Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 199 Apa aku harus cerita?


__ADS_3

Ibas, adik ipar yang usianya sama ini mengantarkan Dinda ke kantor. Seperti biasa, jika Arya sedang melakukan business trip dan Pak Cecep sedang digunakan oleh orang rumah yang lain, maka Ibas yang ditugaskan untuk mengantar Dinda.


“Okay, sudah sampai. Nanti kamu mau dijemput jam berapa?”, tanya Ibas pada Dinda saat menepikan mobilnya di samping halte di depan kantor Dinda.


“Hem? Pak Cecep tidak bisa jemput ya?”, tanya Dinda yang sibuk mengambil barang - barangnya.


“Pak Cecep harus menjemput mama ke tempat arisan. Kemungkinan masih terjebak macet di jam - jam pulang kantor. Jadi, tidak mungkin bisa jemput kamu.”, jelas Ibas sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Aku sampai heran sama mama, sebenarnya ada berapa arisan sih yang diikuti, kenapa sepertinya tiap minggu arisan?", Ibas masih berceloteh.


"Kenapa? Kamu gak mau kalau aku yang jemput?", tanya Ibas.


Dia tahu bukan itu maksud Dinda, tapi dia hanya merasa perlu untuk menggodanya. Sehari tidak menjahili kakak iparnya ini, rasanya tidak sempurna. Untuk kejahilan, sepertinya Ibas memang persis seperti Arya. Kadang Dinda merasa bingung, dari mana mereka memperoleh keusilan itu. Kalau dilihat - lihat, Papa mertuanya, Kuswan adalah orang yang sangat serius.


Bahkan awal - awal saja, Dinda takut dengannya. Inggit, meskipun beliau ceriwis, tetapi Inggit tidak usil. Tunggu, kalau dipikir - pikir lagi, kadang - kadang Inggit juga pernah mengeluarkan sifat usilnya. Terutama saat Arya dan Dinda baru masih masa - masa awal pernikahan.


"Bukan. Bukan begitu. Kenapa kamu malah berpikir begitu? Sama sekali tidak kok, Ibas. Aku senang kamu antar. ", balas Dinda jadi merasa tidak enak.


"Terus?", tanya Ibas menolehkan kepalanya pada Dinda.


“Aku hanya tidak enak merepotkan kamu. Setiap kali mas Arya sedang perjalanan bisnis, pasti kamu yang direpotkan terus untuk antar jemput. Padahal aku bisa kok naik ojek online. Cepat dan mudah. Jadi kamu tidak perlu khawatir.", kata Dinda.


"Dengan kondisi hamil?", Ibas bahkan menaikkan satu alisnya untuk memastikan pertanyaannya pada Dinda.


"Hm.. taksi online?", jawab Dinda berdalih. Ya, motor tidak begitu aman untuk ibu hamil karena khawatir ada goncangan.


"Udahlah.. seperti dengan orang lain saja. atau jangan - jangan, kamu masih menganggap aku seperti orang lain, ya? Wah, kamu membuat aku kecewa. Padahal aku selalu menerima curhatan kamu soal mas Arya, kasih solusi, ngajak main, dan masih banyak lagi. Tapi kok masih dianggap orang lain?", Ibas sengaja memperlihatkan wajah sok sok sedih.


Meski mereka sekarang sudah menjadi keluarga dan akrab, kadang ada saat - saat dimana Dinda merasa sungkan pada Ibas.


"Ya.. ya.. kalau begitu, aku izin merepotkan kamu terus sampai mas Arya pulang, ya.", kata Dinda menyerah. Tidak sudah tidak bisa berdebat lagi dengan pria ini.


“Tentu saja. Tidak apa - apa, santai. Aku kan jadi ada teman berangkat ke kantor. Kamu tahu? Sebagai seseorang yang extrovert, aku merasa sangat tersiksa berada di dalam mobil sendirian. Hanya ditemani oleh mba - mba Radio.”, jawab Ibas yang masih mengarahkan pandangannya seperti mencari - cari sesuatu atau seseorang di luar.


