Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 58 Kebetulan


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Arya pergi ke Singapura dan hari ini adalah penerbangannya kembali ke Indonesia. Masalah sudah selesai dan proyek sudah deal. Hari - harinya yang penuh stress, sibuk, dan padat setidaknya bisa digantikan dengan beberapa hari cuti. Setidaknya itu yang ada dipikirannya saat mendorong kopernya di bandara.


Seharusnya Arya bisa tinggal di Singapura sampai sekitar 2 hari lagi, tapi karena permasalahannya dengan Dinda yang belum selesai, dia berusaha mempercepatnya dalam 2 hari. Meskipun itu membuat kepalanya panas dan pikirannya terkuras, tetapi permasalahan yang kemarin harus dibicarakan secepatnya, tidak boleh ditunda - tunda.


“Halo, Din.”


“...”, masih tidak ada jawaban setiap kali Arya menghubungi Dinda.


“Jawab dong.”, kata Arya pelan.


“Hm.”


“Kamu dimana?”, tanya Arya.


“Di luar.”, jawab Dinda.


“Dimana?”, tanya Arya lagi.


“Ada janji dengan teman”, jawab Dinda singkat.


“Siapa?”


“Pak Arya gak pernah jawab juga kan kalau ditanya.”, protes Dinda.


“Bisa kita ketemu? Saya sudah pulang dan sekarang menuju rumah. Saya mau bicarain masalah kita.”


“Saya gak tertarik.”, jawab Dinda dan dia menutup ponselnya.


‘Hah.. masih saja marah. Apa memang Dinda kalau marah bisa selama ini? Aku kan sudah jelaskan.’


“Halo, Ibas?”, Arya sudah menekan lagi tombol dial di ponselnya untuk menghubungi Ibas.


“Iya, halo mas.”, kata Ibas menjawab.


“Kamu tahu Dinda kemana hari ini?”, tanya Arya to the point.


“Istri mas, kenapa malah tanya ke aku?”, jawab Ibas bingung.


“Mas ga bisa hubungi ponselnya. Sepertinya sedang tidak ada signal.”, tutur Arya berbohong.


“Masa sih? Tadi kayanya Dinda bilang mau ke Mall X, mau ketemu temannya. Lupa siapa.”, jawab Ibas. Dia memang secara kebetulan ada di dapur, saat Dinda meminta ijin keluar pada Inggit. Berhubung hari ini akhir pekan, Inggit membebaskan Dinda untuk pergi kemana saja asal tidak pulang larut malam karena Arya sedang tidak di rumah.


“Oke. Thanks.”, jawab Arya segera memutuskan teleponnya.


“Mas Arya udah pulang? Halo.. mas?”, jawab Ibas yang masih ingin berbicara padahal sambungan teleponnya sudah di tutup.


*****


Disinilah Dinda, Mall X yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dinda berbohong saat mengatakan akan pergi dengan teman - temannya. Dinda memang sudah mengajak mereka, tetapi semua mengatakan sibuk. Bianca pergi untuk mempersiapkan prosesi lamaran yang tinggal dua minggu lagi.


Dian dan Rara tentunya sedang sibuk di rumah sakit karena mereka ada shift. Apalagi Sekar, belakangan ini dia memiliki banyak order dadakan yang membuatnya tidak bisa keluar. Alhasil Dinda yang suntuk sekali di rumah memutuskan untuk keluar sendiri. Setelah dipikir - pikir, sudah lama dia tidak jalan sendiri seperti ini.


“Saya mau yang ini ya mba.”, ujar Dinda pada seorang kasir.


“Baik. Ini saja atau ada tambahan lain?”, tanya kasir sebuah toko baju itu.


“Hm.. udah itu saja mba.”, jawab Dinda.


“Pembayarannya mau cash, debit, atau kredit?”, tanyanya lagi.


“Debit aja mba. Sebentar ya.”, jawab Dinda sambil mencari - cari kartu di dompetnya.


‘Hm.. kok ga ada? Dinda mencoba mencari sekali lagi tetapi gagal menemukannya.’


“Saya pakai kartu kredit ini saja, mba.”, kata Dinda sambil menyodorkan kartu kredit yang diberikan Arya padanya. Dia tidak ingin menggunakannya, tetapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak mungkin mengembalikan baju yang sudah dipilihnya.

__ADS_1


Proses pembayaran selesai dan Dinda kembali melanjutkan perjalanannya.


“Dinda? Kamu Dinda yang waktu itu kan?”, seorang pria menepuk bahunya dari belakang. Sontak Dinda menoleh.


“Hm?”, Dinda masih berusaha mengingat siapa yang menepuk pundaknya tersebut.


