Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 189 Keributan di Divisi Digital and Development


__ADS_3

CEO Town Hall yang ditunggu - tunggu akhirnya tiba. Sebenarnya yang menunggu hanya sebagian kecil karyawan saja. Sisanya justru deg-deg-an dan berharap CEO Town Hall ditiadakan saja.


Terutama mereka yang harus melakukan presentasi dan meeting terpisah setelah acara ini selesai. Sejak jam 7 pagi, para karyawan yang bertugas untuk mempersiapkan CEO Town Hall sudah sibuk.


Mereka memastikan semua keperluan terutama bagian teknis sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh manajemen. Suci menjadi salah satu seksi yang ikut disibukkan. Lebih tepatnya, semua MA (Management Associate) dari berbagai divisi terlibat di bagian seksi sibuk untuk acara ini.


Kenapa? Karena merekalah nanti yang akan menjadi tiang - tiang manajerial di periode yang akan datang. Agenda ini juga menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk bisa lebih dekat dan terlibat dengan para petinggi termasuk CEO.


“Mic nya sudah dites semua?”


“Jumlah yang hadir nanti termasuk intern, kan? Cukup tidak kursinya?”


“Bagian IT sudah memeriksa semua kabel, proyektor, dan laptop untuk keperluan presentasi?”


“Oiya, mic nya ada berapa? Kita harus meletakkan dua buah di bagian tengah untuk para penanya.”


“Sudah hampir jam 8, para Kepala Divisi biasanya datang 30 menit sebelum acara dimulai. Kita harus memastikan semuanya siap sebelum 8.30.”


“Untuk area VIP nya akan dibuka setelah presentasi dan penghargaan selesai, kan?”


Masing - masing seksi memeriksa bagian yang menjadi tanggung jawab mereka. Hari itu menjadi salah satu hari paling sibuk bagi mereka.


“Iya, halo Pak Erick? Hm, iya aku lagi disini. Harusnya jam 9 sih Pak. Hm. Baik. 30 menit lagi menurut aku adalah waktu yang tepat.”, jawab Suci saat menerima telepon dari Pak Erick.


Meski dia sudah pernah mengikuti beberapa kali CEO Town Hall sebelumnya, tetap saja Erick merasa deg - deg-an. Padahal, dia tidak ikut presentasi. Namun, biasanya jika ada informasi lebih lanjut yang ingin ditanyakan, maka kemungkinan besar dia bisa dipanggil setelah presentasi selesai.


Belum lagi drama tentang Dika yang baru - baru ini menguras tenaganya.


***Flashback beberapa hari yang lalu sebelum CEO Town Hall ***


“Rini, kamu tahu dimana rumahnya Pak Dika?”, tanya Erick menghampiri meja Rini. 


Rini menggelengkan kepalanya. 


“Pak Arya menyarankan untuk kita datang ke rumahnya. Siapa tahu ada hal yang membuatnya tidak bisa memberikan kabar kalau dia tidak bisa masuk kantor. Sudah dua hari. Beberapa Kepala Divisi sebelah sebentar lagi akan mengamuk karena ada beberapa pending-an tanda tangan.”, terang Erick. 


“Harus kita yang menghampiri? Aku tidak tahu sama sekali dimana alamatnya.”, balas Rini. 


“Kalau begitu, tidak ada pilihan selain menanyakannya pada HRD. Aku sudah bertanya ke beberapa orang disini dan tidak ada yang mengetahui alamat rumahnya sama sekali.”, lanjut Erick. 


Erick dan Rini akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang HRD. Sambil berjalan menuju lift, mereka mencoba merangkai berbagai kata untuk bisa memberikan informasi yang tidak ambigu. 


“Aaah.. bagaimanapun kita merangkai katanya, tetap saja intinya Pak Dika tidak masuk ke kantor. Dan saat kita meminta alamat Pak Dika pada mereka, mereka pasti meminta kita untuk memberitahukan alasannya.”, kata Rini memberikan pendapatnya. 


Pintu lift terbuka. 


“Pak Dika??”, keduanya refleks memberikan respon yang sama saat melihat pintu lift terbuka. 


Dika Sadewa, pria yang menjabat sebagai Kepala Divisi Digital and Development sejak dua bulan lalu itu muncul di hadapan mereka. 


Seolah tahu arti dari ekspresi keduanya, Dika mengajak keduanya untuk mengikutinya ke ruangan. Erick dan Rini mengikuti dalam diam. Keduanya berbisik - bisik di belakang. Mereka bersyukur tidak sampai harus ke ruangan HRD yang akan menimbulkan drama. 


Baru - baru ini mereka sudah dikejutkan dengan persoalan Gilbert, Team Leader Divisi Business and Partners yang juga tidak masuk tanpa kabar dan akhirnya diberhentikan. Ruangan Dika berada diantara dua sekat area para staff DD. 


