
“Mas Arya lagi dimana sekarang?”, tanya Dinda melalui telepon genggamnya.
Baru juga berpisah tapi dia sudah rindu dengan suaminya. Terlebih, kalau dia menemukan tidak ada siapa - siapa di kamar mereka. Hanya dirinya sendiri.
Dinda bahkan mengambil jaket atau t-shirt Arya agar dia tetap bisa mencium aroma suaminya dari sana.
“Oh.. mau makan siang? Mas Arya makan siang dimana? Makan apa aja? Hm… habis ini langsung survey lapangan lagi? Disana ada pegawai perempuannya juga ga? Hm? Cantik ga? Hahaha.. Mas Arya bisa aja. Okay… see you bae? Nggak ah, malu. Ya udah. Muach.”, kata Dinda menutup teleponnya. Sebelum itu, dia memberikan kiss dulu pada ponselnya agar seolah tersampaikan pada Arya.
Dinda sudah sangat aktif bertanya sekarang ketimbang sebelum - sebelumnya.
“Iyaa iyaa… yang lain itu numpang semua di muka bumi ini ya, Din. Kita sewa tempat semua. Dunia cuma milik kamu dan mas Arya.”, sahut salah seorang sahabat Dinda.
Mereka hanya bisa tersenyum menyaksikan temannya.
“Eh bukan - bukan. Dinda and Bae.”, kata salah seorang lagi menambahkan.
Mereka sangat senang menggoda Dinda. Selain dia terlalu polos, Dinda jarang memberikan perlawanan yang berarti. Jadi, dia menjadi mangsa yang mudah untuk dijahili.
Arya juga sudah menemukan daya tarik ini pada Dinda sejak lama.
“Jangan gitu dong. Malu nih.”, balas Dinda tersipu malu sambil kembali duduk yang rapi.
Dia menaruh ponselnya di atas meja. Dinda sudah mematikan layar ponselnya. Tapi karena salah tingkah, dia tidak memastikannya dan langsung menaruh di atas meja.
"Wah.. foto siapa ini Din, mas Arya ya? Wah.. Dinda ternyata nakal juga, ya.", ujar Dian.
Layar ponsel Dinda menunjukkan bekas ciuman yang sudah barang pasti itu adalah bagian tubuh Arya. Antara lengan atau lehernya.
Dinda lupa menutupnya. Arya yang mengambil foto selfi itu sendiri. Dinda galau untuk menghapusnya. Akhirnya dia tetap menyimpan foto itu.
Entah kenapa, malah galeri ponselnya yang terbuka saat dia salah tekan tombol.
'Dinda.. kamu harus mengelola salah tingkah kamu dengan benar. Lihat, apa yanh sudah kamu lakukan.', teriak Dinda dalam hati.
"Ha-ha-ha.. bukan apa - apa kok ini. Jangan berpikir yang aneh - aneh.", Dinda panik harus mengklarifikasinya.
"Hm.. kamu ternyata bisa bucin juga ya Din?", kata Bianca tidak percaya.
"Bi, kalau mau main ke rumah Dinda, ajak - ajak dong. Aku kan belum lihat seperti apa Pak Arya eh mas Arya itu.", kata Dian antusias.
"Hm.. kalo di rumah Dinda aku tidak yakin deh. Ga enak dong sama keluarga doi. Pasti ada mertuanya disana. Trus kita heboh. Kalau Bianca kan sudah jadi sepupu Dinda sekarang.", kata Sekar menimpali.
"Iya juga ya, kasiham nanti Dinda pasti jadinya tidak nyaman.", balas Dian lagi.
"Hm, jadi gimana dong. Pengen liat juga.", sekarang Rara ikut berkomentar.
"Kan kamu kemaren datang Ra ke pernikahan Bianca, berarti kamu sudah lihat dong. Memangnya kamu ga ketemu? Enggak ah... perasaan suami Dinda memperkenalkan diri ke kita satu per satu.", sahut Bianca.
"Tapi belom dua kaliiii. Hahaha", jawab Rara sambil tertawa lepas.
“Dulu tuh aku penasaran banget sama kamu. Gak pernah pacaran. Jangankan telponan kaya tadi, ngomongin cowok saja kamu tidak pernah Din. Sekarang, hem…”, kata Bianca menambahkan.
