Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 143 Bisik - Bisik Karyawan


__ADS_3

Keesokan harinya, suasana sudah kembali seperti biasa, meskipun berita tentang terjatuhnya Dinda ke laut sudah terlanjur tersebar hampir ke semua karyawan. Masing - masing dari mereka memiliki pemikiran sendiri.


Sebagian ada yang menyalahkan Dinda karena tidak hati - hati dan sudah membuat keributan, padahal masih intern. Sebagian ada yang merasa kasihan dan khawatir dengan keadaan Dinda. Tidak sedikit juga yang menganggap Dinda, sebagai Intern sedang mencari perhatian.


Mereka yang berpikir demikian ada yang terpengaruh karena sejak tim building hari pertama, perhatian beberapa karyawan pria sedikit oleng ke arah Dinda. Meski mereka satu kantor dan mungkin pernah bertemu di saat Town Hall Meeting, namun tidak semuanya bisa berkumpul seperti pada kesempatan ini.


Tidak sedikit karyawan lain yang cantik di kantor terutama di divisi Business and Partners karena mereka lebih banyak bertemu dengan klien. Tapi, pesona Dinda dirasa berbeda dengan karyawan wanita lainnya.


Mereka yang iri dan merasa tersaingi berkumpul dan mulai bergosip.


“Yang mana sih anaknya? Aku belum pernah lihat?”, ujar seorang karyawan wanita dengan level asisten manager di restoran buffet tempat mereka menghabiskan sarapan pagi.


“Hm.. mana ya.. Kayanya sih belum datang. Mungkin masih di kamarnya.”, seorang karyawan lagi mengedarkan pandangannya ke penjuru arah namun tidak menemukan gadis yang dimaksud.


“Penasaran, memangnya secantik apa sih anak intern baru itu? Lebih cantik lagi dari Suci yang caper itu?”, kata karyawan satunya yang posisinya masih sebatas officer biasa padahal sudah 4 tahun bekerja di perusahaan.


“Nah iya, mereka satu geng waktu bikin masalah itu. Dengar dari geng yang naik kapal yang sama, Pak Arya sampai kasih CPR berkali - kali, loh.”


“Yang benar? Takut kali ya, Pak Arya kalau sampai ada karyawan yang kenapa - kenapa pas acara team building.”


“Ya.. tapi kan kalau karyawannya sendiri yang ceroboh, bukan tanggung jawab Pak Arya, dong. Memangnya dia wali kelas anak sekolah yang lagi karyawisata.”


“Eh… eh.. Pake nafas buatan juga, ga?”


“Nah.. pakee…”


“Wah.. sama aja dong kaya ciuman sama Pak Arya. Beruntung banget intern itu.”


“Makanyaa.. Berarti dia emang cari kesempatan. Tapi kalian berbicara seolah Pak Arya cuma cium cewe itu saja.”


“Gosip tentang Pak Arya yang suka ke bar itu kan belum tentu benar.”


“Apanya yang gak benar. Orang aku pernah lihat kok, waktu iseng pengen tahu gimana sih bar itu.”


“Yang benar kamu?”


“Tapi, kamu lihat Pak Arya cium cewe ga?”, kata karyawan yang lain sambil berbisik.


“Hem… ya kali. Masa Pak Arya mau ciuman di depan orang banyak. Ya.. pasti di belakang, lah. Atau dia bawa ke hotel.”


“Nah.. berarti belum tentu dong.”


“Eh.. eh.. Syutt… Pak Arya.”, kata karyawan satunya yang menghadap ke arah pintu akses restoran, sehingga dia bisa mengetahui siapa yang masuk dan keluar.


“Pak Arya, baru sekali ini lihat eksmud sekelas Pak Arya. Cakep. Dilihat berkali - kali juga gak bosan. Apalagi pakai baju bebas. Makin terpesona.”, ujar mereka sambil berbisik - bisik.


“Hush… sembarangan. Bos kita itu.”


“Siapa yang ga tahu.”


“Tapi, cakep - cakep menyeramkan. Kalau dia marah ke orang sekelas team leader seperti Pak Gilbert dan Pak Eko, bisa banting - banting dokumen, gebrak meja, tahu ga?”, ketika Arya sudah mengambil tempat yang agak jauh, karyawan - karyawan ini kembali membicarakan bos mereka itu.


“Masa iya sih mba? Pak Arya yang sudah seperti model itu marahnya sampai sebegitunya.”


