Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 209 Hati yang tak menerima


__ADS_3

Akhir pekan dan sore hari adalah waktu yang paling pas untuk para pekerja kantoran nongki - nongki cantik dengan teman sejawat. Tidak hanya teman sejawat, mereka yang sudah menikah dan memiliki anak pun menjadikan waktu - waktu seperti ini untuk liburan.


Ada yang mengambil liburan singkat, ada juga yang bela - belain ke tempat - tempat jauh hingga menginap. Inilah yang dilakukan oleh Dika sekarang. Tentunya, dengan terpaksa. Dia tak bisa menolak ajakan Rianti belakangan ini karena dia juga sedang menyembunyikan sesuatu.


Mulut Sarah saat ini menjadi bom waktu untuknya. Sebenarnya, tidak akan ada yang menyangka aneh - aneh tentang hubungan Dika dan dr. Rima. Toh, mereka selalu bertemu di rumah sakit, tempat yang dipenuhi oleh banyak orang.


Toh, mereka tidak memiliki hubungan apapun. Rima bahkan kerap menjauhi Dika. Mereka tidak bertemu se-intens itu untuk dikatakan sebagai selingkuhan. Justru, Dika lebih mengkhawatirkan dirinya dan Sarah yang mungkin akan ketahuan oleh Rianti.


Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat Dika tidak bisa bertindak gegabah. Sarah, wanita itu entah bagaimana caranya bisa dengan mudah mempengaruhi seseorang. Dika memuji kemampuan wanita itu dulu, tapi sekarang, ternyata itu malah menjadi senjata makan tuan sendiri untuknya.


“Kamu sedang melamunkan apa?”, Rianti menghampiri Dika yang berpura - pura sibuk mengeluarkan peralatan grill dari gudang.


Padahal, sudah ada asisten rumah tangga yang ditugaskan untuk mengangkat peralatan grill itu ke taman belakang.


“Huh, aku kesini tidak untuk duduk - duduk melihat pemandangan. Setidaknya pekerjaan sekecil mengangkat peralatan grill harus aku lakukan supaya bisa tetap waras di liburan kali ini.”, ucap Dika baru saja akan pergi mengangkat dua peralatan grill lagi sebelum Rianti menarik lengannya.


“Kenapa sih kamu tidak pernah memberikan kesempatan untuk orang lain memperbaiki diri. Aku mengerti kita tidak punya chemistry sama sekali sejak awal menikah. Tapi, kita suami istri. Bisakah kamu berusaha sedikit saja demi Putera?”, kata Rianti.


“Hm? Kamu habis mendapatkan hidayah dari mana sampai bertindak sejauh ini? Aku kira kamu hanya sedang drama saja. Tapi ini sudah terlalu lama untuk drama. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”, tanya Dika menurunkan peralatan grill itu ke bawah.


Seorang asisten rumah tangga yang masih berseliweran menawarkan diri untuk membantunya mengangkat, namun Dika menolak.


“Aku kan sudah pernah mengatakannya padamu berkali - kali. Aku ingin memperbaiki hubungan kita.”, jawab Rianti.


Mereka sengaja memelankan suara mereka agar yang lain tidak ada yang mendengarnya. Papa nya tidak boleh tahu kalau selama ini beginilah hubungan mereka. Berpura - pura baik - baik saja.


“Aku juga sudah pernah mengatakan padamu. Hubungan kita sejak awal tidak baik - baik saja. Aku tidak ingin mengulang semuanya. Jadi, sebelum aku mengeluarkan kata - kata yang menyakitkan, sebaiknya kita segera mengakhiri permainan rumah - rumahan ini dan pulang. Aku lelah. Minggu depan aku ada meeting besar di luar kota.”, kata Dika pada Rianti.


“Memangnya apa yang ingin kamu katakan, huh? Katakan saja sekarang, tidak perlu berpura - pura sedang menjaga perasaanku.”, kata Rianti masih menarik lengan suaminya.


“Rianti.”, kata Dika dengan penuh penekanan.


“Papa, mama. Kok lama sekali bawanya. Bibi sudah mengeluarkan semua dagingnya, loh. Nanti kalau kelamaan, kapan matangnya. Aku sudah lapar.”, secara tiba - tiba Putera datang menghampiri mereka.


