
Delina berjalan menuju lift dengan wajah sumringah. Dia merasa sudah berhasil mendekatkan Dimas dengan Dinda dan merasa senang sekarang. Dia membawa minuman miliknya dan juga Dinda bersamanya. Beberapa orang juga terlihat berkerumun disana
“Guys - guys, sini sebentar, deh. Kalian tahu nggak?”, kata Delina sangat antusias ketika sudah sampai di area divisinya.
Dia bahkan memanggil Bryan juga yang duduknya lebih jauh untuk mendengarkan ceritanya.
“Apaan sih kamu, ganggu orang kerja aja pagi - pagi.”, protes Suci yang sedang mengetik sesuatu untuk bahan presentasinya siang ini.
“Kan masih 15 menit lagi jam kantor. Dimas PDKT sama Dinda.”, kata Delina bersemangat.
“....”, tidak ada respon dari yang lain, Andra, Bryan, dan Suci yang tadinya sudah berkumpul justru mengalihkan perhatian mereka lagi.
“What? Kalian tidak tertarik? Dimas PDKT sama Dinda, mereka sedang mengobrol di bawah.”, kata Delina kembali memperjelas.
Andra, Suci, dan Bryan yang tadi berpikir Delina hanya membual kembali mengalihkan perhatian mereka pada gadis satu ini.
“Kamu tidak sedang nge-prank kan, Del?”, tanya Andra memastikan.
“Nih, nih.. “, Delina memberikan foto yang dia jepret tadi sebelum berjalan menuju lift dan menunjukkannya pada yang lain.
Meskipun foto itu menampilkan posisi Dinda terlihat dari belakang, tapi dari gaya berpakaian dan jilbabnya, mereka sudah bisa mengetahui kalau itu adalah Dinda.
“Wah, Andra. Kamu gak cemburu? Katanya kamu suka sama Dinda.”, ujar Delina.
Tanpa mereka sadari, Arya ternyata berada di bagian belakang pembatas area divisi Digital and Development. Dia mendengar semua yang dikatakan oleh Delina tadi. Keberadaannya tidak begitu terlihat karena dia sedang mengobrol dengan Erick. Selain itu, beberapa orang juga lalu lalang sehingga sulit melihat Arya ternyata berdiri disana.
Tadinya, setelah menaruh tas dan tabletnya di atas meja, Arya iseng ingin berjalan di sekitar area divisi Dinda. Niatnya untuk menggoda istrinya itu. Arya suka melihat ekspresi Dinda yang seolah tegang kalau dia berada di sekitar Arya di kantor. Ekspresinya itu membuat Arya puas.
Tapi, alih - alih melihat Dinda ada disana, dia malah harus mendengarkan rekan kerjanya berbicara tentang Dinda dan Dimas.
Suci menjadi orang pertama yang menyadari kalau Arya ada disana. Sebelumnya, Suci tidak pernah lagi merasa terusik dengan Dinda. Dia sudah mengakui kekalahannya dan sama sekali tidak berniat mengganggu. Dia kembali berteman seperti biasanya.
Tapi, saat Suci melihat ekspresi Arya barusan. Rasanya dia ingin membalas perlakuan Arya padanya. Dari kacamata Arya, dia berusaha memperjelas hubungan mereka di awal. Tapi, Suci memahaminya dengan cara yang berbeda.
‘Apa aku buat Pak Arya cemburu saja? Supaya dia tahu bagaimana rasanya kalau orang yang kita sukai ternyata bersama orang lain.’, pikiran jahat itu tiba - tiba muncul di benak Suci.
“Benarkah? Wah.. Dimas benar - benar serius ingin mendekati Dinda, ya? Hum.. jadi sekarang mereka sedang berbicara berdua?”, kata Suci kembali memperjelas informasi yang dia terima dari Delina.
“Hah? Sejak kapan kamu jadi pro dengan hubungan Dimas dan Dinda? Bukannya kamu menyukai Dimas?”, tanya Bryan heran.
“Aku kan hanya bilang mengaguminya. Bukan sebagai pria dan wanita. Memangnya tidak boleh kalau aku pro dengan hubungan Dimas dan Dinda? Hem.. nama mereka saja cocok.”, ujar Suci.
“Iya nih, Bryan. Kamu negative thinking terus dengan Suci. Jadi, gimana guys? Keren kan berita dari aku.”, Delina sangat puas telah menyebarkan headline newsnya pagi ini.
Insting Bryan untuk mencurigai Suci sangat cepat. Bryan lantas melihat kemana arah penglihatan Suci dan mengikutinya. Barulah dia sadar, ternyata di sudut sana ada Pak Arya.
‘Apa mungkin, Suci sengaja? Dasar, perempuan satu ini, memang tidak mau kalah.’, kata Bryan.