“Belum pernah lihat, kan? Kamu sudah berapa lama disini?”


“Hihi sudah mau setahun. Tapi aku belum pernah lihat Pak Arya marah. Ya.. memang kalau di meeting, mulutnya tajam. Padahal bukan aku yang disindir tapi pedangnya bisa berasa sampai sini.”, katanya sambil menunjuk hati.


“Ya.. kamu bikin masalah aja. Dijamin di habisi di ruangannya. Ruangan Pak Arya kan kedap suara. Dia kalau mau ngamuk, tinggal bawa orang bersangkutan ke ruangan dan dibantai di dalam.”


“Mba pernah memangnya?”


“Hm.. baru sekitar dua bulan yang lalu. Perkara project tertunda gegara ulah Pak James. Aku sampai trauma satu bulan. Bawaannya kalau dengar suara Pak Arya bikin gemetaran.”


“Tapi kalau giliran lihat wajahnya?”


“Wajahnya adem sih, tapi begitu ingat dia marah, bulu kuduk langsung merinding. Asli seram.”


“Eh.. moga aja si anak intern itu dimarahin habis - habisan sama Pak Arya. Kan sudah bikin panik dan kacau.”


“Sekelompok itu memang harus masuk ruangan Pak Arya, biar next mereka bisa lebih bertanggung jawab lagi. Masa cuma buat foto bisa sampai membahayakan diri begitu. Bikin susah orang aja.”


“Mana katanya pada khawatir tahu pas Pak Arya gak muncul - muncul. Kirain ikut tenggelam juga.”


“Katanya seram tadi, mba.”


“Kalau bukan karena Pak Arya, divisi Business and Partners gak akan jadi berkembang pesat seperti sekarang. Dulu mana ada istilah divisi elit. Begitu Pak Arya naik jadi kepala divisi, hm.. Masuk divisi ini jadi susah banget.”


Karyawan yang baru masuk dan memiliki pengalaman yang lebih sedikit langsung mengangguk - angguk paham. Perhatian salah seorang tertuju pada pintu cafe.


“Eh.. nah itu dia.. Yang namanya Dinda.”, ujar karyawan yang kemarin satu kapal dengan Dinda dan Arya serta menyaksikan kejadian kemarin.


Dinda, Delina, Suci, dan Dian memasuki restoran buffet. Meski tidak terlalu ketara, tetapi mereka bisa melihat jelas beberapa pasang mata memandangi. Mereka juga cukup pintar untuk mengetahui bahwa itu semua pasti tentang kejadian yang kemarin.


“Maaf ya guys. Ini semua gara - gara aku.”


“Sudahlah, sudah terjadi ini. Jadikan pelajaran. Next, walaupun terlihat dan terdengar simpel, kalau petugas mengatakan dan memperingatkan untuk selalu memakai life jacket itu harus didengarkan. Jangan hanya karena sebuah foto, kalian mempertaruhkan nyawa kalian.”, ujar Dian yang jarang sekali berbicara tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya pasti merupakan kata - kata bijak.


‘Ah… mulai lagi dia.’, ujar Suci yang bosan mendengar nasehat dari Dian segera meluncur mencari makanan.


“Andra, cari tempat ya.”, perintah Suci.


“Aku terus yang disuruh cari tempat.”, jawab Andra mendumel.

__ADS_1


“Gapapa, biar aku aja yang cari tempat. Kalian ambil makanan duluan saja.”, balas Dinda menawarkan diri.


Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh area restoran yang sudah penuh. Dari kejauhan, tampak Erick yang melambai - lambai di sebuah meja yang lumayan besar. Beberapa menit yang lalu, meja itu digunakan oleh beberapa tim leader dan manager. Arya dan Erick, baru saja mendarat disana.


‘Eh? Apa maksudnya aku disuruh kesana? Tidak… ada mas Arya. Malah jadi canggung. Mana kemaren Pak Erick sudah sempat melihat aku di kamar Pak Arya lagi. Apa benar - benar tidak ada tempat lagi?’, Dinda berusaha pura - pura tidak melihat tanda dari Erick meskipun sebenarnya sudah terlihat jelas. Ditambah lagi, tidak ada tempat yang kosong karena hari sebelumnya terdapat sekelompok mahasiswa yang baru menginap.


“Ah.. tidak ada pilihan lain.”, ujar Dinda pelan dan perlahan berjalan ke arah lambaian tangan Erick.