"Baiklah, Mr. Extrovert. Aku akan menemani perjalanan berangkat kantor kamu mulai sekarang, sampai mas Arya pulang.", ujar Dinda dengan wajah dan suara yang bersemangat.


"Hm.. kenapa ada expiry datenya."


"Expiry date?"


"Ya, kamu bilang kan sampai mas Arya pulang."


"Haha.. aku gak keberatan berangkat kantor bareng kamu terus. Tapi, silahkan izin sama mas Arya. Hm.. dikasih ga ya?", kata Dinda ikutan menggoda.


“Ngomong - ngomong, dari tadi kamu sedang apa? Sedang mencari seseorang? Celingak - celinguk terus. ”, akhirnya Dinda bertanya.


Dinda heran, Ibas sesekali mengedarkan pandangannya ke luar mobil seperti sedang mencari seseorang. Gerak - gerik Ibas juga sangat ketara. Mungkin saja dia memang mencari seseorang. Tapi, siapa?


“Hem.. teman kamu waktu itu mana?”, tanya Ibas akhirnya menyerah karena tidak bisa menemukannya.


“Teman? Laki - laki atau perempuan.”, Dinda mencoba memperjelas.


Ibas pernah bertemu saat Dimas menghampiri mereka. Jadi, mungkin saja selain Delina, Ibas mungkin menanyakan Dimas.


“Tentu saja perempuan. Untuk apa aku menanyakan teman laki - laki. Memangnya aku tidak punya teman. Lagipula, kamu punya teman laki - laki? Awas, ya aku akan info ke mas Arya.”, balas Ibas membantu Dinda melepas seatbeltnya.


"Namanya kantor, Bas. Memangnya hanya ada perempuan. Pasti ada laki - laki juga. Rekan kantor, oke. Bukan teman. Aku sudah pernah melihat mas Arya marah, jadi aku tidak mau lagi kamu membuat dia marah.", ujar Dinda.


"Hm.. gimana tuh mas Arya kalau cemburu?", Ibas masih saja menggodanya kapanpun dia memiliki kesempatan.


"Jadi, teman kamu yang perempuan itu sudah datang belum? Siapa ya namanya?", tanya Ibas lagi. Dia masih belum menyerah.


“Mba Delina ya, maksudnya? Atau mba Suci. Di antara teman kantor sepertinya, hanya dua orang itu yang pernah kamu temui.”, ucap Dinda memberikan gerak - gerik berterima kasih saat Ibas berhasil membantunya melepaskan seat belt miliknya.


“Sepertinya waktu itu kamu memanggilnya ‘Delina’, yang heboh dan minta dikenalkan padaku. Delina ya? Hm.. kalau dipikir - pikir lagi, iya - iya sepertinya yang itu.”, Ibas tersenyum.


“Ah.. sepertinya benar yang kamu maksud adalah mba Delina. Kenapa? Kamu menyukainya? Mau aku kenalkan padanya? Bukankah kamu baru putus beberapa bulan yang lalu. Sudah sembuh? Mau pacaran lagi? Sudah sanggup patah hati lagi”, tanya Dinda langsung to the point.

__ADS_1


Dinda langsung sat set sat set melontarkan pertanyaan pada Ibas.


“Iya. Kamu bisa berikan aku nomor ponselnya? Dia biasanya datang jam berapa? Aku tidak melihatnya hari ini.”, tanya Ibas ikut membuka pintu karena Dinda sepertinya sudah siap.


“Ya, nanti aku akan memberikan nomornya padamu. Setahuku dia sudah punya pacar, tetapi nanti aku akan menanyakannya. Sudah, aku turun dulu ya. Terima kasih, Ibas.”, ucap Dinda sambil membuka pintu mobilnya.