‘Hah.. kejadian di parkiran waktu itu saja bisa seheboh itu. Apa Pak Arya akan bertindak yang sama kalau tahu Dinda dan Dimas mengobrol di bawah?’, pikir Bryan dalam hati.
Sementara itu Arya, Erick, dan dua orang lainnya tengah mengobrol disudut.
“Jadi, Pak Arya mengambil saham itu juga? Wah.. apa aku harus mengikutinya, ya.”, ujar Erick.
“Pak Arya bisa mengambil tindakan yang tepat, kapan menaruh dan menariknya lagi. Aku tidak melihat keahlian itu darimu, Rick.”
“Pak Arya, tumben lewat sini? Tidak ada meeting pagi. Biasanya sibuk sekali menjelang Town Hall dengan CEO, minggu depan.”, kata salah seorang disana.
“Oh? Sudah waktunya saja ya.”, kata Arya yang sedari tadi memperhatikan percakapan anak - anak DD dan baru kembali ke memfokuskan dirinya pada pembicaran Erick dan yang lain.
“Bukannya biasanya para Kepala Divisi ada presentasi khusus dengan CEO, ya?”
“Pak Arya masuk nominasi penghargaan lagi kan tahun ini. Sepertinya Pak Arya akan tetap jadi pemenangnya kali ini.”
“Hem.. tahun lalu, Pak Arya menang. Dua tahun lalu, sempat direbut oleh divisi Risk. Tapi, divisi Risk juga tidak terlalu meningkat tahun ini.”
“Bukankah itu terjadi sejak kepala divisinya ganti, ya?”, kata Erick.
Arya hanya mengangguk - angguk. Perhatiannya sedikit buyar.
‘Kenapa Dinda belum naik juga? Apakah mereka memang sedang mengobrol dibawah. Kenapa lama sekali?’
“Oh hai, Din.. gimana tadi ngobrol dengan Dimas, nya.”, Delina langsung datang menyapa Dinda yang baru tiba dan sedang meletakkan tasnya.
Dari arah Dinda datang, sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Arya di sudut yang berlawanan.
“Apa - apaan sih mba Delina. Obrolan biasa saja.”, kata Dinda berusaha membuat suasana kembali kondusif.
“Obrolan biasa seperti apa yang sampai ingin bicara berdua. Ekspresi Dimas serius pula.”
“Dimas beneran PDKT sama kamu, Din?”, tanya Andra.
“Wah Andra panik. Ciee… yang ditolak, panik.”
__ADS_1
“Siapa yang ditolak? Saat itu aku hanya sedikit keterlaluan, tapi belum ditolak, kok.”, ujar Andra berusaha mengklarifikasi.
“Jadi, gimana Din? Jalan gak pekan ini.”, tanya Delina.
“Jalan?”, tanya Dinda sudah mulai kebingungan.
“Ya.. Dimas mengajak kamu jalan, gak?”, tanya Delina lagi.
“Aku… aku sudah punya pacar, mba. Jadi, aku mohon jangan menggodaku lagi dengan Dimas.”, akhirnya Dinda harus mengeluarkan kalimat ini untuk membuat Delina dan yang lainnya diam.
Bryan agak kaget dengan pengakuan Dinda meski dia mengetahuinya. Dia terkejut saja, Dinda bersedia mengakuinya. Sontak, Bryan langsung melihat ke arah Arya.
‘Heh? Pacar? Dia masih belum berencana mengakui kalau dia sudah menikah?’, pikir Suci dalam hati.
“Hah? Yang benar kamu, Din? Apa jangan - jangan mas ‘A’ yang ada di ponsel kamu? Benar, ya? Wah, benar? Siapa Din? Siapa?”, Delina penasaran.
Tak hanya Delina, Andra juga merasa sangat penasaran. Dan beberapa pasang telinga di sekitar situ juga diam - diam penasaran meski tak menunjukkan rasa penasaran mereka.
“Heh heh heh.. Udah gosipnya. Kalian gak sadar disana ada Pak Arya? Dari tadi ribut bukan main.”, Rini akhirnya buka suara karena Delina dari tadi heboh padahal jam kerja sudah akan dimulai.
Beberapa orang juga mungkin sudah memulai pekerjaannya.
DEG.
Dinda langsung kaget begitu dia mengetahui ternyata di sekitar sana ada Pak Arya. Dinda sempat bertukar pandang sesaat sebelum akhirnya Arya berjalan bersama dengan beberapa Manager lain. Sepertinya sudah mau meeting.
‘Mas Arya dengar gak ya yang tadi? Apa mas Arya marah lagi? Waktu di parkiran saja dia marah. Ah tidak - tidak. Tidak mungkin mas Arya secemburu itu. Lagian aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya pacar. Seharusnya ini bisa mendinginkan suasana.’, pikir Dinda dalam hati sambil mengambil duduk dan bersiap untuk bekerja.