Disana ada meja panjang yang bisa muat sampai 10 orang. Saat ini sudah ada Pak Erick, Arya, Bu Susan, Bu Ranti, Kevin (anak buah Pak Susanto, leader tim 9), dan Pak Teddy (leader tim 10). Mereka sepertinya terlibat beberapa pembicaraan serius.


Hal ini terlihat dari Arya dan yang lain yang fokus berbicara dan tidak melihat atau terganggu dengan lambaian tangan Erick dan Dinda.


“Kamu sama yang lain juga?”, tanya Erick.


“Iya Pak.”, jawab Dinda.


Suara jawaban Dinda baru menyadarkan Arya dan membuat pria itu menoleh saat masih berdiskusi dengan bawahannya. Dinda kemudian menyapa dengan sopan dan formal.


“Ya sudah, kamu ambil makanan dulu, tempat nya saya take-in. Penuh semua soalnya. Kamu bilang yang lain suruh kesini, ya.”, perintah Erick.


“Iya Pak.”, jawab Dinda singkat dan segera meluncur untuk hunting makanan.


Arya segera melancarkan tatapannya pada Erick sebentar sebelum melanjutkan diskusinya. Mereka sedang membicarakan project selanjutnya Pak Gilbert yang rencananya akan Arya bagikan beberapa untuk tim 7,9, dan 10.


“Duduk dimana Din?”, tanya Delina pada Dinda yang sudah terlihat sedang mengitari area dimsum.


“Di meja panjang dekat jendela sebelah kanan. Yang persis di depan mini cafe. Tadi, Pak Erick yang mengajak duduk disana.”, jelas Dinda.


“Hah? Serius, yang benar kamu? Masa disana?”, kata Delina yang sempat melirik sebentar.


“Mau bagaimana lagi, mba? Pak Erick yang panggil duluan dan sudah tidak ada tempat yang lain.”


“Aduh.. mana bisa tertelan makanan ini kalau kita duduk disana.”, kata Delina menggerutu meski sadar mereka tidak punya pilihan.


Tak lama semua selesai dengan pilihan makanannya dan mulai duduk di tempat yang masih kosong. Andra dan Bryan yang sampai duluan. Bryan inisiatif mengambil duduk di samping Arya, diikuti oleh Delina dan Suci yang kesal karena Bryan mengambil tempat yang tadinya dia inginkan.


Andra mengambil tempat di ujung agar Dinda duduk di samping pak Erick, kursi yang menurutnya tidak nyaman.


“Saya mau projectnya gak delay karena ini sudah delay lama. Diskusi dimulai minggu depan saat kita kembali. Relay saja modelnya, saya akan minta Siska untuk arrange waktunya. Kalau perlu sampai malam, saya akan minta dia untuk schedule malam. Let me know kalau kalian ada concern. Kevin, kamu update ke Pak Susanto, ya. Beliau izin kembali lebih dulu.”


“Baik Pak Arya.”


“Susan, kamu kasih overview perusahaannya ke saya. Bikin PPT seperti biasa, terus serahkan di meja saya minggu depan. Sebelum meeting saya mau tahu strong point nya terlebih dahulu. Let say kita punya kesempatan untuk leverage ke sektor yang lebih besar dari perusahaan itu, feel free to include me in the discussion. I know someone there.”


“Oke Pak. Ohiya, siapa Pak?”


“Just a senior.”


‘Mas Arya kalau lagi diskusi begitu seksi banget.’, pikiran itu terlintas begitu saja di kepala Dinda.


‘Ah.. tidak - tidak. Mikir apa sih aku? Kenapa aku jadi begini?’, kata Dinda menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Kamu gapapa Din?”, tanya Erick.


Kali ini Arya langsung menoleh. Tatapannya langsung lurus ke arah Dinda. Dinda yang sedang melihat ke arah Erick menyadari itu dan terkejut saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arya.


“Engga, saya gak apa - apa kok, Pak. Hanya melamun saja.”, jawab Dinda segera.


Susan mengarahkan perhatiannya pada tatapan Arya. Dia menyadari sesuatu yang tidak biasa disana. Eksistensi Dinda disana seperti mencuri perhatian bosnya itu. Tidak seperti yang lain. Dia bisa dengan mudah fokus dalam diskusi tetapi setiap kali ada hal yang berhubungan dengan Dinda, dia pasti akan menoleh.


‘Apa Arya menyukai gadis itu? Hahahaha… yang benar saja. Dia masih intern. Dia tertarik pada anak - anak seperti itu?’, pikir Susan dalam hati sambil menatap pandangan Arya yang melihat ke arah Dinda. Padahal hanya beberapa detik saja.