“Jangan lupa ya, Din. Begitu sampai kursi, kamu langsung memberikan nomor ponselnya padaku.”, kata Ibas sangat agressif.


“Iya iya.. sudah sana. Nanti orang akan marah kamu parkir disini kelamaan.", ujar Dinda melambaikan tangannya seolah mengusir Ibas.


"Jangan lupa Din. Nanti sampai kantor, aku langsung tanya loh..", ujar Ibas.


Ya, tentu saja.”, jawab Dinda yang bahkan harus mendorong bahu pria itu agar dia segera pergi. Adik iparnya satu ini memang rajanya rempong.


Baru saja Ibas akan masuk ke dalam mobil dan Dinda berjalan beberapa langkah masuk, seseorang menyapa Dinda. Sepertinya dia baru berjalan dari arah seberang, tempat alternatif biasa karyawan ngopi dan merokok.


“Oh, hai Din. Morning!”, sapanya pada Dinda dengan ramah.


Sapaan ini membuat Ibas berhenti sebentar dan melihat lagi ke arah belakang. Pandangannya membuat orang yang tadi menyapa merasakan tatapan itu. Tatapan penasaran Ibas diartikan sebagai tatapan tajam oleh pria yang menyapa tadi.


“Selamat pagi, Pak Dika.”, ujar Dinda yang cukup terkejut karena menemui Dika disana.


Dika berhenti sebentar dan meminta orang - orang yang jalan bersamanya tadi untuk masuk lebih dulu. Saat tak sengaja melihat Dinda, Dika kebetulan baru selesai ngopi - ngopi dan merokok di Cafe sebelah. Dinda juga tidak mengenal orang - orang yang berjalan dengan Dika. Mungkin geng sebat nya.


Dika merasakan tatapan dari Ibas dan menoleh ke arahnya sambil kemudian berbalik menoleh ke arah Ibas. Seolah memberikan tatapan ingin diperkenalkan oleh Dinda. Kalau Dika tidak mengetahui hubungan antara Dinda dan Arya, dia mungkin sudah mengira kalau anak itu adalah pacar Dinda.


“Siapa?”, tanya Dika penasaran.


‘Kenapa aku harus bertemu dengannya di depan kantor, sih. Bikin tidak nyaman saja.', pikir Dinda dalam hati.


Tidak seperti Erick, Bryan, dan Andra, sejak awal Dinda sudah merasa tidak nyaman dengan Dika. Namun dia pikir mungkin itu karena mereka belum kenal. Lagipula, ini adalah kali pertama Dinda bekerja, jadi mungkin saja dia belum terbiasa dengan pergantian personil.


Tapi, sejak mendengar informasi tentang Dika dari mas Arya, Dinda jadi merasa tidak nyaman kalau berbicara dengannya. Terutama secara langsung seperti ini.


“Adik saya.”, jawab Dinda singkat.


‘Kepala Divisi biasanya hanya akan menyapa dan kemudian langsung pergi. Kenapa dia malah kepo, sih.’, Dinda hanya bisa membalas sambil tersenyum canggung.


“Adik ipar saya.”, jawab Dinda sambil melambaikan tangannya pada Ibas.


Ibas membalasnya dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Tapi, dia tidak bisa bohong kalau dia merasa Dinda tidak nyaman berhadapan dengan orang itu.


‘Dia sepertinya seusia mas Arya. Bos nya? Seusia mas Arya kan setidaknya sudah Kepala Divisi. Ah, nanti aku tanya saja ke Dinda.’, Ibas kemudian melajukan mobilnya.


“Kalau begitu, saya naik duluan ya, Pak.”, jawab Dinda langsung mencoba melarikan diri dari situasi canggung ini.


“Oh, bareng saja. Saya juga sudah mau naik ke atas.”, jawab Dika.


Jawaban Dika tentu saja pertanda tidak baik untuk Dinda. Artinya, sepanjang jalan orang itu pasti akan terus bersamanya. Kemungkinan terburuk lainnya adalah bertanya ina - itu padanya.