“Dimas. Masa lupa? Baru sekitar seminggu yang lalu, loh?”, kata Dimas mengingatkan.


“Aaah.. yang kena tumpahan kopi, ya?”, kata Dinda.


“Syukurlah, saya kira kamu lupa. Padahal saya bukan tipe yang cepat dilupakan loh.”


Dinda hanya membalas dengan senyuman.


“Sendiri?”, tanya Dimas dan Dinda menjawab dengan anggukan.


“Ada mau ketemu orang? Atau ada tempat yang dituju?”, tanyanya lagi.


“Hm.. sendiri.”, jawab Dinda.


“Hm.. keberatan kalau saya traktir makan siang? Minggu lalu, kamu menyelamatkan saya. Hari itu ada meeting besar yang harus saya ikuti dan kamu membelikan saya kemeja.”


“Ah.. itu karena saya yang menumpahkan kopinya.”, jawab Dinda meluruskan.


“Tetap saja. Saya kira saya tidak akan bisa mendapatkan kontrak itu. Ternyata berkat kemeja baru, sepertinya memberikan keberuntungan baru buat saya.”


“Ah..ga mungkin karena kemejanya. Berarti memang sejak awal sudah akan mendapatkan kontrak yang dimaksud.”, kata Dinda meluruskan lagi.


“So.. keberatan untuk saya ajak makan siang?”


“Emm.. maaf. Saya harus kembali sebelum jam makan siang. “, jawab Dinda berusaha untuk menolak secara halus.


“Ah.. okay. Next time, kalau kita sudah akrab, pasti kamu tidak akan menolak ajakan makan siang saya.”, jawab pria itu tersenyum.


“Saya tidak menolak. Hanya saja..”


“Hm.”


“Oh iya.. Kita pasti akan cepat akrab. Saya buka cafe di kantor kamu.”


“Eh?”


“Saya lihat kamu beberapa hari yang lalu di Gedung Perkantoran X. Kamu kerja disitu kan? Saya buka Cafe disana.”


“Aah.. jadi yang saya lihat familiar itu ternyata kamu.”, Dinda mulai antusias karena mengingat orang di depannya ini dan di foto yang kemarin ditunjukkan Andra.


“Ooh.. sudah kepo - kepo dimana?”


“Engga, kemarin ada yang menunjukkan foto kamu di instagram. Saya pikir saya pernah bertemu tapi saya lupa.”


“Ooh… kamu ingat saya ternyata.”


Dinda membalas dengan senyuman.


“Okay, sampai jumpa lagi kalau begitu.”, pamit nya lagi.


Dinda kembali menjawab dengan senyuman dan mereka berpisah jalan.


Telepon Dinda kembali berdering dan ternyata dari Arya.


“Kamu di sebelah mana?”, tanya Arya.


“Eh? Memangnya kenapa?”


“Saya sudah di Mall X yang dekat rumah kamu. Sekarang kamu di lantai berapa?”

__ADS_1


“Pak Arya disini?”


“Kamu di lantai berapa?”


Dinda bingung kenapa Arya malah menghampirinya ke Mall ini.


“Oh ketemu.”, kata Arya dari seberang sana dan menutup sambungan teleponnya.


Dinda hanya bisa diam dan bingung sampai akhirnya ada seseorang yang menggaet pinggangnya dari belakang. Dinda setengah berteriak karena terkejut. Setelah menoleh ke belakang dan menemukan ternyata itu adalah Arya, Dinda membiarkan lengan itu berada di pinggangnya.


“Masih marah?”


“...”, Dinda tidak menjawab.


“Saya traktir makan? Saya lapar belum makan apa - apa sejak penerbangan pagi ini.”


“...”, Dinda masih diam saja.


“Kita bahas itu nanti. Sekarang kita makan dulu.”, Arya menggiring Dinda berjalan menuju parkiran. Dia mengajak Dinda untuk mencari restoran favoritnya yang tidak berada di Mall ini.


Sepanjang perjalanan Dinda hanya diam karena dia juga bingung harus mengatakan apa. Hatinya masih marah tetapi melihat pendekatan yang begitu intens dilakukan oleh Arya, dia juga merasa tidak enak.


Seperti yang dikatakan Bianca, hanya ada dua pilihan. Mempercayai penjelasan Arya tempo hari atau bertanya pada Sarah. Pilihan kedua adalh pilihan yang tidak akan pernah ia inginkan. Dia tidak ingin bertemu wanita itu.


‘Apa aku mempercayainya saja. Lagipula kemarin papa juga bilang begitu. Mungkin memang benar pak Arya bukan laki - laki seperti itu.’


“Waktu itu bisa bicara di lobi, kenapa harus masuk ke kamarnya?”, Arya terkejut mendengar pertanyaan Dinda yang tiba - tiba. Sedikit lagi mereka sampai ke parkiran tempat mobil Arya diparkir. Tapi pertanyaan Dinda membuatnya berhenti.