"Betul, sekalinya dapat langsung modelan Pak Arya. Wah.. Duda kereen. Apa aku harus cari duda keren juga ya? Masih ada ga stoknya di kantor kamu Din? atau suami kamu punya stok lain ga, Bianca?", tanya Rara.
Rara sangat antusias melebihi hari biasanya.
"Bukannya kamu lagi mengincar dokter spesialis bedah yang ada di rumah sakit, Ra?", tanya Dian.
"Aku belum berhasil mendekatinya. Dan sekarang aku sudah harus pindah ke Rumah Sakit Ibu dan Anak langganan Dinda.", jawab Rara.
"Oiya, Din. Bagaimana kalau kita kenalkan Rara dengan Dimas. Mungkin saja mereka cocok.", ide baru yang muncul dari Bianca.
"Kamu aja yang memperkenalkan. Aku tidak ikut - ikutan.", kata Dinda.
"Loh, masa begitu. Kan kamu yang satu kantor dengan Dimas?", kata Bianca.
"Kamu tahu darimana?", Dinda bingung.
Rara juga fokus mendengarkan pembicaraan kedua temannya. Sedangkan, Sekar dan Dian sibuk menambah pesanan. Mereka sedang lapar.
"Bukannya kamu yang menceritakan padaku?", jawab Bianca.
Dari nada bicaranya, Dinda sudah bisa menangkap kalau Bianca sedang bersandiwara.
Dinda merasa kalau dia sama sekali belum pernah menceritakan hal ini pada Bianca. Dimas? Mereka hanya bertemu sekali secara kebetulan.
Bianca juga tidak memiliki banyak interaksi dengan pria itu.
"Jangan bilang kamu dapat informasi dari Mas Reza? Dan dari mana mas reza dapat informasinya? Pasti dari mas Arya kan?", Dinda mulai bisa menduga - duga.
"Eh enggak kok, Din. Mana mungkin mas Arya cerita tentang Dimas pada Reza. Dia kan hanya mantan...", Dinda langsung menutup mulut Bianca.
"Hm, Dimasnya sendiri yang mengatakan. Kamu lupa kalau waktu aku datang ke kantor kamu, Dimas menawarkan untuk mengantarkan?", kata Bianca.
__ADS_1
Dinda mencoba mengingat - ingat dan benar. Bianca pernah bertemu dengan Dimas lagi sejak pertama mereka bertemu.
"Engga Bi, aku tidak merekomendasikan Dimas untuk Rara. Lebih baik jangan, Ra.", kata Dinda.
"Ih.. Dinda.. cowok cakep kenapa disimpan - simpan?", Rara berkomentar.
"Aku sudah memperingatkan ya.. sisanya terserah kami.", balas Dinda.
Dian dan Sekar kembali dari memesan menu makanan. Mereka harus langsung memesan di kasir.
Rara langsung heboh lagi balik membahas tentang mas Arya.
Dari tadi memang dia yang paling heboh diantara yang lainnya. Terkadang, Dian juga ikut menambahkan.
Hari ini adalah hari perdana mereka bertemu setelah sekian lama. Terakhir bertemu adalah di pernikahan Bianca. Saat itu, Dian juga absen, jadi hanya bertemu Sekar dan Rara saja. Pertemuan dengan Bianca lumayan sering karena mereka juga sudah menjadi satu keluarga saat ini.
Setelah beberapa abad (hiperbola), akhirnya Dian berhasil mendapatkan 3 hari off. Dia bisa menggunakan satu hari untuk bertemu dengan teman - temannya. Sedangkan dua hari lagi dia gunakan untuk beristirahat.
“Aku benar - benar tidak menyangka Din, kamu sudah menikah. Jadi terakhir kali kita bertemu saat liburan waktu itu, kamu sudah menikah, ya?”, tanya Dian.
“Maaf ya, aku tidak memberitahu kalian.”, Dinda mengangguk dan meminta maaf.
Dia masih merasa bersalah tentang hal ini. Tapi, saat itu dia juga merasa bingung dan tidak menyangka pernikahan ini akan terjadi. Saat dia ingin memberitahu, selalu saja ada hal yang membuat hubungannya dengan Arya menyita perhatian lebih darinya.
