Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 233 Membesuk


__ADS_3

“Kamu mau kemana?”, tanya Rianti pada Dika yang mengemasi barang - barangnya siang itu.


Dia tidak pulang tadi malam dan tiba - tiba muncul lalu membereskan semua barang - barangnya.


“Hei, aku sedang bertanya, kamu mau kemana?”, tanya Rianti lagi karena pertanyaannya yang sebelumnya tidak dijawab oleh suaminya itu.


“Menjauh darimu perempuan toxic sepertimu.”, ujar Dika, kata - kata nya kali ini sangat menyakitkan dari pada sebelumnya.


‘Bagaimana pria ini langsung mengatakan kalau aku adalah perempuan toxic.’, bathin Rianti.


“Kalau aku toxic, lalu kamu apa?”, kata Rianti. Ucapan Dika barusan mentrigger emosinya, padahal dia sudah mencoba untuk bertanya baik - baik pada suaminya.


“Terserah kamu menganggapku apa. Tapi yang jelas, aku tidak bisa melewati rumah tangga seperti ini lagi. Kamu sudah mempermalukan aku di depan semua orang, menghancurkan karirku, dan see… kamu masih bisa menonton televisi like nothing happened.”, ujar Dika sambil mengarahkan pandangannya pada televisi yang sedang ditonton oleh Rianti di ruang tengah.


“Terus aku harus bagaimana? You never talked to me. Kamu pulang dan pergi bekerja seolah rumah hanyalah tempat menginap. Ketika orang diluar sana mengatakan kau selingkuh, aku harus bagaimana? Membiarkannya saja? Membiarkan diriku dipermalukan di hadapan teman - temanku? Kamu mempermalukan aku berkali - kali dan aku masih diam saja. Kemarin aku hanya melakukannya sekali dan kamu mempermasalahkannya.”, teriak Rianti menarik lengan Dika agar pria itu berhenti mengemasi barangnya dan berhadapan dengannya membicarakan semua.


“Apa yang kamu mau? Kita sudah mencoba selama 10 tahun and nothing’s workout. Lebih baik kita sudahi saja semua ini dan hidup masing - masing.”, ujar Dika melepaskan pegangan tangan Rianti dan duduk di atas kasur.


“Bagaimana dengan Putera?”, Rianti mengangkat topik apapun yang bisa dia angkat agar Dika bisa mempertimbangkan kembali keputusannya.


“Kita akan tanyakan pada Putera, dia mau ikut papanya atau mamanya. Aku tidak masalah. Terserah kamu dan putera saja.”, ujar Dika menurunkan volume suaranya.


Tidak ada yang akan terselesaikan dengan emosi dan dia sudah lelah mengulangi ini lagi dan lagi.


“Tidak. Semua tidak semudah itu.”, kata Rianti.


“KALAU SEMUA TIDAK SEMUDAH ITU KENAPA KAMU HARUS MENIKAH DENGANKU DAN MENGHANCURKAN SEMUANYA?”, sempat menahan emosinya, namun Dika tak bisa.


Bagaimana bisa Rianti mengatakan bahwa semua tidak semudah itu saat memang semua yang mereka lewati 10 tahun ini tidak mudah. Dika meninggalkan perempuan yang dia cintai, menikah dengan perempuan yang ternyata hamil anak orang lain. Untuk menjalani sebuah kehidupan semu bagai di neraka.


Rianti tersentak kaget dengan suara bentakan dari Dika. Dia terdiam dan tak bisa berkata - kata. Dika menyerah dan keluar dari kamar bahkan keluar dari rumah. Tak berapa lama terdengar suara mesin mobilnya yang dinyalakan. Pria itu sudah berhembus pergi meninggalkan Rianti sendirian di kamarnya menangis.


Lagi, Putera sedang di rumah dan berada di dalam kamar. Dia mendengarkan semua pertengkaran orang tuanya untuk yang kesekian kalinya.


*********


“Mas Arya ke kantor aja. Aku udah gapapa kok.”, ujar Dinda saat melihat Arya duduk mengerjakan pekerjaan kantornya di sofa kamar rumah sakit.