Sehingga, begitu dia masuk ke ruangan, mereka bisa melihatnya. Ekspresi mereka juga sama - sama terkejut. 


“Kalau boleh saya tahu, dua hari ini Pak Dika kemana saja? Saya mencoba menghubungi Bapak karena banyak sekali dokumen yang harus Bapak tanda - tangani.”, Erick memulai kalimatnya yang pertama sejak masuk ke dalam ruangan Dika. 


“Saya ada urusan pribadi yang mendadak. Dua hari kemarin saya akan menganggapnya sebagai cuti dan sudah saya ajukan. Saya minta maaf karena urusannya mendadak dan tidak bisa memberitahu kalian. Mana dokumen yang harus saya tanda - tangani.”, kata Dika segera setelah duduk di ruangannya. 


Erick mengambil tumpukan dokumen di meja Dika dan menaruhnya di meja tengah yang memiliki sofa lebih banyak. Mereka bisa duduk disana sambil mereview satu per satu dokumennya sebelum di tanda tangani. 


Satu. Dua. Tiga. dan seterusnya. 


Erick dan Rini harus bergantian menjelaskan dokumen tersebut. Kebanyakan adalah dokumen miliknya, Rini, dan Suci yang masih meeting dengan divisi lain. 


Tok tok tok 


“Maaf mengganggu Pak, sepertinya Pak Erick atau mba Rini harus keluar sebentar.”, kata salah seorang staff DD. 


“Kenapa?”, tanya Erick. 


Tak lama setelah dia bertanya, terdengar suara ribut - ribut di luar. Suaranya tidak begitu jelas, karena pintu yang terbuka hanya sedikit. 

__ADS_1


“Dinda, Pak. Kepala Divisi sebelah datang dan mengamuk karena laporannya belum juga diberikan.”, kata staff tadi. 


“Heh, kamu gimana sih? Kalo tidak bisa kerja gak usah kerja sekalian. Sudah dua kali loh saya menerima kesalahan seperti ini. Dan dua kali saya lewatkan. Sekarang sudah kesekian kali, mau dapat piring cantik kamu?”, kata wanita yang merupakan Kepala Divisi yang sama dengan yang dulu juga memarahi Dinda. 


“Jujur sama saya. Kamu masuk kesini pakai orang dalam, kan? Kerja kok gak becus. Saya kasih waktu seminggu loh, saya tidak tanya - tanya progressnya. Hari ini saya mau meeting, anak buah saya bilang laporannya belum selesai. Sudah dari kapan tim saya kasih ke kamu. Wah..”, wanita itu membanting satu dokumen di tangannya ke meja Dinda. 


Dinda terperanjat kaget. Dia tidak bisa membalas, memberikan pembenaran apa - apa karena tidak ada gunanya. Orang yang ada di depannya ini sekelas Pak Dika, bagaimana dia bisa menjawab kata - katanya. 


Dinda juga dilema karena sebenarnya dia sudah menyerahkan dokumen itu ke ruangan Pak Dika dari dua hari yang lalu. Tapi Kepala Divisinya itu belum juga menandatangani. Dinda bingung harus mengatakannya atau tidak. 


“Ada apa ini?”, tak disangka, Arya yang biasanya jarang melewati area DD belakangan ini justru tiba - tiba muncul. 


Dinda terkejut dan menoleh ke arah sumber suara dan melihat Arya ada disana. 


“Bukan urusan kamu, Arya. Tidak usah ikut campur.”, ujar wanita itu. 


“Suara teriakan kamu sampai kesana. Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi sebagai Kepala Divisi, bukankah tidak lebih baik kamu berbicara dengan mereka yang levelnya sama dengan kamu?”, kata Arya tak kalah tegas. 


Wanita itu tampak tidak terima. Tapi, perkataan Arya barusan telah mempermalukannya telak. 


“Daripada kamu memarahi intern disini, lebih baik kamu menemui Kepala Divisinya. Urusan siapa yang salah, biar dia yang memarahinya.”, lanjut Arya lagi. 


Saat itu, Erick keluar dari ruangan Dika. 


“Ada apa ini?”, tanya Erick dengan wajah bingung saat melihat Head divisi sebelah ada disana. 


Sudah seperti mau tawuran. Erick melihat ke sekeliling dan keberadaan Arya disana juga membuatnya terkejut. Dinda yang berada di depan wanita tadi sudah diam mematung dan menunduk. Dia berada di situasi yang membingungkan. 