“Bianca tahu lebih dulu. Kamu pilih kasih ya?”, kata Dian bercanda.
“Hei - hei.. Kalau aku tidak menikah dengan sepupu suaminya Dinda, sampai sekarang mungkin kita tidak pernah tahu.”, balas Bianca semakin mengompori situasi.
“Bi…”, Dinda menatap Bianca kesal.
Dia selalu saja senang menjahilinya.
“Jadi, kamu dijodohkan dengan om - om?”, tanya Dian.
“Hei hei… ada yang kurang. Om - om HOT.”, kata Bianca menambahkan. Rara juga terlihat menyetujuinya.
“Bi…”, Dinda kembali menegur Bianca.
Sahabatnya itu selalu saja sangat frontal.
“Memang iya kan, Din? Memang aku salah bicara? Jadi kamu bilang mas Arya ga HOT?”, kata Bianca kembali menggodanya.
“Ih.. Bianca kamu ini..”, tegur Dinda lagi. Mukanya sudah se-merah kepiting rebus sekarang.
“Iya iya.. Buruan jawab pertanyaan Dian.”, kata Bianca.
“Iya..Bunda dan Mama nya mas Arya saling kenal. Mama mas Arya yang punya ide ini.”, terang Dinda.
“Dan Pak eh Mas, eh aku panggilnya apa ya? Ya pokoknya suami kamu mau?”, kata Dian.
“Hm..”, Dinda belum pernah menceritakan ini sebelumnya. Tapi, mereka adalah sahabatnya.
“Awalnya mas Arya meminta aku untuk membatalkan pernikahan ini. Aku tidak tahu saat itu dia serius atau tidak dengan perkataannya. Tapi, Mama Inggit sudah membantu kami banyak. Aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini meskipun saat itu aku ingin. Aku tidak tahu apakah kalian bisa membayangkan betapa takutnya aku sebenarnya harus menikah dan tinggal bersama pria dewasa yang aku tidak kenal sama sekali. Aku sangat takut dan juga merindukan bunda.”, curhat Dinda.
“Oiya, Bianca bilang dia Duda ya?”, tanya Rara.
“Hm. Dia sudah pernah menikah sebelumnya dan bercerai setelah bersama selama 3 tahun.”, jawab Dinda.
“Baru cerai langsung menikah dengan kamu?”, tanya Dian syok.
“Tidak.. Tidak… dia bercerai sekitar hampir 4 tahun yang lalu.”, jawab Dinda lagi menenangkan ekspresi tegang yang lain.
“Hm.. aku kira… dia tidak punya pacar? Kenapa memintamu membatalkan pernikahan? Dia tinggal menikahi pacarnya jika mamanya menginginkan itu.”, tanya Rara.
Dinda menggeleng.
“Mas Arya tidak dekat dengan siapapun setelah bercerai.”, jawab Dinda.
“Dia masih mencintai mantan istrinya?”, tanya Sekar.
Pertanyaan yang telak langsung membuat Bianca merasa Dinda tidak nyaman. Meskipun sebaliknya, Dinda sudah tidak masalah dengan topik itu sekarang. Dia sudah yakin dan percaya kalau Sarah benar - benar sudah tidak ada di hati suaminya.
Bianca memberikan tatapan sebagai kode pada Sekar untuk tidak menanyakan perkara itu. Tetapi sekar sepertinya tidak peduli.
“Iya.”, jawaban Dinda singkat.
“Tapi, sekarang mas Arya cinta banget sama Dinda. Heh.. kalian harus lihat saat mereka tiba - tiba hilang di acara pertunanganku. Menurut kalian, kemana mereka? Terus, mas Arya tidak pernah sekalipun mengizinkan Dinda menginap denganku meski hanya semalam.”, kata Bianca dengan sangat bersemangat.
“Hm.. kalian tahu? Mas Arya pernah meneleponku hanya untuk memastikan apakah Dinda punya mantan atau tidak, lalu siapa saja yang mendekati Dinda dulu.”, Bianca menambahkan.
“Eh? Mas Arya bertanya seperti itu padamu?”, Dinda kaget.
“Hm.. beberapa hari setelah acara pertunangan. Dia menelepon mas Reza karena dia ingin menanyakan sesuatu padaku. Aku jamin, sudah tidak ada ruang untuk mantan istri mas Arya dihatinya. Cuma ada Dinda.”