“Sudah gapapa gimana? Wajah kamu masih pucat begitu. Udah, ga perlu cemas. Saya cuma ada dua meeting hari ini dan bisa dilakukan secara online. Kamu tidak perlu khawatir. Begitu sarapan datang. Ingat, harus makan.”, ujar Arya dengan wajah galaknya yang super dingin.


“Hn.”, Dinda tak lagi mengatakan apapun.


“Oiya, saya juga sudah menghubungi Erick. Surat dokternya juga sudah saya kirim. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan kantor dan fokus saja istirahat.”, lanjut Arya lagi.


“Selamat pagi, bagaimana keadaannya Bu Dhina?”, tanya dokter dan satu orang perawat di belakang.


Arya langsung berdiri ketika dokter datang. Dokter itu baru melihat karena dari arah pintu tidak begitu tampak.


“Sudah baikan, dok.”, jawab Dinda tersenyum.


“Harus bedrest dulu ya. Jangan banyak pikiran.”, ujar Dokter yang kemudian melakukan beberapa pemeriksaan pada Dinda.


Dinda mengangguk. Setelah itu tak lama, perawat yang lain datang untuk mengantarkan sarapan pagi dan mengambil makanan yang semalam.


“Kemarin malam tidak makan ya? Hari ini harus makan, ya. Kasian kalau tidak ada nutrisi yang masuk.”, ucap Dokter tersebut.


“Boleh bicara sebentar Pak Arya?”, ujar Dokter yang berjaga berjalan keluar dan Arya mengikuti dari belakang.


“Hm.. menurut saya, sepertinya pendarahan tidak hanya terjadi karena jatuh seperti keterangan Bapak kemarin. Stress juga berpengaruh besar kalau melihat kondisi Bu Dinda. Mohon maaf saya ijin bertanya apakah ada masalah yang mungkin mengganggu emosionalnya? Dia terlihat sangat sensitif dan ketakutan kemarin.”, ujar Dokter tersebut.


Tadinya dia menduga mungkin Dinda menjadi korban KDRT atau semacamnya, tetapi dia tidak melihat ada tanda - tanda kekerasan. Hanya bekas tamparan kemarin yang merupakan perbuatan Rianti. Arya juga sudah menjelaskan dan itu disaksikan banyak orang di kantor.


“Hmm.. saya belum bertanya lagi Dok. Tapi, tidak ada masalah apapun antara saya dan istri hari itu atau hari sebelumnya yang membuat dia stress.”, jawab Arya sambil terus memikirkan pertanyaan dari dokter.


“Hm..terkait pekerjaan mungkin? Tapi untuk bisa membuat rasa takut, sepertinya bukan, ya.”, Dokter itu juga terlihat berpikir sebentar.


Ketakutan? Hm.. kalau dipikir - pikir lagi, saya merasakan hal itu. Saya kira hanya perasaan saya saja, tapi kalau dokter juga melihatnya seperti itu, mungkin ada baiknya saya mencoba bertanya.”, ujar Arya selanjutnya.


“Ya.. berhubung Bu Dinda sedang hamil, memang emosional dan perasaannya bisa berpengaruh pada kondisi bayinya. Kandungannya sangat kuat, tetapi kalau stress nya dibiarkan terus, bisa saja pendarahan akan terjadi lagi.”, Dokter kemudian memberikan beberapa penjelasan lagi kepada Arya yang kemudian dia balas dengan anggukan.


“Baiklah kalau begitu Pak Arya, saya pamit dulu untuk melihat pasien yang lain.”, ujar Dokter tersebut.


“Terima kasih dok.”, jawab Arya kemudian tersenyum juga pada perawat yang baru saja keluar dari ruangan Dinda.


“Sebentar aku ambilkan minumnya.”, kata Arya saat sudah masuk kembali ke kamar dan melihat Dinda sudah mulai makan.


“Mas Arya sarapannya bagaimana?”, tanya Dinda yang belum melihat Arya makan sesuatu sejak dia selesai mandi tadi.


“Gampang, Ibas sedang menuju kesini untuk membawakan sarapan.”, kata Arya.