“Dokumen laporan yang sudah saya tunggu hampir tiga minggu yang lalu tidak ada juga dimeja saya. Tim saya bilang, intern kamu ini yang mengerjakan. Kenapa kamu tidak memilih intern yang becus kerja? Sampai saya harus kesini meminta laporannya?”, kata wanita itu lagi. 


Dinda menggigit bibir bawahnya. Dia merasa tidak terima dengan kata - kata wanita itu, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apa - apa. 


Erick mendekati Dinda dan bertanya. 


“Boleh tolong dijelaskan Din?”, tanya Erick lembut. 


“Ehm… laporannya sudah selesai, Pak. Tinggal menunggu sign dari Pak Dika. Laporannya ada di ruangan beliau.”, jawab Dinda pelan. 


“No. Untuk apa saya menunggu disini. Kamu letakkan laporan itu di meja saya. Saya kasih waktu 30 menit. Saya tidak mau tahu bagaimana, laporan itu harus sudah ada di meja saya.”, ujar wanita itu langsung pergi setelah membuat keributan. 


“Din, kamu ikut saya.”, perintah Erick. 


Mendengar jawaban Kepala Divisi sebelah, Erick sedikit frustasi dan masuk kembali ke ruangan Dika. 


“Pak Dika, maaf Pak. Bisa kita dahulukan laporan yang diserahkan Dinda?”, kata Erick. 


“Din, coba cari laporannya yang mana.”, ujar Erick pada Dinda yang masih berdiri di depan pintu. 


Awalnya Dinda tampak ragu, namun Erick memberikan gestur yang menandakan dia boleh masuk dan mencari laporan itu. 


“Ini, Pak.”, kata Dinda memberikan laporannya pada Erick. 


“Pak Dika, boleh tolong ditandatangani?”, Erick memberikan laporan itu pada Dika. 


“Ada apa tadi kamu keluar?”, tanya Dika yang masih bingung karena dia tidak mendengarnya dari dalam. 


“Kepala Divisi sebelah marah - marah ke Dinda karena laporannya belum diserahkan ke tim mereka padahal hari ini mereka ada meeting.”, tadinya Erick berencana untuk tidak memperbesar masalah dengan diam saja. 


Tapi, itu tidak adil untuk Dinda yang sudah dipermalukan di depan banyak orang untuk hal yang bukan menjadi kesalahannya. Erick juga bukan di posisi yang bisa menyalahkan Dika karena dia adalah bosnya. 


Gayung bersambut saat Dika justru menanyakannya. Erick akhirnya memberitahukannya saja. Kalimat Erick yang singkat, padat, dan jelas sudah bisa membuat Dika memahami maksud pria itu. 


“Masih ada orangnya di luar? Suruh masuk kesini.”, kata Dika. 


“Sudah tidak ada Pak. Beliau justru meminta kita meletakkan di mejanya dalam 30 menit. 


“Heh, oke. Kamu kembali ke kursi kamu, Din. Biar dia yang kesini mengambil laporannya.”, kata Dika seolah sedang mengangkat bendera perang. 


“Tapi Pak?”, tanya Erick. 


“Saya tahu saya salah karena terlambat memberikan tanda tangan. Tapi bukan berarti dia langsung datang dan membuat keributan disini. Biar dia yang kesini dan bicara dengan saya. Din, kalau nanti dia menghampiri meja kamu lagi, bilang suruh temui saya di sini. 


“Ba-baik, Pak”, kata Dinda dengan gugup dan kemudian undur diri karena sepertinya tidak ada hal lain yang dia perlu lakukan disini. 

__ADS_1


‘Hah… kenapa jadi rumit begini.’, ujar Dinda dalam hati. 


**********


“Hah, itu dia Head sebelah yang marah - marah ke Dinda.”, kata Delina yang menunjuk - nunjuk seorang wanita sedang berada di deretan manajemen.


“Iya, iya tahu.. Aku kan juga di situ. Gila, ya. Sudah selevel dia masih bertingkah seperti itu. Untung saja waktu itu ada Pak Arya yang langsung menahan. Aku rasa sejak saat itu dia langsung malu saat berhadapan dengan Pak Arya.”, ujar Andra.


Dinda hanya diam saja menyimak pembicaraan mereka. Dinda duduk di barisan tengah yang memang kebanyakan diisi oleh orang - orang dari Divisi DD. Sedangkan, Suci terlihat berdiri di samping kanan dengan name tag bertuliskan panitia.


Arya terlihat di barisan paling depan bersama dengan Kepala Divisi yang lain. Pak Erick dan Mba Rini ada di barisan kedua dan ketiga bersama dengan para Tim Leader dan Managers.


Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Satu per satu para petinggi perusahaan maju memberikan sambutan termasuk CEO mereka. Kira - kira setelah 30 menit pertama, giliran nama Pak Arya yang dipanggil untuk maju.