__ADS_1
Mendengar ini, yang lain mengangguk - angguk lega. Mereka mengkhawatirkan Dinda yang mereka kenal memang paling polos dari semua yang mereka kenal. Kecuali Sekar tentunya. Masih ada sekian persen kecemburuan terhadap Dinda di dirinya meski mereka sudah berteman lama.
********
“Hah.. saya benar - benar tidak punya ide, kenapa Erick malah mengirim kamu untuk project ini. Setahu saya, dia adalah kandidat terbaik untuk terlibat dalam project ini.”, kata Arya.
“Pak Erick sedang ada project lain bersama Pak Dika. Jadi saya yang harus menggantikan beliau. Lagipula, saya yang terlibat langsung dalam project ini sebelumnya bersama dengan Pak Teddy. Jadi, harus saya katakan kalau saya bukan pengganti, Pak.”, balas Bryan menanggapi dengan tegas di awal kalimat, namun perlahan nadanya semakin turun karena tersapu oleh aura Arya yang berada di depannya.
“Oke.”, kata Arya singkat.
Bryan merasa speechless karena dia menjawab pertanyaan dengan detail mencapai satu paragraf dan pria itu hanya menanggapinya dengan satu kata saja.
‘Ah.. aku ingin bertanya tentang Dinda tapi aku takut diomeli. Hah.. aku benar - benar penasaran.’, kata Bryan mengekor di belakang.
Ya, untuk perjalanan bisnis kali ini, harus ada orang dari Digital and Development yang ikut sebagai advisor. Awalnya, Arya menyangka orang tersebut adalah Erick. Ternyata malah Bryan yang dikirim.
Beberapa waktu ini dia sangat kesal dengan yang namanya Bryan dan Andra karena mereka selalu saja menempel dengan Dinda. Pagi, makan siang, bahkan hingga mau pulang pun selalu ada mereka.
Arya merasa waktu yang dia habiskan dengan istrinya justru kalah dengan dua cecunguk itu. (Perhatian: Arya agak lebay disini karena tentu saja waktu yang dia habiskan bersama Dinda lebih banyak).
*******
“Bagaimana kondisi kandungan kamu Din? Sehat?”, tanya Rara yang sudah menjadi dokter Obgyn sekarang. Meski masih intern.
“Iya Ra. Alhamdulillah kondisinya sehat. Pertumbuhannya juga bagus.”, balas Dinda.
“Sebentar lagi aku akan ditempatkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak sekitar daerah -----”, kata Rara.
“Oh.. rumah sakit yang sama dengan tempat aku biasa periksa, Ra.”
“Dokter Rima?”
“Wah.. iya benar. Dokter kandunganku adalah Dokter Rima.”, kata Dinda dengan ekspresi antusias.
“Wow.. kebetulan sekali. Dia nanti menjadi pembimbingku Din. Dia galak ga ya?”, tanya Rara cemas.
“Hm.. selama periksa, dia sangat ramah. Sepertinya dia akan menjadi dokter pembimbing yang baik untuk kamu.”
“Tapi kan, baik sama pasien, belum tentu baik dengan intern, Ra. Hati - hati.”, kata Dian yang memang memiliki profesi yang sama. Hanya saja, Dian ditempatkan di UGD karena dia berencana untuk mengambil spesialis bedah.
“Hah.. aku tidak ingin menghabiskan waktu seperti kamu Dian. 24/7. Aku bisa gila.”, kata Rara.
“Hm.. kamu pindahnya kapan, Ra. Nanti mungkin kita bisa bertemu. Oiya, apartemen mas Arya juga berada satu lantai dengan apartemen dr. Rima loh. Kebetulan yang unik.”, sahut Dinda.
“Benarkah? Wah.. apa aku harus sering - sering berkunjung ke apartemen kamu agar aku bisa mendekatinya?”
“Boleh banget. Kamu bisa main kapan saja. Tapi, aku jarang disana. Kamu bisa memberitahuku kalau ingin datang.”
“Baiklah. Terima kasih, Din.”
********
Arya, Bryan, dan juga rekan dari tim lainnya juga harus segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Setelah pembagian kelompok untuk menaiki mobil, Siska baru sadar kalau dia lupa menghitung Bryan karena pria itu permisi ke toilet.