‘Kalau saja dia selevel Andra, aku bisa dengan mudah menolaknya dan jalan duluan. Tapi dia Kepala Divisi, bagaimana aku bisa mengatakannya. Malah akan aneh jadinya.’, Dinda benar - benar bingung.


"Pak Arya masih di luar kota, ya?", tanya Dika pada Dinda di perjalanan menuju lift.


'Tuh kan dia tanya - tanya.', ujar Dinda dalam hati.


‘Apa aku terlalu berlebihan kalau berpikir dia aneh? Somebody helps me, please.’, teriak Dinda dalam hati. Dia sangat tidak nyaman meski hanya berjalan beriringan sampai ke atas. Itu mungkin tidak akan menghabiskan waktu lebih dari 15 menit. Tapi, rasanya seperti 15 jam.


“Din, morning!”, sapa Delina yang ternyata juga diantarkan oleh supirnya.


Dia langsung memegang bahu Dinda dari belakang. Posisi Dinda agak terdorong sedikit dan itu membuatnya sontak langsung memegang perutnya, memeriksa apakah disana baik - baik saja. Dinda refleks melindunginya.


“Oh.. morning, mba Delina.”, balas Dinda senang meskipun dia merasa terkejut.


Akhirnya, datang juga orang yang bisa menolongnya disaat seperti ini. Dinda dengan sangat naturalnya berpindah posisi ke samping Delina agar dia tidak berada disamping Dika.


“Din, kamu tidak bilang lagi bersama Pak Dika.”, bisik Delina pada Dinda, pelan sekali suaranya.

__ADS_1


Mirip seperti Dinda, Delina juga pastinya tidak nyaman jalan bareng dengan bosnya. Padahal waktu senggang seperti perjalanan dari lobby ke atas ini bagus digunakan untuk mengobrol. Tapi, kalau ada bos, bagaimana bisa mengobrol. Bahkan mencari topik obrolan saja sulit.


“Mba Delina saja muncul seperti Jinny Oh Jinny, bagaimana aku bisa punya waktu untuk memberitahu.”, Dinda juga ikut berbisik. Mereka berdua berbicara sambil tersenyum. Meski bibir dan gigi tersenyum, tetapi mereka tetap bisa berkomunikasi satu sama lain.


Mereka bahkan masih terus berbicara dengan mulut yang masih dibuat tersenyum. Seolah mereka sangat ahli melakukannya.


“Pagi, Pak Dika. He-he.”, akhirnya Delina menyapa Dika karena dia sudah terlanjur di posisi yang canggung.


Dika juga ikut tersenyum membalas sapaan karyawannya. Dia melirik sedikit ke arah Dinda dan dia juga cukup cerdas untuk menyadari kalau gadis itu menghindarinya.


‘Hm.. meski aku sudah tidak ingin menggodanya, tapi istri Arya Pradana satu ini memang benar - benar menarik.’, kata Dika dalam hati.


*********


“Mba Delina, aku boleh kasih nomor mba ke seseorang ga? Oiya, mungkin aku tanya dulu. Mba Delina punya pacar ga? Ada seseorang yang aku kenal ingin berkenalan.”, tanya Dinda.


“Wah.. siapa? Hem aku sedang bertemu seseorang, sih. Tapi, tidak masalah, kamu bisa berikan saja nomorku padanya.”, jawab Delina.


“Oh benarkah? Apa tidak apa - apa. Kalau mba Delina sedang bertemu seseorang, mungkin aku akan menunda untuk memberikan nomor mba Delina padanya.”, ucap Dinda.


“Lalu kapan kamu akan mengirimkan nomorku padanya?”, tanya Delina penasaran.


“Tunggu mba Delina putus, ha-ha.”, Dinda tertawa.


“Huuuu… kamu. Tidak apa - apa, aku bisa dekat dengan dua pria sekaligus.”, jawab Delina dengan penuh percaya diri.


