Arya hanya perlu melewati satu belokan lagi, kemudian jalan lurus agar bisa tiba di rumah sakit.


Akhirnya begitu mendapatkan celah, Arya segera memarkirkan mobilnya di sebuah gedung di sekitar sana. Dan memilih untuk berjalan kaki. Jika dia memaksa untuk tetap berada di mobilnya. Dia sudah pasti tidak akan sampai sesuai dengan waktu yang disebutkan Dinda tadi.


Karena wilayah ini berada di dekat apartemennya, Arya sangat mengenal jalanan sini. Dia memilih mengambil jalan pintas agar bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu. Dia berlari melewati beberapa gang sempit diantara gedung - gedung dan parkiran.


Brakkkkk,

__ADS_1


Karena sibuk berlari, Arya lengah. Dia tidak melihat ada sepeda motor yang melaju dari lajur kanan perempatan. Akibatnya, tabrakan tak bisa terelakkan. Sepeda motor yang sepertinya juga terburu - buru tak sempat mengerem dan begitu kaget ketika melihat orang berlari lewat tepat di hadapannya.


__ADS_2