“Nih Din, minuman kamu. Ohiya, pacar kamu siapa, kepo dong.”, tanya Delina sambil berbisik karena takut dimarahi oleh Rini lagi.
Dinda hanya memberikan senyum tipis pada Delina.
‘Hah.. mba yang satu ini kenapa sih. Kadang dia menyenangkan tapi hari ini dia menyebalkan.’, pikir Dinda dalam hati.
Pertama, dia sudah memaksa untuk menemaninya ke Cafe meski dia mentraktir Dinda. Kemudian, dia dengan santai mempermudah Dimas untuk mengobrol dengan Dinda. Padahal kalau tidak ada Delina, Dinda bisa dengan mudah menolak Dimas.
Sekarang, dia malah menyebar berita tidak benar. Dinda hanya bisa menghela nafas. Dia harus menghadapi orang - orang dengan karakteristik yang berbeda - beda di kantor.
*********
Hari berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, siang sudah menjelang dan waktu makan siang sudah hampir tiba. Meski masih 10 menit lagi, beberapa orang dari Divisi Business and Partners yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka berkumpul.
Mereka biasanya lebih leluasa saat Arya sedang tidak ada di ruangannya. Pria itu sedang meeting bersama dengan tim 3 saat ini. Sedangkan tim 1 baru akan berangkat sore nanti sekitar jam 3. Lokasi meeting mereka adalah di tempat klien. Berbeda dengan tim 1 yang berhasil mengatur meeting di kantor.
“Nanti sore. Kita tidak meeting di kantor, tapi di tempat yang sudah di reservasi klien.”
“Sekarang yang sedang meeting tim 3, ya? Kok kamu disini tidak meeting?”
“Yang meeting bos - bos nya saja dong.”
“Bukannya kemarin yang ke apartemen Pak Arya, kamu?”
“Yah, biasalah. Yang kemarin kabur sekarang mau cari muka. Alhasil aku yang dieliminasi. Katanya biar dia yang presentasi. Aku bagian mencatat masukan dari Pak Arya saja kemarin.”
“Tapi Pak Eko gak bilang apa - apa? Kan dia juga ikut ke apartemen Pak Arya.”
“Engga.”
“Gimana guys, apartemen Pak Arya? Pasti keren dong.”
“Menurut aku oke banget sih. Semi Penthouse. Walaupun kata Pak Arya itu bukan penthouse, tapi aku merasa itu mirip banget sama penthouse.”
“Iya, di lantai 15, kan? Biasanya penthouse kan di lantai - lantai atas tuh.”
“Tapi kayaknya memang bukan sih, enggak ngerti juga.”
“Itukan apartemen Pak Arya sama istrinya dulu?”
“Mantaaaan.”
“Iya, iya mantan istrinya.”
“Tapi, hm…”
“Duh, kalau cerita jangan tanggung - tanggung, dong.”
“Hm…”
“Jadi cerita gak nih?”
“Hm.. aku sebenarnya gak mau bergosip. Tapi gatal aja mau cerita.”
“Yah.. itu mah gosip namanya.”, salah seorang karyawan yang tadi masih bekerja menimpali.
__ADS_1
Dia tidak tertarik bergosip dan akhirnya setelah mengatakan itu dia pergi menuju pantry untuk makan siang.
“Udah cerita saja.”, ujar karyawan yang lain menimpali.
“Ada Siska, ga?”, tanyanya ragu untuk menceritakan. Karena diantara yang pergi ke apartemen, hanya dia dan tim anggota tim 1 (bukan manager) yang sedang berkumpul disana.
“Engga, dia kan meeting dengan Pak Arya.”
“Oke. Jadi, waktu pertama Pak Arya buka pintu. Hem.. awalnya biasa saja, tapi aku langsung mencium aroma parfum wanita.”
“Parfum pak Arya kali. Kan beliau memang wangi orangnya.”
“Parfum Pak Arya kita kenal kali aromanya gentle. Ini lebih ke sweet.”
“Iya, aroma sabun sih lebih tepatnya bukan parfum. Tapi wangi banget, menyegarkan. Gak mungkin dong Pak Arya pakai sabun perempuan. Apa itu mereknya yang kalian beli di Mall dan harganya lumayan itu.”, setidaknya ada sekitar 8 orang karyawan yang berkumpul disana.
“Hm…iya juga. Aku baru ingat memang pas kita masuk aromanya sweet banget sih. Kaya kesannya Pak Arya tuh tidak lagi sendiri.”
“Nah, betul kan.”