“Memangnya dia tidak ke kantor?”, tanya Dinda sambil melihat jam.


Sudah hampir jam 9 pagi. Masa Ibas harus kesini dulu. Memangnya dia tidak bekerja. Seperti itu kira - kira pertanyaan Dinda dalam hati.


“Kamu lupa kalau dia bekerja di startup? Di tempat kerja Ibas, dia bebas datang kapan saja. Asal pekerjaannya selesai. Dia juga sebenarnya bisa saja bekerja dari rumah.”, ujar Arya.


“Hm… iya juga ya.. Enak juga bekerja di tempat seperti itu.”, balas Dinda sambil memakan supnya yang masih hangat.


“Ini minumnya. Makanannya dihabiskan.”, kata Arya meletakkan segelas air di atas meja yang terhubung langsung dengan tempat tidur.


“Good morning!”, sapa Ibas langsung dengan penuh semangat membuka pintu kamar sampai Dinda terkejut.


“Dasar minta dilempar ya kamu. Bikin kaget saja.”, kata Arya malah memarahinya. Ibas langsung bergidik ngeri.


“Masih pagi tanduknya sudah dua, padahal aku datang membawa makanannya. Ini, mas. 150ribu. Jangan lupa di bayar cash.”, ujar Ibas langsung to the point pada Arya.


“Nanti mas transfer. Arya melihat isi kantong plastik yang dibawa oleh Ibas. Hanya ada dua burger dan satu buah kopi di dalamnya.


“Mas kan bilang sekalian beli makan siang. Kenapa cuma beli ini.”, protes Arya saat melihat makanannya hanya sedikit.

__ADS_1


“Kantin rumah sakit saja. Resto pesanan mas Arya belum pada buka. Din, bagaimana keadaan kamu? Sudah mulai baikan?”, tanya Ibas langsung segera beralih menemui Dinda.


“Hn.”, Dinda tersenyum. Mulutnya masih terlihat mengunyah sehingga tidak bisa mengucapkan banyak kata.


“Mas Arya sudah gak marah?”, bisik Ibas pada Dinda pelan - pelan.


Dinda menggeleng dan tersenyum.


“Alhamdulillah, kamu tahu. Aku memikirkan itu semalaman. Soalnya saat meninggalkan kamu tadi malam, wajahnya sudah seperti pedang excalibur. Menakutkan sekali.”, Ibas diam - diam sambil sesekali menoleh ke Arya saat mengatakannya.


Untung saja kakaknya itu sedang fokus di depan laptop miliknya sambil menikmati sarapannya.


“Heh? Kamu gak ke kantor. Sudah sana.”, kata Arya mendaratkan pandangannya ke Ibas.


“Iya sebentar lagi.”, jawab ibas greget. Padahal dia baru saja datang sudah mau diusir.


“Oiya, 150ribunya ditambah lagi dengan uang tutup mulut, ya. Tadi malam mama telepon aku dan membutuhkan kemampuan akting tingkat tinggi untuk menjaga rahasia.”, ujar Ibas.


“Hm? Rahasia apa?”, tanya Dinda penasaran.


“Kamu masih ga nafsu makan? Kenapa makannya sedikit - sedikit?”, tanya Ibas.


Dinda langsung menaruh satu jarinya di bibir seolah mengatakan pada Ibas untuk diam.


“Shuttt… “, kata Dinda sambil mengarahkan pandangannya ke arah Arya.


Ibas membuat ekspresi seolah mengerti.


Kring kring kring. Ponsel milik Arya berbunyi. Panggilan telepon dari Siska.


“Iya halo Sis?”, jawab Arya sambil berjalan keluar.


“Bu Susan perlu diskusi dengan Pak Arya. Saya sudah bilang Pak Arya hari ini dan besok cuti mendadak. Tapi kata beliau urgent.”, jelas Siska.


“Bu Susan sudah beberapa kali menghubungi ponsel Pak Arya tetapi tidak diangkat dan pesan juga tidak dibalas.”, lanjut Siska lagi.


Ya, Arya sedang menghindari banyak panggilan telepon dan pesan di ponsel khusus kantor miliknya. Dia hanya menjawab panggilan jika itu adalah panggilan dari orang tertentu saja seperti Siska.