Arya terdiam sejenak sebelum mengatakan kalimatnya. Arya tak ingin bilang bahwa dia melihat Sarah bersama laki - laki lain dan ingin memastikannya maka dari itu dia harus sampai menghampiri ke kamarnya. Jawaban itu sama sekali tidak menyelesaikan kesalahpahaman.


Lama Dinda berpikir panjang sampai akhirnya mereka tidak sadar sedang berhenti di ujung pertigaan tempat parkir yang letaknya menurun. Sebuah sedan meluncur dari lantai dua menuju jalur keluar.


Meski berada di pertigaan, siapapun pasti akan menginjak rem karena tempat Arya dan Dinda berdiri sangat terang dan mereka pasti melihat Arya dan Dinda. Tapi, alih - alih menginjak rem, sedan tersebut terus meluncur.


Disaat Dinda menatap Arya untuk menanti jawaban pria itu, Arya menyadari mobil sedan yang meluncur dan tidak berhenti. Sudah terlambat untuk minggir karena jarak terlalu dekat. Akhirnya, Arya membalikkan sedikit tubuhnya sambil memeluk Dinda.


Beruntung, yang punya mobil langsung mengerem begitu sampai di bawah. Meski begitu, pertemuan antara ujung bodi depan mobil dan tubuh bagian belakang Arya tak bisa dielakkan. Arya terdorong dan terhempas sedikit ke arah depan. Namun, berkat pelukan Arya pada Dinda, tubuhnya yang terjatuh dan bergesek dengan lantai lebih dulu. Sedangkan Dinda mendarat dengan baik di atas tubuhnya.


‘Argh..’, Arya meringis. Tidak hanya karena pertemuan bodi mobil yang menghantam sedikit tubuh bagian belakangnya, tetapi juga baret - baret akibat gesekan lengan belakangnya dengan lantai basement yang kasar.


“Mas Arya, mas Arya gapapa? Mana yang luka? Kakinya?”, Dinda dengan panik memeriksa suaminya. Pengemudi mobil yang terlihat masih muda dan satu orang penumpang paruh baya  langsung keluar untuk memastikan. Mereka juga tak kalah panik.


“Bagaimana keadaannya? Kita bawa ke rumah sakit ya? Saya antar langsung, mas dan mba.”, ucap pria paruh baya itu menawarkan masih dengan wajah yang sangat panik. Remaja di belakangnya juga tak kalah panik dan takut.


“Arghh… gapapa, Pak. Luka gores aja. Bisa kita obati sendiri.”


“Maaf mas dan mba, Dia baru belajar mobil dan loss saat di turunan. Ditambah dia terkejut melihat ada orang yang berdiri di situ.”


“Argh.. Iya Pak, gapapa. Kita juga salah tadi berdiri disitu. Lain kali lebih hati - hati aja ya, nyetirnya.”


“Iya, saya minta maaf. Tadi saya mencari klakson, tapi karena panik malah nge gas dan loss. Padahal udah rem, tapi tetap nabrak.”, remaja di belakang pria paruh baya itu tertunduk menjelaskan rentetan kejadiannya.


“Hm.. Iya gapapa.”, jawab Arya. Dinda membantunya berdiri. Benturan bodi mobil dan kaki Arya memang membuatnya sakit tapi lama - lama sakitnya mulai berkurang. Hanya goresan di lengannya yang membuatnya masih meringis perih.


Pria paruh baya itu pamit setelah meninggalkan nomor ponselnya. Meski Arya sudah menegaskan tidak perlu membawanya ke rumah sakit, namun pria itu tetap meninggalkan nomor ponselnya jika dibutuhkan.


Dinda membantu memapah Arya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.


“Mas Arya, ini lengan bajunya diangkat dulu, ya. Biar ga perih.”, kata Dinda, dia dengan hati - hati mengangkat pelan lengan baju Arya agar lukanya tidak bergesekan dengan baju lengan panjang.


“Di mobil ada baju lengan pendek, ga? Kita ganti aja sama baju lengan pendek, ya?”, kata Dinda.


“Engga kok, gapapa.”, kata Arya menenangkan. Ia mengajak Dinda untuk terus berjalan menuju mobil mereka.


“Dinda?”, seseorang memanggil Dinda dari belakang tak berapa lama saat Arya dan Dinda sudah hampir dekat dengan mobilnya.

__ADS_1


“Dimas?”, jawab Dinda setelah menoleh ke belakang dan memastikan orang yang memanggil.


Arya yang mendengar nama istrinya dipanggil juga ikut menoleh ke belakang.


__ADS_2