“Aku juga melihat sandal dan sepatu kets perempuan. Tadinya aku kira itu punya Siska, dia kan memang suka bawa dua. Tapi, setelah aku pikir - pikir, ukurannya berbeda.”
“Berarti pacarnya Pak Arya?”
“Eh, mungkin saja kakaknya. Itu kan apartemen. Doi-kan punya kakak perempuan kalau gak salah.”
“Iya, iya, bisa aja itu punya kakaknya. Kan doi sudah cerai dengan mantan istrinya. Mungkin saja, apartemen itu jadi apartemen keluarga.”
“Tapi nih ya, hah.. Kalau kalian gak kesana, memang susah sih. Suasana apartemen Pak Arya tu beda. Kaya.. hem.. Gimana ya mengungkapkannya.”
“Suasana pengantin baru?”
“Nah iya benar, kesannya kaya Pak Arya itu sudah punya istri baru.”
‘Walah, ngaco kamu. Masa cuma lihat apartemen saja bisa menyimpulkan sampai sebegitunya. Anak indigo, kamu?”
“ahahahahah… “, mereka saling bertukar tawa.
Sebagian ada yang percaya, ada yang menduga hal lain, dan beberapa memilih untuk netral. Sekedar mendengarkan informasi - informasi seperti ini seolah membuat mereka bisa lebih mengenal bos mereka.
“Kalo di depan Pak Arya saja, mana ada yang berani berbicara begini.”
“Yah.. justru itu. Selagi gak ada Pak Arya, betul kan?”, jawab salah satunya cengengesan.
Salah seorang karyawan tadi pergi menuju toilet. Dia membawa ponselnya. Disana dia membuka galeri ponsel dan melihat kembali jepretan gambar yang dia ambil.
‘Sayangnya aku tidak sempat mengambil gambar yang lebih jelas. Jaraknya terlalu jauh saat itu.’, ujarnya dalam hati
Flashback saat di apartemen Arya
“Heh guys, aku kembali ke atas dulu ya, sepertinya kunci mobil ketinggalan di apartemen Pak Arya, deh.”
“Hah? Cari dulu coba di tas.”
“Sudah. Tapi tidak ketemu.”
‘Mau ditemani gak?”
“Gak usah, kalian duluan saja. Sampai bertemu besok.”
“Ya sudah kalau begitu. Semoga ketemu kunci mobilnya. Hati - hati, Pak Arya galak, loh.
Mereka sempat ngopi - ngopi santai di sebuah Cafe di Mall yang memang terhubung dengan area apartemen Arya. Ketika ingin pulang, salah seorang diantara mereka baru sadar kalau ternyata dia kehilangan kunci mobilnya.
Dia sudah mencoba mencari di tas, tetapi tidak ketemu. Alhasil dia harus kembali apartemen Arya.
Di perjalanan saat sudah sampai di area lobi yang menghubungkan Mall dengan apartemen Arya, karyawan itu iseng mencoba mencari kembali kunci mobilnya. Siapa tahu dia tidak teliti mencari.
Dan benar saja, ternyata kunci mobilnya benar - benar ada. Saat hendak kembali ke parkiran, dia tanpa sengaja melihat siluet Pak Arya bersama seseorang.
‘Siska? Dia belum pulang. Eh, ada satu lagi? Itu siapa? Kenapa mesra sekali?’, tanyanya sambil bersembunyi dibalik salah satu mobil yang berada di area parkiran tersebut.
‘Oh? Apa jangan - jangan itu pacar barunya Pak Arya? Atau istri barunya? Wah aku coba foto saja.’
Karyawan tersebut tersenyum di kamar mandi melihat foto yang dia jepret. Meski tidak jelas, dia tetap merasa puas karena mengetahui satu rahasia penting.
‘Heh, dia hanya tahu sebatas itu dan sudah bangga menceritakan pada yang lain. Aku mengetahui rahasia yang lebih besar lagi.’, ujar nya dalam hati.
Karyawan ini memang menjadi karyawan yang lebih sering tertutup. Dia sudah lama bekerja di perusahaan bahkan sebelum Arya masuk. Tapi, hingga saat ini, meski usianya dengan Arya terbilang mirip, tetapi posisinya bagai langit dan bumi.
Terkadang dia seperti tidak terlihat oleh yang lain atau invisible meskipun dia selalu ada disana.
‘Hm.. lebih baik, aku cari tahu dulu siapa wanita ini. Sebelum aku menyebarkannya.’, ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tanpa dia ketahui, perlahan rasa tidak percaya diri, pengasingan sosial oleh rekan kerja sekitar membuatnya menyimpan dendam pada Arya. Bahkan pria itu juga jarang menganggapnya, padahal saat Arya pertama datang ke perusahaan, dia menjadi teman pertamanya.