Rianti segera menghapus setetes air mata yang hampir jatuh di pipinya. Dika bahkan tak melihatnya, karena Rianti menahannya sekuat tenaga. Dika langsung menghampiri anaknya dan menggendongnya.


“Memangnya kamu mau makan daging apa?”, tanya Dika pada Putera. Dia menggendong Putera dengan sebelah tangannya sementara sebelah lagi ia gunakan untuk membawa alat pemanggang.


“Udang. Cumi. Daging. Katanya ada jamur - jamurnya juga.”, kata Putera sangat senang.


“Jamur? Bukannya kamu tidak boleh makan jamur, nanti alergi nya kambuh.”, balas Dika.


Dia ingat betul terakhir Putera makan jamur di acara pesta kembang api sekolahnya, Putera harus segera mendapatkan perawatan medis karena keduanya baru menyadari, anak mereka memiliki alergi terhadap varian jamur.


Meski begitu, belum ketahuan jamur jenis apa yang membuat Putera alergi. Sejak dia bisa makan - makanan berat, pengasuhnya sudah pernah memberinya jamur, tetapi tidak apa - apa. Sehingga, mungkin saja, Putera hanya alergi terhadap varian tertentu saja.


“Putera hanya lihat saja. Tidak ikut makan kok. Putera cuma mau makan daging. Papa nanti panggang nya yang enak ya.”, Putera terus saja berbicara sepanjang jalan mereka menuju ke taman belakang.


Keluarga Rianti memiliki Villa yang terletak di puncak. Sekian hektar perkebunan teh di sana adalah milik keluarganya. Dulu, seperempatnya dimiliki oleh keluarga Dika. Namun, sejak papa Dika bangkrut karena berjudi, semua perkebunan tehnya harus dijual pada keluarga Rianti.


Meski begitu, papa Dika tetap ingin mengelolanya. Tidak hanya perkebunan teh, beberapa bisnis perkebunan lainnya juga ludes diambil alih. Dari situlah hadir pernikahan keduanya. Win - win solution.


Setiap Dika memandang perkebunan yang ada di halaman belakang villa nya, setiap itu juga dia membenci Rianti dan keluarganya. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, dia membenci papanya. Tapi, kalau bukan karena ide dari keluarga Rianti, hidupnya tidak akan serumit sekarang.


Karena itulah, Sarah dan Dika cocok ketika mereka bertemu. Mereka saling memahami kehancuran masing - masing. Kenapa orang lain memiliki alur hidup yang normal sementara mereka tidak. Kenapa mereka harus bertemu dengan orang tua seperti itu sementara yang lain tidak.


Hal itu juga yang membuat Dika tidak bisa membenci Putera meski dia tahu kalau anak itu bukan anaknya. Dia tidak mau anak itu merasakan hal seperti dirinya. Membenci orang dewasa.


********

__ADS_1


“Sudah minumnya. Kenapa sih, kamu selalu saja menjadikan minuman ini sebagai pelarian kamu. Kenapa kamu tidak pernah sadar kalau kebiasaan ini yang membuat hidup kamu hancur.”, Dimas sudah berteriak.


Dia sedari tadi kesulitan untuk menghentikan Sarah. Kalau wanita itu minum dan tidak menghubunginya, mungkin dia tidak akan peduli padanya. Tapi, bagaimana Dimas bisa meninggalkannya setelah mendengarkan suara lirih itu.


“Dim, bantu aku bertemu dengan Arya. Sekali saja. Aku janji sekali, saja. Aku tidak akan menemuinya lagi setelah itu.”, ucap Sarah memohon pada Dimas.


“Untuk apa lagi sih? Lagipula, kenapa kamu meminta bantuan padaku. Kamu tinggal menghubunginya saja.”, jawab Dimas berhasil meminggirkan gelas berisi minuman itu dari hadapan Sarah.


Sarah menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia sudah sempoyongan. Entah sudah berapa gelas yang dia minum malam ini.


“Dia tidak mau lagi mengangkat ponselku. Dia tidak pernah membalas whatsapp ku. Dia tidak pernah lagi mengunjungi tempat yang biasa. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menemuinya. Apa aku harus ke kantornya?”, kata Sarah berbicara antara sadar dan tidak sadar.