“Hm.. katakan padanya, nanti saya akan menghubunginya.”, jawab Arya.


“Baik Pak. Oiya, ada beberapa permintaan tanda tangan yang diperlukan untuk hari ini. Bagaimana Pak?”, tanya Siska hati - hati. Dia juga takut disemprot sebenarnya.


“Pilih yang urgent saja, kamu bawa sekarang ker Rumah Sakit ruangan 4342.”, ujar Arya.


“Baik Pak”, jawab Siska.


“Telepon dari kantor ya mas?”, tanya Dinda.


“Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Sudah habis makanannya?”, tanya Arya mendekati.


Wajahnya langsung serius saat makanan di meja Dinda masih banyak.


“Iya, ini lagi makan. Sedikit - sedikit dulu, mas. Kalau langsung banyak, nanti mual.”, jawab Dinda.


Dinda langsung menutup mulutnya.


“Oh? Ada apa ini? Memangnya apa hukumannya?”, tanya Ibas langsung berusaha membaca situasi.


“Kamu masih disini? Gak kerja? Mau dipecat kamu?”


“Memangnya mas Arya yang bayar aku?”


“Mas Arya punya saham di perusahaan kamu itu.”, ujar Arya dengan wajah datarnya.


“Hah? Serius? Mas Arya setajir itu?”, Ibas langsung tercengang.


“Kenapa? Kamu berharap begitu? Makanya jangan mimpi terus. Sana berangkat kerja.”, ujar Arya mendorong adiknya agar segera keluar dari kamar.


“Huuu kirain beneran. Ya sudah kalau begitu. Din, aku berangkat dulu, ya. Kalau mas Arya aneh - aneh, telpon aku aja. Aku langsung meluncur kesini.”, ujar Ibas dengan gaya sok cool nya.


Ibas menggeser pintu untuk keluar dari kamar. Saat itu ternyata sudah ada orang di belakangnya. Seorang wanita. Ibas tentu saja kaget.


“Oh?”, respon refleks Ibas saat melihatnya.


“Selamat pagi. Maaf, benar kamar Dinda Lestari disini?”, tanya wanita itu.


Di belakangnya juga ada seorang pria. Mendengar nama ‘Dinda Lestari’, Arya tentu saja langsung menoleh ke belakang, melihat ke arah pintu siapa yang datang. Begitu juga dengan Dinda. Sayangnya, tubuh tinggi dan tegap milik Arya menghalangi pandangannya.


“Oh.. iya.. Mas Arya..”, Ibas menoleh ke belakang dan memberikan ruang agar keduanya bisa saling bertemu dan melihat.


“Ah.. dr. Rima.”, sapa Arya saat melihat siapa orang yang datang. Arya tersenyum menyapa.


Namun senyum itu langsung sirna tatkala dia melihat siapa yang berada di belakang dr. Rima. Dimas. Pria itu berdiri disana. Dari ekspresinya, dia terlihat biasa karena mungkin sudah menduga bahwa Arya akan ada disana. Arya, dia tidak bisa mengontrol wajah terkejutnya.


Meski pria itu kemarin ada disini, tetapi tetap saja dia tidak menduga pria itu akan datang kesini lagi. Dan dengan dr. Rima. Ada hubungan apa mereka berdua? Pertanyaan yang Arya sebenarnya juga tidak peduli tapi muncul di kepalanya.


“Din, hijabnya dipakai, ya.”, kata Arya menoleh sebentar ke Dinda setelah menyadari ada Dimas di belakang dr. Rima.


“Oh? Ah.. iya mas.”, kata Dinda langsung mengambil hijab yang sudah digantung di pinggir pegangan tempat tidur.


“Selamat pagi, Pak Arya. Apa kabar?”, ucap dr. Rima menyapa Arya.


Dinda yang masih tidak bisa melihat ke arah pintu karena tubuh Arya menghalanginya mencoba menggeser tubuh pria itu.


“Oh, bagaimana keadaannya?”, sapa dr. Rima ramah.