“Aku yang kenapa - kenapa. Dia adalah adik yang aku sayangi, jadi jangan mematahkan hatinya.”, balas Dinda.


“Oooh... Adik? Bukannya adik kamu baru akan masuk perguruan tinggi? Masa aku dijodohkan dengan brondong.”


“Oh.. yang ini adik yang lain.”


“Adik yang lain? Memangnya kamu punya adik yang lain?”, tanya Delina bingung.


“Hem.. Adik sepupu, iya betul, adik sepupu.”, jawab Dinda.


“Oh baiklah - baiklah. Hem.. sepertinya aku akan segera putus dengan orang yang aku temui ini. Kami tidak cocok. Jadi, kamu bisa memberikan nomorku pada adik sepupumu itu. Dia baik, kan?”, Delina langsung antusias.


Dinda mengangguk.


“Oiya Din, aku benar - benar terkejut loh tadi pagi ada Pak Dika di samping kamu. Aku kira itu hanya orang lewat saja. Aku tidak melihat wajahnya saat akan menyapamu. Kalau aku tahu itu Pak Dika, aku tidak akan menyapamu. Ha-ha.”, Delina tertawa.


“Aku justru berterima kasih pada mba Delina karena sudah menyapaku pagi ini. Aku benar - benar tidak nyaman tadi. Dia terus bertanya - tanya lagi. Padahal Pak Erick juga tidak sebegitunya. Mungkin dia ingin lebih akrab dengan karyawan.”, ujar Dinda.


“Eh, Din. Hem.. ini hanya dugaanku saja. Tapi, entah kenapa Pak Dika itu punya perhatian lebih deh ke kamu.”, kata Delina.


“Hush, jangan ngaco deh mba Delina. Tidak mungkin.”, kata Dinda merinding mendengarnya.


Sebenarnya Dinda juga belakangan jadi merasa begitu terhadap Dika, namun dia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin.


“Aku juga berharap itu tidak mungkin. Tapi aku tidak tahu kenapa setiap melihat interaksinya padamu, aku tidak bisa menghindari untuk selalu berpikiran begitu. Buktinya, kalau tadi dia memang ingin mendekatkan diri dengan karyawan, dia juga akan menanyakan banyak hal. Tapi, tidak tuh. Berakhir di kata, ‘Morning, juga.’”, jawab Delina.


‘Hah… apa karena dia tahu kalau aku istrinya mas Arya, ya.’, pikir Dinda dalam hati.


“Uhm.. mba Delina. Aku boleh tanya?”, kata Dinda.


“Um.. tentu saja. Kamu mau tanya apa?”


“Kalau mba Delina di posisi aku dan mendapat perlakukan seperti yang mba Delina mungkin pikirkan, apa mba Delina akan cerita pada pacar mba Delina?”, tanya Dinda hati - hati.


“Wah, jadi kamu dan Mas ‘A’ itu sudah official? Kamu benar - benar memacarinya?”, tanya Delina antusias.


“Jawab dulu.”, Dinda berusaha lepas dari pertanyaan itu dan menunggu - nunggu bagaimana jawaban Delina.


“Tentu saja. Kamu harus bercerita padanya. Bagaimana kalau nanti kalian tiba - tiba bertemu seperti aku bertemu denganmu tadi pagi. Aku saja merasa dia sedang menaruh perhatian berbeda padamu, apalagi pacar kamu. Dia pasti punya insting yang lebih tajam. Jadi, siapa dia?”, tanya Delina sambil mendorong sedikit bahu Dinda agar gadis itu mau menjawabnya.


“....”, Dinda tidak menjawab dan malah berpikir dan mempertimbangkan saran dari Delina. Apa dia harus menceritakannya pada Arya agar nanti tidak terjadi kesalahpahaman jika ternyata kecurigaannya benar.

__ADS_1


__ADS_2