“Okay, saya mau lihat updatenya minggu depan. It’ll be another long meeting. So please be prepared.”, ucap Arya mengakhiri diskusi singkat mereka.


Dia langsung beralih pada makanannya dan menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya.


“Gimana keadaan kamu, Din? Sudah lebih baikan?”, tanya Erick pada Dinda yang dari tadi menyuap dimsumnya.


“Alhamdulillah sudah, Pak. Maaf sudah membuat masalah.”, kata Dinda tertunduk merasa bersalah.


“Lain kali hati - hati dan jaga diri. Plus, seharusnya kamu minta maaf ke Pak Arya juga karena sudah mengacaukan agenda tim buildingnya. Kalian juga.”, kata Erick berusaha menyambungkan lidah bawahannya pada Arya.


Sejak kejadian kemarin, Erick yakin bawahannya belum benar - benar bertemu dengan Arya untuk meminta maaf. Walau bagaimanapun, saat ini pemegang otoritas yang paling tinggi disana adalah Arya.


“Mohon maaf Pak Arya sudah membuat kekacauan.”


“Kami mohon maaf, Pak. Tidak akan terulang lagi.”


Kata - kata serupa meluncur dari mulut Delina, Andra, Suci, Bryan, dan Dinda. Susan dan yang lain yang sudah tahu tentang kejadian itu hanya diam saja dan memperhatikan dengan tajam.


“Hm.. untuk saat ini saya terima karena masih dalam suasana tim building. Begitu sampai di kantor, temui saya di ruangan saya. Kalian semua, ya.”, ujar Arya dengan nada dingin, datar, dan mengerikan.


Delina tak bisa membohongi dirinya. Sosis ayam yang sedang dia makan tak bisa tertelan karena dia merasa terintimidasi dengan ucapan Arya. Erick hanya diam saja. Dia sudah menduga respon respon seperti ini keluar dari seorang Arya Pradana. Dia pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.


Setelah mengatakan itu, Arya berdiri diikuti dengan para tim leader yang lain. Mereka sudah selesai makan.


“Sebat, Pak?”, tanya Erick.


Arya ingin sekali menyumpal mulut Erick disini. Arya sudah jarang sekali merokok karena dia tahu Dinda tidak merasa nyaman dengan hal itu. Namun usahanya seperti dihancurkan oleh Erick yang malah membuatnya seolah - olah masih terus merokok.


“Gym. Gym. Gym.”, kata Arya dengan sedikit penekanan.


Hari ini adalah hari bebas karena sore nanti mereka akan ke bandara untuk kembali ke rumah masing - masing. Acara hari ini adalah acara bebas. Sebagian sudah meluncur mencari oleh - oleh dan lain sebagainya.

__ADS_1


Arya, dia tidak tertarik dengan hal - hal seperti itu dan hanya ingin nge-Gym dan berenang.


“Aah.. ya sudah.. Saya ikutan juga kalau begitu.”, kata Erick.


Sadar bahwa perannya sudah selesai untuk menyampaikan permintaan maaf yang lain, Erick ikut berdiri mengikuti Arya.


******


Tak terasa acara Tim Building untuk divisi Business and Partners dan Digital and Development sudah berakhir. Waktu berjalan dengan sangat cepat dan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi mayoritas karyawan.


Masih menjadi salah seorang dengan seksi tersibuk, Siska tengah melakukan pendataan mengenai jadwal keberangkatan mereka dari Lombok. Masih dengan format yang sama, jadwal mereka terbagi menjadi dua kloter.


Arya sudah meminta untuk dipindahkan dari kloter pertama yang mayoritas adalah para Tim Leader serta level Manager. Sehingga dia masih dalam mode santainya saat ini.


To: Istriku


Din, begitu sampai bandara kota X, kamu langsung naik mobil pak Cecep, ya.


To: Mas ‘A’


Hm. Mas Arya, gimana?”


To: Istriku


Aku naik taksi.


‘Kenapa mas Arya ga bareng aja? Apa dia masih marah? Toh kalau kelihatan orang, kan bisa menunggu sampai beberapa menit.’, tanya Dinda dalam hati.


“Ci, kamu ada yang jemput di bandara? Bareng aku aja.”, ajak Delina.


“Pacarku jemput.”, kata Suci singkat.


“Kamu Din? Dari pada mahal pesan taksi, aku bisa antar kamu.”, kali ini Delina menawari Dinda.