“Alhamdulillah sudah mulai baik, dok. Repot - repot sekali sampai datang menjenguk kesini pagi - pagi.”, tanya Dinda.


Gadis itu belum melihat keberadaan Dimas karena pria itu secara tiba - tiba harus mengangkat telepon. Sehingga, dia menghilang dari balik pintu. Ibas juga sudah keluar berbarengan dengan dr. Rima yang masuk ke ruangan.

__ADS_1


Ibas dan Dimas sempat beradu tatap dan saling bertukar senyum sebelum mereka akhirnya berjalan ke arah yang berbeda. Keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Tidak ada yang tahu tentang perselingkuhan Sarah dan Dimas kecuali mama Inggit. Beliau pun juga tidak tahu kalau sebenarnya Dimas adalah sahabat Arya di Amerika.


“Tentu saja. Kita kan tetanggaan masa tidak menjenguk. Saya jujur langsung terkejut mendengarnya dari Pak Arya. Syukurlah tidak ada hal yang serius. Kamu harus ekstra hati - hati ya Dinda. Meski sudah melewati trimester pertama, tetap saja kamu harus tetap menjaga kandungan kamu dengan baik.”, ujar dr. Rima.


Wanita itu datang membawa sekantong cake dan buah - buahan. Cake merupakan hadiah dari Dimas dan buah - buahan adalah hadiah dari dr. Rima.


“Harus banyak makan buah juga. Kalau lagi malas makan, buah bisa membantu. Kalau bosan, coba dibuat jus ya.”, kata dr. Rima memberi saran.


“Morning.”, akhirnya pria yang tadi membuat Arya terkejut masuk dan melontarkan sapaannya.


Sama seperti Arya tadi, Dinda juga terkejut melihatnya. Dinda juga tidak tahu kalau Dimas turut membantu membawa Dinda ke rumah sakit dengan menggunakan mobil miliknya.


Dinda dan dr. Rima membalas sapaan Dimas sedangkan Arya kembali duduk dengan laptopnya. Seolah dengan jelas menganggap Dimas tidak ada.


Tentu saja dr. Rima bisa merasakannya. Namun, karena dia merasa tidak ada hubungannya, dia juga berusaha bersikap biasa saja.


“Lumayan dekat juga dengan apartemen, tapi memang kalau dari kantor, rumah sakit ini yang lebih dekat. Mana yang bisa memberikan pertolongan lebih cepat akan lebih baik. “, ujar dr. Rima duduk di samping Dinda.


“Tidak ada gejala lain atau keluhan yang muncul?”, tanya dr. Rima.


“Tidak ada Dok. Hanya kurang nafsu makan saja.”, jawab Dinda.


“Hn… haha kalau dokter yang menangani kamu di rumah sakit ini melihat saya, saya jadi gak enak tanya - tanya begini.”, kata dr. Rima baru ingat kalau dia kesini sebagai tetangga bukan seorang dokter.


Dinda ikut tersenyum, dia juga sedikit melirik ke sesekali antara ke arah dr. Rima dan juga Dimas. Seolah ingin bertanya namun tidak enak untuk memulai.


“Ah.. iya, kamu pasti bingung kenapa saya datangnya dengan Dimas. Maaf - maaf. Soalnya dia bilang kalau kalian saling kenal, jadi saya tidak ada inisiatif untuk memperkenalkan diri.”, ujar dr. Rima yang sadar dengan pandangan bingung dari Dinda.


“Ah iya.. Dimas adalah pemilik Cafe di kantor, jadi sudah kenal.”, jawab Dinda.


Dinda tidak berani mengatakan kalau Dimas adalah teman lama Arya saat di Amerika. Alhasil dia hanya berhenti di kalimat itu.


“Kamu sudah baikan?”, tanya Dimas akhirnya membuka suara.


Tentu saja Arya langsung menoleh sedikit dengan ekspresi kesal. Meski pria itu membantunya membawa Dinda dengan cepat ke rumah sakit, tapi tetap saja dia merasa kesal kalau dia berbicara dengan Dinda.


“Hm.. seperti yang kamu lihat. Sudah baik.”, jawab Dinda singkat.