Alhasil Arya, Siska, dan Bryan berada di satu mobil yang sama. Sepanjang perjalanan, Bryan gelisah karena dia ingin bertanya, tetapi ada Siska disana. Bryan tidak tahu kalau Siska juga mengetahui hubungan antara Arya dan Dinda.
Disisi lain, Siska juga ingin membicarakan tentang Dinda. Belakangan ini kalau mereka hanya berdua, Siska sudah terbiasa membicarakan hal - hal yang berhubungan dengan rumah tangga Arya.
Tentu saja semua adalah pertanyaan yang bersifat standar. Namun, karena dia lupa menghitung Bryan, mereka jadi satu mobil. Suasana jadi canggung karena tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Padahal, perjalanan kembali ke hotel bisa memakan waktu satu jam karena jarak yang jauh.
“Sis, melanjutkan tentang pembicaraan di bandara, kamu sudah bertanya apakah meeting yang saya sebutkan bisa dimajukan?”, Arya akhirnya memecah keheningan malam itu.
“Oh, untuk meeting yang di hari kelima, saya sudah konfirmasi Pak dan bisa dimajukan menjadi hari ketiga. Karena topiknya juga masih berkaitan dengan stage awal. Untuk meeting di hari ke-6, saya sedang tanya apakah bisa dimajukan menjadi hari kelima menggantikan slot yang masih available. Lalu untuk acara di hari ketujuh, saya belum menyampaikannya.”, jawab Siska.
“Anyway, yang di hari ketujuh hanya konferensi kan? Semacam town hall nya mereka dan saya hadir disana. Untuk itu biar saya yang menyampaikan ke pimpinan mereka. Selanjutnya?”, tanya Arya.
“Sisanya hanya acara makan - makan dengan manajemen mereka yang bertanggung jawab dalam proyek kali ini, sekitar 1 atau 2 jam sebelum kita kembali pulang.”
“Oke, di hari ke-6 hanya ada satu meeting, kalau itu bisa dimajukan, saya mau kembali pulang di hari kelima selesai meeting. Kamu bisa bantu reschedule penerbangannya?”, tanya Arya memastikan.
“Bisa Pak. Setelah saya terima infonya tentang konferensi dan meeting yang dimajukan, saya akan reschedule penerbangan Bapak. Tapi, apa Pak Arya yakin, Pak Arya mungkin harus menggunakan penerbangan terakhir kalau mau pulang di hari kelima.”, ujar Siska.
“Hn. Tidak apa - apa. Lagipula sampai di rumah saya akan langsung istirahat. Saya harus menemani istri saya untuk periksa kandungan.”, kata Arya santai.
Seketika Siska langsung kaget dan menoleh ke arah Bryan. Kemudian kembali menoleh ke arah Arya.
‘Pak Arya santai sekali mengatakannya, dia tidak takut pria itu tahu? Dia kan satu divisi dengan Dinda. Tapi Pak Arya hanya menyebut ‘istrinya’, mana dia tahu kalau itu Dinda. Ah sudahlah, pak Arya juga terlihat santai saja.’, pikir Siska dalam hati.
Sesampainya di hotel, Siska buru - buru ke toilet karena dia sudah menahan panggilan alamnya selama 30 menit di mobil. Alhasil, Arya dan Bryan naik lebih dulu ke kamar mereka. Kebetulan Bryan dan Arya berada di lantai yang sama.
Orang yang seharusnya datang untuk proyek ini adalah Teddy, sehingga jenis kamar yang digunakan sama dengan tim lainnya. Saat Arya terpaksa harus menggantikan, sudah tidak ada kamar yang tersisa. Sehingga, Arya mau tidak mau menggunakan kamar dengan jenis yang sama dengan yang lainnya.
“Pak Arya, boleh saya bertanya?”, ujar Bryan saat mereka berada di dalam lift.
__ADS_1
“Hn.”, jawab Arya singkat.
Bryan sedikit merinding mendengar jawaban dari pria itu. Tapi dia benar - benar penasaran. Sebelum perjalanan bisnis kesini, dia tak sempat menanyakannya pada Dinda. Dia juga tidak begitu tertarik dengan jawaban dari sisi teman kantornya itu, tapi dari sisi Arya.