‘Heh..dia pasti pulang dengan Pak Arya.’, ujar Suci dalam hati.


“Terima kasih, mba. Tidak apa - apa. Gampang.”, jawab Dinda tersenyum.


“Baiklah kalau begitu.”, jawab Delina.


Waktu berjalan lebih cepat saat kepulangan mereka dari Lombok. Seperti baru tertidur di pesawat, tahu - tahu sudah mendarat. Para karyawan yang sudah dijemput langsung segera menaiki mobil masing - masing.


Beberapa karyawan yang harus menaiki transportasi umum sudah berpisah untuk segera menuju halte. Dinda mengambil duduk menunggu balasan chat atau telepon dari Pak Cecep yang akan menjemputnya. Dia juga mengedarkan pandangan pada Arya yang masih sibuk berdiskusi di sebuah Cafe.


‘Pak Arya sibuk sekali. Dimanapun. Dia selalu terlihat meeting dan diskusi singkat dengan karyawannya. Sebenarnya apa saja sih yang dia diskusikan?’


“Oh Iya.. halo Pak Cecep? Iya, Pak. Iya.. aku sudah di dekat pintu kedatangan. Oh aku lihat mobilnya. Oke.. aku naik ya.”, kata Dinda segera menyeret kopernya dan memasuki mobil yang dia kenal. Mobil keluarga Arya Pradana.


Arya juga melirik ke arah situ sebentar untuk memastikan dan segera melanjutkan diskusinya.


‘Aku seperti pernah lihat supir itu? Dimana ya?”, ucap Susan yang juga sedang menunggu mobil jemputannya.


‘Ah.. itu bukannya supir Arya? Sepertinya dulu aku pernah melihatnya beberapa kali menjemput Arya. Eh? Kenapa supir Arya bisa menjemput Dinda? Apa dia resign lalu bekerja dengan keluarganya Dinda?’, tanya Susan dalam hati sebelum memasuki mobilnya.


EPILOGUE 


“Halo, Ma.”, ucap Arya setelah sambungan teleponnya terhubung.


“Halo, Sayang. Kamu dimana? Sudah sampai Lombok? Aman? Dinda gimana?”, tanya Inggit langsung menghujani Arya dengan banyak pertanyaan.


“Hm. Aman. Kita sampai disini agak siangan.”


“Hm.. Dinda mana? Mama mau bicara dong sama, Dinda.”, tanya Inggit.


“Dinda ya di kamarnya ma. Ini kan acara kantor, Arya sama Dinda ga bisa sekamar.”


“Ya.. kan tetap bisa diam - diam, Arya. Nanti kan Dinda bisa kembali lagi ke kamarnya. Hitung - hitung bulan madu ke sekian. Kan bisa sekalian hmmmm”, kata Inggit tersenyum antusias dan membuat puteranya benar - benar malu.


“Apa - apaan sih, ma. Udah deh jangan becandain begitu terus.”


“Yaa… kan mama ke pengen cucu, makanya.”


“Mama kan sudah dapat Rafa dan Samawa.”, nada suaranya datar.


“Bunda Ratna yang pengeen.”, kata Inggit berkelit.


“Bunda Ratna gak pernah menyinggung soal cucu. Gak kaya mama.”


“Iya.. iya.. Bunda Ratna gak bilang sama kamu tapi bilang sama mama.”, suara Inggit terdengar.


“Haha.. gak mungkin. Bunda Ratna itu, ga genit kaya mama. Dia pasti mengkhawatirkan Dinda. Mana pernah nagih - nagih cucu.”


“Nagih - nagih. Memangnya mama rentenir?”


“Em.. anyway, kayanya mama do’anya dikabulin. Dinda hamil, ma.”, ujar Arya.


“Hah???? Serius kamu? Dinda HAMIL? Arya… kamu gak bohong kan? Beneran?”


“Ya ampun, ma. Kenapa Arya harus berbohong tentang hal seperti ini. Memangnya Arya tidak punya pekerjaan lain?”


“Wah.. Alhamdulillah… mama senang banget… Pa… papaaa….. “, Inggit sudah langsung memulai aksinya untuk mengabarkan berita gembira ini.


Arya hanya tersenyum dan memutus sambungan teleponnya sepihak. Dia sudah tahu, Inggit pasti akan sibuk malam ini menghubungi satu per satu keluarga. Memikirkannya saja sudah membuat Arya geleng - geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2