“Hm.. yang barusan adiknya Pak Arya, ya?”, tanya dr. Rima.


Dia bingung mau mencari topik apa lagi. Teringat pada Ibas yang pertama kali dia lihat dengan pertemuan yang singkat tadi, dr. Rima mencoba menyinggungnya.


“Iya, dok. Dokter tidak bertemu dengan Ibas di apartemen? Padahal kemarin dia menginap di apartemen.”, kata Dinda.


“Ohiya? Mungkin aku keluar lebih cepat karena mau mengantar Deni ke sekolah dulu.”


“Hm.. dokter Rima tidak praktek?”, tanya Dinda.


“Sehabis dari sini. Masih sekitar jam 11 jadwalnya. Jadwal pertemuan dengan kamu masih sekitar 3 mingguan lagi kan?”


“Iya dok.”


“Aku benar - benar tidak tahu kalau kamu hamil. Aku sedikit terkejut kemarin.”, ujar Dimas.


Mendengar itu, Arya menaruh laptopnya di atas meja dan berjalan ke arah tempat tidur Dinda.


“Pak Arya tidak ke kantor?”, tanya Rima saat Arya sudah berada di samping Dinda.


“Tidak ada yang jaga nanti.”, jawab Arya.


“Hm.. bukannya ada orang tua Pak Arya atau …”


“Saya belum beritahu mereka agar mereka tidak khawatir.”


“Ah…. “, respon dr. Rima memahami posisi dan pendapat Arya.


Rima juga sering tidak memberitahukan hal - hal yang hanya akan membuat ibunya khawatir.


Disisi lain, Arya memberikan sorot mata yang tajam dan dingin pada Dimas.


“Bisa bicara di luar sebentar?”, kata Arya tanpa memberikan objek pada kalimatnya.


“Oh?”, dr Rima bingung mendengarnya.


“Hn.”, jawab Dimas.


Belum sempat dr. Rima bertanya, Arya sudah keluar diikuti oleh Dimas.


“Ah.. maksudnya Dimas? Memangnya mereka saling kenal? Ah.. kalian satu kantor, ya? Hm.. tentu saja Dimas kenal Pak Arya.”, dokter Rima seolah sedang bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.


“Berapa lama dokter meminta kamu untuk bedrest?”, tanya dokter Rima.


“Hm.. dokternya tidak bilang ke aku. Sepertinya info ke mas Arya tapi mas Arya juga belum bilang.”, jelas Dinda.


“Ah.. “, dr. Rima tertawa renyah.


“Kenapa dok?”, tanya Dinda.


“Kamu itu lucu juga, ya.”, tutur dr. Rima yang malah membuat Dinda bingung.


Sementara itu di luar.


“Untuk apa kamu datang kesini? Saya berterima kasih atas pertolongan kamu kemarin. Tapi bukan berarti kamu bisa bebas bolak balik datang kesini.”, ujar Arya dengan tegas pada Dimas.


“Huh! Aku minta maaf. Aku sedang menemui dr. Rima di apartemennya. Kemudian dia membahas tentang Dinda dan hendak datang kesini untuk menjenguk. Tidak mungkin aku hanya mengantarnya sampai lobi bawah. Aku sama sekali tidak ada maksud apa - apa.”, ujar Dimas.


“Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa tiba - tiba Dinda bisa seperti itu? Aku tidak terlalu memperhatikan sekitar karena aku sudah terlanjur terkejut melihat Dinda sudah tidak sadarkan diri.”, kata Dimas.


“Dika? Aku seperti melihatnya kemarin. Apa karena dia? Bukankah sudah aku katakan, hati - hati terhadap pria itu. Aku juga sudah memperingatkan Dinda…”, Dimas baru akan melanjutkan kata - katanya.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu urus urusanmu sendiri. Urusan Dinda, biar saya sebagai suaminya yang mengurusnya.”, kata Arya dengan penuh penegasan.


Saat ketegangan sedang ada diantara mereka berdua, dr. Rima keluar dari kamar. Sepertinya dia sudah selesai dan berencana untuk menuju ke rumah sakit.


__ADS_2