“Berarti sudah. Dia sudah mengakhiri hubungannya denganmu. Kenapa masih menanyakan dia lagi. Kamu bisa memulai hidup kamu yang baru.”, Dimas ingin memapah Sarah untuk keluar dari bar itu, tapi Sarah terus menepisnya.


“Tunggu.. Kenapa tidak boleh? Aku hanya meminta maaf padanya. Tidak lebih. Aku mau berbicara dengannya untuk terakhir kali dan pergi. Memangnya tidak boleh?”, tanya Sarah dengan ekspresi meyakinkan.


“Ayolah, Dimas. Kamu bisa membantuku, kan?”, tanya Sarah.


“Dia tidak mau bertemu denganmu apalagi aku. Dia tidak akan mengangkat ponselnya meskipun yang menghubunginya adalah aku.”, ucap Dimas.


“Dia kan sahabatmu. Kalian kan bersahabat. Kenapa dia tidak mau menerima panggilan teleponmu. Ayolah…”, Sarah merengek memukul - mukul Dimas.


"Kenapa kamu begitu ingin bertemu dengannya. Apa lagi yang sudah kamu lakukan?", tanya Dimas. Dia menduga pasti ada sesuatu lagi diantara mereka. Karena itu Sarah bersikeras untuk bertemu dengannya.


"Dia melihatku menemui wanita itu.", ucap Sarah.


Dia tak ingin menyebut namanya atau menyebut status wanita itu dengan Arya sekarang.


"Siapa? Siapa yang kamu maksud?", tanya Dimas.


Dia punya dugaan, tetapi dia tidak yakin.


"Dinda.Arya marah besar padaku karena aku menemuinya. Ah.. aku juga mengatakan hal - hal yang seharusnya tidak aku katakan. Dan aku merasa menyesal. Padahal itu waktu yang bagus untukku bisa berbicara dengannya. Tapi aku sudah terlanjur emosi.", Sarah kembali meneguk gelasnya.


"Kenapa kamu malah membela wanita itu? Kenapa kamu malah membelanya? Seharusnya kamu ada di pihakku. Cuma kamu yang akh punya sekarang, Dimas.", teriak Sarah sudah tidak terkendali.


"Berhenti minum. Kita pulang sekarang. Andai aku bisa membiarkan kamu sendiri disini. Tapi aku tidak bisa."


"Memangnya apa yang dimiliki wanita itu dan tidak aku punya? Kesalahanku cuma satu. Melupakan cintaku pada Arya sejenak dan mencintaimu. Apa aku se-bersalah itu? Aku benar - benar tidak mengerti."


"Ya, kita se-bersalah itu. Dia sudah memiliki kehidupannya. Dan ayo, kita jalani juga hidup kita."


"Huh.. hidup seperti apa? Dari awal aku juga tidak memiliki kehidupan. Aku sudah memberikannya pada Arya. Bisa kita kembali ke masa lalu? Aku akan memperbaiki semuanya."


'Hah, dia sudah melantur yang tidak - tidak. Sebaiknya aku harus membawanya pulang. Bagaimanapun caranya.'


“Nanti aku akan cari cara. Sekarang kamu pulang dulu dan janji tidak akan ke tempat ini lagi.”, kata Dimas membuat kesepakatan.


“Hm.. hanya kalau kamu bisa membantuku bertemu dengan Arya. Aku tidak akan minum lagi. Tidak, bahkan aku tidak akan mendekati tempat ini lagi.”, ucap Sarah seolah sedang bernegosiasi.


*******


Langit mulai gelap, sore sudah menjelang saat Suci mencoba untuk mencari taksi pulang.


Dia sudah memasukkan alamat rumahnya dan tinggal menekan tombol 'Booking'. Namun, panggilan telepon mengalihkan perhatiannya.


REGA.


'Kenapa dia menghubungi aku lagi? Apa tidak usah diangkat saja ya?', pikir Suci dalam hati.

__ADS_1


Rega adalah mantan kekasih Suci yang beberapa bulan ini membersamainya. Namun, Suci sudah memutuskan hubungan mereka sekitar 1 minggu yang lalu.


Sebenarnya, Suci sudah lama merasa kalau hubungan mereka sudah berakhir. Namun, Rega tak kunjung mengerti sampai dia harus memperjelasnya lewat pertemuan. Dan itu baru bisa dia lakukan sekitar satu minggu yang lalu.