Arya terlihat sangat rapi dengan jas biru tua dan kemeja tanpa dasi. Penampilannya persis seperti eksekutif muda ala - ala pemimpin start-up. Casual dan formal. Arya maju ke depan diiringi dengan tepuk tangan para staf yang kebanyakan berasal dari divisi Business and Partners.


“Wah.. Pak Arya seperti biasanya. Keren.”, celetuk Delina ikut memberikan sorakan di beberapa sesi.


Sebenarnya mereka tidak begitu mengerti tentang presentasi yang disampaikan. Bahasa yang hanya dimengerti oleh deretan manager ke atas. Namun, setiap kali ada tepuk tangan, Delina ikut - ikutan memberikan tepuk tangan meriah.


“Iya. Luar biasa keren.”, kali ini celetukan keluar dari mulut Dinda.


Bryan melirik ke arah Dinda setelah gadis itu memuji suaminya.


Ibarat pagelaran penghargaan televisi, hari itu Arya menjadi bintangnya. Sesuai prediksi, Arya menerima penghargaan employee dengan performa terbaik. Penghargaan yang juga sempat dia terima tahun lalu.


Semua orang yang hadir memberikan tepuk tangan. Sebagian besar memberikan tepuk tangan sambil memberikan tatapan kagum pada Arya. Namun, selalu ada sebagian kecil yang memberikan tatapan cemburu, tidak suka, dan benci pada pria itu.


Tak terkecuali pria yang berdiri di antara para karyawan lain. Pria yang dengan sengaja menyebarkan foto pribadi Arya beberapa waktu lalu.


EPILOGUE


"Mas Arya, makasih ya sudah membantu aku saat berhadapan dengan kepala divisi sebelah.", kata Dinda tersenyum manis pada suaminya yang sedang duduk di depan meja kerja.


Dinda sudah menunggu Arya untuk keluar dari ruangannya sedari tadi. Tetapi pria itu tidak kunjung keluar juga. 'Sebenarnya dia robot atau manusia? Kenapa kerja 24 jam sehari non-stop.', kira - kira begitulah yang dipikirkan Dinda selama menunggu di depan ruangan Arya.


Dinda bahkan sudah menyelesaikan sebanyak satu episode tapi pria tampan yang menjadi suaminya saat ini juga belum keluar - keluar. Akhirnya Dinda turun ke bawah, mengambil beberapa buah dan memotongnya. Lalu membuatkan teh untuk Arya.


Itu adalah modusnya agar dia bisa masuk ke ruangan kerja Arya.


"Hn.", Arya membalas dengan singkat.


'Apa - apaan balasannya. Kenapa singkat sekali.', pikir Dinda sambil memanyunkan bibirnya.


Dia sudah menaruh potongan buah dan teh di depan meja kerja Arya, lalu apa lagi?


"Mas Arya masih banyak kerjaan? Belum mau tidur?", kata Dinda pelan.


Sebenarnya Dinda tidak bermaksud untuk menggoda Arya. Tapi, entah mengapa nada bicaranya membuat Arya sedikit bergeming.


"Memangnya kenapa?", tanya Arya singkat.


Pria itu bahkan tidak menoleh ke arah istrinya dan terus saja menatap layar laptopnya.


'Hm... harus aku apakan pria es super dingin ini.', pikir Dinda dalam hati.


Dinda akhirnya teringat pada tips yang diajarkan oleh Bianca padanya saat bertemu tempo hari. Reza dan Bianca memang sering berkunjung ke rumah termasuk dengan para tante mereka.


Gadis itu keluar dari ruang kerja dan segera mencari parfum dengan aroma yang paling manis. Dinda menyemprotkan beberapa parfum yang dia punya dan mencium satu persatu baunya.


"Hm, sepertinya yang ini saja.", ujar Dinda menyemprotkannya ke seluruh tubuh terutama bagian leher.


Kemudian, dia bergerak menuju ruangan Arya dan berjalan ke belakang kursi pria itu. Arya tentu saja tidak menyadarinya. Ya, dia terlalu fokus dengan laptopnya.


Perlahan Dinda memeluk Arya dari belakang. Pelukannya sedikit gagal karena terhalang oleh sandaran kursi pria itu. Dinda sudah menyerah sampai komentar Arya berikutnya.


"Kamu habis mandi kembang? Kenapa wangi sekali."


Dinda kembali memanyunkan bibirnya. Dia memundurkan tubuhnya ke belakang.


'Memang tidak ada gunanya mencoba mencairkan pria es yang suhunya sudah mengalahkan kutub utara.', kata Dinda dalam hati.


"Tapi aku suka aromanya", kalimat Arya barusan membuat jantung Dinda langsung berdegup.

__ADS_1


__ADS_2