Menurutnya, Rega bukan orang yang tepat. Dia memang baik. Awalnya. Semakin kesini, Suci merasa semakin diperdaya olehnya. Dia menilai hubungan ini sudah mulai toxic dan harus diakhiri.


Suci pikir, pria itu sudah menerima kenyataan kalau hubungan mereka sudah berakhir. Karena dia tak lagi mendengar apapun dari pria itu.


Dia tak menghubunginya lagi. Tidak menunggu lagi di depan kantor atau tidak kerap mengunjunginya di tempat - tempat hang-out Suci bersama teman - temannya.


Tapi, hari ini, pria itu menghubunginya lagi.


Lama berpikir, akhirnya Suci menekan tombol reject. Dia tidak boleh menerima panggilan pria itu. Atau lingkaran setan yang pernah dia lewati akan terulang kembali.


Suci mulai kembali fokus pada ponselnya untuk memesan taksi.


Setelah menekan tombol 'booking', Suci menunggu sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Dan disanalah dia menemukan Rega sedang berdiri memperhatikannya. Tepat di bangku Cafe yang di gedung seberang yang mengarah ke kantornya.


Suci langsung khawatir dan takut. Dia melihat ke sekeliling. Semua orang sibuk dengan urusan nya masing - masing.


Saat itulah dia melihat Arya yang tengah berjalan sendirian. Pria itu sepertinya kehilangan sekretarisnya dan membeli koi sendiri, atau sedang kabur ingin merokok, atau bahkan memang sedang ingin menghirup udara segar.


Suci langsung mendekat dan merangkul Arya sampai pria itu kaget.


"Ci, apa - apaan kamu?", tanya Arya heran dan hendak melepaskan pegangan tangan Suci.


"Pak Arya, plis. Boleh bantu saya sebentar. Di seberang sana ada mantan pacar saya. Kami sudah putus tapi sepertinya dia masih ingin bertemu. Saya ga mau ketemu sama dia. Dia bukan orang baik.", ujar Suci menjelaskan.


"Ya, tapi tidak begini juga caranya Ci. Kalau orang lain lihat apalagi istri saya, bisa salah paham.", ujar Arya.


"Sebentar aja. Oke saya gak pegang tangan Bapak. Saya cuma mau pesan taksi online. Tapi Pak Arya tetap disini, ya. Sampai Taksinya datang. Plis. Saya gak mau dia menghampiri saya dan membuat keributan.", kata Suci.


Dari raut wajahnya, Arya bisa menilai kalau wanita itu tidak sedang berbohong.


"Ya sudah, kamu sudah pesan taksi online nyam", tanya Arya.


Setidaknya wanita itu sudah melepaskan pegangan tangannya.


"Yang mana sih mantan kamu?", tanya Arya berusaha mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Jangan diliatin Pak nanti ketara.", kata Suci.


"Ya bagus dong. Supaya dia tidak berbuat aneh - aneh.", ujar Arya yang memiliki pandangan berbeda.


"Udah dapet taksinya?", tanya Arya lagi.


Dia hanya punya waktu 20 menitan untuk merokok sebelum agenda meeting selanjutnya. Ya, Arya berusaha turun ke bawah karena dia ingin merokok.


Jam - jam segini biasanya Bryan dan Erick sudah selesai sebat. Dia bisa menggunakan waktu ini untuk diam - diam merokok. Kalau mereka berdua melihatnya, pasti salah satu diantara mereka akan membocorkannya pada Dinda.


"Belum, Pak. Tolong tunggu sebentar lagi, ya.", Suci memelas.


"Pak Arya mau sebat, ya?", tanya Suci


"Oh? Iya", jawab Arya awalnya ragu, tapi sepertinya Suci tidak akan membocorkannya.


"Kenapa kamu tidak telpon rekan kerja kamu saja yang laki - laki untuk menemani sampai kamu dapat taksi.", usul Arya.

__ADS_1


"Butuh waktu lagi, Pak. Eh tapi itu ada Bryan.", ujar Suci saat melihat Bryan keluar dari pintu lobby.


"Oh?", Arya terkejut dan perlahan langsung memasukkan rokoknya kembali ke dalam kantong.


__ADS_2